
Perasaan Putri masih sedih dan cemas. Di lain sisi dia sedih karena keguguran dan di lain sisi dia cemas karena akan di oprasi .
Rehan menggenggam erat tangan Putri, dia mencoba menguatkan dan memberinya semangat semua ini pasti bisa kita lalui.
Putri dan perawat berjalan menuju kamar perawatan. Hal yang pertama dilakukan oleh perawat tersebut setelah sampai di kamar perawatan yaitu memasangkan infus pada tangan Putri sembari menyuruhnya istirahat.
"Ibu istirahatlah dulu sebentar sekitar jam 8 malam ibu akan di operasi, terlebih dahulu ibu makan setelah itu ibu harus puasa sebelum di operasi." Ucap perawat itu.
Hati ini sungguh tak tenang, apakah ini benar-benar terjadi atau ini hanya sebuah mimpi. Tapi entahlah semuanya sudah ku pasrahkan kepada Allah SWT. Hari ini terulang kembali akhirnya aku masuk ke ruangan ini lagi. Sesekali mata ini meneteskan air mata dan selalu berangan-angan seandainya ibu ada di dekatku mungkin aku tak selemah ini. Tapi sayang ibu sudah tiada. Jadi aku harus kuat demi anak dan suamiku.
Suamiku yang tak diizinkan masuk menemaniku hanya melihatku dari kejauhan di balik jendela. Kini aku merasa benar-benar sendiri dalam ruangan ini yang semakin membuatku sedih.
Tapi aku harus kuat Allah tahu jika aku mampu melewatinya, aku yakin itu. Allah sayang kepadaku makanya Allah mengujiku seperti ini. Ku mencoba menguatkan diriku. Tak lama kemudian adikku Lola datang menghampiri ku.
"Siapa yang memberitahumu dek?" Tanyaku kepada Lola.
"Rehan yang menelpon ku, dia bilang kakakmu masuk rumah sakit dan aku tidak bisa masuk menemaninya, jadi Rehan menyuruhku untuk menemanimu Kak." jawab Lola
__ADS_1
Aku sedikit legah, akhirnya ada yang menemaniku dalam ruangan ini. Sebelum masuk ruangan operasi, perawat datang dan memasangkan alat pada kelamin terlebih dahulu dan memberikan tindakan dilatasi yaitu tindakan untuk melebarkan leher rahim ( serviks). Prosedur ini sering kali disebut dilatasi atau kuretase (dilation dan curettage).
Pada saat perawat memasang alat itu yang aku rasakan rasa sakit yang tidak bisa ku tahan. Perawat itu hanya memarahiku jika aku berteriak kesakitan. Setelah pemasangan alat itu selesai, perawat juga memasangkan keteter untukku. Karena aku dilarang banyak bergerak.
Selain itu aku harus dicek kesehatannya terlebih dahulu untuk memastikan kondisi dan riwayat penyakit. Apakah aku tidak alergi pada obat-obatan tertentu, atau sedang mengkonsumsi obat-obat tertentu dan apakah aku memiliki riwayat penyakit. Setelah melakukan tes tersebut aku dinyatakan dalam kondisi baik. Jadi aku bisa menjalani oparsi di kuret.
"Beginikah rasanya??""
dalam hati berkata demikian tak kusadari air mataku keluar.
Sebelum masuk ruangan operasi, aku menelpon Ayah ku terlebih dahulu..
"Apa Ayah nggak kesini, sebentar lagi aku mau di operasi?"Tanyaku kepada Ayah.
"Ayah nggak tahu soalnya tidak ada motor nak?". Jawab Ayah
"Apa Ayah nggak bisa pinjam motor dulu??? baru ayah kesini. Ayah nggak peduli sama aku kalau urusan istri ayah, ayah cepat sekali bahkan Ayah rela pinjam motor tetangga ayah kalau istri ayah yang perlu tapi kalau aku ayah begitu." Ucapku sambil menutup telepon dan sedikit kesal.
