
Lisa terus berjalan ke arah parkiran tanpa menoleh sedikitpun. Sedangkan Arga hanya mengikuti Lisa pergi tanpa mengeluarkan suara. Sampai di samping mobil, Arga langsung membukakan pintu mobil untuk Lisa, setelah itu ia juga masuk, tidak lupa ia memasangkan sabuk pengaman Lisa, karena dari tadi Lisa diam saja. Arga langsung melebarkan sapu tangan tebal di pangkuanya, lalu langsung meraih tangan Lisa. Lisa ingin melepaskan tangan Arga, tapi pada akhirnya ia diam saja. Arga langsung membuka botol minum, lalu mencuci tangan Lisa di pangkuanya, setelah itu mengelapnya dengan tisu, lalu langsung meletakan kembali tangan Lisa di pangkuannya sendiri. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, Arga hanya fokus pada kemudinya
" Aku tidak ingin pulang."
Arga hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, ia melanjutkan mobilnya ke apartemennya, ia sesekali memandang ke arah Lisa, ia bisa melihat pandangan kosong Lisa, ia merasa kalau takdir tidak pernah adil pada wanita yang ia cintai. Baru 1 bulan yang lalu Arga melihat Lisa kembali bahagia dan tertawa ceria, tapi kini ia melihat mendung lagi menghampiri Lisa, katanya tidak ada badai yang tidak reda, nyatanya Lisa mengalami kejadian yang sangat memilukan, bahkan setelah badainya mereda, badai akan datang lagi bersama angin topan. Setelah sampai di apartemen, Arga menyuruh Lisa untuk masuk dan duduk. Arga langsung ke dapur untuk mengambilkan air minum, karena apartemen ini jarang Arga datangi, karena kalau Arga datang kemari kalau ia sedang merasakan suntuk atau butuh waktu untuk sendiri. Arga memutuskan untuk membeli makanan di luar, sebenarnya ia bisa saja delivery order, tapi Arga ingin memberikan waktu untuk Lisa sendiri
" Minumlah dulu, saya akan keluar untuk membeli makanan."
Lisa hanya diam saja, tanpa merespon ucapan dari Arga. Arga yakin kalau Lisa mendengarnya, walau pun tidak ada jawaban dari Lisa, sehingga Arga memutuskan untuk pergi. Arga merasa kain pada pergelangan tangannya tersangkut, tapi ternyata Lisa yang memegang kain pada lenganya. Arga bisa melihat pandangan terluka Lisa, dan perlahan-lahan mata Lisa berkabut, lalu satu tetes air mata turun membasahi pipinya. Melihat Lisa menangis, Arga juga merasakan kesakitan yang di rasakan Lisa, tanpa mengatakan apapun Arga menarik Lisa dalam pelukannya. Lisa tidak membalas pelukan dari Arga, tapi ia mencoba untuk menahan tangisannya. Arga bisa merasakan kalau Lisa sedang menahan tangisanya
" Menangislah, jangan di tahan."
Arga dengan telaten menepuk-nepuk punggung Lisa, berusaha menenangkan dan untuk menyalurkan kehangatan untuk Lisa. Tangisan Lisa langsung pecah di dalam pelukan Arga
" Sampai kapan kamu akan mendapatkan kesedihan, dan sampai kapan kamu terus menangisi laki-laki yang terus menyakitimu." batin Arga
Lisa terus menangis, hingga kakinya lemas, ia akan terjatuh, tapi dengan sigap Arga menahannya. Arga berjalan pelan-pelan menggiring Lisa untuk duduk di sofa. Tangisan Lisa berangsur-angsur mereda, tapi air matanya masih menetes. Arga tidak tega untuk meninggalkan Lisa sendiri, ia pun memutuskan untuk delevery order, lalu ia mencoba untuk berbicara pada Lisa
" Sssttt.. Berhsntilah menangis, semuanya akan kembali membaik."
__ADS_1
Perlahan Lisa mendongkakan kepalanya, ia menegakan badannya, lalu menatap Arga dalam diam sambil menghapus air matanya dengan kasar
" Apa saya kurang menarik di mata laki-laki? Kenapa Aska tega melakukan ini dengan saya?"
Arga hanya diam, ia tau kalau Lisa sedang mengeluarkan pertanyan yang bersarang di dalam otaknya, dan ia hanya akan menjadi pendengar yang baik
" Apa'kah Sella lebih pintar dalam urusan ranjang? Kenapa bapak diam saja? Atau saya memang tidak menarik dan tidak menggairahkan untuk laki-laki?"
