
Setelah nafasnya normal kembali Cintami segera membersihkan diri, ia tipe wanita yang pembersih, setelah mengenakan pakaiannya Cintami bersiap kembali ke ruang kerja untuk keluar dan kembali ke kamarnya
"besok aku harus ke Paris menghadiri meeting dengan klien" sebuah tangan besar meraih perutnya dari belakang "Semua sudah dibereskan, jadi tak usah repot" Winston menunjukkan kopernya
"Aku tak rela melepasmu kembali" bisik Winston, tangannya menyelipkan sebuah cincin ke jari manis sang istri , ia mau menarik istrinya kembali ke kasurnya
"Jangan begitu Pi" jawab Cintami lirih , Winston mengecup pipinya lalu berbisik "Kembalilah, mimpi indah sayang, esok pergilah memasang alat kontrasepsi aku tak suka menggunakan pengaman" tak lupa ia menggigit kecil telinga putih istri barunya , Cintami mengangguk lalu segera keluar dari ruang kerja Winston
Pagi buta Winston sudah berangkat ke bandara , sebelum Cintami bangun , saat bangun ia mendengar dari pelayan , Winston sudah berangkat awal, siangnya Cintami segera ke dokter memasang alat kontrasepsi
seminggu berlalu Winston masih berada di Paris , mereka berdua tidak saling berhubungan, Cintami kembali fokus pada kegiatan sehari harinya , senam, spa, ke salon, arisan. Rumah terasa sepi sekali
Sabtu usai magrib, Cintami memilih istirahat lebih awal, tapi sekitar pukul delapan malam , pelayan mengetuk pintu dan membangunkannya
"Nyonya, Tuan besar meminta anda menghadap, beliau di ruang kerja" ucap sang pelayan
"Baiklah sebentar lagi aku kesana" pelayan segera berlalu, Cintami segera bergegas menyambar jubah tidurnya untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan terusan satin bertali spaghetyy dengan panjang sejengkal di atas lutut , ia bahkan lupa mengenakan penyangga lampu kembarnya yang sebesar buah kelapa
Tok Tok Tok
Ceklekkk
Cintami masuk ke ruangan kerja Winston, Winston langsung menekan remote untuk mengunci pintu dari dalam
Winston mengenakan piyama satin berwarna hitam, tampak ia baru selesai mandi, wajahnya segar sekali dan ada kesan basah dirambutnya menambah ketampanannya
"Sudah pulang Pi? mau makan sesuatu? atau minum sesuatu?" tanya Cintami sopan
Winston segera bangkit dari kursi kebesarannya dan menarik lengan istrinya menuju ke kamarnya , Cintami mengikutinya
"Aku mau minum susu dan memakanmu" bisik Winston sambil merebahkan istrinya di ranjang mewahnya lalu mengukung tubuh istrinya
"Apa merindukanku hummm" tanya Winston, Cintami memalingkan wajahnya malu , Winston tertawa
pertama kalinya ia melihat Winston tertawa bebas seperti itu setelah biasanya memasang wajah dingin dan kaku , ia terpesona ketampanan sang suami
Winston menangkup wajah cantik itu dan menatap bola mata Cintami ' aku merindukanmu, dia juga" Winston mengambil lengan putih mulus itu dan mengarahkan ke senapannya yang sudah berdiri tegak
perlahan Winston melepaskan jubah penutup tubuh Cintami, ia menggigit kecil puncak lampu kembar Cintami yang masih tertutup baju satinnya, perlakuannya membuat Cintami memejamkan matanya
saat Winston menyingkap bawahan Cintami, ia merasa senang sekali karena sama sekali tidak ada penghalang apapun disana
"Kamu bener bener istri yang baik dan pengertian, aku sangat menyukai sikapmu" ucap Winston lalu turun ke bawah, mengecup sawah istrinya dan bermain main dengan lidahnya
"Agg" pekik Cintami saat lidah Winston mulai masuk di dalam gua basah itu dan menari didalam, ia menggeliat kegelian
__ADS_1
"Pi ... " jeritnya
Winston dengan lihai terus bermain di tubuh istrinya dari atas sampai bawah, dari bawah sampai kembali ke atas
"Pi... aku tak kuat" pekik Cintami
