Akhir Airmata Dokter Joyce

Akhir Airmata Dokter Joyce
Bab 8 - Joyce pingsan


__ADS_3

Hampir dua bulan berlalu


Joyce tetap melakukan aktifitas seperti biasa, pagi bangun jam empat, lalu membersihkan rumah dan mencuci pakaian dan membuat sarapan, setelah membuat sarapan baru ia membersihkan diri dan pergi bekerja.


Tapi pagi itu, sejak jam tiga, ia terus mengeluarkan isi perutnya sampai ia terduduk lemas di lantai kamar mandi , tapi ia berusaha menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya dengan sisa tenaganya tapi ia tak mampu , ia memutuskan membersihkan diri agar lebih segar baru melanjutkan kegiatannya


usai mandi dan mengenakan pakaian, ia merasa kepalanya makin berdenyut, ia mencoba mengambil obat dalam tasnya diranjang dengan sisa kekuatannya , tapi ia terhuyung dan terjatuh di lantai dekat ranjangnya. lalu ia tak ingat apapun lagi


Diluar kamar Nathan yang sudah berpakaian rapi, merasa heran tidak ada sarapan dimejanya, tidak ada notes, sepatu istrinya masih di rak, penghisap debu masih ditengah ruangan. Hatinya mulai merasa tidak enak.


"Celyn, Celyn" ia mengetuk kamar istrinya tak ada sahutan, lima menit berlalu masih tidak ada respon, ia naik ke ruang kerjanya mengambil kunci serap lalu membuka pintu, ia melihat istrinya terbaring di lantai


secepat mungkin ia berlari mengangkat istrinya lalu merebahkan perlahan di ranjang, ia memegang nadi istrinya yang denyutannya lemah


Nathan mengusap wajahnya kasar "Apa ia hamil" batin Nathan yang langsung segera memanggil dokter obgyn dari rumah sakitnya untuk datang membawa peralatan lengkap


tiga puluh menit menanti, di gunakan Nathan mengoleskan alkohol di belakang telinga dan lengan istrinya yang belum siuman sampai bel berbunyi dengan cepat ia bergegas bangkit membuka pintu untuk bell yang dia yakini dokter obgyn tiba


benar saja, Nathan langsung memintanya memeriksa sang istri


"Hmmm.. dokter Joyce istrimu?" tanya gilda sang dokter obgyn saat melihat Poto pernikahan mereka


"Ya, cepatlah periksa istriku, ia pingsan" pinta Nathan tak sabaran


"Double pay " ucap gilda sambil masuk kekamar mengikuti Nathan lalu memeriksa Joyce


"Kandungannya delapan Minggu bro, ada dua kantung rahim, alias twins, bayaranku triple pay" ucap gilda tertawa "Selamat ya calon papa baru" ia menjulurkan tangan, Nathan menerima juluran tangan itu


"Terima kasih" ucapnya dengan expresi sulit diartikan


"ini Poto anakmu, bukan depan bawa keruanganku untuk check up" Nathan mengangguk


"kehamilan kembar berbeda dengan kehamilan biasa, jangan sampai kelelahan, stress, atau membuat suasana hatinya buruk apalagi kehamilannya masih muda di trimester pertama bisa mengakibatkan keguguran"


"jangan sampai" ucap Nathan terkejut , gilda tertawa


"tak akan terjadi kalau kau menjaga istrimu dengan baik bro" gilda mulai menjelaskan detail seputar kehamilan sang istri mengenai kebutuhan nutrisi dan hal serta makanan yang harus dihindarkan


"Mau aku bukakan resep atau kuminta suster mengantar kesini?" tanya gilda


"sediakan saja, aku minta asistenku ambil di ruanganmu sebentar lagi" titah Nathan, mengambil ponsel dan membuka aplikasi banking


"pemeriksaan pertama gratis, untuk calon keponakanku, jaga istrimu baik baik, tubuhnya sangat lemah" gilda pun kluar diantar Nathan sampai pintu utama


ada rasa sesal di hati Nathan yang membuat sang istri kelelahan hanya karena egonya dan gengsinya


perlahan ia berlutut dilantai, kepalanya menghadap ke perut istri kecilnya, mengusap perut istrinya dengan pelan sesekali menciuminya, sambil berbisik


"Sayang, jangan menyusahkan mami kalian, papi menantikan kehadiran kalian ke dunia, sungguh papi sangat mencintai kalian bertiga" ia menahan airmata haru , akhirnya buah kasihnya dengan wanita yang sangat dia cintai itu tumbuh didalam perut sang istri


eughhh terdengar suara Joyce menggeliat, tangannya dipasang infus oleh gilda tadi terasa nyeri


Nathan langsung duduk di ranjang , menatap sang istri dengan khawatir


"Ah.. jam berapa ini?" tanya Joyce yang buru buru bangkit melihat wajah tampan suaminya ada dihadapannya


"maaf aku kesiangan, sarapanmu.."


