
Fatima merupakan anak ke tiga dari Kadir dan Maemunah. Fatima memiliki saudara berjumlah 6 orang. Terdiri dua laki-laki dan empat perempuan. Kehidupan sehari-harinya serba berkecukupan tidak kaya dan tidak miskin. Pekerjaan Ayah Fatima hanya sebagai petani dan pengembala sapi sedangkan ibunya penjual sayur keliling.
Fatima merupakan anak yang sabar dan selalu menuruti perkataan kedua orang tuanya. Fatima hanya bersekolah dari SD sampai SMA.
Masa anak-anak sampai remaja Fatima habiskan dengan menggembala sapi. Pekerjaan itu dia lakukan setiap hari setiap sepulang sekolah. Fatima membawa sapi sapinya ke padang rumput. Selain tempat tersebut sesekali Fatima menggembala sapinya ke sawah.. Setiap sehabis panen padi, rumput di sawah semua subur apalagi di tambah dengan batang padi yang ternyata sapi pun menyukainya.
Tapi jika musim penghujan tiba sapi Fatima hanya di kurung di kandang. Fatima dan saudaranya pergi mengambilkan makanan untuknya sampai musim penghujan berhenti. Ketika musim hujan telah usai, Fatima kembali menggembalakan sapinya ke padang rumput yang luas yang terletak di pinggir hutan.
Selama menggembala sapi, Fatima di temani oleh tetangga yang mempunyai sapi juga. Mereka bercengkrama sampai mereka lupa waktu. Sesekali mereka mengambil mangga yang ada di sekitar mereka. Untuk menghilangkan rasa bosan, mereka bermain sejenak sampai waktu tak terasa sudah sore hari. waktunya mereka pulang dan mengembalikan sapi-sapi mereka ke kandangnya. Tak lupa pula Fatima dan teman-temannya membawa pulang rumput yang telah mereka ambil tadi.
Fatima begitu rajin membantu ayah dan ibunya. Semua itu dia lakukan dengan ikhlas. Sebelum ke sekolah dan setelah pulang dari sekolah Fatima pasti menggembalakan sapinya terlebih dahulu. Jika Fatima sakit. Dia pun di gantikan oleh Kakaknya atau adiknya untuk menggembalakan sapinya. Mereka hidup rukun dan damai. Jarak antara Kakak Fatima dengan dirinya hanya berselang satu tahun. Jadi mereka tumbuh besar bersama.
Ibu Fatima berjualan sayur di pasar. Setiap subuh Maemunah berangkat ke pasar. Maemunah tak sendirian ke pasar. Dia di temani oleh tetangganya yang kebetulan pekerjaannya sopir mobil. Setiap subuh tetangga yang bernama Rojak mengantar Maemunah ke pasar. Pulang dari pasar Pak Rojak juga yang mengantar ibu Fayima pulang.
Fatima memiliki paras yang cantik, dia berkulit putih dan rambut kriting. Banyak yang tak percaya karena setiap hari sebelum dan sepulang sekolah dia menggembala sapi. Setiap hari Fatima terkena cahaya matahari. Biasanya orang yang sering terkena cahaya matahari kulitnya hitam tapi kok Fatima kulitnya tetap putih. Fatima tak peduli apa kata orang yang jelas apa yang dia lakukan itu benar dan dia sukai.
Fatima pun tak pernah malu, walau sering di ejek oleh teman-teman seusianya. Dia hanya tersenyum dan sabar atas setiap ejekan teman-temannya. Tapi jika perlakuan teman-temannya melewati batas dia pun melawannya.
Sedangkan saudara Fatima yang lain, membantu ibunya di pasar. Fatima dan saudaranya suka membatu satu sama lain. Setelah tamat SMA, Fatima kemudian tidak melanjutkan pendidikannya melainkan Fatima mencari pekerjaan yang bisa membatu perekonomian keluarganya.
Tak lama kemudian Fatima pun mendapatkan pekerjaan. Dia bekerja sebagai tukang jahit di sebuah konvensi terbesar di Manado. Pekerjaan ini dia geluti dengan giat. Dia pun harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudara nya demi menggapai mimpinya.
__ADS_1
Bertahun-tahun harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan saudaranya. Setiap habis gajian Fatima mengirimkan uang untuk kedua orang tuanya. Fatima sungguh anak yang berbakti walaupun dia berada jauh dia masih tetap mengingat kedua orang tuanya.