__ADS_1
Aku sangat kecewa sama Ayah, dia seakan tak peduli sama aku begitupun dengan istrinya. Seharusnya mereka ada di samping ku saat ini, tapi itu tidak, yang ada hanya nenek dari suamiku, adikku dan suamiku. Aku kembali meneteskan air mata dan meratapi nasibku saat ini. Sebelum di operasi suami dan ayah harus menandatangani surat pernyataan bahwa mereka setuju kalau aku di operasi. Ayah nggak ada jadi yang menggantikannya tanda tangan ialah adikku Lola. Setelah selesai aku mulai memasuki ruangan operasi. Perasaan ku semakin tak tenang disaat ku mulai meninggalkan mereka yang hanya tinggal di depan pintu ruang operasi. Perawat yang bertugas pun bergantian. Mereka mulai memasankan ku baju operasi begitupun dengan perawat yang akan melakukan operasi. Sambil menunggu dokter selesai operasi di sebelah ruangan. Perawat itu memasangkan alat di jari tangannku, alat bantu pernapasan dan sambil mengecek kondisi jantung. Setelah selesai perawat meninggalkanku sebentar. Kini aku benar-benar sendiri di dalam ruangan ini. Aku merasa sangat takut, sesekali aku beristighfar dan mengingat Allah bahkan aku sempat berfikir jika inilah waktunya aku di panggil oleh Allah, aku hanya meminta kuatkan suami dan anakku dan ampunilah segala dosa-dosa ku. Air mata ku kembali menetes. Tiba-tiba perawat datang, ku usapnya dengan cepat menggunakan tanganku.
"Sebentar lagi ibu akan di operasi." ucap perawat.
"Apa rasanya sakit?" tanyaku kepada perawat.
"Ibu tidak akan merasakan apapun, karena ibu akan di bius."Jawab Perawat.
Aku hanya diam dan memperbanyak mengingat Allah.
Perawat mulai menyuntikkan ku obat bius. Perlahan demi perlahan mata ini mulai lelah hingga aku tak sadarkan diri. Beberapa jam berlalu aku mulai sadar, namun aku masih merasa pusing mungkin ini efek dari obat bius tadi. Sambil menunggu aku sadar betul, perawat memindahkan ku ke ruangan sebelah.
Dalam ruangan tersebut aku masih di pasangkan alat pengecek jantung di jari tanganku sesekali aku di tensi sampai keadaanku benar-benar stabil. Dalam ruangan ini aku merasa kepanasan padahal ruangan ini full AC. Aku berkeringat punggungku terasa sakit akibat terlalu lama terbaring. Keadaanku mulai membaik, perawat akan mendorongku keluar ruangan. Diluar ruangan suami, adik dan nenek suamiku sudah menungguku. Mereka harap-harap cemas terhadapku. Setelah aku keluar ruangan barulah mereka legah melihatku. Aku kemudian dipindahkan ke kamar perawatan. Setelah di pindahkan, perasaanku mulai nggak enak, uluh hatiku sedikit perih dan aku sangat kehausan. Kata dokter sebelum makan harus minum air hangat dulu. Perasaanku masih sedikit pusing. Alat keteter masih terpasang belum di lepas. Padahal aku ingin sekali melepaskannya tapi belum diizinkan oleh dokter.
Rehan kembali kerumah, mengambil termos dan makanan untukku. Dari kejauhan aku melihat ayah dan istrinya datang. Aku kira ayah tidak akan datang tapi sayangnya ayah hanya sebentar, setelah melihatku sudah membaik dia ingin pulang . Aku pikir ayah akan bermalam disini tapi ternyata tidak. Aku masih kecewa dengan ayah seandainya ada ibu disini pasti dia menemaniku tapi itu semua hanya mimpi.
Keesokan harinya, alat yang terpasang di tubuhku sudah di cabut. Aku sudah membaik, tidak pusing lagi, kata dokter hari ini aku bisa pulang. Rehan kemudian membereskan barang-barang yang mau di bawa pulang. Hati ini begitu senang akhirnya bisa pulang juga dan bertemu dengan anakku Alif.
__ADS_1