"Katakan maumu sayang" ucap Winston karena Cintami yang malu menyembunyikan wajahnya dengan bantal , Winston tak melepasnya begitu saja
ia menggunakan ujung senapannya dan memutar mutarnya dipintu sawah Cintami, sebelah tangannya bermain di bulatan lainnya membuat Cintami meledakkan laharnya
"Katakan sayang ..." bisik Winston yang sudah menatap Cintami, tangannya memutar puncak lampu kembar sang istri " katakan maumu"
"aku menginginkanmu" ucap Cintami susah payah karena Winston terus memanjakannya sampai ke awan awan
"Menginginkan apa ?" goda Winston
dengan malu Cintami akhirnya "Aku ingin dimasuki papi, please"
"as you wish" jawab Winston sambil tersenyum, perlahan ia mendorong senapannya masuk ke sarangnya
"Aggg" pekik Cintami
"Aku boleh bermain agak kasar?" ijin Winston, Cintami mengangguk pelan
dua jam permainan itu berakhir saat Winston melepaskan ledakannya didalam rahim Cintami begitupun Cintami yang tepat memuntahkan ledakan laharnya
keduanya terbaring lemas seketika "Terima kasih sayang, kamu luar biasa, aku sangat menyukai malam ini" bisik Winston sambil meraih tubuh indah berisi itu kedalam pelukannya , Cintami mengangguk dan menormalkan pernafasannya
"Aku puasa seminggu , aku sangat kelaparan, malam ini aku akan memakanmu hanya tiga kali tapi besok aku akan memakanmu seharian' ucap Winston sambil memutar mutar jarinya di puncak gunung kembar sang istri yang seolah akan tumpah karena terlalu besar
"Tiga kali?" tanya Cintami terkejut , Winston mengangguk "kenapa? masih kurang?" tanya Winston tersenyum, "aku masih lebih dari mampu kalau mau sampai besok, aku hanya takut kamu tak bisa berjalan sayang"
Cintami memukul bahu suaminya pelan, dan menyembunyikan wajahnya di dada kekar itu "Sekali saja, besok lagi" rengeknya
"Tak bisa, aku mau, dia tak mau' Winston kembali mengarahkan tangan Cintami ke senapannya "Ia merindukanmu, manjakan dia ya sayang" pinta Winston, Cintami paham apa yang suaminya inginkan
ia mulai mengecup dan menyesap es krim suaminya , Winston memejamkan matanya , hingga beberapa waktu Cintami naik ke tubuh suaminya dan memasukkan senapan itu dalam guanya, ia mulai bergerak , meski kaku, tapi ia berusaha
akhirnya Winston membalikka. tubuhnya perlahan dan mengambil alih serta mendominasi permainan kembali , ia menghentak hentak sang istri dengan keras, wajah Cintami serasa sangat menikmati , berbagai gaya mereka coba , hampir dua jam mereka mendapatkan kelegaan luar biasa , Cintami memejamkan matanya karena tenaganya serasa habis
suaminya memiliki tenaga luar biasa, ia sangat kuat sekali bahkan lebih kuat dari suaminya dulu. bahkan lebih lihai dalam memanjakannya, tak lama Winston kembali bermain di tubuh Cintami ,
"papi aku lelah" rengek Cintami
"Tidurlah, biar aku yang bekerja" Winston memberi pelayanan habis habisan untuk memanjakan sang istri hingga pelepasan ketiga mereka, keduanya tertidur pulas
__ADS_1
Jam setengah empat pagi, alarm membangunkan Cintami, ia bergegas keluar melalui ruang kerja menuju kamarnya yang berhadapan dengan pintu ruangan kerja Winston , ia melanjutkan tidurnya sampai waktu menjelang pukul delapan baru ia turun ke ruang makan
"Tuan besar sudah keluar nyonya, beliau tidak sarapan, katanya jam sepuluh nanti akan datang menjemput nyonya untuk memilihkan rumah buat tuan kecil" lapor pelayan, Cintami mengangguk
setelah menyelesaikan sarapannya, Cintami naik ke kamar untuk bersiap siap menunggu jemputan mantan mertuanya itu
ia mengenakan terusan selutut dengan lengan Sabrina berwarna kuning muda, pakaiannya menonjolkan warna kulitnya yang seputih susu juga lekukan tubuh indahnya
