Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 32. Sella gila


__ADS_3

Aska terbangun karena mendengar suara gaduh dan meregangkan ototnya, karena ia semalam tidur di sofa ruang rawat Sella. Saat Aska sadar sepenuhnya, ia terkejut saat melihat Sella sudah ada di di lantai, dengan selang impus yang terlepas, membuat darah mengalir dari sana. Aska langsung berlari ke arah Sella, ia bermaksud untuk mengangkat Sella lagi ke atas ranjang, tapi tangannya di tepis oleh Sella. Aska mencoba bersabar, ia mengambil handuk untuk menghentikan pendarahan Sella yang ada di tangannya, lagi-lagi tangannya di tepis dengan kasar oleh Sella. Aska akhirnya diam menunggu Sella tenang, dan menunggu Sella untuk menerima bantuan dari ia, tapi tiba-tiba saja Sella tertawa terbahak-bahak, membuat ia mengerutkan keningnya bingung dengan tingkah Sella, karena menurutnya tidak ada yang lucu


" Kenapa aku bahkan sekarang menjadi cacat! Kenapa begitu sulit untuk aku menjadi orang yang paling bahagia?! Kenapa Tuhan seolah-olah benci dengan kehadiranku, dari awal aku lahir, aku selalu saja tidak pernah bahagia!"


Aska hanya diam, ia membiarkan Sella mengeluarkan unek-uneknya yang ada di dalam pikiran Sella, dan ia berharap Sella menjadi jauh lebih tenang


" Kenapa keberuntungan selalu berpihak pada Lisa, setelah Lisa lepas dari mas Aska, bahkan Lisa mendapatkan tangkapan yang lebih kaya."


Sella yang awalnya tertawa terbahak-bahak, ia tiba-tiba saja menangis sesegukan dan semakin berteriak-teriak


" Aku berharap ingin jadi nyonya sungguhan, yang selalu di hormati, tapi sekarang aku menjadi cacat bagai mana aku bisa menjadi nyonya? Kalau aku saja cacat!"

__ADS_1


Aska tidak mengerti dengan prilaku Sella, karena sebentar Sella tertawa terbahak-bahak, lalu di menit berikutnya Sella bisa menangis sangat keras. Aska langsung memanggil dokter karena amarah Sella sudah tidak bisa di kontrol lagi


" Sebaiknya bapak berkonsultasi dengan Psikiater, saya rasa istri bapak membutuhkan pendamping yang ahlinya."


Aska sudah tidak memiliki kekuatan untuk sekedar menjawab, otak dan hatinya benar-benar lelah, bahkan tubuhnya sudah kurus tidak terawat, hingga pada akhirnya Aska membawa Sella ke salah satu rumah sakit jiwa, tentu saja setelah dokter memberikan obat penenang pada Sella, karena setiap Sella sadar, Sella akan menjadi mengamuk dan cenderung untuk melukai diri sendiri atau melukai orang lain dengan melempar barang yang ada di jangkauannya. Aska menunggu dokter untuk menangkan Sella, entah bagai mana caranya ia juga tidak tau pasti, ia hanya mempercayai dokter yang ada. Namen hasilnya tidak bisa langsung di putuskan oleh dokter, membuat Aska harus menunggu selama dua minggu, karena dokter juga perlu melakukan pendekatan dan mengobservasi lebih lanjut terhadap Sella. Aska meninggalkan rumah sakit jiwa yang merawat Sella, ia melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya, ia akan minta maaf, tidak peduli walau pun nantinya ia akan di tolak seberapa parah tidak masalah, ia akan terus minta maaf sampai ia di maafkan. Sesampainya di depan orang tuanya, Aska melihat papa nya yang sedang membaca koran dan mama nya yang sedang menyiram bunga kesayanganya. Aska langsung keluar dari mobil, ia melihat raut wajah papa nya menjadi tegas dan marah, sedangkan mama nya menatap ia penuh dengan kerinduan, tapi kekecewaanlah yang mendominasi


" Buat apa lagi anda ke sini? Bukan'kah anda lebih memilih wanita itu dari pada orang tua yang merawatmu?"


"Maaf pa, ma, maafkan Aska."


