Akhir Airmata Dokter Joyce

Akhir Airmata Dokter Joyce
Bab 10 - Pertengkaran


__ADS_3

Sampai di pent house, dengan sangat hati hati, Nathan merebahkan tubuh mungil itu ke ranjang, lalu melepaskan sepatunya dan menarik selimut sampai menutupi dada sang istri.


Nathan ke dapur mengambil air hangat dan meletakkan dalam thumbler, lalu meletakkan diatas nakas disamping istrinya


Nathan kembali berlutut di lantai, ia mengusap perut sang istri dan mengecupnya


"Anak Daddy sayang, jangan menyusahkan mami ya, jadi anak baik, Daddy menanti kehadiran kalian, Daddy mencintai kalian bertiga" Nathan mengecup berulang ulang perut sang istri


Nathan keluar dan membuka laptopnya di ruang tamu, ia duduk di lantai dengan laptop dimeja tamu, ia takut istrinya bangun dan membutuhkan sesuatu atau menangis karena ia sadar mood bumil mudah berubah


dua jam Nathan larut dalam pekerjaannya, ia mendengar suara pintu kamar di buka, Nathan segera menoleh istrinya yang berjalan kearahnya dengan muka setengah sadar, istrinya berbaring di sofa panjang 3 seat di belakang punggungnya dan tertidur kembali


Nathan segera bangkit dan berjalan kekamar "mau kemana?" tanya Joyce yang memejamkan mata


"mengambil selimut, nanti kamu kedinginan" ucap Nathan terus kekamar Joyce dan kembali bersama seperangkat alat tidur


setelah meletakkan bantal di kepala istrinya dan meletakkan guling dalam pelukan sang istri, ia pun menyelimuti tubuh mungil itu sambil mengecup keningnya


"Perutku nyeri sekali" ucap Joyce masih memejamkan mata


"Aku panggil dokter" ucap Nathan panik mencari ponselnya


"Tidak, usap saja perutku, aku ingin tidur" pinta Joyce tanpa membuka mata


"Tapi..."


"Cepatlah" pinta Joyce, akhirnya Nathan duduk di lantai mengusap perut sang istri , tak lama terdengar dengkuran halus sang istri dengan nafas yang teratur , Nathan mengecup perut yang sedikit membuncit itu dengan lembut


jam enam sore , Joyce terbangun, ia segera bangkit ke kamarnya dan masuk ke kamar mandi, ia melihat Nathan tengah mengambilkan baju dalam lemari


"sudah bangun?" tanya Nathan " ini pakaianmu, mandilah, bumil tak baik mandi kemalaman"


"Terima kasih" Joyce menerima baju piyama itu lalu ke kamar mandi , tak lama ia keluar dengan segar dan sangat harum


"Sebentar lagi mama tiba, ia membawakan makan malam untukmu" Joyce mengangguk Nathan melanjutkan pekerjaannya.


tak lama Nathan mendengar suara penghisap debu, ia terkejut dan berlari ke arah suara


"Sedang apa kamu?" tanyanya


"Menjalankan tugasku" ucap Joyce melanjutkan pekerjaannya "itu komitmen kita berdua, jadi jangan memulai drama tak jelas"


Nathan baru saja mau protes, langsung diam setelah mendengar kelanjutan ucapan sang istri, ia sangat frustasi sekali.


Nathan duduk berpikir sesaat, ia langsung berjalan ke pantri dan mengemas pakaian kotor, tak lama bell berbunyi , Nathan menyerahkan pakaian kotor lalu ke dapur mencuri gelas kotor .


Joyce hanya diam melihat kegiatan sang suami, ia menyimpan mesin penghisap debu lalu berjalan kekamarnya dan berbaring , ia merasa sangat lelah padahal baru sedikit melakukan kegiatan


Tepat jam 19:00 flora dan Antonio tiba, Nathan membukakan pintu lalu memanggil sang istri "Papa mama tiba" bisiknya ditelinga sang istri


"Makan dulu baru tidur kembali ya, kasihan anak kita belum makan" bisiknya pelan, Joyce berusaha membuka matanya, ia menjulurkan tangan, Nathan tertawa kecil lalu menggendong sang istri ke ruang makan


"Joyce kenapa? sakit?" tanya Antonio khawatir


"Manja" ucap Nathan tanpa suara membuat flora dan Antonio tertawa


"Makanlah dulu" ucap Nathan di telinga Joyce, Joyce mengangguk. matanya berat sekali saat Nathan meletakkannya di kursi makan ia berusaha bangkit

__ADS_1


"Mau kemana? tahan Nathan"


"mengambil alat makan" jawabnya setengah mengantuk


"Duduklah, biar suamimu mengambil alat makan, kamu sedang hamil dan masih setengah sadar, nanti kamu jatuh" titah Antonio pelan tapi tegas, Joyce langsung kembali duduk dan sadar sepenuhnya


setelah makan malam, keempat orang itu duduk di sofa ruang tamu, mereka tidak naik ke ruang keluarga karena letaknya di lantai dua.


