
Pagi ini rencananya aku akan pergi ke acara nikahan sepupuku. Tiba-tiba saja Aisyah datang ke rumah dengan muka yang masih kusut.
"Ada apa Aisyah?" tanya Putri
"Begini Put,, baru saja Sahir menelpon saya katanya kakakmu sekarang ada di puskesmas, dia mau melahirkan dan Sahir menyuruhku memberitahumu. Sontak mendengar ucapan Sahir aku segera beranjak dari tempat tidurku dan langsung kesini." jawab Aisyah.
"Pantas saja kamu terlihat kusut ternyata kamu baru bangun tidur dan langsung kesini". Ucap Putri dengan nada mengejek Aisyah.
"Iyha... habisnya Sahir menyuruhku cepat-cepat, jadi aku nggak sempat cuci muka dulu." Ucap Aisyah sambil memegang mukanya.
"Terimakasih yhaa Aisyah...." Ucap Putri.
"Iyha sama-sama.. Aku pulang dulu yha.." Ucap Aisyah sambil meninggalkan rumah.
Setelah Aisyah pergi, aku bergegas membangunkan Alif dan segera berangkat menuju puskesmas. Untungnya becak motor cepat datang padahal biasanya kalau masih jam segini belum ada becak motor yang lewat tapi hari ini tumben becak motornya cepat. Seakan dia tahu kalau ada penumpang yang mau di antar. Sebentar lagi kami sampai di Puskesmas. Sesampainya di Puskesmas rupanya kakakku Ani sudah ada di dalam ruangan bersalin, untungnya di dalam ruangan tersebut kakakku sudah ada yang menemani.
"Siapa yang menemani Ani di dalam?" Tanyaku kepada suami kakak ku.
"Ani di temani oleh kakak ipar ku." Jawab Ali
"Sudah berapa lama kamu membawa Ani kesini? Tanyaku lagi...
"Baru saja".. Ohya siapa yang memberitahumu? Tanya Ali kembali.
"Sahir menelpon Aisyah lalu Aisyah memberitahuku. Jadi aku segera kesini. Padahal sebelumnya aku mau ke rumah bibi, Inikan acara nikahannya Fais." Ucapku
__ADS_1
"Ohiyaaa..... aku hampir lupa kalau ini acaranya Fais.." Ucap Ali
Aku kemudian masuk ke ruangan bersalin untuk menemani kakakku. Tapi Kakakku masih belum melahirkan. Kata bidan belum ada pembukaan. Kakakku Ani terlalu cepat ke Puskesmas. Dia hanya di suruh jalan-jalan sampai ada pembukaan tapi kakakku tidak di izinkan pulang. Sambil menunggu adanya pembukaan kakakku disuruh jalan, banyak bergerak dan tak lupa pula minum susu. Beberapa jam berlalu Ani mulai merasakan kontraksi yang tidak ada putusnya. Dia merasakan sakit diperut. Bu Bidan segera menyuruhnya berbaring di atas tempat tidur tidak lama akhirnya Kakakku melahirkan. Perjuangan yang tak kenal lelah akhirnya terbayarkan dengan kehadiran sesesok anak yang cantik jelita. Ucapan selamat dari saudara ipar satu persatu datang. Kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Ani dan Ali. Hari ini mereka telah menjadi orang tua, menjadi ayah dan ibu dari buah hatinya. Semoga anaknya menjadi anak yang Sholeha. Aamiin.....
Melihat kondisinya sudah membaik, Ani kemudian dipindahkan ke ruangan nipas. Keesokan harinya Ani sudah bisa pulang karena dia dan anaknya baik-baik saja. Ani pulang ke rumah Ayah padahal sebelumnya Ani di ajak pulang ke rumah mertuanya tapi Ani menolak soalnya dia ingin pulang ke rumah Ayah nanti kalau putrinya sudah besar baru dia ke rumah mertuanya.
Kami pun meninggalkan puskesmas dengan mengendarai mobil, kebetulan saudara iparnya Ani datang dan membawa mobil jadi kami numpang di mobil iparnya tersebut. Di dalam perjalanan terlihat acara nikahan sepupu kami Fais begitu ramai, kami tidak sempat datang karena bersamaan dengan Ani yang melahirkan. Rencananya besok baru aku kesana.
Tak lama kemudian kami sampai juga di rumah Ayah. Untuk sementara waktu Lola tinggal disini saja dulu menemani Ani sampai anak Ani sudah bisa berjalan. Lola pun menyetujui hal itu.
Nggak kerasa anak Ani sudah memasuki dua bulan. Anaknya di beri nama Qolbi. Sebentar lagi Qolbi akan di aqiqah. Rejeki Qolbi datang berturut-turut, mulai dari kambing yang dibelikan oleh pamannya, baju dan celana dari tetangga dan teman-temannya. Tak lupa pula emas dari neneknya. Mereka sungguh senang atas kehadiran Qolbi di tengah-tengah mereka. Acara aqiqah Qolbi berjalan dengan lancar.
Empat bulan berlalu tinggal dua hari lagi Qolbi genap lima bulan. Qolbi mulai pandai tengkurap, pandai mengucapkan ma.... semakin hari semakin lucu dan menggemaskan. Untuk saat ini Ani dan anaknya ke rumah nenek Qolbi, sudah hampir dua minggu mereka tinggal di rumah kakak iparnya. Ini semua karena rumah tersebut tidak ada yang menempati, kakak ipar Ani pergi merantau keluar kota. Jadi untuk sementara waktu Ani dan Ali yang menempati rumah kakaknya itu.
