Akhirnya Aku Kalah

Akhirnya Aku Kalah
Ketika kesetiaan di uji


__ADS_3

Malam semakin larut, Putri yang kala itu masih sakit. Belum bisa tidur sama sekali. Seluruh tubuh Putri begitu sakit, ngilu dan sesekali dingin. Rehan juga tidak tidur semalaman menjaga Putri. Segala keperluan rumah Rehan yang handel untuk sementara ini. Putri nggak enak dengan Rehan. Ketika Putri ingin ke kamar kecil dia tak berani membangunkan Rehan, Rehan terlihat sangat lelah sudah mengurus Putri seharian ini di tambah lagi mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah. Sudah beberapa hari Rehan mengambil cuti demi merawat istrinya.


Putri menuju kamar kecil baru setengah perjalanan Putri jatuh, kakiny tak mampu menopang tubuhnya. Rehan mendengar suara teriakan Putri yang tanpa sengaja. Padahal niat Putri tak ingin membangunkan Rehan tapi Putri spontan berteriak ketika jatuh.


"Kamu mau kemana sihh sayang?? Tanya Rehan sambil membantu Putri berdiri. " Kenapa kamu nggak bilang-bilang??? Tanya Rehan lagi.


"Aku mau buang air kecil, aku nggak enak sayang kamukan baru tidur semalam kamu jagain aku dan ngurus anak-anak." Jawab Putri yang memegang tangan Rehan.


Putri di papah oleh Rehan ke kamar mandi. Sesekali Putri memandangi wajah suaminya itu. Lelaki itu terlihat lelah dan mengantuk dia tidak bisa menyembunyikan itu karena dia sering sekali menguap. Setelah dari kamar kecil, Rehan kemudian mengambilkan segelas air putih untuk Putri. Dan memberikan obat untuk Putri karena sudah waktunya Putri minum obat. Obat yang diberikan oleh dokter Putri harus rutin meminumnya. Agar rasa sakit dan ngilu cepat hilang. Jika rasa itu datang Putri tak mampu menahan itu, walau ia ingin menyembunyikan tapi tidak dengan raut wajah dan matanya.  Air mata yang keluar secara tiba-tiba yang tak bisa Putri sembunyikan.


Seusai minum obat, Rehan membaringkan Putri kembali dipembaringan.


"Jika kamu butuh apa-apa , beritahu aku, atau kamu ingin buang air kecil, bangunkan saja aku." Ucap Rehan penuh cinta dan mencium kening Putri.


Sehelai selimut menyelimuti tubuh wanita itu, senyum diwajahnya mulai berkurang. Darii kejauhan lelaki itu memandang wajah istrinya yang masih lemah diatas kasur. Beberapa bulan mereka lewati. Rehan tak sedikitpun mengeluh walau kadang Putri marah kepada Rehan. Putri selalu beranggapan dia hanya menyusahkan Rehan. Tapi Rehan hanya diam , dia tak peduli dengan perkataan Putri karena bagi Rehan Putri adalah cinta sejatinya. Waktu Rehan susah dulu Putri tak pernah mengeluh dan menjauhi Rehan, malah Putri membantu Rehan dalam menstabilkan penghasilan dan pendapatan dengan membuka usaha minuman dan gorengan. Rehan ingat betul kejadian yang menimpanya dimasa lalu. Jadi Rehan nggak akan meninggalkan Putri walaupun pada akhirnya Putri nggak sembuh-sembuh.


Rehan yang menjaga Putri semalaman hanya memiliki tidur kurang dari dua jam. Rehan hanya tidur di samping pembaringan yang kepalanya tertunduk di tangan Putri. Dia sengaja agar ketika Putri ingin kemana -mana Rehan merasakannya. Rehan nggak mau Putri pergi ke kamar kecil sendirian lagi.  Dia takut dia akan jatuh lagi.


Keesokan harinya Rehan kembali harus mengurus anak-anak mereka. Membuatkan sarapan dan mengantarnya ke sekolah selepas itu Rehan kembali ke samping Putri menemani istrinya itu.


"Sayang... Kamu makan dulu selepas itu kamu minum obat" ucap Rehan sambil membawakan makanan untuk Putri dan menyuapinya

__ADS_1


Putri bangun dan bersandar di dinding kasur sambil memakan makanan yang disuapi Rehan.


"Makanan kamu enak banget sayang.."puji Putri.