Malam ini cuaca sangat dingin, tubuh bergetar akibat kedinginan tapi anehnya saat ku pegang seluruh badanku semua terasa panas. Aku hanya terbaring lemah di kamar dan di rawat oleh teman kerjaku. Kebetulan aku tinggal berdua dengannya.
" Ima (panggilan akrab Lisa kepadaku)..... badan kamu panas sekali." Ucap Lisa
" Iyha nhii Lis.... tapi perasaan ku dingin." Jawab Fatima yang menggigil kedinginan.
" Bagaimana kalau kita ke dokter??" Ujar Lisa.
" Nggak usah Liss... Minum obat saja dan air hangat, besok juga sembuh." Jawab Lisa
"Ohiyaaaa.... Lissss... bisa saya minta tolong??" tanya Fatima.
"Tolong beliing saya obat di warung depan." Ucap Fatima sambil memberikan uang kepada Lisa.
Lisa pun bergegas berangkat ke warung depan untuk membeli obat buat Fatima.
"Nhiii.... obatnya Ima". Kata Lisa sambil menyodorkan obat tersebut.
Fatima pun kemudian meminum obat yang telah di berikan oleh Lisa. Setelah meminum obat Fatima pun istirahat. Namun dalam hatinya berkata seandainya ibu ada disini pasti ibu merawatku sampai sembuh tapi apa daya ibu tak ada. Tak lama kemudian Fatima yang sakit tertidur pulas. Hingga iya tak merasakan kedatangan teman-teman kerjanya.
__ADS_1
"Dia baru saja tertidur". ucap Lisa kepada teman kerjanya.
"Yhaa udah... nggak usah di bangunin, biar saja dia tertidur. Semoga Ima cepat sembuh dan bisa kembali bekerja. Ohiyhaa .... Kalau begitu kami pulang dulu yhaa." Ujar Teman kerjanya sambil keluar dari kamar Ima.
"Makasih yhaaa teman-teman atas kunjungannya. Hati-hati di jalan." Ucap Lisa sambil melambaikan tangan kepada teman kerjanya.
"iyhaaa sama-sama". Jawab teman kerjanya sambil melambaikan tangannya balik.
Keesokan harinya Fatima sudah terlihat sehat, dia bergegas memakai seragam kerjanya. Tiba-tiba Lisa datang menghampiri Fatima, Lisa terlihat kaget melihat Fatima yang sudah siap berangkat ke tempat kerja. Lisa langsung saja memegang jidat Fatima.
"Alhamdulillah.... kamu sudah sembuh Ima..? Ujar Lisa dengan wajah tersenyum bahagia.
" Iyha... Lisss... Ohiya ayo kita berangkat kerja Liss..." Ajak Fatima
" Ehhhh... kamu kan baru saja sembuh, lebih baik kamu istirahat dulu, nggak usah kerja dulu. Kan bos sudah memberi izin." Kata Lisa
" Aku sudah baik kok, kamu nggak usah khawatir Liss... Ayo Liss kita berangkat kerja. Nanti kita terlambat lhooo..." Ucap Fatima dengan penuh semangat.
" Yha udah, tunggu aku ambil tas dulu." Ucap Lisa.
Mereka berdua pun meninggalkan kontrakan, dan bergegas menuju tempat kerjanya. Kebetulan jarak antara tempat kerja dengan kontrakan mereka cukup dekat. Mereka hanya berjalan kaki untuk sampai di tempat kerja. Sesampainya di tempat kerja, Fatima di sambut hangat oleh teman-temannya. Mereka kangen dengan Fatima setelah beberapa hari tidak masuk kerja. Fatima di kenal oleh teman-temannya karena kebaikannya, suka menolong dan dia tidak suka marah. Fatima pun suka bercanda di tempat kerja. Tanpa adanya Fatima ditempat kerja, tempat kerja terasa sepi dan sunyi yang ada hanya suara mesin jahit yang memecah keheningan.
__ADS_1
Tak terasa sudah lima tahun Fatima bekerja sebagai tukang jahit. Dan sudah lima tahun Fatima meninggalkan kampung halamannya. Dia begitu merindukan kedua orang tua dan keluarga lainnya. Sesekali dia menelpon dan menanyakan kabar keluarganya untuk menghilangkan rasa rindu di dalam hatinya, walaupun hanya sebentar.
bersambung....