
"Biar aku yang mengurus mereka" ucap Antonio tegas, Nathan dan Charlos mengangguk
"Tapi aku tetap akan bertanggung jawab pada Joyce dad" tegas Nathan lagi
"Baiklah, kalian melamarlah dengan cara yang benar" jawab Charlos sambil mengusap wajahnya
"kalian akan menikah Minggu depan, hanya pemberkatan digereja dan acara adat dihadiri keluarga inti, aku tak ingin berita ini tersebar agar tidak memicu gejolak netizen yang bisa merusak reputasi putriku"
"mengenai resepsi, aku juga tidak ingin resepsi dadakan, supaya tidak memicu komentar negative pada Joyce, kalian berdua aturlah kapan siap mengadakan resepsi"
Nathan dan Antonio menyetujui karena mereka tau Charlos sangat menjaga kehormatan keluarganya.
"Baik, besok kami akan datang melamar, mas kawin apa yang di minta pihakmu Charlos?' tanya Antonio
"Rumahku tidak kekurangan apapun, cukup buat putriku bahagia, bila kau menyakitinya, kupastikan kau tak akan bertemu dengan putriku lagi" tegas charlos lalu beranjak pergi
hatinya sangat sedih atas apa yang dialami putrinya, harus menjalani pernikahan dengan cara seperti ini.
sampai di rumah, ia memanggil putrinya untuk bicara duduk , tapi ia sama sekali tak mengungkit insiden yang menimpa putrinya demi menjaga harga diri sang putri
"Dokter Nathan melamarmu kepada Daddy, apakah kamu bersedia? dia orang yang baik dan tanggung jawab juga sudah mapan" tanya Charlos
"Dad, Joyce sudah tunangan"
"Pertunangan sudah berakhir di ulang tahunmu yang ke 23 kemarin sayang"
"Dad yang putuskan, Joyce ikut saja" jawab Joyce yang tak mampu melukai hati orangtuanya
"Kalau begitu dad akan menerima lamaran mereka"
"Baik tapi Joyce ingin bicara empat mata dengan dokter Nathan dulu dad"
"satu jam lagi dia akan tiba menemuimu sayang" jawab Charlos setelah menghubungi Nathan melalui ponselnya
"Joyce menunggunya di halaman belakang dad" pamit Joyce, Charlos mengangguk
benar satu jam berikutnya Nathan sudah tiba di kediaman Winston, langsung di minta Charlos ke taman belakang
"Dokter Nathan, anda tidak perlu menikahi saya karena tanggung jawab" ucap Joyce dingin, langsung ke poin masalah
"Saya seorang laki laki, saya tetap akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya"
"Di luar sana, one night stand sering terjadi, dan tidak harus berakhir dengan pernikahan"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu mengandung?" tanya Nathan dingin sekali
"Jangan berpikir terlalu jauh dokter Nathan, kita hanya melakukannya sekali, tidak mungkin mengandung. lagipula bila mengandung, aku masih mampu membiayai anakku"
"Sekali?" gumam Nathan sambil menyeringai tipis "dan kamu membiarkan anakku dihujat, anak haram oleh teman disekolah ya?" tanya Nathan menatap tajam pada Joyce
Joyce teringat bagaimana masa kecilnya dulu tanpa ayah disisinya, ia dan dua kakaknya selalu dibuli dan dihujat oleh teman teman mereka , hatinya nyeri, air matanya hampir saja jatuh tapi ia menguatkan diri karena harus menyelesaikan pembicaraan dengan Nathan
"Saya sudah menyukai orang lain , Dokter Nathan"
Nathan langsung mengeratkan rahangnya, lebih dari separuh usianya dia pakai untuk berjuang memberi masa depan indah buat Joyce, ia juga telah berpesan Joyce tidak boleh menyukai orang lain, tapi Joyce mengingkari
"Bagimu janji anak kecil mungkin hanya omong kosong belaka" batin Nathan
"Hubungan kita adalah tanggung jawab orangtua pada anaknya" jawab Nathan menahan emosinya
"Baiklah, setelah setahun aku harap kita berpisah dan mencari kebahagiaan kita masing masing" putus Joyce
"aku tak ingin pernikahan ini diketahui orang di rumah sakit"
Nathan menengadah keatas , memejamkan matanya sesaat lalu mengambil therapy pernafasan untuk meredam emosinya yang sudah hampir meledak akibat ucapan Joyce
"Gadis kecil ternyata kamu ingin mempermainkan aku dan mempermainkan pernikahan, baiklah aku ladeni" batin Nathan penuh amarah
"mari temui orangtua kita" ajaknya lalu berjalan duluan
"Dad, papa.. kami akan menikah Minggu depan" ucap Nathan, diangguki Charlos dan Antonia dengan senyum bahagia
seminggu kemudian
kini keduanya tengah menuju pintu keluar ruangan catatan sipil , mereka baru selesai mengurus dokumen pernikahan setelah tadi pagi menjalankan acara pemberkatan di gereja lalu menjalani acara adat pernikahan sesuai tradisi keluarga Winston