" Alhamdulillah... Kalau kamu suka." Seru Rehan tersipu malu.


"Kamu juga makan dulu sayang.." ucap Putri.


Mereka berdua akhirnya makan bersama, Rehan senantiasa menyuapi Putri dengan penuh kasih sayang. Hingga Putri tak menyadari air matanya keluar menetes. Rehan yang melihat langsung mengambilkan tissu untuk membersihkan air mata Putri.


"Kenapa kamu menangis sayang?? Tegur Rehan yang tangannya masih diujung mata Putri.


"Nihhh... Buktinya kamu menangis." Ucap Rehan.


"Aku cuman terharu, karena kamu masih mau dengan aku, yang penyakitan ini. Seharusnya kamu mencari seseorang yang lebih baik dariku bukan yang penyakitan begini." Ucap Putri.


"Jangan berkata begitu sayang.... Untuk apa aku mencari seseorang sedangkan orang yang aku cintai ada di depanku. Memang banyak di luar sana wanita yang jauh lebih cantik darimu tapi tidak ketemukan pada wanita lain yang mau menemaniku disaat susah dan terpuruk. Hal itu yang ada pada dirimu. Kau tak pernah malu jika pekerjaanku hanya tukang sayur.  Aku tidak ingin mendengar kamu bicara seperti itu lagi." Jelas Rehan.


Putri kemudian memeluk Rehan dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih Ya Allah kamu kirimkan imam yang mampu menerimaku apa adanya. Mau merawat aku. Kuatkan aku ya Robb atas penyakitku ini" guman putri dalam hati yang masih memeluk Rehan.

__ADS_1


Sudah pukul 10 pagi, tidak lama lagi Alif pulang sekolah,  Rehan memberesehkan piring makanan dan siap-siap menjemput Alif disekolah. Sedangkan Shireen sudah tidur.


Seusai menjemput Alif, Rehan kemudian membuatkan nasi goreng untuk Alif  soalnya Alif sangat suka nasi goreng. Setiap hari Alif minta dibuatkan nasi goreng oleh ibunya tapi selama ibunya sakit, Rehan yang menggantikannya. untuknya Rehan pandai memasak jadi Alif suka makanan yang dibuat ayahnya itu.


Putri dan Rehan akan ke rumah ustadz untuk di ruqyah. Sebelumnya Rehan dan Putri menitip anak-anaknya di rumah orang tua Rehan. Soalnya disana banyak anak-anak teman sebaya Alif. Jadi Alif dan Shireen pintar ditinggal.


Selama dalam perjalanan, mereka mengendarai sebuah mobil. Putri sesekali mengerutkan keningnya karena menahan rasa sakit dan ngilu pada tubuhnya. Kulit Putri yang terus saja gatal, bukan karena alergi tapi ada kelainan pada kulitnya. Dokter hanya memberi salep penghilang rasa gatal dan obat penahan rasa sakit.  Setelah hawa obat itu hilang semuanya terasa kembali.


Putri harus kuat demi suami dan anak-anaknya. Putri harus sembuh. Dan Putri nggak boleh mengeluh. Ini tidak sebanding dengan penyakit Baginda nabi Ayyub as.  Hal itu yang selalu Putri tanamkan dalam hatinya sebagai kekuatannya untuk bertahan hidup.


Tidak lama lagi Rehan dan Putri sampai dirumah ustadz. Di rumah ustadz terlihat ramai, banyak orang yang datang untuk diruqyah dari berbagai daerah ataupun dari sanak keluarga yang pernah berobat. Putri dan Rehan menunggu beberapa menit, karena kali ini mereka datang agak belakangan.


Tibalah waktunya giliran Putri di ruqyah. Ustadz mengizinkan Rehan mendampingi Putri. Proses ini berlangsung lama sekitar 2 jam.  Itupun Putri harus berulang kali diruqiyah selain itu Putri juga berobat dengan dokter ahli kulit dan penyakit dalam.


Putri harus rutin meminum obat yang diberikan oleh dokter, dan memperbanyak dzikir agar dia cepat pulih kembali seperti sedia kala. Ustadz memberikan suatu amalan yang dibaca ketika  selesai sholat.


"Anni massaniyad durru wa anta arhamur rahimiin."


Artinya : "ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan yang  maha penyayang dari semua yang penyanyang."


Doa itu rutin Putri baca ketika selesai sholat. Putri  ikhlas atas semua kehendak Allah.

__ADS_1


__ADS_2