
Malam ini angin begitu kencang, sepertinya akan turun hujan. Putri dan Rehan duduk di depan teras rumah mereka menikmati suasana malam yang begitu dingin. Tiba-tiba saja tampak dari kejauhan seseorang menggendong anak kecil semakin dekat menuju kami.
"Sepertinya aku kenal dengan orang itu"ujar Putri yang tak memalingkan pandangannya.
Sesosok itu semakin dekat.... Ohhhh ternyata dia adalah adik ku Luna dengan anaknya. Putri segera membukakan pintu gerbang agar Luna bisa masuk.
"Kenapa malam begini kamu kesini, kasian anakmu. Apalagi angin diluar sangat kencang." Tanyaku sambil mengambil anaknya yang sedang tidur di gendongannya.
"Lola baru pulang jadi aku baru kesini." jawab Luna sambil memasuki rumah.
Setelah Putri membaringkan anak Luna diatas kasur Putri kembali bertanya pada Luna.
"Kenapa bukan suamimu yang mengantarmu kesini?"
"Aku bertengkar lagi dengan suamiku kak". Jawab Luna.
"Kok.. bisa??" Emangnya gara-gara apa?? tanya Putri penasaran.
"Aku hanya bertanya kepadanya tentang kenapa ia memberikan semua gajinya kepada ibunya sedangkan aku tidak. Padahal aku ini istrinya." Jawab Luna
"Lalu suamimu bilang apa?" tanyaku lagi.
"Dia bilang aku terlalu boros. Padahal ibunya sendiri yang boros. Ibunya tidak mau di kalah, jika tetangganya beli lemari dia pun ingin membelinya. Dia pun ringan tangan kepadaku. Sudah berapa kali dia memukulku." jawab Luna dengan air mata mebasahi pipinya.
"Seharusnya suamimu itu memberikan semua gajinya kepadamu. Jika ia ingin memberikan uang untuk ibunya setidaknya dia memberitahumu dulu." Ucapku
__ADS_1
"Aku pernah bicara seperti itu bahwa aku tidak melarang kamu jika kamu ingin memberikan uang kepada ibumu. Setidaknya hargai aku sebagai istrimu, tapi dia hanya diam dan marah-marah kalau aku memberitahunya." ujar Luna yang masih saja meneteskan air matanya.
"Yang sabar yaaa dek..... semoga suamimu cepat sadar atas semua sikapnya." ucapku sambil memeluk adikku Luna.
"iyhaa... kak..." ucap Luna.
"Ohya.... apa kamu memberitahu suamimu kalau kamu ingin menginap dirumah kakak.???" Tanyaku
"iya kak.. aku memberitahunya."jawab Luna
"Syukurlah kalau kamu beritahu suamimu, takutnya jika kamu tidak mengabarinya, dia pusing cari kamu kemana."ujar Putri.
Luna dan anaknya menginap di rumah Putri. Sambil menenangkan perasaannya yang lagi kacau dan sedih.
"Ohya kamu Uda makan nggak...??? Tanya Putri kepada Luna dan Lola.
"Kalau begitu kalian istirahat saja dulu". Ucap Putri sambil memberikan selimut kepada mereka berdua.
Keesokan harinya dia nampak lebih baik dari semalaman. Walau sesekali terlihat murung. Anaknya yang baru berjalan terlihat kurusan dan kecil. Bagaimana tidak kalau suami Luna tidak memberikan uang. Jangankan untuk membeli makanan untuk membeli popok saja tidak ada. Suami Luna hanya memberikan uang sebanyak seratus ribu. Itupun kalau Luna meminta kalau tidak yah tidak ada.
Kehidupan Luna setelah menikah sangat menyedihkan. Dia tidak di perlakukan dengan baik oleh suami dan kedua mertuanya bahkan oleh bibi dari suaminya. Bibi dari suaminya begitu membenci Luna bahkan sebelumnya dia tidak merestui hubungan Luna dengan keponakannya. Dia sering sekali menghina Luna bahkan Bibi Irfan pernah berkata kepada Luna seandainya kamu tidak hamil duluan mungkin saja kamu tidak kami restui itupun bisa jadi bukan Irfan yang menghamilimu.
Luna hanya menangis mendengar perkataan bibi Irfan. Tapi untungnya ada juga bibi Irfan yang baik hati yang selalu membela Luna. Padahal sebelumnya kedua mertuanya sangat baik entah mengapa sekarang jauh
berbeda. Semuanya berbanding terbalik dengan sebelumnya. Mungkin saja kedua mertuanya di pengaruhi oleh bibi. Bibi Murni tidak suka dengan Luna bisa saja dia yang mempengaruhi kedua mertua Luna apalagi seharusnya anaknya yang menikah dengan Irfan bukan Luna. Karena bibi murni ingin sekali jadi besanan dengan orang tua Irfan. Tapi takdir berkata lain. Irfan memilih Luna walau dengan cara yang berbeda.
__ADS_1
Luna kembali ke rumah ayah untuk sementara waktu. Kebetulan rumah ayah kosong tidak ada yang menempati, Lola sibuk kerja sedangkan Ani masih kuliah. Luna sudah tak tahan tinggal bersama kedua mertuanya. Dia ingin dihargai sebagai istri dan dia ingin lihat apakah suaminya Irfan datang ke rumah ayah atau tidak untuk menjemputnya.
