
Mengeluh dan berharap pada manusia hanya akan ada tertawa dan kecewa. Ku kuatkan diriku, mendekati sang Khaliq karena tidak ada lagi tempatku mengadu selain kepadaNya. Orang yang ku tempati curhat malah mengadu domba aku dengan orang tua Rehan. Padahal sebelumnya dia begitu perhatian, baik dan peduli tapi ujung-ujungnya malah sebaliknya. Aku sering kali dikecewakan oleh orang-orang terdekat. Bukan cuman sekali tapi berkali kali.
Hati yang sepenuhnya percaya kini berubah menjadi tak peduli lagi. Ku abaikan setiap perkataan orang-orang. Aku di bilang tak bersyukurlah, apalah itu. Untungnya kamu di lamar Rehan seandainya bukan Rehan kamu tidak akan seperti ini. Atau kamu tidak akan laku-laku.
Ocehan dari mulut tetangga begitu pedas dan munusuk ke relung hati. Setiap aku keluar rumah, tetangga sudah berkumpul di rumah salah satu tetangga untuk bergosip, kadang pula mereka berkumpul di tukang sayur yang lewat. Membeli sekaligus bergosip. Sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu di kampung ini. Kali ini topik utamanya adalah aku. Mereka langsung berhenti ketika aku datang untuk membeli sayur. Senyum mereka sangatlah palsu terlihat baik di depan saja tapi di belakang wauwww luar biasa.
"Put... Kamu mau kemana ??" Ucap ibu Eli tetangga Putri.
" Aku mau ke warung depan Bu..." Ucap Putri yang terus saja jalan ke warung depan.
Mereka sedang berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan , mata hanya tertuju kepadaku tak berkedip sedikitpun. Ku berlalu begitu saja. Tanpa menghiraukan mereka.
Sesampainya di warung membeli kebutuhan dapur dan makanan ringan untuk Alif dan Shireen. Setelah itu aku kembali ke rumah.
Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka soalnya suara mereka sampai terdengar dari kejauhan. Mereka begitu pandai menilaiku, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seperti mereka suci sekali. Aku hanya mengelus dadaku dan mencoba menahan air mataku agar tak tumpah. Ingin rasanya aku melabrak mereka tapi kalau aku melabrak mereka berarti aku kalah. Lebih baik aku diam saja.
Aku masuk ke rumah sambil menutup kembali pintu rumah. Sekan aku tak ingin mereka mengetahui aktivitasku saat ini. Aku sangat marah dan kesal sama tetanggaku. Rehan yang melihatku dalam keadaan emosi mencoba mencari tahu penyebabnya.
"Kamu kenapa Put..??? muka cemberut pulang dari warung!!! Seru Rehan yang lagi menonton tv.
"Itu mas.... Tetangga pada gosipin aku. Aku sempat mendengar perkataan mereka. " sebel Putri.
__ADS_1
"Kamu nggak usah dengerin mereka, biarkan saja nanti mereka akan bosan sendiri." Ucap Rehan yang tidak terlalu memikirkan ucapan tetangga.
"Iaaa sihhhh mas.... " Seru Putri dan berlalu menyimpan belanjaannya di dapur.
Putri melanjutkan pekerjaaan rumahnya, mengepel, mencuci pakaian sesekali Putri meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menyusui Shireen.
Sore harinya Putri dan Rehan ke rumah orang tua Rehan. Kebetulan Alif dan Shireen terus mencari neneknya. Jadi kami membawa mereka bertemu dengan neneknya.
Sesampainya di rumah orang tua Rehan, Alif dan Shireen langsung memeluk nenek mereka dengan penuh kasih sayang.
Kebetulan saat ini orang tua Rehan telah menjual hasil panennya. Ibu Rehan yang saat itu membagikan ke Rehan dan Revan. Masing-masing diwakili oleh istri -istri mereka. Ibu Rehan membagi rata hasil penjualan kepada anaknya. Setelah menerima uang itu kami terima sebenarnya aku sedikit kecewa. Soalnya selama ini yang kerja keras menjemur hasil panennya adalah aku. Sedangkan istri Revan tak membantuku sama sekali tapi dia dapat sesuai yang ku dapatkan.
Aku memanggil Rehan untuk pulang, dan kebetulan sebentar lagi magrib.
"Ibu tidak adil kepadaku." Sahut Putri dengan nada marah.
