
Malam itu Rehan pulang kerja terlihat sangat kelelahan, nampak dari wajahnya.
Rehan tak melepaskan pakaiannya, dia langsung saja membuang tubuhnya ke pembaringan.
Beberapa menit berlalu Rehan tertidur sangat pulas. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan terbangun walaupun Putri melepasakan baju dan celananya karena pakaiannya sangat kotor. Rehan tak sadar sedikitpun. Putri tak berani membangunkannya, dia tak berani mengganggu Rehan.
Rehan terbangun dari pembaringannya, dia kaget perasaan sebelum tidur dia memakai baju dan celana tapi sekarang hanya sehelai sarung yang membungkus tubuhnya. Rehan tak perlu curiga , dia hanya berfikir ini pasti kelakuan Putri. Benar saja . Baru saja dia ingin memberitahu Putri. Putri sudah datang menghampirinya.
Suara handphone Putri berbunyi...
Kring... Kring... Kring...
Nada dering yang begitu pamiliar yang Putri pasang di handphonenya. Masih sama sebelum menikah dengan Rehan.
"Nomor baru...??" Tanya Putri dalam hati. Putri fikir ini mungkin nomor sahabatnya yang lama tak ada kabar.
Handphone Putri kembali berdering .. masih dengan nomor yang sama. Baru saja Putri ingin mengangkat telepon itu , handphone Putri kembali mati.
Tak lama kemudian handphone Putri kembali berdering. Putri bergegas mengangkat telopon itu, barang kali ini dari sahabatnya betul atau ada hal yang penting.
"Halo.... Assalamualaikum... Dengan siapa ini?" Tanya Putri penasaran dibalik telepon itu seperti suara laki-laki.
"Wa'alaikum salam. Apa ini dengan Putri"
"Iya betul , kalau ini dengan siapa ya??
__ADS_1
"Kamu tidak ingat aku?"
"Sorry aku nggak ingat!!!".
Telepon itu terputus begitu saja, tanpa ada jawaban dari si penelpon.
Putri mencoba menanyakan nomor itu ke Rehan, siapa tahu saja dia mengenal nomor itu. Ternyata Rehan juga tak mengenali nomor tersebut. Rehan cuek saja , dia hanya bilang nggak usaha di ladenin, mungkin itu hanya orang iseng saja. Putri hanya mengiyakan perkataan Rehan.
Keesokan harinya Putri kembali mendapatkan telopon dari nomor yang sama, nomor yang kemarin menelponnya. Putri memberikan handphonenya ke Rehan biarlah Rehan yang mengangkatnya. Tapi orang itu tidak berbicara, dia langsung mematikan teleponnya lagi.
Rehan sedikit kesal , apa sebenarnya maunya orang itu. Kenapa dia suka sekali menelpon, ketika telponnya diangkat dia langsung mematikannya.
Beberapa hari berlalu nomor itu kembali menelpon. Tapi kali ini ia berbicara panjang lebar dengan Rehan. Sepertinya dia mengumpulkan tenaga untuk berbicara. Tapi sayang orang itu tak mau menyebutkan namanya. Putri yang penasaran dengan orang itu menanyakan apa yang dia bicarakan. Rehan terlihat marah setelah berbicara dengan orang dibalik telepon itu. Bukan hanya sekali orang itu berkata seperti itu. Keesokan harinya orang itu kembali menelpon dan selalu berkata begitu. Putri tak pernah bicara dengan orang itu , jika orang itu menelpon Putri selalu menyerahkan handphonenya kepada Rehan. Putri takut jika Rehan curiga jadi lebih baik Rehan sendiri yang langsung bicara.
"Begini ...... Sayang...... Orang itu bilang bahwa kamu menikahi wanita bekas dari saya. Sontak saya marah kepada orang itu. Saya terus menanyakan sebenarnya kamu siapa, kamu kenal istri saya dari mana, tapi dia nngak mau bicara dia hanya bilang kamu tanyakan saja pada istrimu. Kemudian menutup teleponnya. "Ucap Rehan yang dalam keadaan kesal.
"Mungkin saja mantan kekasih ku dulu, kamu mungkin masih ingatkan waktu lamaran dia mengajak kamu bicara di telepon." Ujar Putri.
