
Langkah demi langkah Putri memasuki ruangan. Kondisi yang sudah sepi karena sebagian perawat dan petugas Puskesmas sudah pulang yang ada hanya petugas yang berjaga malam.
"Ibu kenapa.. Ada yang bisa kami bantu.?". Ucap perawat.
"Aku mau bertanya, aku sedang hamil tapi kenapa ada darah keluar??" tanya Putri kepada perawat itu.
Tiba-tiba Bu Bidan datang menghampiri...
"Apa darah yang keluar banyak Bu...?? Tanya Bu Bidan sambil berdiri di depanku.
"Darah yang keluar hanya sedikit, cuman sudah tiga hari darah keluar, apa ini biasa terjadi??" Tanya Putri lagi.
"Ibu jangan terlalu capek, jangan sering begadang dan usahakan selama masih ada darah keluar ibu berbaring saja." Ucap Bu bidan.
"Iya Bu.... ". jawab Putri singkat.
"Saya hanya memberikan Ibu obat penguat kandungan untuk sementara ini." Ucap ibu bidan sambil memberiku resep obat dan menyuruhku banyak istirahat.
Putri mulai meninggalkan ruangan tersebut dan segera menebus obat di apotik puskesmas. Sesampainya di rumah Putri segera meminum obat tersebut. Tapi keesokan harinya darah belum juga berhenti keluar yang anehnya hanya sedikit. Putri pergi memeriksakan lagi dirinya ke puskesmas dan meminta surat rujukan untuk pergi ke rumah sakit terbesar. Pihak puskesmas pun memberikan Putri surat rujukan. Setelah surat itu selesai di buat Putri dan Rehan bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Putri dipapah oleh Rehan. Untungnya ada perawat yang menghampiri Putri dan membawakan kursi roda. Putri langsung masuk UGD dan perawat bilang ibu harus di rawat. Soalnya ibu lemas sekali dan muka ibu pucat.
Putri terlihat kaget mendengar ucapan perawat tersebut. Tidak dan persiapan sama sekali. Perawat menyuruh Rehan pulang mengambilkan sehelai sarung untukku dan mengurus administrasi dulu.
"Sayang.... aku pulang dulu yha, aku mau mengambilkan sarung sekalian memberitahu Alif dan ibu kalau kamu harus di rawat." Ucap Rehan.
"Iya sayang.... kamu hati-hati di jalan." ucap Putri dengan tubuh yang terbaring .
Perlahan wajah Rehan sudah tak terlihat lagi, Putri yang hanya terbaring di atas tempat tidur sambil di pasangkan infus oleh perawat. Putri tak berani melihat jarum infus yang mulai dipasang di tangannya. Tusukan pertama gagal karena tanganku bengkak.
Perawat itu mengulanginya lagi dan akhirnya selesai.
"Ibu istirahat saja dulu sambil kita menunggu dokter ahli kandungan datang". Ucap perawat tersebut.
"Iyhaa... Sus..." ucap Putri singkat.
Begitu banyak pasien dalam ruangan UGD khusus ibu hamil dan melahirkan. Ada yang pendarahan, ada yang selesai di operasi, ada pula yang kakinya bengkak ataupun tensinya yang tinggi mereka semua di rawat dalam ruangan ini.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Rehan pun datang sambil membawa bantal dan sarung.
"Sayang... Alif menangis mencari kamu." Ucap Rehanku.
"Kenapa bisa..?? Alif menangis.??" Tanya Putri
" Alif menangis karena dia ingin ikut dan dia sedih mendengar ibunya masuk rumah sakit."
jawab Rehan.
"Kasihan Alif... dia masih kecil tapi sudah mengerti." Ucap Putri dengan mata berkaca-kaca.
Perawat datang dan menyuruh laki-laki keluar. Rehan meninggalkan Putri sendirian di ruangan itu tanpa ada seorang pun yang menemani Putri. Rehan hanya menunggu dari luar kamar tepatnya di belakang jendela. Sesekali Rehan menengok keadaan Putri.
Malam harinya, Kedua mertua Putri dan saudaranya datang menjenguk sambil membawa Alif anak. Tapi sayang anak-anak dilarang masuk ke ruangan tersebut. Alif hanya menunggu di luar ruangan di temani neneknya setelah yang lain masuk baru ibu mertuaku masuk.