"Kenapa kamu ngomong begitu". Tanya Rehan penasaran.
"Bagaimana aku tidak bicara seperti itu, selama ini yang kerja keras menjemur hasil panen aku mas.... Kenapa ibu hanya memberikan kita segitu... Sama pula yang dia berikan ke Ranti... Padahal dia tak sama sekali membantu aku menjemur hasil panen itu. Kenapa ibu seperti itu mas. Aku yang capek dia yang enak. " Sahut Putri yang amarahnya memuncak sampai air matanya menetes.
Belum sempat Rehan menjawab, Putri melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Enak betul Ranti itu tidak bekerja tapi dapat gaji. Aku memberitahumu sekarang mas, aku sangat kecewa mas, sama ibumu. Dia sekan-akan menunjukkan kepadaku bahwa dia begitu sayang terhadap Ranti."
"Nanti tahun depan aku tak akan menjemur hasil panen itu, disini.... Aku tak sama sekali dihargai... Orang yang tidak bekerja saja dapat uang. Nanti juga aku mau begitu. " Ucap Putri samvil menangis.
Hati Putri sangat sakit, lagi-lagi dia harus merasakan yang namanya ketidakadilan dalam keluarga.
Rehan langsung memeluk Putri, menenangkan Putri dengan amarah yang memuncak. Pelukan Rehan membuat Putri tak mampu bicara lagi, Putri terus saja menangis, air matanya tak bisa ia bendung lagi, hatinya begitu terluka.
"Sayang ... Kamu yang sabar. Aku tahu ibuku tak adil tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, itu semua keputusan dia. Kita harus bersyukur di beri uang segitu walaupun tidak sesuai dengan kerja keras kita tapi kita harus sabar.." ucap Rehan yang masih memeluk Putri dan mencoba menghapus air mata Putri.
"Hati ku terlanjur sakit.... Aku yang capek-capek, Sedangkan Ranti tak sama sekali membantuku. Dia hanya sibuk dengan hpnya. Banyangkan ketika hujan turun tak sekalipun Ranti membantuku, dia hanya menengok dari jendela diatas rumah. Dia tidak ada niat membantuku sama sekali sampai-sampai orang lain yang membantuku mengumpulkan hasil panen yang ku jemur itu. Ingin rasanya ku melempar dengan batu waktu itu. Tapi aku tahan aku nggak enak dengan orang tuamu. " Sahut Putri yang masih saja menangis..
"Aku mengerti sayang... Hati kamu terluka, akupun tahu ini bukan pertama kalinya ibu berbuat seperti itu, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. " Ucap Rehan lagi sambil mengusap air mata Putri sesekali dia mencium kening Putri agar Putri tenang.
Rehan terus membujuk Putri agar berhenti menangis tapi Putri tetap saja menangis. Hanya itu yang bisa Putri lakukan menangis dan menangis.
"Begini saja sayang ayo kita sholat, agar hati dan pikiran mu tenang" ajak Rehan.
Putri mengangguk dan bergegas mengambil air wudhu. Diikuti Rehan dari belakang. Setelah berwudhu Rehan melebarkan sajadah dan adzan terlebih dahulu. Kedua anak mereka pun ikut sholat.
Di atas sajadah Putri mengeluarkan semua yang ada dalam hatinya. Air mata jatuh terus menerus membasahi sajadah. Tidak ada yang lain yang lebih baik kita mengeluhkan segala amarah yang ada dalam hati kecuali dengan Allah di atas sajadah ini. Hati yang begitu sesak karena ketidakadilan yang aku dapatkan. Aku terus saja menangis, mengeluh kepada sang Kholiq. Memohon agar di luaskan rasa sabar, di luaskan rasa ikhlas, diluaskan rasa syukur dan menjadikan tawakal sebagai kekuatanku. Hanya Dia tempatku mengadu kali ini. Allah yang selalu setia dan selalu adil pada hambahnya. Dia senantiasa mendengar doa ku. Hanya saja aku yang sering lupa kepadanya. Aku mencoba menenangkan hati dan pikiranku dengan mengeluarkan semua yang mengganggu keduanya. Rehan kembali memelukku sesekali dia mencium ku sebagai tanda sayang. Dan mengusap air mataku.
__ADS_1
"Sabar sayang."
Aku hanya mengangguk dan diam dalam pelukan suamiku.