Akhirnya Aku Kalah

Akhirnya Aku Kalah
Ujian Dalam Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan Rehan dan Fatima baru saja berjalan satu bulan. Fatima yang kini ikut dengan Rehan ke rumah orang tuanya. Untuk sementara ini mereka tinggal disana tapi mereka berdua akan ke rumah orang tua Fatima sesekali untuk menengok Ayah dan ibu Fatima.


Seharusnya setelah pernikahan Fatima dan Rehan semuanya bahagia tapi kami harus sedih karena ayah dari Rehan sedang sakit. Itu sudah terlihat ketika semenjak acara pernikahan Fatima dan Rehan berlangsung. Tapi Pak Masyur menyembunyikan hal itu. Pak Masyur kini di rawat di rumah sakit. Selama di rumah sakit Pak Masyur masih di dalam ruang ICU.


"Sebenarnya Ayah sakit apa sayang". Tanya Fatima cemas.


"Aku juga nggak tahu sayang, baru kali ini ayah sakit." Jawab Rehan sambil memandangi ayahnya di balik pintu ruangan ICU.


"Maaf kami sudah berusaha keras, tapi Allah berkehendak lain. Allah lebih sayang kepada ayah kalian." ujar dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


Mereka semua kaget mendengar ucapan dokter. Air mata mulai berjatuhan hingga Ibu Siti jatuh pingsang.


"Dok... apa ini benar, dokter nggak bohongkan ??" Tanya Fatima lagi yang seakan tak percaya.


Dokter hanya mengangguk yang menandakan hal itu benar.


Fatima hanya terdiam sedangkan Rehan menangis di samping Fatima sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fatima.


Ibu Siti mulai tersadar, dia kemudian menangis dan masuk ke ruangan dan melihat suaminya yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Ibu Siti memeluk suaminya untuk terakhir kalinya.


Fatima segera menghubungi ayah dan ibunya

__ADS_1


"Assalamualaikum... Yah!!! Ayah.... Ayah Rehan meninggal.." ucap Fatima yang sedang menangis di balik telepon.


"Wa'alaikum salam.... innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.. Kapan Pak Masyur meninggal Ima.?? tanya Pak Kadir kaget.


"Baru saja Yah..." jawab Fatima singkat


"Ayah dan Ibu akan segera kesana Ima" ujar Pak Kadir sambil menutup teleponnya.


"Ayah ... nggak usah kesini ... Ayah ke rumah duka saja soalnya kami akan segera pulang dan membawa jenazah ayah Rehan." Ucap Fatima cepat sebelum ayah menutup teleponnya.


Mobil jenazah telah tiba di rumah duka. Sudah banyak keluarga yang datang untuk melayat sebagian dari mereka kaget soalnya Pak Masyur sebelum tidak pernah sakit. Orang tua Fatima sudah datang. Ibu Maemunah memeluk Ibu Siti.


"Yang sabar Bu...."ucap Ibu Maemunah sambil memeluk ibu Siti.


Pemakaman telah usai. Satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Suasana duka masih menyelimuti keluarga Rehan. Kedua adik Rehan pun masih terpukul.


Setahun telah berlalu...


Keluarga Rehan kini memulai hidupnya kembali... Adik-adiknya kembali bekerja di luar kota. Di rumah hanya tersisa Rehan, Fatima dan Ibu Siti. Sesekali Fatima ke rumah orang tuanya karena belakangan akhir ini ayah Fatima sedang sakit. Pak Kadir yang memiliki riwayat penyakit asma kini kembali kumat. Sesekali dia harus dilarikan ke rumah sakit karena kesulitan bernafas. Jika sudah membaik dia pun kembali ke rumah.