"Oohhhh.... Yang itu.. begini saja sayang, aku nggak percaya apa yang dia katakan . Aku sepenuhnya percaya sama kamu. Sepertinya dia sangat terobsesi terhadapmu. Begini saja. Kamu ganti nomor handphone mu agar dia tidak mengganggu hubungan kita." Jelas Rehan panjang lebar.
"Makasih sayang sudah percaya kepadaku, aku akan menuruti kemauanmu, aku akan mengganti nomor teleponku. Demi kelangsungan hubungan ini." Ucap Putri sambil mengeluarkan kartu yang ada dalam handphonenya.
"Sepertinya orang itu hanya ingin menghancurkan hubungan kita, agar kita sering bertengkar." Jelas Rehan curiga.
"Bisa jadi sayang... Tapi kamu nggak usah fikirkan perkataan orang, to kita sudah beberapa bulan menjalani hubungan ini. Semuanya baik-baik saja." Seru Putri yang menenangkan Rehan.
__ADS_1
"Iya sayang.." jawab Rehan singkat.
Setiap pernikahan harus dilandasi kepercayaan satu sama lain. Saling terbuka dan tak pernah menyembunyikan hal sedikitpun walau sebenarnya kenyataannya pahit tapi setidaknya kita jujur. Daripada kita berbohong, ujung-ujungnya akan terbongkar juga dan akan lebih menyakitkan. Dan setiap pernikahan yang dibangun suami dan istri harus saling menguatkan satu sama lain tanpa mempedulikan perkataan orang lain. Karena sebagian orang hanya ingin melihat kelurga atau hubungan kita hancur. Pasti ada saja orang yang tak suka dengan kita, mereka akan bahagia kalau kita sering bertengkar dengan suami/istri kita. Jadi pastikan orang itu tak bahagia.
Untungnya Rehan tak percaya dengan orang itu. Rehan tak mau ambil pusing memikirkan hal tersebut lebih baik dia memikirkan masa depan bersama Putri. Apalagi sebentar lagi dia memiliki buah hati. Hasil dari buah cintanya.
Orang itu tak lagi menelpon Putri, soalnya Putri sudah mengganti nomor teleponnya. Beberapa bulan berlalu handphone Putri kembali berdering. Putri melihat dari nomor baru lagi. Putri takut nomor itu nomor laki-laki itu yang ingin menghancurkan hubungannya dengan Rehan. Putri tak mengangkat telopon tersebut, dia hanya mendiamkan handphonenya. Berulang kali handphone Putri berdering lagi-lagi dengan nomor yang sama. Putri tetap tak mengangkat telopon tersebut. Putri sepertinya sudah bosan dengan handphonenya yang terus saja berdering. Putri kemudian mematikan handphonenya dan akhirnya handphone Putri tak berbunyi lagi.
Ketika Rehan pulang kerja, dia menanyakan sesuatu ke Putri.
"Sayang kenapa kamu nggak mengangkat telopon dari Tante Rahmi" ucap Rehan yang baru saja sampai dirumahnya.
"Telpon yang mana, ??" Tanya Putri lagi.
"Telpon yang nomor terakhir 687, itu Tante Rahmi dia ingin mengabarkan bahwa nenek kamu meninggal". Jelas Rehan .
"Aku pikir .... Aku takut orang itu lagi yang menelpon jadi aku nggak angkat telpon itu. Jadi nenek akan dimakamkan kapan??? Nenek sakit apa?? Padahal waktu itu aku sempat bertemu nenek, dia baik-baik saja." Ucap Putri secara berturut-turut.
"Nenek akan dimakamkan besok pagi sebelum dhuhur. Jadi kita harus kesana." Ujar Rehan sambil mengganti pakaiannya.
Rehan dan Putri bergegas ke rumah nenek, suasana sudah ramai . Sudah banyak pelayat yang berdatangan. Tante Rahmi mendekati Putri.
"Put... Dari tadi Tante telpon kamu ,tapi kamu nggak angkat dan setelah itu nomor kamu nggak aktif." Ucap Tante Rahmi.
"Maaf Tante, tadi aku nggak dengar handphone aku berbunyi, dan ketika aku baru mau angkat handphone aku lobet." Jelas Putri bohong.
__ADS_1
"Yha Uda nggak apa-apa, Rehan sudah cerita kok tadi ." Ucap Putri yang kembali masuk ke rumah duka.
Sesusai pemakaman nenek, Rehan dan Putri kembali ke rumah.