
Malam ini cuaca begitu dingin, angin berhembus sangat kencang diiringi hujan deras. Kilat menyambar suara petir begitu kerasnya membuat anak-anak ku terbangun dari tempat tidurnya. Malam itu Rehan tiba-tiba sakit, tubuhnya gemetar kedinginan hingga dua lapis selimut tak mampu membuatnya hangat. Ku ambilkan lagi jaket untuknya niatnya agar tubuhnya hangat tapi Rehan tetap saja kedinginan. Aku bingun harus berbuat apa beberapa helai pakaian sudah menyelimuti tubuhnya tapi dia tetap saja kedinginan. Ku peluknya dengan erat agar dinginnya berkurang dan ku ambilkan segelas air hangat untuknya.
Setelah rasa dingin mulai berkurang, Rehan mulai melepas sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Sesekali dia meminum jahe hangat yang ku buat.
"Sepertinya aku akan sakit." Ucap Rehan dengan bibir yang pucat.
"Jangan berkata seperti itu, semoga saja tidak". Ujar Putri membentak perkataan Rehan.
Baru saja Rehan berhenti kedinginan tiba-tiba tubuhnya panas. Dari ujung kepala sampai mata kaki terasa panas tapi ujung kakinya dingin, aku mencoba mengkopres kepalanya dengan air hangat, Alhamdulillah panasnya sedikit berkurang. Aku kemudian memberinya obat Paracetamol untuk pertolongan pertama besok rencana aku ajak Rehan ke dokter.
Rehan susah sekali diajak ke puskesmas, dia nggak mau di periksa dia takut di infus soalnya Rehan fobia sama jarum suntik.
Harus extra keras untuk mengajak Rehan periksa. Lama kelamaan akhirnya Rehan mau dan sampainya dirumah sakit apa yang ditakuti Rehan tidak terjadi.
Sudah tiga hari Rehan jatuh sakit, dia hanya diberikan obat penurun panas dan obat batuk oleh dokter. Selama Rehan sakit kami sekeluarga tinggal di rumah orang tua Rehan soalnya Rehan ingin di rawat di rumah orang tuanya. Putri sebenarnya nggak mau tapi Putri juga nggak bisa menolak soalnya Putri takut nanti ada sesuatu yang terjadi dengan Rehan, Putri takut disalahkan jadi Putri ikut saja.
Anak -anak juga senang tinggal dirumah neneknya karena segala apa yang diinginkan pasti di turuti oleh kakek dan neneknya.
Semakin hari Rehan semakin membaik, panasnya sudah turun hanya saja batuknya belum berkurang padahal obat sudah hampir habis. Sudah beberapa obat Rehan minum, mulai dari obat herbal sampai obat dari dokter. Rehan yang belum sembuh dari batuknya, giliran Putri yang sakit, tapi Putri nggak mau Rehan tahu soalnya dia baru saja sembuh. Putri segera meminum obat sebelum tambah parah. Alhamdulillah atas izin Allah Putri sembuh juga.
******
__ADS_1
Selama Revan sudah menikah , ayah mertua jatuh sakit. Dia sakit dibagian kepalanya dan muka di bagian kirinya. Berulang kali ayah di bawah ke rumah sakit untuk periksa. Dokter hanya memberi obat penahan rasa sakit untuk sementara waktu. Setelah meminum obat yang di berikan oleh dokter sakit di kepala mulai menghilang tapi hanya beberapa jam saja selepas itu sakit dikepala kembali pulih.
Putri dan Rehan membawa Ayah ke rumah sakit lagi. Kali ini kami membawa ayah ke bagian pemeriksaan saraf. Kami menunggu agak lama karena begitu banyak pasien yang ingin diperiksa.
Tibalah nama ayah di panggil, sebelum di periksa oleh dokter , ayah di tensi terlebih dahulu oleh asisten dokter. Setelah itu barulah dokter ahli saraf mengambil tugasnya.
"Bapak sakit apa?" Tanya dokter.
"Begini dok, kepala saya sering skait dan wajah bagian kiri mati rasa.". Ujar ayah mertua. Sambil memegang kepala dan pipi kirinya.
"Bapak sudah terjatuh??" Tanya dokter lagi.
