
Suara angin yang berhembus begitu kencang kini menusuk sampai ke dalam relung hati. Daun-daun kini berguguran menghiasi pekarangan rumah yang kebanyakan dedaunan dari pohon bambu. Suara bambu yang saling bersenggolan seakan sedang bernyanyi entah dia sedang bahagia ataukah bambu itu sedang merasa sepi. Entahlah......
Hari ini aku merasa lelah, lelah akan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Sejenak ku rebahkan tubuhku di atas kasur untuk menghilangkan letihku, belum cukup lima menit berbaring handphone ku berbunyi.
Ring... ring... ring....
Ku ambil handphone yang ada di meja ternyata telpon dari sepupu suamiku.
"Hallo... yhaa ada apa Elis? tanyaku dengan nada terburu-buru.
"Begini Put... aku mau berbicara dengan suamimu. Apa dia ada di rumah??"
"suamiku tidak ada di rumah, emangnya kamu mau bicara apa dengan suamiku nanti aku sampaikan"
"nggak usah Put... nanti aku telpon lagi. kalau begitu udah dulu Put"
" ohiyaaa ... nanti aku kabarin kalau suamiku Uda pulang."
telepon putus ...
"sebenarnya apa yaaa??? yang mau di bicarakan Elis". Guman putri dalam hati.
suara motor mulai terdengar dari luar sepertinya Rehan sudah pulang.
ku bukakannya pintu dan mencium tangannya. Belum sempat duduk, aku langusng memberitahu Rehan kalau sepupunya Elis tadi menelpon dan ingin bicara denganmu.
oh itu... aku sudah bicara tadi, kebetulan aku tadi menelpon paman dan bibi dan Elis ada disitu jadi aku sudah bicara dengannya.
"emangnya Elis mau bicara apa sayang , sepertinya penting banget.." tanya Putri penasaran.
__ADS_1
"Elis mau minta tolong, dia sedang butuh tambahan dana soalnya dia mau membeli tanah sedangkan uangnya kurang dua puluh juta. Elis mau melanjutkan kreditan kita di bank , jadi aku kasi ajaa yang penting di mau melunasinya dulu." Ucap Rehan.
"Jadi Elis bilang ap?? Tanya Putri.
"Elis pun mau." Jelas Rehan.
"kok kamu nggak bilang ke aku dulu sihhh mas, langsung mengiyakan saja." Tanya Putri kecewa.
"ini kan bagus, kita tidak perlu membayar uang bank lagi". Jawab Rehan.
"tapi kan mas... itu kan pakai nama kita.
kenapa dia tidak memakai nama dia sendiri." Ucap Putri kesal.
"kalau pakai namanya, katanya urusnya lama sedangkan dia butuhnya cepat jadi aku kasi dia aja. Nggak apa-apa kita bantu Elis kali ini saja." Jelas Rehan.
"Ia siiihhh mass... tapikan...."
Kali ini aku bingun harus bgaimana lagi, semua yang ku harapkan tidak sesuai dengan yang aku inginkan. mulai dari sikap mertua yang tidak adil dan selalu membanding- bandingkan aku dengan menantu barunya.
di tambah lagi suami yang tidak memberitahuku dulu dan selalu menomor satukan orang tuanya. Bagaimana aku tidak kesal kalau begini.
Malam itu lagi-lagi dia pulang malam . katanya siiihhh dia dari rumah orangtuanya. dia tidak memberitahuku atau bahkan meneleponku padahal aku di rumah nungguin dia, bahkan ku tak makan sebelum dia pulang.
"sayang... ayo makan? " ucapku
"aku sudah kenyang, aku tadi makan di rumah ibu..kamu makan saja duluan " ucap Rehan yang berlalu begitu saja.
"kamu kenapa sihhh mas ... selalu begitu.. aku disini tungguii kamu mas, aku belum makan." jelas ku dengan nada suara marah dan kesal.
__ADS_1
"akukan cuman ke rumah orang tuaku, sini aku temanin makan" ucap Rehan .
" nggak usah mas... aku uda nggak nafsu makan lagi' jawabku ketus.
"kamu jangan begitu nanti kamu sakit. yhaa Uda aku minta maaf.. aku tidak akan mengulanginya lagi.' jelas Rehan sambil memegang tangan putri.
