
Arga termenung di dalam mobilnya, ia memikirkan kembali yang baru ia alami. Rencana dan impian yang ia bangun hancur, tapi Arga tidak bisa berbuat apa-apa, karena cintanya ternyata akan selalu bertepuk sebelah tangan. Arga langsung melajukan mobilnya kembali ke arah gedung, tempat yang menjadi saksi bisu kehancuran hatinya. Arga sampai di depan gedung, ia langsung keluar dari mobil, lalu langsung berjalan masuk ke dalam gedung. Setelah sampai, Arga langsung mencari cincin yang terlepas dari genggamannya. Sudah 2 jam Arga mencari cincin itu, tapi ia masih saja tidak menemukan cincin itu, hingga pada akhirnya ia menemukan cincin itu. Arga memutuskan untuk pulang, karena ia sudah lelah dengan kejadian hari ini, ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Arga langsung melajukan mobilnya ke arah rumah. Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, ia sampai di depan rumah, ia langsung keluar dari mobilnya, dan bersikap biasa saja, tapi sesampainya di dalam rumah dan masuk ke dalam kamar anaknya. Arga melihat kesedihan kembali, karena anak tercintanya demam dan terus memanggil nama mama, yang jelas ia ketahui kalau anaknya sedang memanggil Lisa. Arga langsung merebahkan tubuhnya di samping anaknya, lalu ia memeluk anaknya sambil mengecup kening anaknya
" Sssttt... Papa di sini sayang."
Putri yang mendengar suara papa nya, ia langsung membuka matanya, menatap mata papa nya dengan mata berkaca-kaca
" Kenapa mama Lisa pergi pa? Apa mama tidak ingin jadi mama Putri? Apa karena Putri bukan anak yang baik?"
Arga mengelus punggung dan kepala anaknya dengan sayang
" Bukan begitu sayang, Putri adalah anak yang cerdas dan baik. Mama hanya ada urusan yang lebih penting."
Setelah mendengar jawaban dari papa nya, Putri jauh lebih tenang, lalu ia pun tidak lama langsung terlelap. Pikiran Arga masih saja berkelana, ia langsung memeluk anaknya lebih erat, dan mencoba menenangkan hatinya untuk ikut terlelap bersama anaknya, tapi hasilnya nihil, ia tetap tidak bisa memejamkan matanya. Arga membayangkan yang akan terjadi selanjutnya, tentang kemungkinan Lisa akan kembali dalam pelukan Aska, membuat ia merasakan hatinya seperti di robek-robek secara paksa, tapi ia juga tidak bisa memaksa Lisa, karena apapun yang ia lakukan akan tetap percuma. Arga mencoba berpikir logis dan membiarkan Lisa menentukan pilihanya, ia memutuskan untuk menjauh dari Lisa. Arga menatap ke arah anaknya, membuat iya yakin untuk menjauhi Lisa, ia tidak ingin anaknya sedih jika melihat Lisa kembali lagi bersama Aska. Arga akan mengajaknya menjauh dari Lisa, lebih tepatnya melupakan. Arga segera menelpon suruhannya untuk mempersiapkan segala kebutuhannya. Sebelum itu Arga juga menghubungi Reyhan untuk membahas beberapa hal. Arga bangkit dari ranjang Putri, lalu pergi ke kamarnya. Arga duduk terdiam di atas ranjangnya sambil menatap foto ia, Putri dan juga Lisa yang sambil tersenyum. Arga mengeluarkan cincin yang akan di pasangkan ke jari Lisa sambil tersenyum getir. Arga menggenggam erat cincin itu, untuk menyalurkan rasa kecewanya yang ada di dalam hatinya
...****************...
Pagi harinya Reyhan melihat kakanya memasuki rumah, berpapasan dengan ia yang akan menemui Arga di cafe, karena semalam Arga mengajaknya untuk bertemu di cafe. Reyhan marah pada kakanya yang dengan bodoh masih saja memikirkan perasaan orang lain, dari pada perasaannya sendiri. Lisa bisa melihat, tatapan marah dan kecewa dari adiknya, bahkan Reyhan hanya melewati ia, ia langsung memegang pergelangan tangan Reyhan sangat erat, ia membutuhkan bahu untuk saat ini
" Ada apa kak? Aku ingin pergi."