Mereka bergantian menjaga Alif. Ketika ibu masuk dia memberitahu ku bahwa Alif sangat sedih, sesekali dia menyendiri, matanya berkaca-kaca seakan dia mengerti dengan keadaan ibunya.
Keesokan harinya aku meminta pulang karena aku khawatir dengan Alif. Untungnya perawat mengizinkanku dan menyuruhku untuk datang kontrol hari Senin.
Alif begitu senang melihatku pulang, hati yang semula sedih kini berubah drastis menjadi senang melihat Alif. Ku peluk Alif dengan erat dan dia berkata kepadaku
Padahal perutku terasa sakit seperti ingin melahirkan , Putri tidak mau Alif tahu, ia menyembunyikannya di depan Alif. Tidak lama perutku sakit, tiba - tiba ada darah yang menggumpal dan memanjang seperti tulunjuk tangan yang keluar, aku memberitahu Rehan dan ibu mertua. Ibu mertua berkata
"Mungkin ini janin mu nak"...
"Semoga saja bukan Ma..."
Rehan dan ayah mertua kemudian membungkus darah itu dengan kain putih dan menguburnya.
Hari Senin telah tiba waktunya aku pergi periksa kandunganku lagi. Sesampainya di rumah sakit terlihat sudah banyak orang yang menunggu di depan ruangan ahli kandungan.
Satu persatu pasien di panggil hingga tibalah waktunya aku yang di panggil. Selangkah demi selangkah ku mulai memasuki ruangan dokter ahli kandungan. Asisten dokter menyuruhku berbaring dan mulai mengolesi perutku dengan cairan yang aku tidak tahu namanya sebelum di usg.
Setelah selesai dokter ahli kandungan beranjak dari tempat duduknya dan memulai memeriksa perutku dengan alat usgnya.
"Ibu harus di operasi". Ucap dokter
__ADS_1
"Apa dok... aku harus di operasi??" ucap Putri dengan nada kaget.
"iyha Bu... soalnya ibu mengalami keguguran dan masih ada darah dan plasentanya tinggal di dalam rahim ibu." ucap Bu dokter.
"Apa nggak bisa Dok kalau minum obat saja??" Tanyaku lagi.
"Nggak bisa Bu.... Antar ibu ini ke kamar perawatan. " Ucap Bu Dokter sambil menyuruh asistennya mengantarku..
Dengan perasaan yang masih kaget, putri hanya tertunduk diam sambil meninggalkan ruangan tersebut. Putri terlihat sedih , bagaimana tidak putri lagi lagi harus merasakan yang namanya kehilangan.
Rehan mendekati Putri.
"Kamu kenapa sayang...?? Tanya Rehan dengan penuh kasih.
"Sayang... Aku keguguran dan kata dokter aku harus di oprasi (kuret)" jawab Putri dengan suara yang lemas.
"Apa tidak ada jalan keluar yang lain selain harus oprasi" tanta Rehan lagi
Putri hanya menggelengkan kepalanya. Putri belum bisa terima bahwa ia harus kehilangan janin yang ada dalam kandungannya.
"Benar yang di katakan ibu... Darah yang keluar tadi malam benar-benar janinku"
Guman Putri dalam hati.
"Sayang kamu ingat darah yang tadi malam kamu kubur itu, sepertinya itu janin ku,." Ucap Putri
"Iya aku ingat, kalau begitu aku akan pindahkan dia ke tempat yang layak dan menguburnya dengan baik." Ucap Rehan.
"Iya.." jawab Putri singkat.
Rehan kembali mencoba menguatkan Putri dengan memeluknya, derai air mata tak bisa Putri bendung lagi semuanya keluar tak bisa iya tahan.
"Sabar sayang... Ini semua sudah kehendak Allah.." ucap Rehan.
" Tapi kenapa... Allah mengambil janinku lebih cepat...?? Ujar Putri
"Jangan berkata seperti itu sayang... Allah mempunyai rencana lain untuk kita, mungkin Allah mau menguji kesabaran dan keikhlasan kita lewat janin kita" jelas Rehan
__ADS_1
Putri hanya terdiam. tiba-tiba perawat datang dan membawa Putri ke ruang rawat. Sedangkan Rehan mengurus administrasi dulu.
Bersambung......