"Kita pulang" ucap Nathan, Joyce diam saja, ia berjalan didepan menuju mobil Nathan
"Ambil keperluanmu, kita akan pindah ke apartemenku , tepat disamping rumah sakit, mempermudah aktifitas kegiatan kita sebagai suami istri yang tidak biasa ini dari penilaian keluarga" sindir Nathan , Joyce mengangguk tanpa suara
Setelah mereka tiba di rumah Winston , Nathan pamitan pada mertuanya dan membawa Joyce pindah, meskipun awalnya smua keberatan tapi tetap harus ikhlas karena Joyce sudah menjadi milik suaminya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiba di Penthouse Wellington
"Itu kamarmu" tunjuk Nathan pada Joyce, Joyce mengangguk dan membawa kopernya ke kamar yang ditunjuk Nathan
__ADS_1
"Aku menunggumu, tiga puluh menit lagi kita bicara disini" ucap Nathan menunjuk sofa ruang tamu yang mewah itu , Joyce mengangguk dan masuk kekamarnya
tiga puluh menit kemudian, sehabis mandi ia keluar menemui Nathan yang sudah menunggunya
Nathan terkesima melihat kecantikan Joyce yang rambutnya masih setengah basah, polos tanpa make up tapi memancarkan kecantikan alaminya , tapi ia segera tersadar harus bicara dengan Joyce
"Duduklah" titah Nathan, Joyce langsung duduk di depan Nathan
"Aku tak suka orang asing di rumah ini, jadi tugasmu adalah mencuci, memasak, membersihkan rumah ini" ucap Nathan dingin,
Joyce berpikir sesaat, Nathan menyeringai tipis , ia pikir Joyce akan menangis merengek rengek memintanya membatalkan niatnya dan ia akan mengajukan persyaratan lain
"Baiklah" jawab Joyce dingin "Ada lagi?" tanya Joyce
Nathan membuka dompet dan mengeluarkan dua lembar kartu warna hitam
"Yang satu ini untuk biaya rumah ini, yang satunya untuk smua kebutuhanmu, kamu bebas menggunakannya sesukamu, kewajibanku menafkahimu sebagai istriku" Nathan meletakkan dua kartu itu di meja dihadapan Joyce. Joyce terdiam
"Pertama, aku terbiasa bekerja dengan job desk, jadi kuharapan kamu menuliskan semua yang harus aku kerjakan di rumah ini, jangan lupa cantumkan alasan kenapa aku sendiri yang mengerjakannya , bukan kita berdua"
"yang kedua cantumkan berapa lama aku harus menjalankan job desk yang kamu buat, pertanggal berapa sampai berapa"
"yang ketiga tulis rules dalam rumah ini, alergimu, dan yang dilarang"
Nathan mengambil kertas HVS di bawah meja dan menuliskan semua sesuai permintaan Joyce, lalu menandatanganinya.
Joyce mengambil kertas itu, membaca sesaat dan tersenyum tipis lalu melipat dan menyimpan dalam sakunya
"kertas ini aku simpan, untuk kartu ini simpanlah kembali, aku masih bekerja dan memiliki penghasilan. untuk belanjaan dirumah ini aku akan membelinya, akhir bulan aku berikan nota padamu"
"Tak perlu memberikan nafkah untukku, karena kita cuma pasangan suami istri yang tidak biasa" ucap Joyce dan bergegas berjalan ke kamarnya
Nathan menatap punggung mungil itu sampai menghilang dibalik pintu dengan amarah penuh, dan dengan emosi ia bergegas naik ke lantai dua
jam empat pagi Joyce bangun, membersihkan rumah dengan penghisap debu, mencuci dan mengeringkan pakaian, menyetrika dengan setrika uap, mencuci piring, memasak sarapan.
beruntung rumah Nathan memiliki peralatan canggih sehingga meskipun lelah , tidak terlalu menguras tenaga.
tepat jam 6 pagi, Joyce menulis memo akan berangkat kerja karena dalam rules dikertas tadi malam, bila ingin keluar rumah harus minta ijin pada Nathan. karena tidak memiliki nomor ponsel Nathan, Joyce menggunakan memo stick dan menempelkan disamping gelas kopi Nathan dimeja makan
beberapa menit setelah Joyce berangkat bekerja, Nathan sudah turun dengan pakaian rapi, ia bisa melihat keadaan rumah sangat bersih dan rapi, sarapan lezat dan kopi sudah terhidang
"Jam berapa gadis itu bangun?" pikir Nathan "bagaimana seorang ratu dirumahnya bisa mengerjakan pekerjaan rumah , di rumah sebesar ini dan sendirian pula" ada rasa sesal dihari Nathan menyiksa gadisnya tapi ia masih kesal juga. akhirnya ia menghabiskan sarapan dan kopinya
__ADS_1
"Jaman apa ini masih menggunakan kertas pesan?" gumam Nathan makin kesal setelah ingat istrinya tidak memiliki nomor ponselnya