
Fatima dan Rehan kini sudah memiliki dua orang anak perempuan. Kedua anaknya tumbuh cantik dan pintar. Kedua anak perempuan mereka diberi nama Aqila dan Amira. Aqila merupakan anak pertama dan Amira anak kedua. Sebelum mereka dikaruniai anak mereka terlebih dahulu hidup di perantauan. Kehidupan mereka cukup lumayan baik. Bahkan keduanya berencana untuk melaksanakan ibadah haji. Namun kehendak Allah berkata lain. Fatima yang kini sering sakit-sakitan bahkan penyakit kulit yang pernah di deritanya kembali muncul. Uang yang mereka kumpulkan untuk berangkat haji kini habis untuk pengobatan Fatima. Fatima sungguh nggak enak hati pada suaminya. Terkadang Fatima terdiam sendiri melamun di tempat tidur, memikirkan penyakit yang dialaminya.
"Kenapa mesti penyakit ini muncul lagi padahal sudah berapa tahun menghilang. Apakah salah dan dosaku terdahulu Ya Rob". Guman Fatima dalam hati hingga air mata membasahi pipi.
Tiba-tiba Rehan memasuki kamar. Dia melihat Fatima menangis. Diapun menghampiri dan berkata
"Kenapa kamu menangis Ima???" Tanya Rehan kebingungan.
"Aku nggak papa Han..!!" singakat Fatima.
"Kamu jangan bohong Ima, kita kan suami istri, jadi jangan kau sembunyikan masalahmu kepadaku." ucap Rehan sambil memegang tangan Fatima.
"Bukannya begitu Han....aku nggak enak sama kamu. Setiap hari kamu harus mengurus aku. Yang sakit-sakitan ini. Di lain sisi kamu harus bekerja mencari nafkah untuk makan kita setiap hari." Guman Fatimah dengan raut wajah sedih.
"Kamu jangan bicara seperti itu Ima. Itu sudah kewajiban aku sebagai suamimu. Mungkin Allah ingin mengujiku. Apakah aku sabar atau tidak yang jelas aku ikhlas dengan semua ini Ima." jelas Rehan sambil memeluk Fatima yang terbaring di tempat tidur.
Berbulan-bulan penyakit Fatima tak kunjung sembuh. Fatima dan Rehan sudah berusaha keras kesana kemari bahkan mereka berdua pun mendatangi orang pintar untuk berobat tapi penyakit Fatima tak kunjung sembuh.
__ADS_1
Rehan dan Fatima memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Disana mereka berencana untuk pergi berobat. Mencari tabib, ustadz dan dokter yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu.
Sudah begitu banyak tabib, ustadz dan dokter yang mereka datangi. Penyakit Fatima sembuh namun hanya sebentar selepas itu sakitnya muncul lagi.
Fatima kini hanya bisa iklhas dan sabar atas kehendak Allah. Dia yakin Allah mengetahui yang terbaik untuknya. Mungkin ini adalah teguran buatku agar aku semakin dekat dengan Allah.
Fatima dengan penyakit kulitnya semakin di jauhi oleh tetangganya. Sesekali jika Fatima keluar rumah Fatima langsung diejek oleh tetangganya. Katanya Fatima memiliki penyakit aneh lah, akibat dosa terdahulunya lah bahkan Fatima hampir di usir dari kampung halamannya sendiri. Rehan yang mendengar ejekan tetangganya pun begitu marah. Dia sangat tidak suka jika ada seseorang yang menghina istrinya. Dia langsung memarahi orang tersebut.
Mendengar ejekan orang tersebut Fatima langsung saja masuk ke rumahnya dan mengunci kamarnya. Rehan pun segera menyusul Fatima dan mencoba menenamkan Fatima. Fatima yang begitu sakit hati dengan perkataan tetangga hanya bisa menangis bahkan Fatima meminta Rehan untuk menceraikannya. Mendengar ucapan Fatima, Rehan langsung memeluk Fatima.
"Kamu jangan bicara seperti itu Ima, walaupun kamu berpenyakitan aku tetap sayang sama kamu, apalagi kita sudah memiliki dua putri. Lihat kedua putri kita, mereka berdua sangat sayang pada kamu Ima. jadi kamu jangan pernah meminta aku untuk menceraikanmu. Yakinlah Ima semua ini adalah ujian dari Allah SWT. Aku tidak mungkin meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini." Jelas Rehan yang masih saja memeluk Fatima.