" Haloooo.... kamu dimana nak??" Kata Ayah dengan nada suara sedih dan menangis.
"Aku ada di rumah Ayah, Ayah kenapa kok menangis??" tanyaku dengan nada khawatir.
"Cucu perempuan ku nak ... Qolbi meninggal". Jawab Ayah yang masih menangis.
"Apa....????" serentak aku, Luna dan Sahir kaget.. Kebetulan suara handphone ku, aku perbesar jadi mereka mendengarnya. Kami bertiga kaget dan bertanya-tanya. Kok Ani tidak mengabari kami, emangnya Qolbi sakit apa. Setelah selesai magrib aku dan Sahir bergegas ke rumah kakak ipar Ani.
Rumah kakak ipar Ani sudah banyak orang yang berdatangan untuk melihat Qolbi untuk yang terakhir kalinya. Aku masih seakan tak percaya begitu cepat Qolbi pergi meninggalkan kami padahal dua hari lagi ia genap lima bulan. Air mata terus bercucuran dari saudara, kerabat, tetangga dan teman-teman. Aku sekali lagi menanyakan kepada Ani dan Ali.
"Emangnya Qolbi sakit apa ?"
__ADS_1
"Kata dokter Qolbi muntaber." ucap Ani sambil memeluk anaknya di pangkuannya.
Kami sangat terpukul atas meninggalnya Qolbi begitupun dengan kedua orang tuanya Ani dan Ali. Mereka seakan tak percaya karena sebelumnya Qolbi baik-baik saja. Sebelum Jumat Qolbi begitu ceria, dia kuat minum susu. Tapi setelah sholat Jum'at Qolbi mulai buang air besar itu pun tidak terlalu cair. Melihat anaknya menggigil dan panasnya tinggi, Ani segera membawa Qolbi ke rumah sakit namun tidak berselang lama sampai di rumah sakit Qolbi sudah dinyatakan meninggal oleh dokter. Mendengar ucapan dokter sontak Ani dan Ali memeluk dan membangunkan Qolbi seakan tak percaya semua itu terjadi begitu cepat. Pemakaman Qolbi dilangsungkan malam ini juga. Karena Qolbi masih anak-anak belum ada dosa. Muka Qolbi begitu bercahaya. Air mata terus berderai membasahi pipi. Ani terus menangis dan berusaha membangunkan anaknya tapi tak kunjung bangun. Setelah selesai di mandi dan di sholatkan jenazah Qolbi segera di bawah ke pemakaman. Kuburannya bersebelahan dengan kuburan Mama. Kini Qolbi sudah tenang di alam sana dan bertemu dengan neneknya. Aku berusaha menenangkan Ani
"Allah lebih sayang kepada Qolbi, sabar kak dan ikhlaskan dia." ucapku sambil memeluk Ani.
"Qolbi sudah bertemu dengan Mama kak, sekarang kita bergantian dengan Mama untuk menjaga Qolbi" ucapku lagi.
Ani terus menangis dan sesekali tak sadarkan diri. Satu persatu pelayat mulai meninggalkan rumah. Ani masih saja sedih.
Keesokan harinya Ani tak mau makan padahal dari kemarin dia belum makan, baju yang dikenakan Qolbi terus di pegangnya, sesekali melihat foto anaknya yang ada di handphonenya. Ani kembali menangis. Tak lama kemudian teman-temannya datang untuk memberinya semangat dan membujuknya untuk makan tapi Ani masih saja menolak tak mau makan.
"Sabarrr.... sayang.. Allah lebih sayang putrimu." ucap teman Ani sambil memeluk Ani.
"iya .." jawab Ani singkat.
"Semoga Qolbi tenang disana. Qolbi akan menjadi bidadari di surganya Allah dan sebagai penyelamat di kemudian hari.. aamiin yang sabar yhaaaa...." Ucap teman Ani lagi.
Teman Ani mulai meninggalkan rumah.
Tak terasa sudah lima Jumat Qolbi meninggalkan kami. Setiap Ani dan Ali rindu dengan Qolbi mereka ke makam Qolbi untuk ziarah. Begitu banyak kenangan walau hanya sebentar tapi itu bisa membuat mereka merasa lebih nyaman. Ani dan Ali pernah beriming-iming jika kelak Qolbi sudah besar mereka ingin kesana kemari menikmati indahnya dunia ini. Mereka merasa seakan dunia ini milik keluarga mereka. Namun rencana Allah tidak sesuai dengan rencana mereka. Impian yang mereka bangun kini sirna dengan sekejap saja. Allah telah memanggil Qolbi kembali kepada-Nya. Hati Ani dan Ali begitu rapuh dan tak berdaya. Ani dan Ali butuh waktu lama untuk mencoba menanamkan kata sabar di dalam hatinya. Bukan cuman itu mereka berdua juga butuh waktu dan kekuatan untuk menerima kenyataan pahit ini. Tapi mereka juga mencoba untuk ikhlas atas kehendak illahi Robbi.
Aku melihat mereka sudah tegar dan mencoba untuk memulai hidup baru. Begitupun dengan kami. Kami yakin rencana Allah itu lebih indah dibanding rencana hambanya.
bersambung...
__ADS_1