
Keluarga Revan mendatangi rumah Ranti, mereka ingin melamar Ranti untuk Revan. Keluarga Ranti sudah menunggu mereka sejak dari tadi. Berhubung cuaca tidak mendukung disaat Revan dan keluarga ingin berangkat tiba-tiba hujan turun begitu deras. Mereka menunggu hujan agak reda barulah mereka berangkat. Beberapa jam berlalu mereka terus mendapatkan telpon dari keluarga Ranti. Karena mereka sudah menunggu terlalu lama.
Revan dan keluarga segera berangkat karena sudah terlambat. Sesampainya di rumah Ranti, Meraka disambut dengan ramah sudah banyak keluarga yang datang yang ingin melihat proses lamaran berlangsung. Proses lamaran berjalan dengan lancar dan keluarga Ranti menerima lamaran itu.
Kedua keluarga kemudian menentukan hari dan tanggal pernikahan yang telah mereka sepakati. Hari penting itu akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Jarak antara hati lamaran dengan tanggal pernikahan hanya berjarak dua minggu dari sekarang.
Keluarga Ranti nggak mau menunggu dan menunda terlalu lama takutnya ada hal yang tidak diinginkan. Karena mereka sudah kecewa sebelumnya. Saat itu kakak Ranti pernah ada yang melamar tapi orang yang ingin melamarnya tak kunjung datang padahal segala persiapan sudah tersedia. Mereka takut kejadian itu terulang kembali jadi mereka ingin mempercepat pernikahan Ranti dan Revan.
Tibalah hari yang ditentukan tiba. Para tamu undangan sudah pada datang. Penghulu juga sudah datang, dan kedua keluarga sudah siap. Acara akad nikah akan segera dimulai.
Penghulu: apa kalian sudah siap?
Revan: iya... Kami sudah siap.
Penghulu menjulurkan tangannya kepada Revan.
Proses ijab kabul berjalan dengan lancar. Revan begitu lancar menyebut kata-kata sakral itu. Kedua keluarga sangat bahagia akhirnya mereka berdua jadi besanan.
Keesokan harinya Ranti ikut ke rumah orangtua Revan. Pengantin baru itu akan tinggal bersama dengan orang tua Revan soalnya tidak ada yang menemani orang tua Revan. Rehan sudah memiliki rumah sendiri.
Siapa sangka ternyata Ranti tak sebaik yang Revan kira. Ranti orangnya kasar, pemarah dan egois. Berbanding terbalik sebelum mereka menikah. Ranti tak pernah menghargai Revan dan kedua orang Revan.
Sebagai pengantin baru tentunya seorang suami ingin dilayani dengan baik oleh istrinya. Tapi lain halnya dengan Revan dan Ranti. Ranti tak ingin di sentuh sedikitpun oleh Revan. Jika Revan mendekat Ranti berteriak dan menangis.
"RAN... Kamu kenapa sihhh... Seharusnya malam ini malam bahagia untuk kita." Tanya Revan.
"Kamu jangan dekati aku, aku nggak suka sama kamu, aku menikah dengan kamu itu semua karena keinginan orang tuaku." Seru Ranti dengan kasarnya.
"Apa....???? Terus kenapa kamu terima lamaran aku. Kenapa kamu tidak tolak saja.??" Tanya Revan lagi.
"Bukan aku yang menerima lamaran itu tapi orang tuaku. " Jawab Ranti dengan nada tinggi.
Revan sangat terpukul dengan ucapan Ranti. Ranti yang dalam keadaan emosi menyuruh Revan tidur di lantai sedangkan ia tidur di kasur. Hampir setiap malam Ranti pura-pura tidur jika Revan ingin mendekatinya. Jika Ranti sudah melihat Revan tertidur lelap, dia kemudian bangun dia takut nanti sewaktu-waktu Revan menggaulinya.
__ADS_1
Pagi harinya Revan akan berangkat kerja, Ranti tak kunjung bangun mempersiapkan makanan untuk Revan. Revan dengan sabarnya tak berani membangunkan Ranti dia hanya berkata mungkin dia masih mengantuk.
Dua bulan berlalu sikap Ranti tak kunjung berubah terhadap Revan. Dia tetap saja tak melayani suaminya itu. Revan masih saja sabar menghadapi sikap Ranti. Dia masih memberi Ranti kesempatan. Semua keperluan dan kebutuhan Revan, Revan sendiri yang menyiapkan. Tapi jika Ranti menginginkan sesuatu Revan selalu turuti itu. Ranti tak pernah masak. Jika ia ingin makan , dia menyuruh Revan membelikan makanan untuknya walaupun itu sudah tengah malam. Jika Revan menolak Ranti akan sangat marah kepada Revan. Ranti tak pernah keluar dari kamarnya, dia hanya sibuk dengan handphonenya. Membersihkan rumah pun Ranti jarang kerjakan. Dia tak pernah malu terhadap orang tua Revan bahkan ketika marah kepada Revan , Ranti tak kenal tempat. Untung Revan lelaki yang sabar dan tak suka marah. Dia hanya diam jika di marahi Ranti.
Keadaan ini berlangsung lama , hampir setengah tahun pernikahan mereka jalani tapi tak ada kebahagiaan. Disaat teman-teman Revan istrinya sudah berbadan dua, tapi Ranti tidak. Revan malu kepada teman-temannya kalau di tanya "istrimu sudah hamil Rev?? Revan nggak tau mau jawab apa, dia hanya tertunduk diam disaat temannya sedang bahagia atas kehamilan istrinya.