" Kalau jatuh sudah dok, tapi sudah dua tahun yang lalu dok." Jelas ayah lagi.
"Iya dok, saya mau " ucap Ayah sambil menerima surat rujukan tersebut.
"Makasih dok." Ucap Ayah lagi.
"Sama-sama pak semoga lekas sembuh" ucap dokter dengan raut wajah tersenyum.
Selepas mengambil obat ,kami segera pulang karena anak Rehan dan Putri sudah menangis ingin diberi asi.
__ADS_1
Sampai dirumah ibu Rehan yang penasaran dengan hasil pemeriksaan Ayah tak henti-hentinya bertanya.
"Bagaimana apa yang dikatakan oleh dokter???".
"Jawaban dokter belum akurat, dia hanya bilang ini pengaruh dari setelah aku jatuh. Aku hanya diberi surat rujukan untuk di ronseng soalnya alat dirumah sakit nggak ada jadi ayah harus ke rumah sakit terbesar yang ada di luar daerah." Jelas Rehan panjang lebar.
"Jadi... Kapan kamu membawa ayahmu ke rumah sakit itu?? Tanya ibu Rehan.
"Nanti kalau aku sudah libur, kebetulan dua hari kedepan aku ambil cuti dulu agar bisa mengantar Ayah ke rumah sakit." Jelas Rehan
Kepala Ayah masih sakit, dia segera meminum obat penghilang rasa sakit setelah meminum obat itu sakitnya berkurang.
Tibalah waktunya Ayah dan Rehan ke rumah sakit terbesar yang berada di luar daerah. Dia menempuh perjalanan sekitar enam jam dengan mengendarai sepeda motor. Itupun mereka sempat kesasar karena ini pertama kalinya mereka ke rumah sakit itu. Selain itu motor yang dikendarainya juga pecah ban. Untuknya rumah sakit yang ingin dituju sudah dekat. Rehan menyuruh ayahnya menunggu di rumah sakit soalnya dia ingin membawa motornya ke bengkel terlebih dahulu.
Setelah motor usai diservis, Rehan kembali ke ayahnya yang menunggu di lobi rumah sakit. Gedung Rumah sakit ini sangat besar karena ada beberapa lantai. Ayah terlebih dahulu mendaftar antrian lalu kemudian diajak ke ahli saraf.
Dalam ruangan itu Ayah menunggu begitu lama, ternyata sudah ada lebih dulu yang mendaftar. Ayah fikir dia pasien pertama tapi ternyata tidak ada 100 orang di depannya.
Hari pertama diperiksa ayah belum di ronseng, Ayah hanya diberi obat penahan rasa sakit.
Hari kedua barulah ayah diperiksa dan di ronseng. Kata dokter di kepala bagian kiri seperti ada tumor. Tapi tumor itu masih sangat kecil. Ayah ditawarkan untuk oprasi untuk menghilangkan tumor itu tapi perkataan dokter tidak menjanjikan soalnya dokter bilang hanya sedikit kemungkinan bisa sembuh. Ayah kemudian menelpon istrinya. Istrinya menolak ayah dioperasi karena tidak ada keterangan yang akurat dari dokter. Mendengar ucapan istrinya Ayah memutuskan tidak mau dioperasi. Ayah hanya meminta resepnobat dari dokter. Dokter saraf yang menangani Ayah setuju saja atas keputusan Ayah tanpa memaksa. Dia memberikan obat lagi yang berupa penahan rasa sakit. Setelah mengambil resep dokter ayah kemudian meminta izin pulang dari dokter dan segera mengambil obat di apotik rumah sakit.
__ADS_1
Diapotik rumah sakit lagi-lagi kami harus mengantri, antrian yang cukup panjang membuatnya harus menungggu lama lagi.
Sambil menunggu Rehan mencoba mencari makanan untuk mengganjal perutnya yang dari tadi bunyi terus akibat sudah lapar. Dia hanya memakan selembar roti dan air mineral. Tak lama kemudian nama ayah dipanggil. Rehan segera ke apotik untuk mengambil obat ayah. Setelah itu mereka kemudian kembali kerumah dengan jarakbyang begitu jauh. Untung saja hari itu nggak hujan sama sekali. Cuaca seakan tahu bahwa kami ingin pulang.