
Setelah sarapan, Winston masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu, Cintami kembali kekamarnya sendiri, badannya lelah sekali setelah dihajar suaminya semalaman sampai pagi, ia ingin tidur sesaat karena waktu baru pukul sembilan pagi
Tepat jam dua belas , Cintami terbangun karena sang suami tengah menaikinya lagi.
"Papi.. papi tidak lelah kah?" tanya Cintami , sang suami hanya menggeleng karena mulutnya tengah menyusu dengan rakus , Cintami mengusap belakang kepala suaminya dengan lembut
"Besar sekali sayang, aku sangat menyukainya" puji Winston membuat Cintami tersenyum "ini juga sempit sekali, aku sampai tergila gila, saat diparis aku terus terbayang milikku dalam jepitannya"
"Semua milik papi, hanya milik papi seorang" jawab Cintami, Winston mengangguk sambil meraup bibir tipis itu
sepanjang hari mereka melakukan olah raga panas , mereka bahkan melewatkan makan siang mereka , olah raga mereka hanya dijeda saat makan malam sebentar, mereka kembali melanjutkan permainan mereka sampai dini hari.
Cintami tidur dalam pelukan Winston, keduanya sangat bahagia sekali setelah meluruskan salah paham mereka
Karena Winston memiliki kebutuhan biologis yang sangat tinggi , tiap malam Cintami selalu terkulai lemah dalam pelukan sang suami , hanya saat kedatangan tamu bulanan saja, mereka tidak melakukan penyatuan, tapi Cintami melakukan dengan cara lain agar sang suami bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya
Kehidupan mereka sangat bahagia selama bertahun tahun, mereka mampu menutupi hubungan mereka didepan publik dan orang lain, hanya mereka berdua yang tau hubungan tersebut
Winston sangat menyayangi Cintami, jarang ada perselisihan diantara mereka, karena Cintami wanita dewasa yang pandai membawa diri
Ia bisa membedakan dan memilah apa yang membuat sang suami cemburu dan marah, ia selalu langsung menghindari hal yang berdampak negative
pernah sekali mantan cinta pertamanya mengadakan reuni, Winston cemburu berat sampai mendiamkannya hampir sebulan, Winston selalu pulang tengah malam dan pergi pagi pagi buta ke kantor
Cintami yang tidak tau alasan Sang suami mendiamkannya, mulai berpikiran negative , ia berpikir sang suami mulai bosan padanya segera berpikir untuk tau diri, ia memilih berangkat mengunjungi putranya selama sebulan sambil menunggu surat cerai dilayangkan sang suami
Sebulan sang suami belum memiliki kabar sama sekali, Cintami pulang untuk mengemasi barang barangnya dan berpikir untuk menetap di London sembari mencari pekerjaan
Cintami mengemasi kopernya, ia tak membawa harta benda dari Winston, ia hanya membawa barang pribadinya, saat ia hampir selesai, Winston masuk ke kamarnya melalui conecting door , duduk di sofa menatapnya tajam
"Kenapa? ingin pergi dengan mantanmu?' ledek Winston dengan sinis , Cintami hanya diam tak menjawab sambil mempercepat kegiatannya
setelah menutup kopernya dan menggeret ya, ia berpamitan pada Winston
"Pi.. aku ijin pamit, terima kasih sudah menjaga kami selama ini" ucapnya sopan tersenyum lembut
"Apa maksudmu" tanya Winston yang sudah berdiri di hadapan Cintami dan menatapnya tajam, Cintami hanya diam , ia berusaha melewati tubuh kekar yang menghadangnya
__ADS_1
"Mau kemana?" hardik Winston sambil menarik lengannya , Cintami hanya diam di bentak seperti itu. ia berusaha menahan airmatanya
"Aku akan ke London menemani putraku" jawabnya dengan suara tercekat menahan airmatanya agar tidak tumpah
"Lalu bagaimana denganku?" suara Winston masih tetap tinggi membuat kesabaran Cintami habis , ia menepis lengan Winston tapi tak berhasil
"Lepaskan" ucapnya dingin tapi Winston tak melepaskan , Cintami hanya bisa menarik paksa lengannya menuju arah pintu sampai lengannya lebam
"Cinta" bentak Winston dengan suara makin tinggi , Cintami berhenti. hati Cintami yang sakit membuatnya memasang wajah sangat dingin
"Katakan maumu" ucapnya semakin dingin