__ADS_1
Reyhan bertanya tanpa membalikan tubuhnya. Lisa langsung menangis terisak, dan semakin mengeratkan peganganya pada pergelangan tangan Reyhan, ia berharap Reyhan membalikan tubuhnya, lalu memeluknya, dan mendengarkan keluh kesahnya
" Aku harus pergi untuk menemui lelaki yang kaka sia-siakan."
Lisa yang mendengar ucapan Reyhan, membuat ia memudarkan pegangan tangannya pada tangan Reyhan. Setelah di lepas, Reyhan langsung melangkah menjauhi kakanya. Bukan Reyhan tidak kasihan pada kakanya, tapi ia ingin kakanya sadar jika yang di lakukan kakanya sangat bodoh. Reyhan berharap kakanya segera sadar, sebelum semuanya terlambat. Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, Reyhan sampai di depan cafe, ia langsung menghampiri Arga yang sudah lebih dulu duduk di cafe, ia bisa melihat kalau keadaan Arga tidak baik-baik saja, ia melihat kantung mata Arga yang menghitam dan pandangan Arga menatap ke arah jendela dengan linglung. Reyhan mengetuk pelan meja itu untuk menyadarkan Arga. Hal itu membuat Arga sangat terkejut. Reyhan langsung mendudukan diri di depan Arga
" Pesanlah sesuatu terlebih dahulu."
Reyhan hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu ia langsung memanggil pelayan untuk memesan sesuatu, sebelum ia mengobrol bersama Arga yang tentunya akan menguras emosi. Tidak ada obrolan di antara mereka berdua, hingga pelayan datang mengantarkan pesanan Reyhan. Setelah pelayan itu meninggalkan meja mereka, Arga langsung berdehem untuk memulai obrolan
" Ehmmm.."
Reyhan melihat Arga yang merogoh sesuatu di saku celananya, lalu mengeluarlan sesuatu dari dalam sana. Sekarang Reyhan mengetahui barang apa yang di ambil oleh Arga dari dalam saku celananya, sebuah cincin yang di sodorkan oleh Arga
Reyhan mengerutkan keningnya, karena ia mengetahui kalau cincin itu adalah cincin untuk melamar kakanya, bukan'kah harusnya Arga memberikan sendiri, bukan melalui ia
" Kenapa tidak abang berikan sendiri pada kak Lisa?"
Reyhan tau jika kakanya sudah melakukan kesalahan yang sangat patal, kemarin malam, tapi ia juga ingin Arga memperjuangkan kakanya kembali
__ADS_1
" Tidak bisa, aku akan pergi besok lusa. Cincin ini aku beli untuk Lisa, jadi terserah Lisa mau membuang cincin ini, atau menjual cincin ini, dan apapun itu."
Reyhan sangat terkejut dengan keputusan Arga, bukan'kah itu artinya Arga akan menyerah untuk memperjuangkan kakanya
" Apa'kah tidak bisa abang pikirkan lagi? Kak Lisa juga belum menjawab pertanyaan abang, mungkin saja semalam kak Lisa sedang tetkejut."
Reyhan mencoba meyakinkan Arga lagi. Arga tersenyum mendengar ucapan Reyhan, tapi tekatnya sudah bulat, mungkin tugasnya untuk menjaga Lisa sudah selesai, dan ia harus mengembalikan Lisa pada pemilik aslinya
" Aku rasa, aku sudah mendapatkan jawabannya saat di rumah sakit kemarin malam."
Arga langsung menyeruput kopi yang ia pesan saat Reyhan belum datang. Reyhan hanya bisa menghela nafas, ia tidak bisa memaksa keputusan Arga, apa lagi ini murni karena kebodohan kakanya
" Lalu abang akan pergi kemana? Dan berapa lama?"
" Aku akan mengajak Putri untuk liburan ke jepang, untuk masalah waktu, aku juga tidak tau."
Arga menjawab sambil berpikir, berapa lama ia dan Putri membutuhkan waktu untuk melupakan Lisa. Arga memutuskan untuk segera pulang
" Baiklah, aku harus segera pulang, karena aku tidak bisa meninggalkan Putri terlalu lama."
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu bang."
Arga dan Reyhan langsung berpelukan dengan ala Bro, lalu mereka langsung melepaskan pelukan itu. Arga langsung melangkah keluar dari cafe. Reyhan hanya bisa menatap punggung Arga yang menjauh, lalu ia langsung mengambil cincin yang di berikan Arga dan bertekad untuk segera menyadarkan kakanya, sebelum membuat semuanya terlambat