
Rehan sudah memasak untuk Pandi sedangkan Rafli baru saja selesai cuci piring. Sedangkan Fatur pergi begitu saja setelah makan tanpa mengucapkan satu kata sedikitpun.
Rehan dan Rafli kemudian duduk-duduk di depan kontrakan sambil melihat orang berlalu lalang.
"Raf... Kamu dapat undangan dari Iwan??" Tanya Rehan memecah keheningan.
"Iwan.. ??? siapa ?? Tanya Rafli seolah nggak tahu.
"Iwan.... Itu yang operator mesin.." seru Rehan.
"Ohhh... Iwan yang itu too....!!! Baru saja tadi dia berikan undangannya itupun Iwan bilang dia sudah cuti besok." Seru Rafli yang sibuk memandangi handphonenya.
"Kamu mau pergi Rafli ?? Tanya Rehan lagi.
"Nanti saja dilihat Rey... Kalau tidak ada halangan." Jawab Rafli.
Rehan kembali memainkan game yang ada di handphonenya. Karena Rafli juga sibuk dengan handphonenya. Karena keasyikan main game mereka tak melihat Pandi datang. Rehan dan Rafli begitu terkejut. Soalnya Pandi langsung saja merebut handphone mereka.
Rehan dan Rafli sontak berdiri.
"Hampir saja kau ku tonjok." Seru Rafli spontan.
"Iya nih... Kamu bikin kaget aja.!!". Ucap Rehan yang hampir memukul Pandi.
"Wah...wah... Takut.... Habisnya kalian serius amat main gamenya sih...!!!" Sahut Pandi mengejek.
"Sini.... Balikin handphone aku " sahut Rafli dan Rehan.
Pandi mengembalikan handphone Rehan dan Rafli. Mereka bertiga kembali masuk ke kontrakan. Mereka bertiga sibuk berbincang-bincang tentang pekerjaan hari ini yang begitu melelahkan.
Malam minggu kali ini Rehan berencana pulang kerumah. Tak lupa Rehan memberikan kunci kontrakan kepada Pandi soalnya Pandi dan Rafli nggak pulang kampung.
Dalam perjalanan menuju rumah, Rehan di berpapasang dengan Stevani istri dari sepupunya Niko. Stevani membunyikan klakson motornya. Awalnya Rehan tidak tahu siapa itu, lama kelamaan dia baru ingat bahwa itu Stevani. Rehan kemudian mengikuti dan mengejar Stevani. Stevani mengendarai motor begitu kencang seakan dia tak ingin bertemu dengan Rehan. Rehan mencoba terus mengejarnya tapi pada akhirnya Rehan kehilangan jejak.
Rehan memutar balik motornya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah Rehan disambut oleh kedua anaknya.
"Hore... Ayah sudah pulang..." Teriak Alif senang sambil memeluk ayahnya.
Shireen yang belum terlalu pandai bicara juga terlihat senang, dia juga berlari menuju ayahnya.
"Ibu kalian mana???" Tanya Rehan yang memandang masuk ke rumah.
"Ibu ada di dalam ... Dia sedang membuatkan nasi goreng untukku". Ucap Alif polos.
"Ayo kita masuk nak..." Sahut Rehan sambil menggendong Shireen dan Alif.
Alif sangat manja dengan ayahnya. Dia ingin di temani bermain oleh Ayahnya. Rehan tak bisa menolak kemauan Alif walaupun dia sedang capek tapi dia nggak mau Alif bersedih.
Mereka sangat asyik bermain, main kuda-kudaan dan Rehan sebagai kudanya.
__ADS_1
"Ayo anak-anak kita makan" teriak Putri sambil membawa nasi goreng.
"Hore... Nasi goreng sudah datang... Siapa yang mau makan??? Sahut Rehan sambil berhenti sejenak sebagai kuda.
"Saya...." Teriak Alif dan Shireen.
Mereka bertiga lomba ke meja makan. Yang terakhir sampai adalah Shireen.
"Mari kita makan."ucap Rehan senang.
Selesai makan, mereka terlebih dahulu nonton bersama baru kemudian menidurkan shireen dan Alif.
Alif dan Shireen sudah tertidur, sepertinya mereka berdua capek habis bermain.
"Sayang... Kamu mau minum kopi??" Tanya Putri.
"Boleh tuhh sayang.."
"Kalau begitu tunggu yahh mas, aku buatkan dulu. " Putri menuju dapur memasak air terlebih dahulu tak lupa pula Putri menyiapkan gorengan.
Beberapa menit kemudian,
"Ini mas kopinya..."ucap Putri sambil menyimpang kopi dan gorengan di meja.
"Wah... Ini baru pas... Makasih sayang tahu aja kalau aku kepengen makan sesuatu." Seru Rehan senang dan langsung memakan goreng yang ada di meja.
Putri duduk di samping Rehan sambil menyandarkan tubuhnya di bahu Rehan.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Ohya tadi dijalan mas bertemu dengan Stevani istri Niko. " Sahut Rehan yang mulutnya penuh dengan gorengan.
