
Putri sudah tidak berjalan dengan terpincang-pincang dan juga tidak memakai bantuan tongkat. Putri mencoba mengangkat kakinya secara perlahan-lahan. Setelah di coba berkali-kali akhirnya dia bisa berjalan seperti dulu.
"Alhamdulillah... . Akhirnya kakiku juga sembuh" Sahut Putri senang.. .
"Alhamdulillah... Akhirnya kamu bisa jalan sayang... " Ucap Rehan yang ikut senang.
"Iya... Mas.. . Aku bisa jualan kembali dehh di kedai. Pasti sudah banyak pelanggangku yang mencari ku mas. " Ucap Putri dengan semangat.
"Iya sayang... Tapi jangan terlalu capek dulu yah.. Kamukan baru sembuh. " Saran Rehan dengan penuh perhatian.
"Ok.. Mas" Ucap Putri sambil mengangkat jempol dan mengedipkan kedua matanya, menandakan dia mengikuti saran Rehan.
"Sayang... Kamukan sudah sembuh, jadi Mas berencana akan kembali ke kontrakan, kamu nggak apa-apa, mas tinggal untuk sementara waktu?? Tanya Rehan sambil memegang tangan Putri.
"Iya mas.. Aku nggak apa-apa kamu tinggal, lagian kalau kamu pulang balik terus aku juga khawatir takut terjadi sesuatu dijalan ditambah lagi nanti kamu sakit akibat masuk angin yang harus berangkat subuh pulang malam. " Ucap Putri perhatian.
"Iya sayang.. . Makasih.. . "
"Sebelum kamu pergi Mas, aku akan siapkan segala keperluan untuk dibawa ke kontrakan mas, biar sampai disana mas nggak cari makanan lagi untuk beberapa hari."
"Iya sayang.. . Makasih ya.. . "
Senin subuh Rehan berangkat menuju tempat kerjanya sekalian dia membawa segala kebutuhan termasuk makanan dan pakaian ke kontrakannya.
Rehan akan balik ke rumah jika hari Minggu sekalian membawa pakaian kotornya untuk dicuci.
Untungnya kali ini nggak hujan, padahal semalam petir terus saja berbunyi pertanda akan turun hujan tapi ternyata tidak.
Rehan mulai meninggalkan rumah dengan tas ransel di punggungnya dan jas hujan di gantungan motornya. Dia berlalu begitu cepat soalnya hari Senin biasanya jalanan macet.
Satu jam lebih perjalanan menuju kontrakan akhirnya Rehan sampai juga. Tak lupa pula Rehan mengabari Putri lewat via WhatsApp bahwa dia sudah sampai. Takutnya Putri khawatir jika Rehan tak ada kabar.
Putri yang menerima pesan lewat via WhatsApp, perasaannya sudah lega karena Rehan sampai dengan selamat.
Rehan hanya menyimpan barang bawaannya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kerjanya. Sesampainya di tempat kerja, Rehan rapat dengan tim kerjanya. Rapat kali ini berjalan lancar. Hanya saja ada rekan kerja yang seenaknya mengatur jam masuknya. Rehan tak mau ambil pusing selama itu tidak merugikan dia. Jadi Rehan hanya tinggal diam, dia tak mau melaporkan temannya itu ke bos. Biarlah waktu yang menjawabnya.
Baru hendak Rehan ingin mengambil motornya di parkiran dari kejauhan terdengar suara teriakan.
"Rehan... Rehan... Tunggu..." Teriak Iwan sambil berlari kecil menuju Rehan.
__ADS_1
Rehan berhenti senjenak ketika mendengar namanya disebut..
"Ada apa Iwan.. kenapa kamu berteriak." Tanya Rehan penasaran.
"Begini... Rehan ... Aku .. mau memberimu undagan pernikahanku dalam waktu dekat ini" seru Iwan yang sedikit ngos-ngosan sambil menyodorkan surat undangan pernikahannya.
"Ciie... Ciee... Iwan akhirnya...." gombal Rehan.
"Kan besok juga bisa Iwan kamu memberikan undanganmu."
" Besok aku sudah cuti Rey... Soalnya tinggal beberapa hari lagi. Ohya jangan lupa bawa istrimu yah.." seru Iwan dan berlalu dari hadapan Rehan.
"Insyaallah... Aku nggak janji."teriak Rehan.
Sesampainya di kontrakan, Rehan sibuk mencari kunci kontrakan. Dari saku celana hingga saku baju kunci itu tak di temukan.
"Mungkin kunci itu terjatuh tadi ketika aku menolong orang yang kecelakaan itu."sahut Rehan dalam hati.