Aska langsung menegang, ternyata papa nya menyelidiki segala sesutu tentangnya. Aska malu terhadap orang tuanya, tapi ia benar-benar membutuhkan tempat untuk pulang dari segala kesakitannya. Dellon yang melihat anaknya hanya diam, ia langsung melayangkan pukulan yang sangat keras, hingga membuat Aska tersungkur

__ADS_1


Bruk...


Key yang melihat kemarahan suaminya, ia langsung menenangkan suaminya, semarah apa pun pada anaknya, ia sangat sedih melihat anaknya tersungkur tidak berdaya. Dellon langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Key membantu anaknya. Key sesekali meneteskan air mata, melihat anaknya yang sangat memprihatinkan. Aska mengusap air mata mama nya, lalu langsung memeluk mama nya, ia membutuhkan pelukan ini, pelukan hangat yang memberikan kesan melindunginya dan sebuah rumah untuknya pulang dari kejamnya dunia


...****************...


Sedangkan Lisa, ia sekarang sedang mencoba di bahagiakan oleh Arga, lelaki yang selalu menemaninya di saat-saat masa tersulitnya. Saat ini Lisa bersama dengan Putri dan juga Arga, setelah menjemput Putri dari neneknya, mereka bergegas ke apartemen milik Arga. Ini adalah permintaan Putri untuk main rumah-rumahan seperti temannya, Lisa dan Putri berperan layaknya seperti ibu dan anak yang sibuk di dapur, sedangkan Arga tengah sibuk melihat kegiatan yang di lakukan oleh dua wanita yang ia cintai. Lisa sedang sibuk dengan Putri yang membantunya, alih-alih malah merecoki masakan Lisa, tapi Arga bisa melihat tawa mereka, membuat hatinya menghangat. Arga mengamati wajah cantik Lisa, yang semakin hari semakin cantik, ia juga melihat ketulusan dari Lisa untuk Putri, begitu juga dengan Putri yang memiliki ketulusan untuk Lisa, kebersamaan akhir-akhir ini membuat Arga seperti di atas angin, tapi ia juga tidak tau pasti tentang perasaan Lisa, karena selama ini Arga tidak pernah lagi mengungkit tentang perasaannya, karena fokusnya hanya membantu Lisa. Arga langsung berdiri masih dengan memandangi Lisa dan Putri, ia langsung menggulung lengan bajunya setengah siku dan ikut bergabung dengan keseruan yang mereka berdua buat. Lisa tersenyum saat melihat Arga yang memotong sayuran dengan pelan, mungkin saja ini pertama kalinya untuk Arga. Mereka bertiga layaknya keluarga kecil yang bahagia, dapur apartemen Arga, di penuhi dengan gelak tawa dan gemuruh mereka, tapi tiba-tiba pertanyaan Putri membuat Arga dan Lisa menghentikan kegiatannya


" Coba saja kita tiap hari seperti ini, mama Lisa selalu sama Putri dan sama papa seperti teman-teman Putri yang lain, tinggal dengan mama papa nya."


Lisa hanya diam, ia bingung harus menjawab ucapan Putri bagai mana, ia juga sadar jika Arga menunggunya, tapi ia juga belum yakin dengan perasaannya sendiri, walau pun berada di dekat Arga membuat Lisa merasa nyaman dan aman, ia merasa terlindungi, tapi ia juga takut kalau perasaannya pada Arga hanya sebagai pelampiasan ke pada Aska. Lisa tidak ingin menyakiti hati Arga yang begitu baik padanya, tulus dan selalu menemaninya, ia melirik ke pada Arga, ia bisa melihat kalau Arga sedang menatapnya, mungkin saja Arga juga terkejut

__ADS_1


" Emangnya Putri mau kalau mama Lisa tinggal, tidur di sini, dan makan bareng kita terus?"


Lisa sangat terkejut dengan pertanyaan Arga pada Putri, yang sambil menatap Putri. Arga sadar jika mungkin ucapanya akan membuat keadaan semakin canggung, tapi ia juga ingin Lisa tau, kalau ia masih menunggunya, selain itu ia juga ingin tau tanggapan dari anaknya. Putri bertepuk tangan dengan heboh, setelah mendengar ucapan papa nya dan menganggukan kepalanya berkali-kali. Arga tertawa saat melihat Putri ke girangan, seolah-olah Lisa akan benar-benar menjadi mamanya


__ADS_2