
Ayah dan ibu melanjutkan pembicaraannya yang sempat tertunda semalam. Kami yang sedang duduk-duduk di teras depan rumah.. Ayah memulai memecah keheningan.
"Ima..... Ada yang ingin Ayah sampaikan kepadamu ..." Ucap Ayah dengan nada pelan.
"Apa Yah.... silahkan." seru Fatima dengan sedikit penasaran.
"Begini Ima.... Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu besok. Ayah sudah mengatur pertemuan kamu dengannya.."Jelas Ayah.
"Siapa Yah.... Laki-laki atau perempuan??" Tanya Fatima yang masih penasaran.
"Besok juga kamu tahu,, ohya besok kamu cepat bangun yhaa soalnya kita akan berangkat cepat besok pagi." Ucap Ayah yang beranjak dari tempat duduk dan meninggal Fatima yang sedang duduk di teras depan.
Fatima masih kepikiran dengan perkataan Ayahnya. Dia begitu penasaran. Entah siapa orang yang akan di pertemukan dengan saya. Fatima masih saja memandangi langit malam hingga dia tak sadar akan kedatangan Kakaknya.
"Brakkkkkkkk......" ucap Kak Lina sambil memukul pundak Fatima.
"Aaaahhhhh... Kakak bikin kaget ajaa...." ujar Fatima. "Ohya Kak... Apa kakak tahu siapa orang yang akan di pertemukan dengan aku besok??". Tanya Fatima yang masih penasaran.
"Kakak nggak tahu Ima..." jawab Kak Lina singkat.
Mereka berdua meninggalkan teras dan memasuki kamar masing-masing untuk istirahat.
Suara adzan subuh terdengar,, Fatima bangun dan beranjak dari tempat tidurnya dan segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Setelah selesai dua rakaat,, Fatima membantu Ibunya di dapur.
"Ohya Buu.... Siapakah seseorang yang akan di pertemukan denganku.??" Tanya Fatima yang masih penasaran.
" Sebentar juga kamu tahu Ima..." jawab Ibu singkat.
"Ima kamu cepat pergi mandi dan pakai baju sebentar lagi kita berangkat." Ujar Ayah yang baru saja selesai mandi.
"Emangnya mau berangkat jam berapa Yah..??? Tanya Fatima.
"Sekitar pukul 09.00 ." jawab Ayah.
Setelah membantu Ibu di dapur Fatima kemudian pergi mandi dan mengganti pakaiannya.
"Ayah..... Aku sudah selesai ." Ujar Fatima sambil merapikan sedikit pakaiannya.
"Kalau begitu ayo kita berangkat." Kata Ayah.
Fatima dan kedua orang tuanya sudah berangkat menuju tempat yang mereka ceritakan kepada Fatima. Sesampainya di tempat tersebut rupaya mereka bertiga sudah ditunggu oleh keluarga Pak Mansyur dan Bu Siti.
Pak Masyur merupakan teman Ayah dan Ibu di pasar. Mereka berdua juga berjualan di pasar.
"Assalamualaikum..... Maaf kami datangnya terlambat." Ucap Ayah.
__ADS_1
"Iyha nggak apa-apa... Lagian kami juga baru sampai." Ujar Pak Masyur sambil mempersilahkan duduk.
"ohiyaaaa... Apa ini namanya Fatima.?? Tanya Bu Siti sambil memandang Fatima.
"iyha Bu... Ini Fatima anak saya..." ucap Bu Maemunah sambil memperkenalkan anaknya.
"ohya... terus anak kalian dimana?? Tanya Pak Kadir.
"Rehan ke kamar kecil sebentar."Ucap Pak Masyur singkat.
Sambil menunggu Rehan, mereka memesan makanan dan minuman terlebih dulu.
"Maaf ... Rehan tinggal sebentar tadi...." Ucap Rehan sambil memberi salam kepada keluarga Pak Kadir.
" iyhaa nggak apa-apa nak.." jawab Pak Kadir singkat.
Makanan dan minuman yang sudah di pesan sudah datang. Mereka mulai mencicipi makanan tersebut.
"Begini Rehan dan Fatima.. Kami berkeinginan menjodohkan kalian berdua. Apa kalian setuju.??" Tanya Pak Masyur yang mewakili kedua keluarga tersebut.
Fatima dan Rehan kaget sehingga mereka tersedak makanan yang mereka makan.
" Kalian cepat minum." Ucap ibu Maemunah sambil memberikan air putih kepada Fatima.
" Kalian berdua sangat cocok. Kalian nggak perlu jawab sekarang. Kalian saling kenal lha terlebih dulu. Baru kalian putuskan." Kata Ibu Siti.
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
Kedua orang tua Fatima dan Rehan sangat ingin melihat mereka menikah.
Sesampainya dirumah, Ayah dan Ibu kembali menanyakan hal yang mereka bicarakan tadi.
"Bagaimana Ima,, apa kamu setuju dan mau dengan keputusan Ayah dan ibu?? Tanya Ayah Fatima.