Nathan yang berbincang dengan orangtuanya seputar keadaan Joyce dan kandungannya, karena Joyce sudah kembali tidur dalam dekapan sang suami, wajahnya terlihat polos dan damai seperti bayi tertidur


"Kami akan pulang, biarkan Joyce tidur, jangan membangunkannya" titah Antonio, Nathan mengangguk lalu merebahkan sang istri di sofa dan mengantar orangtuanya ke pintu utama


Setelah mengunci pintu, Nathan merapikan semua peralatan kerjanya, mengganti pakaian tidurnya lalu mengangkat tubuh kecil Joyce ke kamar, dan setelah menyelimuti sang istri, ia pun bergabung tidur bersama sang istri


ya sejak pulang dari rumah orangtuanya, Joyce tidak diijinkan tidur sendiri lagi oleh Nathan, Nathan takut Joyce pingsan atau mengalami hal lain , tapi barang Nathan masih dikamar lantai dua


Nathan mengusap perut sang istri, mengecupnya, mengajak bayinya bicara lalu tertidur dengan pulas sambil memeluk perut sang istri


\=\=\=\=\=\=\=


jam empat pagi Joyce terbangun, ia segera menjalankan rutinitas membereskan rumah, lalu membuat sarapan, kopi suaminya , tanpa mencuci pakaian karena pantri sudah kosong. lalu bergegas mandi karena bersiap ke rumah sakit


Nathan terbangun mendengar suara gemericik air, tak lama sang istri keluar dan masuk ke walk in closet lalu keluar dengan pakaian rapi


"Mau kemana?" tanya Nathan


"Kerja" jawab Joyce dingin


"Ini Sabtu" ucap Nathan datar membuat Joyce segera memeriksa ponselnya , benar ini Sabtu , ia menepuk pelan keningnya ,


Joyce kembali ke walk in closet lalu menukar pakaiannya dengan terusan tanpa lengan yang modelnya sederhana tapi elegant dengan panjang beberapa centi diatas lutut menunjukkan kaki putih mulusnya , Nathan meneguk ludahnya. ia langsung naik ke lantai dua membersihkan diri


"Ayo kita makan diluar" ajak Nathan yang turun dengan kaus oblong warna putih dari brand ternama Paris, dan celana pendek jeans warna hitam. ia terlihat sangat tampan, Joyce lagi lagi terkesima melihat sang suami


"Ehemmm" deheman Nathan merusak konsentrasinya menatap sang suami


"ah ya? ada apa?" tanya Joyce malu


"Kita makan di luar ya, aku ingin mengajak anakku makan makanan Thai"


Joyce mengangguk, ia mengenakan sandal jepit dari brand ternama , Nathan mengenakan sandal yang sama dengan ukuran berbeda lalu bergegas menarik pinggang sang istri keluar


"minumlah" Nathan mengeluarkan yoghurt dari kulkas kecil di mobilnya, Joyce langsung menyesapnya dengan lahap


mereka ke Restoran Thai- Wellington


"Aku mau duduk disana" tunjuk Joyce di sebuah meja bagian sudut , Nathan mengangguk menuruti kemauan sang istri , ia duduk tepat disamping sang istri


tak lama beberapa makanan Thai yang taste asam keluar, Joyce makan dengan lahap, Nathan senang sekali melihat nafsu makan sang istri, ia sendiri makan satu sayuran dan beef red curry


ketika mereka menyelesaikan makannya, pelayan menghidangkan buah segar dengan taste asam juga untuk Joyce, dan sepiring kecil buah manis untuk Nathan


"Dokter Nathan, anda juga disini? sangat kebetulan" sapa seseorang, pasutri itu mendongak dan menatap ke arah suara tersebut, Nathan langsung berdiri dan menjabat tangan orang itu


"Mr.Steward kebetulan sekali. Duduklah" Ajak Nathan sopan , Robert juga ikut duduk tanpa bersuara