" Sssttt.. Suatu hubungan tidak hanya tentang gairah, pernikahan adalah komitmen untuk saling menerima dan melengkapi."
" Lalu apa menurut bapak saya menarik dan menggairahkan?"
" Kamu lebih baik istirahat, jangan terus berpikir tentang gairah."
" Katanya bapak mencintai saya, maka ayo kita lakukan."
Arga tau tentang arah pembicaraan Lisa, tapi ia memilih mengabaikan. Arga tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Arga adalah lelaki normal, mendapat ajakan yang menggiurkan dari wanita yang di cintainya, tentu saja adalah kesempatan yang sulit untuk di tolak, apa lagi setelah meninggalnya istrinya, ia tidak pernah berhubungan badan lagi. Arga mencoba mengendalikan dirinya, dengan berpikir kalau Lisa masih dalam keadaan emosi, sehingga pikirannya belum bisa jernih, maka ia sendiri yang harus menjaga sikapnya, untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan terjadi, ia memilih untuk pergi dari apartemennya, untuk mencari udara segar sambil menunggu pemikiran Lisa kembali jernih. Arga langsung melangkahkan kakinya
" Jadi benar saya tidak menggairahkan? Kalau begitu saya akan mencari laki-laki di luar sana."
__ADS_1
Tubuh Arga sesaat mematung, saat mendengar ucapan dari Lisa. Arga marah, mendengar wanita yang di cintainya mengatakan hal semacam itu dengan mudahnya, ia tau kalau Lisa sedang depresi dan ingin pembuktian diri, tetapi caranya tidak masuk akal. Arga langsung membentak Lisa
" Jangan gila Lisa..!"
Arga sadar kalau bentakannya akan membuat keadaan memburuk, jadi ia mengontrol suaranya
" Kamu itu menarik Lisa, jadi kamu tidak perlu pembuktian."
Arga belum selsai bicara, tapi Lisa sudah memotong ucapannya
" Saya hanya butuh jawaban iya atau tidak pak. Jika bapak mau, ayo lakukan, tapi jika tidak, saya akan mencari laki-laki yang lain."
Lisa tau kalau ia akan menyesali ucapannya, tetapi Lisa hanya butuh pembuktian bahwa dirinya layak sebagai perempuan, dan perselingkuhan suaminya bukan salah dirinya. Itu adalah satu-satunya yang ada di pikiran Lisa, tentang penyesalan ia akan hadapi besok. Persetan dengan statusnya yang masih menjadi seorang istri dari Aska, kenapa suaminya bisa, tapi ia tidak bisa. Bahkan Aska menggunakan cara licik untuk menjebaknya, kini giliran dirinya mencari pelampiasan, toh jika ia berdosa, maka Aska yang lebih besar mendapatkan dosa, karena sebagai kepala keluarga Aska tidak bisa membimbing dan tidak bisa memberikan contoh yang baik. Arga yang di hadapkan pilihan yang sulit, ia menjambak rambutnya karena merasakan pusing. Jika Arga menolak, ia tidak rela kalau Lisa di sentuh oleh lelaki lain, tapi jika ia menerima, ia yakin tindakan Lisa, akan Lisa sesali besok dan hubungan dirinya dengan Lisa akan berubah menjadi canggung. Lisa mihat Arga yang ke bingungan, ia merasa tidak enak hati karena terus memanfaatkan Arga, ia tidak ingin membebani Arga lebih banyak lagi, ia memutuskan untuk mencari lelaki lain di luar sana, ia berpikir akan lebih baik jika tidak saling mengenal dan sebatas hubungan one nigt stand
" Saya akan mencari lelaki di luar saja, maaf selalu merepotkan bapak, dan terima kasih atas bantuannya."
Sebenarnya Lisa merasakan sakit karena di tolak oleh orang yang mengaku mencintainya. Bahkan Lisa sudah membuang harga dirinya, tapi ia juga tidak bisa berharap lebih pada Arga, bahkan Aska saja yang sudah mengikat janji suci dengannya, bisa membuangnya dan memilih wanita lain. Arga akhirnya menyetujui ucapan Lisa
" Baiklah, ayo kita lakukan, tapi jangan menyesalinya."
__ADS_1