"Aku tidak mengijinkan kamu pergi" ucap Winston marah
"Aku tak butuh ijinmu"
"Aku suamimu"
"Sebentar lagi sudah bukan" jawabnya
"Aku tunggu surat cerai mu" Cintami menepis lengan itu , Winston yang semakin marah langsung menarik Cintami dan menghempaskan tubuhnya kekasur lalu mengukungnya , kedua tangan Cintami di tahannya di atas kepalanya
"Apa maksudmu surat cerai hah? kamu mau bersama mantanmu itu?" teriak Winston
"Lepaskan aku" ucap Cintami dengan dingin, ia menatap tajam ke arah Winston
"Tidak akan, sampai aku matipun aku tak akan melepaskanmu" Winston mengangkat baju terusan Cintami ke atas, ia menyerangnya dengan rakus
"Aku tidak mau, lepaskan" Cintami meronta ronta tapi Winston tetap menyerangnya , ia menyusu dengan rakus dan memasukkan jarinya bermain dibawah sana
setelah ia merasa sudah cukup basah, dia segera memasukkan senapannya dan memompa cepat
"Jangan... aggg..." pekik Cintami, beberapa menit kemudian ia yang sudah lelah meronta memilih diam karena dia tak akan mampu melawan sang suami
Winston melepaskan amarah, cemburu, kerinduan, cinta , kasih sayang semua bersatu dalam penyatuan mereka
satu jam kemudian, Winston mengeluarkan lahar panas dalam rahim Cintami, ia ambruk seketika dan memeluk sang istri
__ADS_1
"Terima kasih" ucapnya pelan , Cintami hanya diam berusaha menormalkan nafasnya lalu segera membersihkan diri ke kamar mandi masih dengan wajah dinginnya
Winston menyusul membersihkan diri dengan standing shower , jadi dia lebih dulu selesai sebelum Cintami selesai
saat Cintami keluar dari walk in closet dengan pakaian rapi, Winston menatapnya heran "Mau kemana?" ia menahan lengan Cintami yang langsung meringis karena seluruh pergelangan tangannya lebam, Winston yang menyadari itu segera menarik pinggangnya untuk duduk disofa
"mau kemana?" tanyanya lagi dengan pelan, semua emosinya sudah ia salurkan melalui permainan mereka tadi jadi ia sudah lebih tenang saat ini .
"Sementara waktu, aku ingin menemani putraku" jawabnya dingin
"Bagaimana denganku? kamu mau meninggalkan aku?"
"Maafkan aku, aku ingin sendiri sementara waktu"
"Cinta, perselisihan dalam rumah tangga adalah hal biasa, yang diselesaikan adalah perselisihannya, bukan hubungannya"
"Tapi maaf, aku butuh waktu "
"Kenapa mulutmu ini mudah sekali mengucapkan perpisahan hah?' Winston menarik tengkuk istrinya dan menyesap bibir tipis itu dengan rakus, tak lama ia melepasnya karena sang istri tidak membalasnya
"Aku tak mengijinkanmu kemana mana, kamu istriku, kamu harus disisiku, apa kamu paham?"
Cintami memilih diam, dia paling tidak suka berdebat , itu alasan sejak dulu ia memilih diam menyimpan luka sendiri dengan senyuman daripada memperlihatkan lukanya
Cintami menggeret koper ke walk in closet lalu berjalan menuju sang suami
"kembalilah, aku akan menyiapkan makan malam" ucapnya sambil tersenyum lalu menuju pintu keluar kamar
Winston tau istrinya menyimpan luka dihatinya, ia bisa melihat kesedihan di mata Cintami , ada rasa sesal di hatinya sudah membentak sang istri tadi
Usai makan malam, Cintami kembali ke kamar, ia menangis sedih cukup lama di kamar mandi, setelah lelah menangis ia membersihkan diri lalu meminum dua Pill tidur dan memejamkan matanya
Jam sembilan malam, Winston datang ke kamar sang istri dan menatap wajah cantik itu , ia tau mata istrinya bengkak . ketika hendak mengusap kening sang istri ponsel istrinya bergetar dalam tasnya , Winston segera mencari ponsel istrinya, ada nama wanita disana , Winston tidak mengangkatnya . ia lebih fokus pada obat yang terjatuh di lantai saat mengambil ponsel istrinya
dengan cepat ia memeriksa nama obat tersebut melalui internet ternyata obat tidur, hatinya sangat sesak sekali melihat pilihan sang istri
"Maafkan aku" ucapnya yang tentu tak bisa didengar Cintami , Winston bergabung dalam selimut sang istri dan memeluknya erat seolah takut kehilangan sang istri
__ADS_1