"Terus.... Stevani bilang apa mas..???." Tanya Putri penasaran.
"Mas nggak sempat bicara dengan dia, soalnya mas hanya berpapasan ketika naik motor itupun mas sempat tidak mengenalinya soalnya tubuhnya agak sedikit gemuk. Baru mas ingin ajak bicara dan mas sempat mengikutinya , Stevani membawa motor begitu kencang mas kehilangan jejak. Sepertinya dia takut mas tagih." Ucap Rehan panjang lebar.
"Sepertinya begitu mas, Stevani takut kalau kamu menagihnya." Seru Putri.
"Sebenarnya aku kasihan dengan Stevani mas, seharusnya ini masih tanggung jawab suaminya tapi Niko nggak mau soalnya uang yang Stevani pinjam bukan Niko yang suruh dan Niko juga nggak tahu Stevani gunakan untuk apa uang itu. Tapi aku juga nggak nyangka Stevani bisa berbuat seperti itu mas." Sahut Putri.
"Iya sayang... Tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ini semua sudah menjadi takdir keduanya. Jadi kita lebih baik nggak ikut campur." Ucap Rehan seolah tak peduli.
"Ohya sayang teman kerjaku Iwan mau menikah, dia ingin kamu juga datang di acara pernikahannya." Lanjut Rehan.
"Alhamdulillah... Akhirnya dia menikah juga yah.. mas.. ohya istrinya orang mana mas????apa dia sudah mengenalnya.??? Tanya Putri lagi-lagi penasaran.
"Kalau itu aku juga nggak tahu sayang..." Jawab Rehan.
" Emangnya acaranya kapan mas?? "
"Minggu depan.."
__ADS_1
"Semoga tidak ada halangan , aku penasran dengan calon istri Iwan mas."
"Iya semoga.."
Tibalah hari dimana yang nggak akan terlupakan oleh Iwan. Hari yang begitu dinantikannya sejak lama. Lelaki pendek itu akhirnya menjadi pengantin juga.
Rehan dan Putri datang keacara pernikahan Iwan. Mereka tak membawa Alif dan Shireen. Kedua anaknya mereka titip di rumah neneknya.
Rafli dan Pandi juga ikut hadir tapi kali ini mereka hanya sendiri. Rafli tak membawa istrinya sedangkan Pandi masih bujangan.
"Hay... Rafli ...Pandi." teriak Rehan dari kejauhan Sabil melambaikan tangan ke arah kedua temannya itu.
Rafli dan Pandi membalas melambaikan tangannya.
Mereka masuk bersama ke dalam acara pernikahan Iwan. Akad nikah berjalan lancar.
Nampak dari kejauhan Putri melihat sesosok gadis yang mirip dengan Stevani. Wanita itu semakin dekat. Kali ini Putri nggak salah itu benar-benar Stevani.
"Hay... Stevani... " Teriak Putri sambil berjalan menuju Stevani.
"Hay..." Stevani kaget
"Kenapa Putri dan Rehan ada juga disini ? " Tanya Stevani dalam hati.
Stevani agak ketakutan melihat Putri dan Rehan. Stevani takut Rehan akan menagihnya di banyak orang. Stevani mencoba menghindar dari Putri dan Rehan. Semakin mencoba untuk menghindar Putri dan Rehan semakin dekat kepadanya.
"Apa kabar Stevani??" Tanya Putri sambil mengajak Stevani salaman dan cipika cipiki.
"Alhamdulillah.. baik. Put.. kalau kamu?? Tanya Stevani balik.
"Alhamdulillah baik juga Stev.. Sekarang kamu kerja dimana ?? Tanya Putri lagi.
"Aku kerja sebagai satpam wanita Put di salah satu mol di kota ini." Jawab Rehan.
"Berarti kamu sudah punya uang dong" seru Rehan .
"Jangan bicara disini donk, aku nanti bisa malu" ucap Stevani sambil menarik Rehan dan Putri dari keramaian.
"Kalau kamu nggak mau orang tahu, makanya kamu bayar pinjam kamu di ibuku. Ibuku saat ini butuh uang untuk biaya pengobatan ayahku." Sahut Rehan mengancam.
"Iya.. iya Rey... Nanti aku bayar kok kalau aku sudah punya uang." Ucap Stevani sambil melirik kekanan dan ke kiri takut ada yang dengar.
"Kamu itu Stev... Kebanyakan hanya janji. Kalau aku telepon kamu nomor kamu sengaja kau matikan." Ucap Rehan sedikit kesal.
"Aku janji dalam waktu dekat ini aku akan bayar. " Ucap Stevani sambil meninggalkan Putri dan Rehan karena sudah di panggil oleh temannya.
Rehan dan Putri kembali ke acara pernikahan Iwan. Mereka tak lupa memberi selamat kepada Iwan.
"Selamat mas bro..." Ucap Rehan sambil bersalaman dengan kedua mempelai.
__ADS_1
Stevani nampak dari kejauhan begitu bahagia seolah olah dia tak memiliki pinjaman. Dia juga tak menghiraukan Putri. Walau Putri mengajaknya bicara.