Rehan kemudian menelpon teman sekamarnya.
"Hallo Pandi, kamu lagi dimana.?? Aku mau masuk ke kontrakan tapi Kunci yang aku pegang hilang nihh... Boleh aku pinjam kunci kamu???
"Ok. Tunggu aku kesana".
Rehan menutup telponnya dan segera ke tempat kerja Pandi.
Rehan kembali menelpon Pandi.
"Pandi kamu bisa keluar nggak,, aku sudah ada di depan." Rehan menunggu Pandi di depan gerbang.
"Tunggu." Ucap Pandi dan berjalan menuju gerbang kantor.
Rehan menutup telponnya.
Pandi menyerahkan kunci kontrakan yang dipegangnya. Setelah menerima kunci tersebut Rehan segera kembali ke kontrakan.
Sesampainya di kontrakan, Rehan segera membuka pintu. Melepaskan sepatunya dan langsung merebahkan tubuhnya di pembaringan.
Tidak lama teman sekamarnya Rafli juga pulang kerja. Rehan mengunci pintu dari dalam. Rafli terus mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Rafli kemudian mencoba menelpon Rehan. Rafli tahu kalau yang ada di dalam adalah Rehan. Rafli melihat dari sepatu yang sering dipakai Rehan an kebetulan Rehan lupa membawa masuk sepatunya.
__ADS_1
Handphone Rehan terus saja berbunyi. Rehan tak menjawab telpon Rafli. Rafli terus saja menelpon sesekali mengetuk pintu. Hampir sepuluh kali Rafli menelpon baru Rehan mengangkat teleponnya.
"Ada apa Rafli... Sorry aku nggak dengar soalnya aku lagi tidur." Ucap Rehan minta maaf.
"Aku ada di depan pintu nih... Dari tadi aku menelponmu."
Rehan langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan segera membukakan pintu untuk Rafli. Tak lupa dia mematikan teleponnya.
"Sorry Raf... Aku ketiduran jadi aku nggak dengar handphone ku bunyi." Sahut Rehan sambil membuka pintu.
"Aku dari tadi menunggu... "Ucap Rafli kesal dan meninggalkan Rehan masuk kedalam.
"Iya.. aku minta maaf Raf.." mohon Rehan.
"Iya Uda aku maafin.. lain kali nggak usah di kunci yah..." Ucap Rafli.
Sebagai permohonan maaf kali ini Rehan yang masak nasi. Padahal ini giliran Rafli. Rehan nggak enak kepada Rafli yang sudah menunggu hampir satu jam di depan pintu kontrakan.
Setelah memasak Rehan memanggil Rafli makan. Mereka berdua makan bersama walau hanya telur dadar sebagai lauk mereka dan mie instan sebagai sayur mereka. Mereka berdua makan begitu lahapnya tiba-tiba pintu ada yang gedor-gedor. Rehan segera melihat dan membuka pintu.
"Sepertinya Pandi sudah pulang" seru Rehan dan bergegas membuka pintu.
Rafli yang sibuk makan hanya mengangguk.
"Aku kira Pandi yang datang ternyata kamu Fatur." Ucap Rehan ketika membuka pintu.
"Sorry Rey.. aku ganggu aku boleh nggak numpang makan disini soalnya aku belum masak, sedangkan aku sudah sangat lapar. " Ucap Fatur langsung masuk padahal Rehan belum berbicara apa-apa.
"Iya.." jawab Rehan singkat.
Fatur sudah ada di dalam dan langsung makan. Padahal nasi tinggal dikit. Itupun Rehan simpankan untuk Pandi.
"Biarlah sebentar aku masak lagi buat Pandi." Sahut Rehan dalam hati sambil memandang Fatur yang makan seperti orang kesurupan.
Rafli hanya diam melihat Fatur yang makan seperti itu. Selesai makan Fatur bukannya terima kasih dan membereskan piring makannya. Dia malah langsung pergi kembali ke kontrakan sebelah.
"Kenapa kamu biarkan Fatur masuk sihh Rey... Lihat tuuhhh orangnya tidak ada sopan santunnya." Seru Rafli kesal dan jengkel.
"Mau gimana lagi, aku fikir tadi Pandi yang pulang ternyata Fatur, lagi pula aku tak membiarkannya masuk di langsung masuk aja." Ucap Rehan membela diri.
__ADS_1
Fatur memang selalu begitu, tidak tahu diri. Habis makan langsung pergi. Kalau malam dia begadang dan ribut main game. Mengganggu orang disekitar kontrakan. Sudah banyak yang mengeluh tentang kelakuan Fatur. Tapi sampai sekarang pemilik kontrakan belum bertindak.