
Sepulang dari acara pernikahan Iwan, Putri dan Rehan menjemput kedua anaknya di rumah orang tua Rehan.
"Assalamualaikum... Bu..." Ucap Rehan mengetuk pintu rumah orang tuanya.
"Wa'alaikum salam.. ehhh kalian sudah pulang yah!!! Jawab ibu sambil mempersilahkan masuk.
"Alif dan Shireen kemana Bu... ???" Tanya Rehan sambil melihat kanan kiri.
"Mereka sedang tidur nak, sepertinya mereka capek habis bermain." Jawab ibu.
"Ohya Bu... Dimana Ranti dan Revan.?? Tanya Putri.
"Mereka ada dalam kamar nak." Sahut Ibu Rehan.
Ranti dan Revan selalu saja begitu walau Rehan dan Putri datang mereka berdiam saja dalam kamar. Mereka tak pernah menemui Rehan dan Putri jika mereka berkunjung ke rumah orangtua Rehan. Padahal mereka ada.
Shireen sudah terbangun, dia menangis mencari ibunya. Putri yang mendengar langsung masuk ke kamar tempat dimana Alif dan Shireen tidur.
"Cup.cup.cup.... ini ibu nak." Ucap Putri berusaha menenangkan Shireen yang masih menangis.
Putri menggendong Shireen dan menyusuinya. Shireen akhirnya berhenti menangis.
"Ohya Bu... Tadi aku dan Putri ketemu Stevani diacara pernikahan temanku. Ternyata Stevani juga kenal dengan Iwan. " Ucap Rehan memberitahu Ibunya.
"Bagaimana reaksi Stevani setelah melihat kalian. ?? Tanya ibu.
"Awalnya dia kaget Bu, dia mencoba menghindar dari panggilan kami tapi kami mendekati dia, dia tidak bisa menghindar lagi." Jawab Rehan.
"Jadi kamu beritahu Stevani kapan dia mau bayar pinjamnya ke ibu?
"Iya.. Bu.. Rehan sempat menagih Stevani dia bilang nanti dia bayar kalau sudah gajian." Seru Rehan.
"Semoga kali ini dia tidak berbohong lagi." Ucap Ibu berharap Stevani membayar utangnya.
Alif dan Shireen sudah terbangun,
"Bu... Kalau begitu kami pulang dulu yah.!!"" Ucap Rehan sambil menggendong Shireen dan mengajak Alif dan Putri pulang.
"Iya nak.. kalian hati-hati dan sering-sering kesini yah."ucap Ibu merasa sepi jika tak ada Alif dan Shireen.
"Iya Bu.."
Rehan memberikan Shireen ke Putri soalnya dia ingin mengambil motor. Mereka kemudian meninggalkan rumah Ibu.
Sesampainya dirumah Rehan mencoba menghubungi Stevani, berharap Stevani mengangkat teleponnya. Berulang kali Rehan mencoba tapi tak diangkat malah Stevani mematikan handphonenya.
Rehan tak putus asa besoknya dia menelepon lagi Stevani. Tapi tetap saja tak ada jawaban.
Rehan mencoba terus sampai akhirnya Stevani mengangkat teleponnya.
"Bagaimana Stevani , kapan kamu bayar utang kamu ke ibuku." Tanya Rehan tegas.
"Sabar ya Rehan... Tidak lama lagi aku gajian, Nanti aku bayar." Jawab Stevani dengan mulut manisnya.
"Ok. Aku tunggu."
__ADS_1
Rehan menutup telponnya,
"Bagaimana sayang, apa kali ini dia mau bayar.??" Tanya Putri penasaran.
"Stevani akan bayar setelah di gajian. " seru Rehan dengan wajah sedikit emosi.
"Semoga saja kali ini dia bayar ya sayang...takutnya ini hanya janji palsu." Ucap Putri yang sedang memasak.
"Ohya sayang... Besok subuh aku berangkat kerja tolong siapkan segala keperluan ku ." Ucap Rehan mengingatkan Putri.
"Iya sayang" teriak Putri di dalam dapur.
Segala keperluan Rehan dan pakaian kerja sudah Putri sediakan. Rehan tinggalengambil dan memakainya tak lupa pula jaket nggak boleh ketinggalan karena angin di waktu subuh sangt dingin menusuk hingga ke tulang.
Setelah sholat subuh berjamah, Rehan siap -siap akan berangkat ke tempat kerja. Tak lupa Rehan masuk ke kamar anak-anaknya yang masih tidur dan mencium kening anak-anaknya.
"Ayah pergi kerja dulu yah nak.??" Ucap Rehan sambil memegang tangan anaknya.
Rehan keluar dari kamar anaknya dengan pelan-pelan, dia takut anaknya terbangun.
"Sayang . Aku berangkat dulu yah" ucap Rehan sambil mencium kening Putri.
"Iya sayang, hati-hati dijalan, dan jangan lupa kabarin aku kalau kamu sudah sampai" sahut Putri sambil mencium tangan Rehan.
Rehan membunyikan klakson motornya dan berlalu begitu cepat.
Dua minggu berlalu Rehan kembali menghubungi Stevani melalui via WhatsApp.
"Assalamualaikum... "
"Bagaimana Stevani, kamu jadikan bayar utang kamu ke ibuku?"
"Iya.. jadi.. sebentar sore aku transfer. "
"Ok .. aku tunggu yah.."
"Ok sipp".
Rehan sedikit legah, akhirnya Stevani akan membayar utangnya juga.
Rehan kembali bekerja, dari kejauhan Rehan melihat Iwan yang sudah kembali bekerja.
"Hay... Iwan... " Teriak Rehan sambil melambaikan tangannya ke arah Iwan.
