
jika kau mencari keadilan diantara manusia , kau tak akan menemukan keadilan itu melainkan kekecewaan yang luar biasa.
Putri pulang ke rumah dengan rasa sakit hati. Rehan berusaha menenangkan Putri saat ini. Putri hatinya sangat sakit Diperlakukan tidak adil oleh keluarganya.
"Kamu yang sabar sayang..." ucap Rehan sambil memeluk Putri.
"iya sayang". Jawaban yang singkat dari Putri.
"Kita akan buktikan kepada mereka semua bahwa kita mampu membangun rumah, walaupun kita hanya seorang tukang sayur. Seenaknya saja mereka meremehkan kita, mereka tidak tahu kekuatan orang yang diremehkan itu bagaimana. Kita akan membeli dan membungkam mulut mereka semua". Ucap Rehan dengan penuh semangat.
Putri hanya mengangguk. Menandakan dia setuju dengan keputusan Rehan.
Rehan terus saja memeluk Putri dengan penuh kasih sayang.
Semenjak itulah Rehan dan Putri mulai menabung. Sepuluh ribu hingga lima puluh ribu perhari tergantung untung yang di dapat dari penjualan sayur. Di tambah dengan uang tabungan ketika Rehan bekerja dulu di perusahaan swasta.
Kami mulai membeli bahan bagunan uang dari tabungan kami. Tapi kami tidak ambil kami hanya menyimpannya di toko bangunan. Kami akan ambil ketika semua bahannya cukup.
Selain itu hasil dari menjual sayur kami sisihkan sedikit demi sedikit hingga cukup untuk membeli 10 sak karung semen. Setelah uang itu cukup, kami kembali menyetorkan uang kami ke pihak toko bangunan. Kami lakukan hal itu secara bertahap.
__ADS_1
Perkiraan kami semen yang kami tabung di toko bangunan sepertinya sudah cukup, kalaupun kami harus menambah setidaknya tidak banyak.
Kami kemudian menabung untuk membeli besi. Harga besi sngat melonjak naik. Kami sisihkan hasil menjual sayur dan menjual barang campuran. Setelah cukup untuk membeli 10 batang besi, kami kumpulkan lagi untuk membeli besi selanjutnya.
Alhamdulillah... Allah selalu tahu apa yang kami butuhkan. Allah mudahkan segalanya. Dari jualan sayur cepat habis, dagangan campuran lancar di tambah lagi pesanan kue selalu berdatangan. Aku sempat ingin istirahat menjual kue tapi aku tak ingin mengecewakan para customer. Ditambah lagi kami sudah setengah jalan membangun rumah.. aku tetap menerima pesanan kue di bantu oleh suami ku Rehan. Dia juga terus berusaha mendapatkan uang untuk membeli bahan bangunan.
Besi yang kami butuhkan sudah cukup, selanjutnya kami membeli batu gunung, dan pasir. Selanjutnya kami memulai pundasi awal rumah kami, setelah itu kami mengambil semen yang sudah kami simpan di toko bangunan. Sedangkan untuk gaji tukang kami dapatkan dari uang arisan kami yang kebetulan naik.
Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan ikhlas menjalini hidup yang dsudah ditakdirkan untuknya. Alhamdulillah dengan kegigihan dan kesabaran kami , akhirnya bahan untuk membangun rumah sudah cukup. Bukan main, kami harus menabung sekitar dua sampai tiga tahun. Bukan cuman itu segala keperluan aku dan Rehan berusaha tahan selagi itu tidak terlalu penting.
Tujuan kami hanya satu ingin segera memiliki rumah, untungnya Alif kala itu masih kecil jadi belum terlalu banyak keinginan. Untuk membeli baju saja kami tahan, kami hanya membeli ketika lebaran saja selepas itu kami berusaha tahan. Bahkan untuk membeli sehelai daster aku juga tahan. Aku dan Rehan selalu berfikir kita tak boleh mengikuti orang diluar sana. Memang mereka mampu membeli tapi kami tidak.
Kami juga mendapatkan bantuan dari orang tua Rehan dan ayahku. Kami sangat berterima kasih karena berkat mereka kami bisa lagi melanjutkan pembangunan ini.