Hanya berselang tiga hari Luna tak kunjung pulang ke rumah mertuanya, suaminya datang menjemputnya. Tapi Luna ingin sementara waktu ini dia tinggal di rumah ayah saja. Suaminya pun menyetujui keinginan Luna. Mereka tampak sudah baikan tak ada lagi pertengkaran dan mereka tinggal di rumah ayah. Jika mertua Luna rindu dengan cucunya, mereka menelpon saja dan suami Luna membawa anaknya ke kedua orang tuanya.
Kehidupan rumah tangga Luna selalu saja seperti itu, mungkin ini di karenakan mereka belum dewasa, bertengkar sedikit mereka pergi tapi tidak bertahan lama hanya satu atau dua hari saja selepas itu mereka sudah baikan dan melupakan segalanya. Walaupun sering bertengkar Luna dan Irfan masih saling mencintai.
Saat ini rumah tangga mereka di uji, Irfan kini sudah tidak bekerja, perusahaan tempat ia bekerja mengalami kebangkrutan. Semua pekerja di rumahkan termasuk Irfan suaminya. Pihak perusahaan tak mampu menggaji karyawannya. Bahkan pesangon pun tak diberikan. Para karyawan tidak bisa menuntut. Irfan kini terus mencoba mencari pekerjaan. Kesana kemari dia membawa lamaran tapi belum juga ada panggilan.
"Harus bagaimana lagi ini,... Sudah beberapa lamaran yang ku masukkan ke perusahaan tapi belum ada panggilan ... Ada juga perusahaan menolak karena belum ada lowongan... Mana anak masih kecil butuh banyak biaya.." guman Irfan dalam hati sambil memegangi kepalanya.
Sesampainya di rumah Luna menanyakan apakah dia sudah dapat pekerjaan. Irfan hanya menggelengkan kepalanya. Luna mencoba memberitahu Putri apakah di tempat kerja Rehan membutuhkan tenaga baru. Melihat SMS Luna , putri langsung menelpon suaminya Rehan.
"Sayang ... Apakah di tempat kamu butuh tenaga baru, soalnya suami Luna sedang mencari pekerjaan karena Irfan terkena PHK." Tanya Putri.
"Untuk saat ini belum sayang.. nanti saya coba carikan di teman-teman saya". Jawab Rehan.
Telepon terputus. Putri langsung mengabari Lola kalau di tempat kerja Rehan belum menerima pekerja lagi.
Sayangnya Irfan tidak mempunyai keahlian lain, dia hanya mahir dalam pekerjaan sebagai sopir. Padahal waktu itu ayah sempat menawarkan Irfan pekerjaan satpam tapi Irfan menolaknya.
Satu bulan berlalu akhirnya Irfan mendapatkan telpon dari kawan lamanya. Dia diajak bekerja tapi hanya sebagai sopir bantu. Irfan mengiakan ajakan kawannya itu karena itulah keahliannya membawa mobil truk. Mobil itu bermuatkan semen sesekali juga dia membawa muatan berupa batu bara semua itu tergantung dari apa yang diperintahkan oleh bosnya.
Irfan menikmati pekerjaaan ini, walau hanya bekerja sebagai supir bantu setidaknya dia mampu memberikan uang untuk anak dan istrinya. Luna untungnya bersyukur walaupun hanya sedikit setidaknya ada daripada tidak ada sama sekali. Sambil mengumpulkan uang untuk biaya persalinan anak keduanya. Karena sekarang serba mahal jadi harus ada persiapan.
Malam itu sudah sepi tidak ada lagi kendaraan yang berlalu-lalang. Luna sudah merasakan kesakitan, tidak lama merasakan kesakitan air ketuban Luna pecah sebelum waktunya. Irfan segera membawa istrinya ke puskesmas terdekat dengan mengendarai motor. Dia pun membawa anak pertamanya soalnya tidak ada yang menemaninya. Sesampainya di puskesmas rasa sakit hilang terpaksa Luna harus dirujuk karena bidan di puskesmas takut soalnya air ketubannya keluar lebih awal. Luna pun di bawah oleh ambulance ke rumah sakit besar sampainya di sana Luna langsung masuk ruangan persalinan. Irfan disuruh tunggu diluar untungnya ada bibi saudara dari ayah yang menemani sedangkan anaknya yang pertama ia titipkan ke Ani.
__ADS_1
Persalinan berjalan dengan normal, Luna akhirnya melahirkan. Luna lagi-lagi dikaruniai anak laki-laki. Anak Luna langsung dibawa ke ruangan perawatan bayi dan dipasangkan infus dan oksigen dan di simpan dalam kaca karena tubuhnya sedikit membiru. Luna dan bayinya di rawat 5 hari di rumah sakit, menunggu sampai anaknya membaik. Sedikit legah karena selang oksigen sudah tak terpasang lagi. Keesokan harinya mereka sudah pulang, sebelum itu Luna harus membayar biaya rumah sakit. Uang yang Luna dan Irfan miliki tidak cukup untuk membayar biaya persalinan dan perawatan bayinya. Tapi untungnya Ayah, Ani, Putri dan Lola mengumpulkan uang untuk Luna. Karena Luna sudah memberitahu mereka terlebih dahulu. Irfan mencoba meminta uang kepada orang tuanya tapi orang tuanya juga tidak punya uang. Karena mereka baru saja sudah memakai uang untuk adiknya Irfan yang sedang menikah. Irfan terlihat kecewa kepada orang tuanya. Tapi Luna mencoba menenangkan Irfan.
Setelah pembayaran administrasi selesai Luna dan bayinya bisa pulang. Luna pulang ke rumah mertuanya karena mertuanya memintanya.