"Ibu kok nangis..??" tanya Aqila.
"Ibu nggak apa-apa kok nak." jawab Fatima sambil menghapus air matanya.
Fatima dan Rehan terus berusaha. Berbagai jenis obat Fatima minum. Baik itu dari dokter, bahkan dari orang pintar pun semuanya Fatima minum. Mereka hanya bisa ikhtiar karena mereka sudah berusaha biarlah Allah yang menjawabnya.
__ADS_1
Sembari menunggu kesembuhan Fatima, Rehan terus berusaha keras untuk memberi semangat kepada Fatima. Seiring berjalannya waktu, usaha dan doa mereka tidak sia-sia. Allah telah mengabulkan doa mereka. Akhirnya Fatima di nyatakan sembuh oleh dokter. Mereka tak lupa sujud syukur atas nikmat Allah SWT. Inilah buat dari kesabaran dan kesetiaan Rehan kepada Fatima. Akhirnya Allah mengangkat penyakit langkah yang dialami istri tercintanya itu.
Mendengar ucapan dokter Rehan langsung memeluk Fatima dengan erat tanpa sengaja air matanya menetes karena bahagia.
"Alhamdulillah..... akhirnya aku sembuh".ucap Fatima dengan raut wajah bahagia.
"Iyaa sayang... Alhamdulillah... Allah menjawab doa kita." ujar Rehan dengan mata berbinar - binar.
Mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut. Sesampainya di rumah, Rehan dan Fatima segera mengabari ibu mereka. Ibu Siti dan Ibu Maemunah sungguh bahagia dan senang mendengar berita tersebut. Bukan hanya itu kakak dan adik-adiknya pun turut berbahagia. Bahkan Aqila dan Amira sangat senang melihat kesembuhan ibunya. Mereka langsung saja memeluk ibunya.
Rehan dan Fatima berencana akan mengadakan syukuran atas kesembuhannya. Mereka pun mengundang saudara - saudaranya dan anak yatim sebagai rasa syukur atas kesembuhan yang diberikan oleh Allah SWT.
"Kini kamu tak perlu lagi siang malam tak tidur untuk menjagaku sayang. Makasih sudah merawatku selama ini dan maafkan aku telah menyusahkanmu selama ini." Ucap Fatima sambil memegang tangan Rehan.
"Sama-sama sayang.... tapi kamu nggak perlu berkata begitu itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai suamimu. " jawab Rehan.
Fatima dan Rehan begitu bahagia. Bahkan kebahagiaan mereka bertambah karena Fatima ternyata sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki tiga bulan. Tak henti-hentinya mereka mendapatkan kejutan dari Allah. Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan mereka berdua. Sambil menunggu sang buah hati lahir. Rehan mulai mencari pekerjaan yang lebih baik. Karena sebelumnya dia berhenti bekerja pada saat Fatima sakit. Kini Fatima sudah sembuh. Satu persatu surat lamaran pekerjaan dia masukkan ke dalam perusahaan- perusahaan yang terdekat. Sambil menunggu panggilan Rehan keliling kampung mengantar pesanan roti dari para costumer. Alhamdulillah hasil dari berjualan roti cukup membiayai kehidupan mereka. Sedikit banyaknya rezeki yang Rehan dapat Fatima tak pernah mengeluh, bahkan dia berencana membantu suaminya dengan berjualan kue untuk mendapat tambahan. apalagi sebentar lagi Fatima akan melahirkan mereka perlu cukup biaya lebih dalam persalinannya nanti. Tidak hanya disitu Fatima dan Rehan mulai
__ADS_1
membuka usaha rumahan. Hasilnya pun lumayan. Intinya banyaknya sedikit rezeki yang Allah berikan kita harus bersyukur. Karena Allah sudah mengatur kadar rezeki setiap umatnya dan setiap cobaan yang datang pasti ada hikmahnya. Kunci dari semua ini adalah ikhlas, sabar, ikhtiar dan pasrah atas kehendaknya insyah Allah semuanya akan indah pada waktunya.