"sttttt" Nathan meletakkan telunjuk didepan bibir mungil itu


"Tadi kamu pingsan, karena terlalu banyak muntah jadi kekurangan cairan, dokter gilda sudah datang memeriksa mu, kamu sedang mengandung, bayi kita ada dua didalam sini"


"Tubuhmu sangat lemah, bisa membahayakan anak kita, jadi istirahatlah " ucap Nathan pelan

__ADS_1


Joyce membeku cukup lama, lalu ia berkata "aku tak menginginkan bayi ini"


Deghhhhh Nathan terkejut sekaligus merasa hatinya hancur mendengar ucapan Joyce, ia menatap tajam pada Joyce


"Apa maksudmu hah?" bentaknya membuat Joyce terkejut


Mata Joyce langsung berair di bentak seperti itu , ia menarik selimut sampai menutupi wajahnya , Nathan dapat merasakan tubuh mungil itu bergetar dan sedang menangis


Nathan menyesal sudah membentak sang istri yang sedang hamil dan terbaring lemah


"Joyce, maafkan aku, aku tak bermaksud membentakmu"


"Keluarlah"


"Aku minta maaf" Nathan berusaha membujuk Joyce


Joyce menyeka airmatanya lalu hendak bangkit , Nathan menahannya


"Kemana?"


"kamu yang keluar atau aku yang keluar?" tanya Joyce, melihat wajah Nathan ia makin sedih karena ingat bentakannya tadi


Nathan langsung memeluknya, membawa tubuh kecil itu bersandar didadanya.


"Maafkan aku, aku tak sengaja membentakmu, tak ada niat begitu, maafkan aku" Joyce terus menangis dan memukuli dada Nathan


"Maafkan aku, jangan emosi, kasihan bayi kita" Nathan berusaha menenangkan istrinya sampai Joyce kelelahan dan merasa tubuhnya melemas . ia tidur dalam pelukan Nathan.


perlahan Nathan merebahkan tubuh Joyce dan menarik selimut sampai ke dadanya. ia mengusap wajahnya dengan frustasi lalu berjalan ke sofa ruang tamu


akhirnya Nathan memutuskan menghubungi ibunya , hanya itu yang terpikirkan olehnya


"Halo, ma... "


"Sayang.. masih disana?' tanya sang ibu menyadarkan lamunan sang anak


"Ah iya ma"


"Kenapa ? kamu ada masalah?" tanya flora heran mendengar nada lesu anaknya, ia segera mengaktifkan panggilan video dan diterima Nathan


"Kenapa wajahmu lesu , ada masalah apa nak? kamu dimana sekarang?" berondong flora khawatir


"Di rumah ma, Tadi Joyce muntah terus sampai kekurangan cairan dan lemas akhirnya pingsan"


"Astaga, lalu bagaimana keadaan Joyce sekarang? sudah diperiksa?" tanya flora, Nathan hanya mengangguk "apa kata dokter"


"Joyce mengandung 8 Minggu ma, dan bayinya kembar . tapi ia sekarang sedang bed rest , dokter kandungan tadi datang dan sudah memasang infus di tangannya, sekarang sedang tidur di kamar" ucap Nathan lemah


"Tunggu mama datang" flora langsung memutuskan sambungan ponselnya


Flora yang merasa sangat bahagia langsung menghubungi suaminya dan menghubungi Catherine yang tak kalah gembira, mereka berjanji akan bertemu di pent house Nathan satu jam ke depan.


flora menjemput cathie yang rumahnya berada di seberang rumah flora, sementara Antonio yang sedang minum kopi dengan Charlos membicarakan project baru mereka langsung berangkat ke rumah Nathan


benar saja, satu jam kemudian dua pasang pasutri itu tiba di pent house Nathan, Nathan membukakan pintu dengan tampang acak acakan . ada binar bahagia dimatanya


"Mana Joyce, Niel? " tanya Antonio dan Charlos bersamaan


"Dikamar" Nathan menunjuk kamar tak jauh dari mereka, empat orang itu buru buru kekamar , Nathan menghalangi mereka


"Joyce baru siuman, masih lemas dan baru tertidur, jangan membangunkannya ma pa"


"Duduklah dulu" ajak Charlos

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu menjadi calon papa?" tanya Charlos merangkul bahu menantunya