"Ima belum bisa jawab Yah... Ima fikir-fikir dulu. Ohya Ima masuk kamar dulu Yah... Bu..." Ucap Fatima yang mulai meninggalkan kedua orang tuanya.
"Jangan di paksa Yah..." Ucap Ibu Maemunah
"Aku...nggak memaksa kok... cuman aku berharap Fatima setuju dan mau dengan keputusan kita. Aku ingin melihat Fatima menikah sebelum aku meninggal." Jelas Ayah
Fatima mendengar percakapan kedua orang tuanya di balik pintu kamarnya.
"Ayah ngomong apaan siih... pamali tahu ayah ngomong gitu.." ucap Ibu Maemunah.
Percakapan mereka terhenti... tiba-tiba Fatima keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Beberapa hari ini setelah pertemuan dua keluarga Fatima sering kali melamun. Dia duduk di teras sambil memandangi langit malam.
"Aku belum ingin menikah, tapi kenapa Ayah dan Ibu menginginkan hal itu. Aku bingun ya Tuhan. Apakah aku harus mengikuti permintaan orang tuaku atau tidak. Tapi mendengar ucapan ayah tadi aku nggak tega. Aku harus bagaimana. Apakah aku terima atau tidak yha... ??" tanya Fatima dalam hati.
Untuk menghilangkan rasa keraguan dan kebingungan Fatima melaksanakan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah kemudian dia lanjutkan dengan sholat tahajjud di sepertiga malam. Di dalam malam yang sepi Fatima terjaga dalam sholatnya dia memohon petunjuk dari Allah dan meminta jika lelaki itu yang terbaik maka dekatkanlah tapi jika lelaki itu bukan yang terbaik maka jauhkanlah.
Dua minggu berlalu, Ayah Fatima (Pak Kadir) kembali menanyakan tetang perjodohan itu.
"Bagaimana Ima.. Apa kamu sudah memikirkan dan menyetujui perjodahan itu??" tanya Pak Kadir dengan tatapan yang serius.
"Begini Yaaahhh.... aku ikut perkataan Ayah dan Ibu jika itu yang terbaik. Aku yakin pilihan Ayah dan ibu itulah yang terbaik. Tidak mungkin ayah dan ibu menunjukkan yang tidak baik. Semuanya aku serahkan kepada Ayah dan ibu." jelas Fatima.
"Jadi intinya kamu mau??" Tanya Pak Kadir.
"Iyhaaa Ayah...." jawab Fatima singkat dengan wajah tertunduk.
"Kalau begitu aku akan kabari keluarga Pak Masyur." Ucap Pak Kadir sambil mengambil handphonenya.
Ring... Ring... Ring.... Handphone Pak Masyur berdering. Dia segera mengambil handphonenya yang berada dalam saku celananya.
"Rupanya telepon dari Pak Kadir" ucap Pak Masyur sambil memberitahu Ibu Siti.
"Assalamualaikum... Pak Masyur." Kata Pak Kadir.
"Wa'alaikum salam... Pak Kadir... Ada apa?" tanya Pak Masyur.
"Begini Pak ,, anak saya Fatima mau di jodohkan dengan anak bapak." ujar Pak Kadir.
"Alhamdulillah... kalau begitu. Rehan juga demikian. Dia juga mau di jodohkan dengan Fatima." jelas Pak Masyur dengan raut wajah yang gembira.
"Kalau begitu sudah dulu ya Pak, Assalamualaikum." ucap Pak Kadir.
"iyha Pak. selanjutnya nanti kami kabari. wa'alaikum salam". kata Pak Masyur sambil menutup teleponnya.
Orang tua Fatima dan orang tua Rehan terlihat begitu bahagia.
Mereka mulai membicarakan dan merencanakan acara pernikahan Fatima dan Rehan. Mulai dari adat , tanggal pernikahan, tamu undangan yang akan di undang dan wedding organizer yang akan dipakai. Semuanya mereka persiapkan dengan matang agar pernikahan ini berjalan dengan lancar.
Di saat kedua orang tua mereka sedang sibuk, di sisi lain Fatima dan Rehan lebih mulai saling mengenal satu sama lain. Karena pertemuan yang singkat nggak sempat membuat mereka berbicara panjang tentang diri mereka masing-masing.
Tibalah saatnya yang di nantikan telah tiba. Hari ini adalah hari dimana proses ijab qobul akan di langsungkan dan tidak akan pernah di lupakan oleh Fatima. Segala persiapan penyambutan mempelai pria telah siap.
Mempelai pria dan rombongan mulai memasuki gedung pernikahan. Setelah duduk di kursi ijab qobul, mempelai wanita pun datang dan segera duduk di samping mempelai pria dan melihat proses ijab qobul berlangsung. Semuanya berjalan dengan hikmat. Walau Rehan terlihat gugup dan gemetar ketika mengucapkan ikrar pernikahan.
Kini Rehan dan Fatima telah sah menjadi pasangan suami istri.
__ADS_1
bersambung...