
Sekarang pikiran Aska di penuhi dengan kata seandainya. Seandainya Aska tidak goyah, tidak terlena dengan kehagiaan sesaat, mungkin ia akan hidup bahagia bersama Lisa, dan memiliki anak-anak bersama Lisa. Aska mengingat kembali bagai mana awal mula kehancurannya, saat ia melihat Sella untuk pertama kalinya di rumah yang di tempati bersama Lisa, dulu Lisa yang membawa Sella ke rumah. Setelah itu Sella yang membersihkan rumah, karena Lisa sibuk dengan pekerjaannya. Apa lagi saat Lisa menyuruh Sella untuk menjadi asisten pribadinya, Sella selalu perhatian pada ia. Aska mulai bertanya tentang asal usul Sella saat hanya berdua bersama Sella. Sella menceritakan kalau ia hanya memiliki seorang ibu dan memiliki dua orang adik, karena ayahnya sudah meninggal dunia. Sella pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, untuk membiayai adik-adiknya sekolah, karena ia tulang punggung keluarga dan Sella juga akhirnya menjadi gelandangan karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya Sella di ajak pulang oleh Lisa. Dari cerita Sella, rasa iba muncul di hati Aska, melihat Sella yang lemah seolah membutuhkan perlindungan, membuat naluri Aska muncul ingin melindungi Sella. Entah bagai mana mulanya, Aska mulai membanding-bandingkan Lisa dan Sella. Aska merasa menjadi seorang pria seutuhnya, di hidup Sella, dan merasa ke hadirannya sangat berarti di hidup Sella. Sella memberikan sensasi jika dirinya menjadi laki-laki sejati yang bisa melindungi, dan menjamin kebutuhan seorang wanita, tidak seperti ia bersama Lisa, ia merasa menjadi seorang lelaki yang tidak memiliki makna penting bagi Lisa. Lisa terlalu mandiri, bahkan Lisa yang memberikan modal untuk usaha Aska, membuat harga diri Aska terluka, jadi Aska melampiaskan naluri sebagai seorang lelaki pada Sella. Aska dan Sella pada awalnya menjalin hubungan di atas dasar wajar dan di zona aman, tapi godaan selalu datang tiba-tiba, membuat Aska melampai batasnya dan melanggar janji suci bersama Lisa, sampai pada akhirnya Sella mengandung anaknya, apa lagi Lisa memergoki ia bersama Sella, membuat ia tidak memiliki pilihan lain, selain memilih Sella dan anaknya. Aska juga merasa perasaanya pada Lisa sudah luntur dan di gantikan oleh Sella, membuat ia sangat yakin ingin mengakhiri pernikahanya bersama Lisa. Bahkan Aska melakukan segala cara hingga membuat hati Lisa hancur berkeping-keping, karena ia hanya berpikir bagai mana caranya bisa segera menikahi Sella, dan hidup bahagia bersama anaknya, tapi ternyata ia salah, kalau rasa cintanya masih utuh pada Lisa, dan perasaanya pada Sella hanya karena di saat ia bosan, namen Aska lupa jika rasa bosanya muncul sebagai cobaan untuk menguji seberapa kokoh sesaorang berpegang teguh dengan perasaanya. Iya itulah seperti Aska yang meninggalkan Lisa dengan rasa bosanya, dan melupakan pilihanya dulu, dan sekarang Aska sedang sibuk memikirkan kata seandainya, yang hanya menjadi angan. Aska mulai berandai-andai. Seandainya Aska berubah dan memperbaiki segalanya.Mohon ampun pada Lisa, akan'kah Lisa mau menerimanya Lagi, akan'kah orang tuanya kembali mengakuinya lagi, akan'kah ia bisa memulai rumah tangga yang baru bersama Lisa dan memiliki anak-anak bersamanya. Aska sangat menyesalinya, ia ingin sekali memutar waktu agar ia bisa mengulang pilihanya dulu. Jika saja Aska dulu tidak membandingkan Lisa dan Sella, mungkin tidak akan seperti ini, tapi ia sadar, ia tidak bisa memutar kembali waktu, sekarang ia harus mempertanggung jawabkan semua kesalahanya dengan mencoba untuk membangun usahanya untuk anaknya, saat ini Aska akan bertahan bersama Sella karena ada anak mereka yang membutuhkan Aska, ia tidak bisa egois lagi untuk meminta Lisa kembali padanya. Aska langsung menghapus air matanya, lalu ia berjalan dari kamar itu untuk menemui Sella. Aska langsung menyuruh untuk Sella duduk, karena Sella masih saja berdiri
" Duduklah, aku ingin berbicara denganmu sebentar."