"aku mau tidur dulu mas". Ucap Putri dan berlalu meninggalkan Rehan.
Putri memanggil kedua anaknya untuk segera tidur karena mereka besok sekolah. Rehan mencoba meminta maaf lagi kepada Putri tapi Putri tak peduli dia sedikit kecewa dengan Rehan.
Keesokan harinya, Putri tak bicara sedikitpun kepada Rehan. Dia masih kesal, tapi biar dalam keadaan marah dia tetap menyiapkan makanan untuk suaminya itu.
Rehan mencoba mengajak Putri bicara lagi, Rehan beberapa kali mencoba meminta maaf kepada Putri tapi Putri hanya diam. Tidak sampai disitu. Rehan membelikan Putri sebuah bunga sebagai tanda maaf, berulang kali Rehan mencoba akhirnya Putri memaafkan Rehan walau hatinya masih kecewa. Tapi Putri juga nggak tega melihat Rehan seperti itu.
Rehan dan Putri sudah baikan. Mereka kembali terlihat harmonis. Tidak berlangsung lama, Putri lagi-lagi dibuat kecewa oleh Rehan. Rehan lebih mementingkan orang tuanya di banding dirinya.
Putri juga kecewa kepada kedua orang tua Rehan karena selalu saja memanjakan Alif. Jika Alif menginginkan sesuatu trus Putri larang orang tua Rehan mengiyakan keinginan Alif walau itu bertentangan dengan Putri. Putri sering melarang Alif makan mie karena itu tidak baik untuk tubuhnya. Tapi Ibu Rehan membiarkan hal itu. Putri nggak bisa melawan orang tua Rehan. Putri hanya mengadu ke Rehan agar dia memberitahu Ibunya supaya tidak menuruti segala kemauan Alif.
Putri juga melarang Alif minum minuman , lagi-lagi Ibu Rehan membiarkan Alif meminumnya bahkan Ibu Rehan membelikan Alif banyak minum. Ingin rasanya Putri menegur Ibu Rehan tapi dia tak mampu. Dia takut nanti dia bertengkar dengan ibu Rehan.
Putri memilih diam, walau dalam hati berkecamuk, ingin sekali memberontak tapi dia tak mampu. Putri melarang Alif ini itu karena demi kebaikan dan kesehatan Alif sedangkan Ibu mertuanya hanya berkata yang penting Alif tidak rewel. Alif yang sering dibela oleh neneknya kini mulai melawan Putri. Dia tak mau mendengar perkataan Putri karena Putri selalu melarang apa yang diinginkan Alif. Tapi jika Alif sakit yang disalahkan Putri.
Ku mencoba lagi berbicara denga Rehan Agar dia memberitahu Ibunya itu, tapi Rehan tak menghiraukan perkataan Putri. Rehan juga mengikuti jejak Ibunya selalu mengiyakan walau itu tidak baik untuk Alif alasanyannya sama yang penting Alif tenang. Tanpa mereka tahu bahwa kedepannya akan mengganggu kesehatan Alif. Walau pada akhirnya yang kena imbasnya adalah Putri sendiri.
Putri tahu diri dia hanya seorang menantu dalam keluarga ini, setiap perkataannya tak dipedulikan walau itu benar. Dan setiap menantu ada batasnya dalam berbicara.
Putri kecewa dengan sikap mertuanya itu, Putri hanya berharap sikap mertuanya bisa berubah tanpa harus memanjakan Alif terus. Padahal Putri ingin mengajarkan Alif belajar hidup susah. Bagaimana uang dicari dan bagaimana bersikap kepada kedua orangtuanya tapi itu susah karena nenek Alif .
Alif ingin handphone , Ibu Rehan membelikannya padahal dia tau bahwa bermain handphone pada usia dini dapat merusak mata. Ibu Rehan nggak mau Alif sering nangis dan bertengkar dengan ibunya karena Putri selalu melarang Alif bermain handphone makanya dia mengiyakan keinginan Alif. Begitu sering Putri mendapat kekecewaan tapi dia hanya sabar walau sebenarnya dia marah dan kecewa.
__ADS_1
bersambung....