Akhirnya Aku Kalah

Akhirnya Aku Kalah
Hinaan Dari Keluarga Putri


__ADS_3

Rehan yang pulang dari acara pernikahan sepupu Putri sedikit kesal dan kecewa karena tak ada satu orangpun yang mengajaknya salaman padahal dia sudah menjulurkan tangannya tapi tidak ada yang menerima salaman Rehan. Padahal mereka sudah mengenal Rehan jauh sebelum Rehan menikah dengan Putri.


"Sayang ... Kamu kenapa??" Tanya Putri.


"Aku kesal dengan keluargamu!!!" Ketus Rehan.


"Kok bisa, emangnya ada apa?" Tanya Putri penasaran.


"Keluargamu sepertinya tak suka denganku, soalnya tak satupun yang membalas salaman dari aku. Apa ini karena aku hanya seorang penjual sayur jadinya merek begitu kepadaku." Seru Rehan  sambil membuka baju batiknya.


"Nggak usah di ambil hati sayang , yang sabar saja .. " ucap Putri berusaha meredam amarah Rehan.


"Yaaa... " Menghela napas panjang.


"Mau diapain lagi ....Disabarin aja". Ucap Rehan lagi.


Memang belakangan ini semenjak Rehan di PHK dan menjadi penjual sayur perlakuan dari keluarga Putri jauh berbeda. Mereka menjauh, mulai dari penghinaan yang Putri dan Rehan dapatkan hingga dijauhi.  Bukan cuman Rehan, Putri pun demikian jika dia bertemu dengan keluarganya, dia tak diajak bicara atau di tegur sama sekali.


Bahkan ketika Putri masuk rumah sakit tak satu orangpun dari keluarga Putri yang datang  menjenguknya. Mereka seakan menjauh dari Putri dan Rehan. Berpapasan dijalan saja tak saling tegur walau Putri dan Rehan mengajaknya senyum.


Perlakuan berbeda mereka tunjukan kepada kami. Kak Ani dan suaminya sangat di sanjung karena suami Kak Ani seorang karyawan swasta. Sedangkan kami hanya seorang penjual sayur. Bukan cuman itu suami dari sepupu Putri memiliki pekerjaan yang bagus, gaji sudah UMR dan bekerja di perusahaan terkenal. Mereka selalu membanding-bandingkan soal pekerjaan kepada kami.


Bukan cuman di jauhi keluarga dari Putri juga meremehkan kami, katanya mana mungkin kami bisa membangun rumah kalau perkerjaan hanya seorang tukang sayur. Di tambah lagi kelurga Putri seenaknya saja berbicara bilang ini itulah.


Mendengar hal itu Rehan sangat marah. Mulai dari sekarang kita harus buktikan kepada mereka pasti kita mampu membangun rumah.


Sebenarnya Putri dan Rehan tak ingin lagi bertemu dengan mereka tapi apa boleh buat kebetulan lagi ada acara syukuran di rumah nenek Putri. Waktu itu nenek Putri  dan tantenya pulang dari ibadah umroh.


Semalam nenek Putri menelpon ..


"Nak kamu kesini besok ya.. karena nenek mau adain syukuran atas kepulangan nenek dari tanah suci Mekah."


"Iya nek... Insyaallah kalau ada kesempatan besok. Aku dan Rehan akan kesana.

__ADS_1


Telepon terputus.


"Sayang nenek mengajak kita ke rumahnya soalnya dia baru saja pulang dari ibadah Umroh." Ucap Putri .


"Iya besok kita kesana, tapi sebenarnya aku malas kesana tapi tak apalah ini demi nenek." Ucap Rehan.


Putri hanya mengangguk yang menandakan iya setuju dengan perkataan Rehan.


Sore harinya Rehan dan Putri baru mau ke rumah nenek soalnya tunggu Alif pulang sekolah dan mengaji dulu. Jarak antara rumah nenek dan Putri hanya berjarak sekitar 3-4 kilometer. Kami hanya mengendarai sebuah sepeda motor. Sesampainya dirumah nenek, kami di sambut dengan nenek penuh perhatian tapi berbeda dengan saudara dari ibu dan keluarga Putri. Semuanya pada berbisik ketika kami datang. Mata mereka tertuju kepada kami seakan mereka tak mengharapkan kedatangan kami.


Aku dan Rehan tak memperdulikan mereka, tujuan kami datang kesini demi nenek. Tohhh nenek juga baik kepada kami. Tak membeda-bedakan cucu-cucunya.


"Kamu sudah datang Putri" ucap nenek sambil menggendong cicitnya Alif.


"Iya nek" Putri mengangguk.


"Kalian makan saja dulu." Seru Nenek


Tiba-tiba sepupu Putri datang menghampiri


"Ehhh... Kamu baru datang langsung makan saja... Kalau kamu sudah makan jangan lupa cuci piring ya..!!!" Bisik sepupu Putri dan meninggalkan Putri yang sedang makan.