" Apa yang ingin mas bicarakan?"
" Kamu tau'kan kalau usahaku sedang di ambang kebangkrutan, ayo kita jual rumah ini untuk modal."
" Lalu kita akan tinggal di mana?"
" Kita akan mencari rumah yang lebih kecil dulu."
__ADS_1
" Baiklah, jual saja rumah ini, tapi aku akan pergi, dan kirimi aku uang setiap bulannya dan jika sudah anakmu lahir, aku akan memberikannya padamu."
Aska sangat marah dengan apa yang di ucapkan oleh Sella, bagai mana bisa Sella mengatakanya dengan mudah, ia sudah berkorban banyak untuk Sella, bahkan merelakan Lisa untuk Sella, tapi dengan mudah Sella ingin pergi begitu saja. Kemana kata cinta yang dulu di ucapkan Sella, kata yang akan selalu berada di samping Aska apapun yang terjadi. Belum sempet Aska dengan keterkejutannya, ia sudah melihat Sella mengemasi barang-barangnya sendiri ke dalam koper, setelah selsai Sella langsung menyeret koper itu untuk pergi dari rumah itu. Aska langsung memegang pergelangan tangan Sella, untuk menghentikan Sella pergi
" Lepaskan tanganku mas, aku ingin pergi."
" Apa kamu gila? Kamu meninggalkan aku di saat aku sudah melepaskan Lisa. Jadi cinta yang kamu katakan dulu hanya sebatas materi?"
Brak....
Sella membentur meja dengan keras, membuat Sella terjatuh dengan posisi duduk. Aska sangat terkejut, ia langsung menghampiri Sella, ia merasa sangat ketakutan saat melihat Sella mengeluarkan banyak darah di belahan pahanya. Sella mengerang kesakitan, sambil memegangi perutnya yang merasakan sakit, membuat ia tidak bisa apa-apa, bahkan kakinya merasakan bergetar dan lemas. Aska langsung menggendong Sella untuk mrnuju ke rumah sakit terdekat, selama di perjalanan Aska terus saja berdo'a agar anaknya bisa selamat. Sesampainya di rumah sakit, suster langsung menghampiri Aska yang menggendong Sella, lalu segera membawanya untuk mendapatkan pertolongan dari dokter. Aska hanya bisa menunggu di luar ruangan, ia sedang mondar-mandir sambil berdo'a untuk kesalamatan mereka berdua, hingga ruangan tempat Sella di rawat terbuka, menujukan seorang dokter. Aska dangan cepat menghampiri dokter untuk mengetahui kedaan keduanya
__ADS_1
" Bagai mana keadaan istri dan anak saya dokter?"
Aska menunggu jawaban dari dokter dengan cemas, karena dokter hanya menghela nafasnya
" Mari pak ke ruangan saya."
Dokter mengajak Aska ke ruangannya, membuat Aska semakin merasa takut, segala pikiran terus bersarang di otaknya, mereka sampai di ruangan dokter. Setelah duduk dokter itu langsung berbicara pada Aska
" Maaf pak, ibu dari janin itu mengalami kelumpuhan, dan anak yang ada di dalam kandunganya tidak bisa di selamatkan."
Ternyata dugaan Aska benar, kalau anaknya tidak bisa di selamatkan
__ADS_1