Malam ini Revan kembali mencoba merayu Ranti semoga saja Ranti mau melayani nafsu suaminya tapi bukannya kasih sayang yang Revan dapatkan tapi hanya sebuah bara api yang ia dapatkan. Lagi-lagi Ranti menolak ajakan Revan. Dia sering kali ucapakan aku tak mencintaimu, jangan sentuh aku, aku ingin kita pisah. Kamu harus ceraikan aku. Kata Ranti semakin kasar kepada Revan bahkan ia memperdengarkan ucapannya kepada orang tua Revan.
Orang tua Revan yang mendengar ucapan itu hanya diam. Mereka tak mau ikut campur dengan urusan keluarga Revan biarlah mereka berdua yang menyelesaikannya.
Revan tak pernah berhenti mencoba, Revan berharap Ranti bisa berubah. Hari itu Revan sangat lapar dan kebetulan kedua orangtuanya tak ada di rumah. Orang tua Revan bermalam di rumah Rehan. Revan menyuruh Ranti untuk menyiapkan makanan.
"Ran.... Siapkan aku makanan, aku lapar nihh...!!! Panggil Revan untuk yang pertama.
"RAN... Kamu lagi apa.. tolong buatkan aku telur dadar!! Panggil Revan yang kedua.
"RAN... Kamu sibuk yaaa.." panggil Revan yang ketiga kalinya.
Semua itu sia-sia , tak ada balasan dari Ranti.
Ranti yang sudah kesal datang dengan wajah memerah, mata yang melotot ke arah Revan,.
"Kenapa sihhh... Kamu panggil-panggil aku." Ucap Ranti dengan judesnya.
"Aku lapar RAN , kamu bisa buatkan aku telur dadar." Ucap Revan lembut.
"Kamu kan punya tangan, kenapa kamu nggak buat sendiri. Ingin rasanya aku melempari kamu air panas" Seru Ranti dengan menyodorkan tangannya yang memegang segelas air panas.
"Ya ... Uda kalau kamu nggak mau... Biar aku sendiri yang buat." Jawab Revan sabar.
"Tuhhh. . kan kamu bisa. " ucap Ranti yang berlalu pergi di hadapan Revan.
Salah aku apa Ya Allah, kenapa aku mendapatkan istri seperti ini.
__ADS_1
Ucap Revan dalam hati.
Tiga malam Revan fikirankan ini, Revan ingin berbicara serius dengan Ranti.
Di dalam kamar Revan kembali bertanya kepada Ranti.
" Apa kamu benar-benar nggak suka dengan aku??
"Iya.." jawab Ranti singkat.
"Apa kamu sudah tak mau denganku". Tanya Revan lagi.
"Iya..." Jawab Ranti.
"Kalau begitu besok aku akan pulangkan engkau ke rumah orang tuamu. " Ucap Revan.
"Jangan..... Jangan... Mau di taruh mana muka kedua orang tua ku, jika kamu memulangkan aku. ??? Aku nggak mau orang tuaku sedih." Jawab Ranti.
" Aku sudah cukup sabar menghadapi sikapmu, kau tak pernah melayaniku sebagai suami, kamu hanya baik kepadaku jika kamu punya mau, kamu juga tak pernah sopan terhadap kedua Orang tua ku. Jadi mendingan hubungan ini kita akhiri saja. Kan kamu yang minta dulu bahwa kamu ingin cerai dengan aku. Aku kabulkan permintaanmu itu. Aku akan membawa kamu kembali ke orang tuamu secara baik-baik. ." Jelas Revan.
"Aku mohon jangan sampai oarng tuaku tau." Ucap Ranti.
"Kalau begitu aku memberikan kamu kesempatan dalam satu bulan terakhir ini jika kamu bisa berubah aku nggak akan bicara kepada orang tuamu". Seru Revan denga tegas.
"Iya.. aku janji." Jawab Ranti.
Ranti mulai berubah dalam tiga hari, dia sudah mau melayani Revan dengan baik. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sikap Ranti kembali seperti dulu lagi. Kali ini Revan sudah tak sanggup dengan perlakuan Ranti. Akhirnya Revan memberitahu orang tua Ranti bahwa Ranti ingin berpisah, dia tak menyukai perjodohan ini. Semua ini dia lakukan dengan terpaksa karena dia tak mau mengecewakan kalian. Mendengar ucapan Revan , orang tua Ranti pergi menemui Ranti dan menayakan hal yang sama .
Sampainya di rumah Revan, orang tua Ranti melihat rambut Ranti sudah di cukur seperti laki-laki. Revanpun kaget padahal sebelumnya tidak seperti itu. Orang tua Ranti mengajak Ranti pulang tapi Ranti nggak mau pulang. Padahal orang tua Revanpun sudah menyuruhnya balik ke rumah orang tuanya tapi Ranti tidak mau.
"Untuk apa hubungan ini di pertahankan kalau yang ada hanya air mata dan sakit ." Ucap Revan.
"Beri aku kesempatan lagi. Untuk memperbaiki semua ini_. ". Mohon Ranti.
__ADS_1
"Ok... Aku akan memberikanmu 1 kesempatan lagi..ini semua aku lakukan demi ke empat orang tua kita. "Ucap Revan.