Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 48 Sangat beruntung


__ADS_3

Usia Arta sudah 2 tahun, dan sudah 2 tahun pula kehidupan Lisa lebih berwarna. Memang saat menikah dengan Arga kehidupan Lisa sangat berwarna, tapi semenjak kelahiran Arta, hidupan Lisa semakin bertambah berwarna. Apa lagi saat melihat Putri yang begitu sangat menyayangi Arta, Lisa sangat senang, karena menurut Lisa, Putri memang benar-benar ingin memeliki seorang adik, melihat Putri yang selama ini begitu sangat menyayangi Arta dan selalu mencoba untuk berperan menjadi seorang kaka yang baik, itu membuat ia sangat bahagia, dan kehidupannya sekarang begitu sangat sempurna. Lisa sekarang sedang ada di taman kota, di taman yang ada tempat bermain anak-anak, ia bersama anak tirinya, anaknya dan suaminya. Putri sedang bermain bersama Arta, sedangkan Lisa, ia sedang duduk di bangku taman bersama suaminya yang sambil menatap ke arah anak tirinya dan anaknya. Arga melirik ke arah wajah Lisa sambil tersenyum, karena melihat wajah ceriah sang istri setiap harinya, membuat hatinya selalu menghangat


" Lisa."


Lisa yang di panggil namanya oleh suaminya, ia langsung menatap ke arah suaminya sambil tersenyum

__ADS_1


" Iya mas."


" Lisa, terima kasih sudah menghadirkan anak yang sangat manis. Aku sangat senang selama 2 tahun ini, apa lagi Arta yang sudah bisa bermain bersama Putri, dan Putri bisa menjaga Arta. Terima kasih karena kamu terus mencoba mendidik Putri dengan baik, walau pun kamu sudah memiliki anak sendiri. Banyak orang yang menyepelekan anak tiri, tapi kamu, tidak pernah menyepelelekan Putri. Aku tidak salah memilih istri, kamu adalah wanita yang sangat baik. Wanita yang selalu berperan menjadi seorang ibu untuk Putri, walau pun kamu sekarang sangat sibuk mengurus Arta, tapi kamu selalu membagi waktu untuk Putri. Sekali lagi terima kasih."


Aga mengucapkannya sambil meneteskan air mata terharu

__ADS_1


Arga tersenyum saat mendengar jawaban panjang lebar dari Lisa, sambil menghapus aie matanya. Junjur saja Arga saat memiliki Arta berusia 1 minggu, ia sangat gelisah di kantor, gelisah karena ia takut kalau Putri terasingkan, takut kalau Lisa menerima Putri saat ada ia di rumah, dan takut kalau kasih sayang Lisa hanya untuk Arta. Walau pun Arga tau, Arta adalah anaknya juga, tapi ia hanya takut kalau Lisa tidak bisa membagi kasih sayangnya untuk ke dua anak-anaknya, tapi ternyata Lisa jauh dari persangkaan Arga, Lisa selalu saja berperan menjadi ibu yang baik untuk Putri bukan hanya untuk Arta, di situ Arga merasa sangat beruntung, dan tidak salah kalau ia menikahi Lisa, karena Lisa adalah wanita yang sangat baik, bahkan dari awal pernikahan, Lisa belum pernah memarahi Putri sekali pun. Jika Putri membuat kesalahan, Lisa akan menasehati Putri dengan bijak, bahkan saat Putri yang tidak kuat untuk mengangkat tubuh Arta, hingga keduanya terjatuh, karena tanpa pengawasan Lisa, saat Lisa sedang menyiapkan sarapan, tapi saat mengetahui itu, Lisa tidak marah sama sekali, walau pun bibir Arta berdarah, karena terbentur lantai, tapi Lisa sama sekali tidak memarahi Putri. Banyak hal yang Lisa lakukan untuk Putri, bukan hanya untuk Arta, itu membuat Arga merasa menjadi lelaki yang paling beruntung bisa mendapatkan Lisa, bahkan Arga saja tau kalau hidup Aska selalu hidup dengan penyesalan, bukan karena Arga mencari tau tentang Aska, tapi 1 minggu yang lalu, ke dua orang tua Aska meminta Arga untuk menyuruh Lisa menjenguk Aska, tapi ia menolak permintaan dari ke dua orang Aska, ia tidak ingin ada badai dalam rumah tanggannya, dan ia juga membiarkan Aska untuk melupakan Lisa dengan sendirinya, karena kalau ia menyuruh Lisa untuk menjenguk Aska, itu sama saja kalau ia memberikan peluang untuk Aska masuk dalam kehidupan Lisa. Arga takut, kalau kisah masa lalu mereka akan di ulang lagi, dan kisahnya nanti seperti Aska, Lisa, dan Sella dulu, karena wanita yang di anggap adik oleh Lisa, menjadi perusak hubungan Lisa, jadi ia tidak ingin memberikan Aska peluang, karena ia takut kalau mengalami kisah yang sama seperti Lisa, apa lagi sekarang ia juga memiliki Arta, anak buah cinta dari hasil mereka berdua, itu bisa menjadi alasan kuat untuk menolak ke dua orang tua Aska secara halus


" Mas, lihat itu Putri selalu bertingkah lucu saat bermain bersama adiknya, seolah-olah ia seperti anak 3 tahun."


Lisa yang mengalihkan pandangannya ke arah depan lagi untuk mengawasi anak tirinya dan anaknya, membuat ia tersenyum dan menujuk ke arah Putri, karena Putri selalu berbicara dengan Pura-pura cedal pada adiknya, seolah-olah Putri dan Arta tidak jauh usianya, itu membuat Arta yang selalu tertawa dengan tingkah lucu Putri. Arga juga melihat ke arah Putri dan Arta, ia langsung tersenyum saat melihat itu, bukan hanya tersenyum karena melihat tingkah konyol Putri saja, tapi ia juga tersenyum saat sesekali melihat Lisa yang terus tersenyum ceriah saat melihat ke dua anak-anaknya

__ADS_1


" Aku tau, kata terima kasihku tidak akan bisa membalas semua kebaikan Lisa. Lisa adalah wanita yang sangat baik dan sempurna, aku sangat beruntung memilikinya, apa lagi selama pernikahan, sikap Lisa tidak pernah berubah, hanya tingkah konyolnya saja yang berubah. Terima kasih Tuhan, karena telah mengirimkan wanita yang baik untuk anak-anakku." batin Arga


Arga sangat bersyukur karena memiliki Lisa, memang selama pernikahan, Lisa selalu berperan menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anaknya, hanya saja setelah memiliki anak, Lisa terlalu dewasa, tidak seperti saat baru menikah dan saat baru hamil, Lisa selalu saja bersikap konyol saat menyambut kepulangan ia, Lisa akan berteriak memanggil ia dengan panggilan Sayangku...! Sambil berlari kecil pada ia, hingga tingkah konyol itu membuat Arga sangat senang, dan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor, untuk melihat tingkah konyol sang istri, tapi walau pun sudah memiliki Arta, Lisa tetap menyambut Arga dengan baik, hanya saja Lisa tidak melakukan tingkah konyolnya lagi, tapi Lisa akan berteriak Eh papa tersayang sudah pulang..! Sambil menggendong Arta, itulah setiap menyambut suaminya pulang dari kantor, itu membuat Arga yang setiap di kantor merasakan sunyi dan sepi, tapi setiap pulang ke rumah, hatinya menghangat, ia menemukan kebahagiaan yang tiada duanya, melihat canda tawa istrinya, dan melihat canda tawa dari ke dua anaknya


__ADS_2