
Beberapa hari berfikir, mencari waktu yang pas untuk memulai sebuah usaha akhirnya ku temukan waktu itu. Kebetulan tanpa sengaja ada orang tua yang memberitahuku, aku ingat betul apa yang di ucapkan orang itu kepadaku.
Nak... Jika kamu ingin usaha sesuatu paling bagus kalau hari kelahiranmu.
Sebelum hari itu aku dan Rehan bertukar pendapat.
" Reh... Bagaiman kalau kita usaha? Tanya putri.
"Ide bagus tu... Tapi usaha apa yhaa??? Tanya Rehan. Sambil memikirkan usaha yang cocok untuk kami.
tepat hari Minggu , kebetulan hari kelahiran kami sama jadi kami memilih hari itu. aku dan suami putuskan untuk memulai usaha kami yaitu menjual minum pop ice dan menjual gorengan.
Awalnya kami belum cukup modal tapi Allah memberi kami jalan kebetulan aku lulus prakerja, uang insentif dari prakerja kami jadikan modal, sebagian kami simpan untuk membuat konter.
__ADS_1
Untuk sementara ini kami hanya bertendakan terval dan bambu untuk memulai usaha kami. Tempat jualan yang sederhana, jadi kalau hujan yang deras siap-siap saja dagangan ku akan kehujanan. Hasil dari menjual minuman dan gorengan kami sisihkan sebagian untuk pembangunan konter.
Awal penjualan begitu lancar, banyak pembeli yang datang hingga sebulan kami bisa mendapatkan keuntungan satu juta rupiah. Dua bulan berikutnya naik dua ratus, tiga bulan berikutnya turun dua ratus. Keuntungan yang kami dapatkan seringkali naik turun bahkan kurang sama sekali.
Tapi tak mengapa setidaknya kami mendapatkan sedikit tambahan uang belanja. Padahal sebelumnya kami di rendahkan katanya kamu nggak malu jualan minum begitu. Aku dan Rehan fine fine saja tidak terlalu memikirkan hal itu. Ada juga yang bilang kok jualan minuman pas musim hujan, emangnya ada yang mau beli. Kami hanya tersenyum dan mengatakan, kan tidak setiap hari hujan, sesekali pasti panas. Lagi pula kalau hujan kami ada jual gorengan, ini cocok banget jika hujan turun. Orang tersebut langsung diam dan tak tak tahu mau bilang apa.
Ternyata apa yang dikatakan orang tersebut berbanding terbalik. Walau hujan turun pembeli kami semakin banyak.
Aku dan Rehan tetap semangat walau pada akhirnya penghasilan tidak selamanya banyak tapi setidaknya bisa mencukupi kebutuhan hari-hari kami karena gaji Rehan tidak cukup, gaji yang hanya 1.900.000 hanya cukup untuk membeli kebutuhan rumah, listrik , cicilan dan bensin. Tidak ada yang kami simpan, semuanya habis untuk membeli keperluan rumah ditambah lagi saat ini anak kami Alif belajar lewat handphone atau daring. Setiap siswa harus mengirim tugas lewat WhatsApp sesekali juga siswa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan aplikasi zoom. Hal ini membutuhkan data dan harga data Smartphone sekarang semuanya naik. Hal ini membuat kami harus putar otak untuk mencari biaya tambahan. Bukan hanya itu kebutuhan pokok juga naik.
Alhamdulillah dengan usaha baru ini , kelangsungan hidup kami dapat tertolong di tambah lagi aku memulai ikut bisnis online. Yakni menjual barang lewat Facebook, Instagram dan WhatsApp. Aku berjualan aneka peralatan rumah tangga, kosmetik kebutuhan bayi dan masih banyak lagi sesuai apa yang di pesan oleh pelanggan.