"Nano nano dad"


semua menatapnya datar


"Bahagia karena memilik buah hati kami, bahkan Tuhan sangat baik, sekali beri dia bayi. sedih melihat keadaan Joyce begitu, perutnya sama sekali tidak terisi karena sudah dikeluarkan semua, bahkan sampai harus diinfus" ia mengacak rambutnya kasar "kenapa bukan Niel saja yang merasakan sakitnya"


empat orangtua itu tersenyum "bersabarlah, dulu saat hamil Joyce dan kakaknya, mom sampai tidak bisa turun dari kasur , setiap duduk seisi perut akan keluar semua, paling sedih harus menjalani semua sendirian karena daddynya Joyce sedang bekerja saat itu " terang Catherine membuat Charlos menatapnya penuh rasa bersalah


"maafkan aku sayang" ucap Charlos


"Tapi untungnya saat hamil Jordan Jordi, daddy mu yang ngidam parah, ia sangat sensitive sekali" ucap Catherine mencairkan suasana


"Wanita hamil sering mengalaminya, itu ujian buat orangtua agar lebih kompak dan saling mendukung, kamu harus bersabar" ucap flora , Nathan mengangguk


ada rasa sesal dihatinya karena kejadian tadi yang sudah membuat sang istri menangis , belum lagi selama ini dia menyiksa istrinya dengan pekerjaan rumah yang melelahkan


ia berjanji pada diri sendiri kedepannya akan membuat sang istri bahagia dan mengalah pada sang istri


"Disini sangat sepi, kalau terjadi sesuatu dengan Joyce saat kamu bekerja, tidak ada yang tau dan tak ada yang menolongnya, kalian pulanglah ke rumah , mama bisa menjaga Joyce, ada mertuamu juga diseberang rumah" ucap Antonio


"Niel akan membicarakan dengan Joyce, kalau Joyce bersedia, Niel setuju saja"


"Tak usah tanya, dia tidak suka merepotkan orang, pasti akan menolak, sebaiknya langsung pindah saja, nanti dad yang bicara saat Joyce bangun" potong Charlos, semua setuju akan keputusan Charlos


"Mengenai bekerja .. dad" Nathan menatap sang mertua dengan tatapan memohon , Charlos memahami tatapan menantunya


"Kalau itu dad menyerah ... kamu saja yang memintanya cuti, Joyce sama dengan mommynya sangat keras kalau mengenai pekerjaan" Charlos melemparkan hal itu pada menantunya yang langsung terduduk lemas


"Ehmmm ... " Antonio berdehem meminta perhatian


"Kita sudah tau Joyce hamil, suasana hati bumil suka berubah ubah, menurutku biarlah Joyce bekerja karena itu bagian kebahagiaannya dengan catatan kurangi jam prakteknya dan batasi harinya cukup Senin sampai Kamis, bila kelelahan, harus istirahat"


"Tapi pa..." protes Nathan


"Benar kata papamu Niel, kamu ingin bertengkar setiap hari atau membiarkan istrimu bersedih setiap hari hanya karena pekerjaan?" tanya flora, Nathan hanya diam


"Mom setuju dengan papa kamu niel" jawab Catherine yang sedari tadi diam saja


"mom..." tatapan memohon Nathan pindah pada Catherine


"Maaf, mom ibunya Joyce yang mengenal karakternya, Joyce akan mengamuk jika tiba tiba disuruh berhenti bekerja , sekarang ia sedang mengandung , mom tak mau ambil resiko Niel"


Charlos paling malas berselisih dengan istrinya, ia hanya menuruti keputusan sang istri apalagi dia diposisi sulit


"Baiklah kita jalani begitu" putus Nathan pasrah


Charlos masuk kekamar menemui sang putri, sekitar sepuluh menit, Charlos menggendong putri kecilnya ke ruang tamu dan mendudukkan perlahan di sofa


"Sayang, wajahmu pucat sekali" keluh flora dengan sedih


"mau makan apa? mom sediakan untukmu nak" tanya Catherine sambil tersenyum


"Joyce ikut kita pulang hanya beberapa hari, setelah pulih akan kembali kesini karena dekat dengan rumah sakit, ia lebih mudah bekerja. Juga sudah bersedia jadwal kerja dikurangi. kita hargai keputusannya ya" ucap Charlos membuat yang lain terkejut tapi hanya bisa mengangguk pasrah


"Joyce mau mama memasak sup sayur asem dengan ikan nila" pinta Joyce membuat semua ternga-nga


"kenapa? itu enak" tanya Joyce heran


"Ah tidak apa apa, iya itu enak, mama akan memasak untukmu sayang" jawab flora gugup , dia bahkan belum pernah mendengar menu seperti itu


"Niel gendong istrimu, kita berangkat sekarang" titah Antonio

__ADS_1


Nathan melepaskan tabung infus dan mempersiapkan obat obatan Joyce, setelah mengambil hand bag Joyce dan tas kerjanya , sang ibu membantu membawakan barang barang tersebut dan mereka pun pulang ke rumah antonio


__ADS_2