"Ia" jawab Putri.


"Aku tahu diri kok. Seenaknya saja dia berbicara seperti itu. Seolah-olah tak mengharapkan kedatangan kami. "Seru Putri dalam hati.


Putri memberikan Alif ke Rehan , dia ingin membantu orang yang ada didalam cuci piring. Piring sudah menumpuk setinggi gunung. Tidak ada yang membersihkannya.


"Sepertinya tumpukan piring ini sengaja tidak dicuci, menunggu kedatanganku" seru Putri dalam hati. Putri tetap membersihkan tumpukan piring itu walau hatinya sedikit kesal dan marah.


Selesai cuci piring, waktunya pembagian


ole-ole dari tanah suci Mekah. Putri kembali mengambil Alif dan memanggil Rehan untuk duduk disampingnya. Pembagian ole-ole di lakukan oleh saudari Ibu anak tertua nenek. Semua keluarga sudah berkumpul. Pembagian diawali dengan buah kurma, dan air zamzam. Selanjutnya permen coklat, tasbih, dan peci. Rehan dan Alif juga mendapatkan peci. Sekarang giliran perempuan yang mendapatkan pembagian baju dan sendal. Awalnya aku tersenyum bahagia dalam hati mengatakan Alhamdulillah... Akhirnya aku dapat juga.

__ADS_1


Pembagian dimulai dari yang tertua dan duduknya  dekat dengan bibi. Kak Ani mendapatkan sebuah sendal dan sehelai baju, begitupun sepupu yang lainnya. Sepupu dari ibu juga dapat. Hingga sampai di Putri. Bajunya sudah habis, sendalnya juga habis jadi Putri hanya mendapatkan sebuah tasbih, akar pohon Fatimah, kurma dan air zamzam.


"Put... Maaf ya kamu nggak kebagian baju dan sendal."ucap bibi saudara tertua ibu (Hj. Sabrina). Dia memang nggak terlalu suka dengan Putri.


" Iya Tante ... Nggak apa-apa kok" ujar Putri walau dalam hatinya ingin memberontak. Hatinya sangat sakit diperlakukan berbeda dari keluarga ibunya sendiri.


"Ambil punyaku saja Put..." Seru Tante Darma menyediakan baju yang ia dapatkan.


"Nggak usah Tante ..  inikan untuk Tante ... Putri nggak apa-apa kok. Kan sudah ada kurma dan tasbih. " Ucap Putri walau hatinya sakit dan mencoba menahan air matanya.


"Sebenarnya masih ada baju Put... Tapi ini sudah ada yang punya untuk tetangga tante di sana" ucap Hj. Sabrina sambil memperlihatkan isi kopernya.


"Iya nggak apa-apa Tante. Berikan saja baju itu kepada tetangga tante di sana. Nanti mereka menunggu ole-ole dari Tante. Lagi pula aku sudah dapat ini Tante." Ucap Putri sambil menunjukkan kurma dan tasbih.


"Padahal masih banyak baju yang ada dalam koper Tante. Seandainya dia memberikan aku sehelai saja, aku tak akan sesakit ini, diperlakukan seperti orang lain di keluarga sendiri. Aku hanya bisa menahan air mataku, mengulas dadaku, berusaha untuk sabar dan menahan amarahku. " Gumam Putri dalam hati.


Rehan yang melihat istrinya diperlakukan tidak adil dalam keluarganya tidak bisa berkata apa-apa. Dia mencoba menenangkan Putri dengan memeluk Putri dan berbisik ke Putri.


"kamu yang sabar dan kuat sayang. Nanti aku belikan baju yang jauh lebih cantik dari pada itu"


"Iya sayang." Seru Putri yang masih saja berusaha menahan rasa sakit dan air matanya agar tidak keluar.


Nenek  baru saja pulang dari sholat di masjid. Seandainya nenek melihat semua itu. Nenek menghampiri Putri dan  Rehan.


"Putri... Kamu kali ini menginap saja  ya...??" Ajak nenek.


"Maaf nek.. Putri nggak menginap soalnya Alif sekolah dan Rehan ingin berjualan besok pagi."tolak Putri dengan lembut. Padahal sebenarnya hati Putri sangat sakit. Tapi dia nggak bisa ungkapan kepada nenek. Dia harus menjaga perasaan nenek.


"Saya kira kamu menginap malam ini nak.." ucap nenek lagi.


"Tidak nek... Nanti lain kali.. ohya Alif sudah mengantuk nih nek. Putri mau pulang dulu." Ucap Putri sambil pamit pulang dan meninggalkan sanak keluarganya.


"Iya nak.. hati-hati dijalan."ucap nenek sambil melambaikan tangannya kepada Putri dan Rehan.

__ADS_1


__ADS_2