Hanya istirahat satu bulan, kami kemudian melanjutkan pembangunan ini. Alhamdulillah,,, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Pekerjaan rumah kami di kerjakan oleh tukang yang berjumlah empat orang dan buruh dua orang saja..
Kami memperkerjakan mereka dengan gaji tukang sehari 120.000/ orang sedangkan buruh 85.000/ orang. Tak terasa pekerjaan sudah mencapai 50%, tak henti-hentinya kami mengucapakan syukur Allahamdulilah Allah mengabulkan doa kami dan memperlancar segalanya.
Inilah buah dari kesabaran kami. Sebelumnya kami tinggal bersama orang tua Rehan segala kebutuhan kami di tanggung oleh kedua orang tua Rehan.
__ADS_1
Tinggi tembok sudah mencapai 4 meter. Sebentar lagi kami akan menutup atapnya dengan seng. Emang dasar rejeki. Ayah mendengar kami akan membeli seng dia kemudian memberikan kami uang untuk membeli seng. Lagi-lagi aku dan Rehan tidak bisa menolak pemberiannya. Walau sebenarnya ayah nggak pernah memintanya ,tapi aku dan Rehan berinisiatif untuk mengembalikan uangnya nanti .
Selain itu orang tua Rehan juga memberikan uang untuk membeli tegel keramik. Kami juga menerima bantuan itu. Pemasangan tegel keramik berlangsung lama , ini tidak mudah dengan apa yang ku banyangkan ternyata disinilah hal yang paling sulit ku lihat. mulai dari ukuran, pemasangan, ketebalan campuran bawah. Semuanya harus mengikuti prosedur yang ada. Pemasangan ini memakan waktu sekitar kurang lebih satu bulan. Tukang harus benar-benar teliti agar tidak ada yang salah dalam pemasangan tegel. Bukan cuman itu mereka juga harus hati-hati dalam memotong tegel.
Nggak terasa pembangunan rumah kami berjalan dua tahun. Sebentar lagi selesai. Walaupun bagian depannya belum selesai setidaknya kami bisa berteduh di dalam.
Setelah semuanya rampung, kami berencana memasuki rumah kami sebelum Idhul adha tiba. Aku dan Rehan memberitahu sanak saudara untuk menghadiri acara masuk rumah kami. Banyak yang heran kepada kami.
"Kok.. bisa mereka cepat membangun rumah". Jangan-jangan mereka?? Cibiran keluarga dan mulai berfikir negatif tentang kami.
"Bisa jadi Putri menjual perhiasan emas ibunya" cibiran yang lain.
Aku dan Rehan tak memperdulikan perkataan mereka. Yang jelas apa yang dikatakan mereka itu tidak benar. Mereka tidak tahu bahwa sejujurnya kami berkorban dan berusaha sekuat tenaga kami untuk menyelesaikan rumah ini walau tak sempurna yang kami harapkan.
"Rumah segini saja kami sudah bersyukur banget. Seru Putri dalam hati. Nggak perlu mewah yang penting kami nyaman tinggal dirumah ini.
Orang-orang yang meremehkan kami. Begitu kaget melihat pencapaian kami. Mereka terlihat malu bertemu dengan kami, sepertinya mereka ingat perkataannya dulu. Bahwa mana mungkin seorang tukang sayur dapat membangun rumah. Kami buktikan
perkataannya itu sampai dia tak mau bicara lagi. Raut wajah mereka menandakan mereka seakan tak percaya akan semua ini. Tapi mata kepala mereka melihat secara langsung hingga mereka hanya diam.
__ADS_1
Inilah janji Allah... Bahwa suatu usaha tak akan mengkhianati hasil. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Kata yang menjadi penyemangat untukku dan Rehan. Perkataan ustadz selalu saja terngiang-ngiang di dalam fikiranki. Sebagai motivasi dan kekuatan kami. Kami bersyukur bertemu dengan ustadz sebaik beliau. Jika kami ada masalah kami curhat kepada ustadz dan beliau siap mendengarkan.