Cintami memoleskan bedak tipis, dan mengenakan lip balm agar tidak terlalu pucat , sampai terdengar klakson dari mantan mertuanya yang entah kenapa sangat tidak pernah menelponnya sejak dulu , Cintami segera berlari turun menuju pintu utama
Sampai di mobil, Cintami masuk kedalam kursi penumpang bagian depan karena Winston mengemudi sendiri tanpa supir , Winston melirik sebentar penampilan Cintami lalu melajukan mobilnya dengan wajah datar
tiga puluh menit perjalanan, mobil Winston memasuki sebuah villa mewah bak istana , sangat megah sekali , villa yang dibangun diatas tanah berukuran dua hektar itu berdiri kokoh dan elegant
"Rumah ini untuk hadiah pernikahan kita" ucap Winston dengan wajah dingin , ia berjalan didepan dengan Cintami di belakangnya dengan perasaan penuh tanda tanya juga bingung
setelah mengelilingi sebagian rumah mewah itu kini mereka sudah tiba di lantai dua , Winston membuka sebuah pintu yang ternyata ruang kerjanya. setelah mengunci pintu, ia menekan sebuah tombol melalui remote ditangannya, pintu terbuka , menembus ke kamar Winston , lalu ia menekan kembali remote di tangannya , sebuah lemari berukuran kecil di sudut ruangan kamar bergeser , menembus ke sebuah ruangan yang ternyata juga kamar tidur yang diperuntukkan Cintami
Winston membuat pintu rahasia itu untuk bisa tidur bersama sang istri tanpa di ketahui siapapun saat sang istri atau dirinya sendiri ingin bertemu
"bagus sekali rumahnya" ucap Cintami takut takut melihat wajah dingin mantan mertuanya "aku menyukainya, ayo kita pulang pi' ajaknya
Winston menarik lengan sang istri dan menghempaskan ya ke ranjang , meski tidak kuat tapi cukup membuat Cintami terkejut
dengan cepat Winston melepaskan seluruh pakaian mereka sampai tak bersisa membuat Cintami yang masih terkejut menatapnya datar
dengan wajah masih dingin, ia memberi pemanasan pada sang istri , menyesap kuat puncak lampu kembar sang istri yang seolah akan meluap tumpah itu
"duh.." ringis Cintami merasa sedikit perih dipuncak lampu kembarnya , Winston segera turun ke bawah, menarikan lidahnya dibawah sana , sebelah tangannya memainkan butiran kacang disana , Cintami menggeliat dan akhirnya meledakkan lahar oanas, setelah dirasa pemanasan sudah cukup , Winston memasukkan senapan extra besarnya
BLASHHH
Cintami menggigit bibirnya sendiri menahan suaranya , Winston menghentaknya dengan kasar membuatnya merasa mendapat sensasi berbeda , tapi karena mood nya sudah buruk, ia merasa sedikit perih .
Winston bisa melihat kerutan di kening Cintami seperti merasa kesakitan, ia naik keatas meraup bibir tipis itu tapi Cintami memalingkan wajahnya , Winston turun kebawah memainkan puncak lampu kembar dengan lidahnya , menambah rangsangan kepada sang istri yang seperti merasa kesakitan tadi, setelah merasa sang istri sudah basah kembali, ia menyelesaikan permainan mereka dengan cepat sampai ia meledakkan lahar panas di rahim sang istri ia pun ambruk disamping Cintami
Cintami bangkit, tapi Winston menahannya "Kemana"
"Membersihkan diri Pi" jawabnya lembut dan sopan karena ia menghormati mantan mertuanya itu , lalu segera bangkit ke kamar mandi dan tak lama ia keluar dalam keadaan sudah rapi menuju ke conecting door dan langsung ke ruang kerja
sepuluh menit Winston sudah menyusulnya di ruang kerja dengan keadaan rapi. wajahnya sudah tidak sedingin tadi
"Ayo kita pulang , aku ingin istirahat" ajak Cintami lembut lalu berjalan ke luar pintu, Winston yang sudah menutup semua pintu segera menyusul sang istri yang kini berada disamping mobil mereka
sepanjang perjalanan Cintami hanya diam, ia wanita yang pandai mengendalikan emosi, raut wajah, expresi, intonasinya, ia selalu bersikap lembut dalam semua kondisi kecuali ada yang menyakiti anak anaknya
__ADS_1