Cobaan datang tak henti-hentinya. Kini giliran keluarga Fatima yang berduka. Ayah handanya yakni Pak Kadir telah meninggal dunia. Lagi-lagi ini semua diakibatkan boleh penyakit asmanya. Pak Kadir terlambat di bawah ke rumah sakit karena sebelumnya dia baik-baik saja. Pak Kadir di tinggal ke pasar oleh Ibu Maemunah sedangkan anak-anak yang lainnya tidak ada di rumah, mereka sibuk semua bekerja. Dan Fatima berada di rumah mertuanya. Setelah Ibu Maemunah sampai di rumah, dia melihat suaminya susah bernafas. Dia segera membawa suaminya ke rumah sakit tapi sayangnya belum sampai di rumah sakit Pak Kadir sudah meninggal dunia. Ibu Maemunah pun menangis sambil memeluk suaminya. Dia begitu menyesal telah meninggalkan suaminya di rumah sendirian, begitupun anak-anaknya. Mereka semua sangat sedih di tinggal ayahnya.

__ADS_1


"Ibu... ayah kenapa Bu...???"tanya Fatima dengan memegang kedua pundak ibunya.


"Ayah kamu sudah meninggal nak.... Ini semua gara-gara ibu, andai saja ibu tidak meninggalkan ayahmu sendirian pasti ayah kamu masih hidup" ujar Ibu Maemunah dengan air mata berjatuhan.


"Ibu jangan berkata begitu ... ini semua sudah terjadi, sudah takdir Allah Bu... , Allah lebih sayang Ayah Bu..." ucap Fatima sambil memeluk Ibunya.


Rehan dan Ibu Siti berusaha menenangkan Fatima dan Ibunya. Pemakaman Pak Kadir tidak jauh dari pemakaman Ayah Rehan. Hanya berjarak 10 meter.


Kini kedua ayah Fatima dan Rehan telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kedua orang yang mereka cintai telah di panggil oleh Allah. Mereka hanya bisa bersabar dan berusaha ikhlas untuk melepas kepergian kedua Ayahnya semoga mereka tenang di alam sana.


Sebulan kepergian Ayahnya, Fatima kini dilanda penyakit langkah. Dia terserang penyakit kulit yang mengakibatkan jari tangan dan kakinya bengkok. Sedangkan kulitnya memerah dan terkelupas. Fatima dan Rehan pun sering cek up ke dokter. Dokter hanya bilang penyakit yang dialami Fatima belum ada obatnya. Dia hanya diberi obat penahan rasa sakit. Fatima hanya bisa sabar untuk saat ini.


Cobaan apa lagi ini Ya Allah, pertama Kau mengambil ayah mertuaku, kedua Kau mengambil Ayahku sekarang Engkau memberikanku penyakit yang aneh ini. Ya Allah aku nggak tahu apakah aku bisa melewati semua ini, aku hanya memohon beri aku kesabaran atas ujian ini. Ucap Fatima dalam doa.


Untungnya Rehan senantiasa selalu ada di samping Fatima. Dia pun tak pernah lelah menemani Fatima pergi ke dokter, dia juga tak pernah jiji melihat tubuh Fatima.


walaupun Fatima sakit, dia tetap mengurus Rehan suaminya. Menyediakan makanan dan pakaian kerjanya itu dia lakukan setiap hari meskipun Rehan melarangnya.


Di lain sisi Allah pun memberikan kesempatan untuk Fatima mengandung walaupun saat ini Fatima masih sakit tapi Allah meberikan kebahagiaan kepada Rehan dan Fatima hingga sesaat mereka lupa akan penyakit Fatima karena mereka sangat bahagia. Kini usia kandungan Fatima sudah memasuki sembilan bulan, sebentar lagi Fatima akan melahirkan. Seketika penyakit kulit Fatima mulai hilang. Kulit yang sebelumnya terkelupas kini tidak lagi. Hanya jari tangan dan kakinya yang masih bengkok, tapi Fatima tak pernah mengeluh. Dia berusaha kuat demi anak yang ada dalam kandungannya.


Suara tangisan bayi memecah keheningan. Fatima hanya menangis dan bersyukur atas izin Allah dia pun melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Rehan begitu bahagianya mencium kening istrinya. Rehan kemudian mengadzani putrinya. Ibu Siti dan Ibu Maemunah turut bahagia.

__ADS_1


Tapi hanya berselang satu tahun Fatima kembali sakit. Penyakit yang dulu ia alami kini muncul lagi. Padahal sebelumnya Fatima kira penyakitnya nggak akan muncul kembali. Mungkin ini diakibatkan karena Fatima tidak meminum obat yang diberikan dokter.


bersambung...


__ADS_2