"Hay... Rehan " balas Iwan dan berjalan menuju Rehan.
"Bagaimana bulan madunya kemarin Iwan." Tanya Rehan penasaran.
"Alhamdulillah lancar donk Rehan, ternyata begini yah rasanya." Sahut Iwan tersenyum.
"Apa aku bilang, bagaimana kamu melakukan berapa kali?? Sahut Rehan dengan nada kepo.
"Kamu itu Rey.... Mau tau aja deh... Pokoknya aku gaskan soalnya aku berharap istriku segera hamil. " Seru Iwan dengan penuh semangat.
"Hehehe... Aku kan cuman bercanda kali aja kamu mau menjawab pertanyaan aku.." ucap Rehan menepuk pundak Iwan.
__ADS_1
" Ohya Iwan.. aku mau bertanya. Boleh nggak?? Tanya Rehan.
"Boleh.. emangnya kamu mau bertanya tentang apa. Jangan bilang kamu mau bertanya tentang istri aku." Sahut Iwan sambil mununjuk ke arah Rehan.
"Buat apa aku bertanya tentang istri kamu... Aku tuhhh mau bertanya tentang Stevani. Tamu kamu itu yang datang keacara kamu juga."
"Stevani...??? Iwan bingung soalnya waktu itu banyak tamu dia tidak sempat memperhatikan tamu yang datang.
"Itu... Stevani yang gemuk dan memakai baju warna pink di acara pernikahan kamu. Yang sedang berdiri di depan kamu." Ucap Rehan mencoba menjelaskan lebih detail.
"Oh... Yang itu,, kenapa dengan dia, mantan kamu yah..?? Tanya Iwan dengan nada bercanda.
"Wahhh Bukan.." bantah Rehan.
"Dia itu istri dari sepupu aku, dia lama nggak pulang ke rumah. Suaminya sibuk mencari keberadaannya." Ucap Rehan.
"Wahhh... Ternyata Stevani sudah menikah???" Iwan kaget. " Aku kira dia belum menikah. Soalnya dia sudah bilang ke aku bahwa dia belum menikah" Iwan masih sok.
"Apa??? Dia bilang begitu ke kamu, Stevani itu sudah menikah dan dia sudah memiliki anak. Cuman Stevani memiliki masalah dengan suaminya , sehingga dia tidak pulang-pulang sampai sekarang. " Ucap Rehan
"Masalah apa yang membuat Stevani nggak pulang?? Sehingga dia tega tak mengakui suaminya." Tanya Iwan mulai penasaran.
"Aku akan memberitahu kamu, tapi aku mau kamu berikan alamat tempat kerja Stevani dan tempat tinggal dia sekarang. Bagaimana?? Rehan berusaha mencari keberadaan Stevani lewat Iwan.
" Iya aku akan beritahu kamu Rey... Coba kasi tahu aku masalah apa yang di hadapi Stevani dengan suaminya itu??? Iwan makin penasaran.
"Begini Iwan Stevani mengambil uang kakak iparnya senilai sembilan puluh juta, bukan cuman itu dia juga menggadaikan emas yang dibelikan oleh mertuanya ditambah di meminjam uang kepada ibuku tanpa sepengetahuan suaminya. Pada akhirnya suaminya tahu,. Stevani tak berani pulang kerumah dia takut kepada suaminya. " Jelas Rehan.
"Waduh..... "Iwan kaget
"Segitu parahnya kelakuan Stevani, pantas saja dia tak pulang-pulang ternyata dia salah. Padahal aku sempat naksir kedua untungnya ibuku tak merestui aku dengannya. Ternyata dia seorang penipu." Iwan tak habis fikir dengan Stevani.
"Untung saja kamu tak termakan bujuk rayunya, ohya kamu kenal Stevani dari mana Iwan?? Tanya Rehan.
"Dari teman aku, waktu itu aku dan temanku ketemu dia tempat karaoke, dia begitu cantik dan seksi aku mencoba meminta nomor handphonenya , Stevani langsung memberikan. Ohya Rey nanti kita lanjut pembicaraan ini, soalnya aku sudah di cari bos nih... " Handphone Iwan terus berbunyi
"Ok. Wan.. jangan lupa kamu kirimkan aku alamat Stevani yah?? Sahut Rehan mengingatkan
"Ok.. sipp sebentar aku kirimkan." Iwan meninggalkan Rehan.
"Kok SMS banking belum masuk-masuk yah, padahal ini sudah sore Stevani janjinya sebentar sore dia akan transfer. " Sahut Rehan sambil memandangi handphonenya.
Rehan kembali menghubungi Stevani dengan via WhatsApp. Tapi chatnya hanya tercentang satu. Menandakan nomornya WhatsApp nya nggak aktif. Rehan kembali menghubungi Stevani dengan menelponnya, nomornya aktif tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dua sampai tiga kali Rehan menelpon Stevani tapi tak di angkat-angkat.
Rehan mencoba mengchat Stevani berharap dia akan melihatnya sebentar.
"Stev... Kenapa kamu belum transfer, kamukan janjinya sore ini, kalau kamu nggak transfer hari ini juga aku akan datang ketempat tinggalmu" masih tercentang satu.
Rehan kembali menelpon tapi tetap sama tak ada jawaban dan kali ini dia mematikan handphonenya.
"Dasar wanita pendusta, tak bisa dipegang kata-katanya, tunggu saja kalau kita ketemu.." Rehan begitu kesal karena Stevani hanya berjanji tidak menepati.
Handphone Rehan berbunyi, dia fikir Stevani ternyata Iwan yang mengirim alamat tempat tinggal dan tempat kerja Stevani.
"Thanks you Wan"
__ADS_1
"Sama-sama mas bro."