"oh ya kenalkan ini istri saya" keduanya saling bertatapan cukup lama

__ADS_1


"Ehem" Nathan berdehem dan memeluk pinggang sang istri posesive


"Celyn kamu disini?" sapa Mr Steward


"Jeremy, sejak kapan disini?" tanya Joyce sambil mengatupkan dua tangannya di dada , Jeremy melakukan hal sama


Nathan merasa emosi karena seseorang memanggil istrinya celyn, hanya dia yang boleh memanggil istrinya begitu . ia bisa melihat tatapan penuh cinta Jeremy pada istrinya


"Sayang, kamu mengenal Mr Steward?" tanya Nathan datar , Joyce mengangguk


"mama saya terkena serangan jantung dan kritis saat di London, celyn yang menangani mama saya sampai sangat sehat kembali hingga saat ini" Jeremy menjelaskan dengan senyum bahagia


Nathan hanya mengangguk tanda paham, tapi ia merasa kalau hub sekedar pasien dan dokter, tidak mungkin menggunakan panggilan seakrab itu


"Celyn, kamu sudah menikah dan sedang mengandung ?" tanya Jeremy, Joyce mengangguk


"Ya saya sudah menikah, dokter Nathan suamiku" jawab Joyce sambil memegang lengan sang suami dan mengelusnya


Jeremy merasa sesak mendengar ucapan Joyce ditambah melihat tindakan Joyce itu, ia amat putus asa, akhirnya ia memilih berpamitan


"Aku masih ada janji dengan temanku, lain waktu kita ngobrol lagi , saya permisi dulu' pamitnya sopan pada Nathan dan Joyce . keduanya tersenyum dan mengangguk


"Dia menyukaimu?" tanya Nathan , Joyce menggeleng


"Ibunya tinggal di London untuk therapy pengobatan selama setahun, jadi sering bertemu dan menjadi teman" jawab Joyce kembali dengan mode datarnya


"Matanya menatapmu penuh cinta, lain kali kalau bertemu dia, menghindarlah, aku tak suka pria lain menatapmu" ucap Nathan dengan suara agak tinggi membuat Joyce memasang wajah dingin


"Jangan jangan kamu mulai jatuh cinta pada ART mu ini“ sindir Joyce tajam


"Joycelyn Alexa Wellington" hardik Nathan, beberapa pasang mata menatap mereka , Joyce merasa malu sekali


"Aku ke toilet" pamitnya


Nathan mengusap wajahnya kasar, ia kembali membentak sang istri , rasa sesal melanda hatinya


lima belas menit Joyce kembali, mata dan hidungnya merah serta sedikit bengkak , Nathan langsung memeluknya tapi Joyce menghindar


"Antar aku ke rumah momy, aku rindu Dady" pinta Joyce lalu berjalan ke pintu keluar , dengan cepat Nathan menyusulnya dan memeluk pinggangnya, membuka pintu mobil dan memasangkan seatbelt untuk sang istri lalu masuk ke kursi pengemudi


"Sayang , aku minta maaf, aku bukan sengaja membentakmu, aku minta maaf" Joyce hanya diam, ia menatap ke jendela dengan wajah dingin , dari pantulan kaca Nathan bisa melihat luka di mata sang istri


karena Joyce tak bergeming, Nathan melajukan mobilnya menuju ke pent housenya bukan kerumah mertuanya, Joyce hanya diam . saat tiba ia turun dari mobil dan naik ke unit mereka. lalu masuk kekamar dan menguncinya dari dalam.


Nathan mengusap wajahnya kasar, ia seketika frustasi mengalami keadaan seperti ini. ia memilih duduk di sofa ruang tamu


sekitar setengah jam, sang istri keluar kamar dengan pakaian rapi, Nathan berdiri


"Mau kemana?" tanya Nathan menatap wajah sang istri yang mata dan hidungnya makin memerah


"Aku akan berbelanja dengan sepupuku , ia sudah di bawah menjemputku" jawab Joyce dingin


"Jam berapa pulang?" tanya Nathan lagi


"sebelum jam tujuh aku menginap di rumah momy, aku merindukan Daddy" jawabnya makin dingin


"Pergilah, kita menginap di rumah Daddy malam ini" ucap Nathan dan mengantar sang istri sampai ke pintu. ia menatap tubuh mungil itu menghilang di balik lift baru ia masuk ke dalam rumah bersiap ke rumah orang tuanya

__ADS_1


__ADS_2