Menjual online itu juga ternyata tidak mudah, begitu banyak kesulitan sesekali ada orang yang pesan tapi seenaknya saja membatalkan padahal pesanannya sudah dalam pengiriman. Ada pula costumer yang nggak mau bayar ongkir tapi mau diantarkan. Semuanya butuh kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankan suatu usaha.
__ADS_1
Nggak terasa usaha kami sudah beranjak satu tahun lebih, Alhamdulillah begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Walau kadangkala pembeli kurang. Pernah sekali waktu itu cuaca bagus dan sangat mendukung tapi sayang pembeli yang kami dapatkan hanya 5-8 orang saja dan kebayakan pembeli kami adalah anak-anak. Walau begitu kami tak mengeluh, sedikit banyaknya rezeki sudah ada yang atur. Aku jika mengingat kata itu, aku dan suami langsung kuat ,padahal kami sempat menyerah karena hampi setiap bulan kami tambah modal tapi hasilnya kurang. Aku juga bingung uang itu kemana padahal minuman habis.
Pembeli kami menurun ternyata kami ada saingan disebalah kampung ada penjual baru. Anak-anak lari kesana semua. Kami mulai mencoba hal baru, aku mencoba memposting minuman yang ku buat di Facebook dan WhatsApp , awalnya hanya ada beberapa pembeli , setelah banyak orang yang tahu akhirnya minuman kami kembali lancar di tambah aku juga jual pastel donat dan aneka gorengan lainnya. Penghasilan kami kembali stabil . Tapi hal itu tidak berlangsung lama kami lagi - lagi harus terpuruk anak-anak mulai bosan dengan jualan yang itu-itu saja. Sedangkan penjual onlineku tidak seramai dulu lagi. Ada sihh... Tapi sesekali saja.
Aku mencoba lagi usaha bisnis lainnya, tapi lama kelamaan aku tidak cocok dengan bisnis itu, memang bisnis itu menjanjikan tapi ada perasaan ragu dalam hati. Ku berhentikan sejenak sembari kembali fokus pada usaha sebelumnya Yaitu usaha minuman dan gorengan
Hasil dari jualan minuman akhirnya kami bisa membuat konter minuman yang seperti di luaran sana. Walau cukup lama dalam mengumpulkan uang untuk membuat konter. Sesekali uang yang kami tabung untuk membuat konter habis, aku pakai untuk belanja kebutuhan rumah,
Saat ini Rehan sudah tidak bekerja lagi. Kali ini Rehan terkena phk lagi. Jadi hasil penjual minuman dan online tidak ada kami simpang. Semuanya terpakai untuk kebutuhan rumah ada anak..
Untung saja kami mendapatkan bantuan dari ibu Rehan , setiap hari dia membelikan kami ikan. Aku ngerasa nggak enak kepada orang tua Rehan.
Aku dan Rehan tidak bisa menolak pemberian Ibunya karena aku takut nanti dia akan kecewa walau sebenarnya ikan yang dia beli aku tidak suka tapi menghargai pemberiannya kami ambil saja .
__ADS_1
Setiap hari jualan minuman aku mulai buka pukul 11 siang dan berakhir sampai jam lima sore.. selama musim penghujan datang sering kali jualanku basa akibat hujan yang begitu deras. Sedangkan untuk jualan online, aku tidak mengenal waktu, pagi, siang sampai malam aku melayani pembeli walau hanya sekedar bertanya harga saja. Aku tak pernah mengeluh atau pun marah selama pembeli itu sopan terhadapku.
Ada satu pembeli minuman tidak sopan kepada ku , dia seenaknya saja mengucapkan kata-kata kotor di depanku, pembeli itu nggak suka aku tegur sehingga dia balik marah kepadaku dan mengatakan dia tak akan membeli minumanku lagi. Sontak aku membalas coletehannya itu . Ya... Udah kalau kamu nggak mau beli emangnya hanya kamu yang bisa beli minumanku, ??? Di luar sana masih banyak orang yang mau beli. Orang itu langsung pergi tanpa mengambil minuman yang dia pesan.