Akhirnya Aku Kalah

Akhirnya Aku Kalah
Salahkah Jika Aku Cemburu


__ADS_3

Semua orang tahu, Ranti memiliki wajah yang cantik dan putih. Ibu Rehan sejak dari dulu ingin mempersatukan anaknya dengan anak sahabatnya itu. Akhirnya apa yang Ibu Rehan impikan jadi kenyataan.


Ranti begitu dimanja, tak sedikitpun Ibu Rehan menyuruhnya untuk membantunya di dapur ataupun pekerjaan lainnya. Ibu Rehan membiarkan apa yang ingin dilakukan Ranti.


Setiap keinginan Ranti selalu dituruti, waktu itu Ranti ingin kasur yang dipakai Ibu Rehan, tanpa menolak sedikit pun, ibu Rehan memberikan kasurnya yang selama ini dia pakai dengan suaminya. Baru seminggu menikah dengan Revan segala kebutuhan Ranti dipenuhi oleh Ibu Rehan.


Ibu Rehan menghadiahkan sebuah kalung dan anting emas di tambah lagi lemari pakaian. Sungguh berbanding terbalik dengan Putri dahulu. Putri hanya di hadiahi hanya sebuah kalung . Tidak ada yang lain. Segala pekerjaan rumah setelah Putri menikah dengan Rehan langsung disuruh kerjakan tidak pernah ibu Rehan memanjakan Putri.


Bahkan waktu Putri menginap di rumah Ibu Rehan , ibu Rehan tak sedikit pun menyebut nama Putri , atau memanggilnya makan. Beda dengan Ranti yang berkali-kali dipanggil untuk makan bahkan Ranti dibelikan sebuah gado-gado. Putri sedih, diapun ingin merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ibu karena sudah sejak lama Putri tak merasakan hal itu. Putri haus akan kasih sayang dari ibunya. Yang dia harapkan kasih sayang seorang ibu dari mertuanya tidak ia dapatkan. Ibu Rehan memang perhatian tapi tidak dengan Putri melainkan dengan Rehan dan cucunya sendiri.


Ketika Putri sakit ibu Rehan tak menjenguk Putri yang ada hanya Ayah Rehan.  Berbeda dengan Ranti ketika Ranti yang sakit, ibu Rehan menemaninya sampai sembuh bahkan menginap di rumah sakit. Perlakuan itu sangat berbeda. Putri bisa merasakan itu.


Tapi jika ada pekerjaan lain, yang dulu diingat oleh Ibu Rehan adalah Putri. Putri... Putri.... Dan Putri. Soal mengolah ikan saja Putri yang disuruh. Baru kali ini Putri melawan perintah Ibu Rehan. Soalnya dia begitu kesal padahal ada Ranti yang duduk manis sambil memainkan handphonenya ibu Rehan tak menyuruhnya.  Putri semakin kesal, " yang benar saja ada Ranti disitu kok aku yang disebut" guman Putri dalam hati.


Putri meninggalkan rumah itu, yang benar saja. Pekerjaan yang Ibu Rehan suruhkan ke Putri dia yang mengerjakannya, dia tak mau meyuruh Ranti, bilang Ranti nggak taulah, atau apalah itu yang jelas Ibu Rehan selalu membela Ranti.


Sekarang Putri mencoba untuk tidak peduli atas sikap mertuanya itu. Pasti jika ada yang lihat sikap Putri banyak yang bilang kamu itu yahhh?? Kamu cemburu yah????? Entahlah yang jelas Putri nggak mau peduli.

__ADS_1


Waktu Putri hamil saja, ibu Rehan membicarakan Putri ke saudaranya. Saudara Ibu Rehan memberitahuku.


"Putri ... Kamu jangan banyak buang air soalnya sekarang lagi musim kemarau, mana lagi kamu nggak mau ambil air. Ibu mertuamu bicara padaku"


Mendengar ucapan itu. Putri hanya diam saja.


Besok pagi ketika Putri ingin menggunakan air , Putri harus mengambil air dulu di sungai yang jarak ke rumah agak jauh. Putri tak memberitahu Rehan karena itu hanya hal sepele walau dalam hati Putri sedikit kesal.


Setiap hari Putri mengambil air mengisi bak. Bukan cuman itu tak pernah satu kalipun Ibu Rehan menegur Putri agar tidak mengangkat air padahal Ibu Rehan tahu kalau Putri sedang hamil. Sebenarnya Ibu hamil nggak boleh angkat yang berat-berat. Tapi apalah daya Putri nggak enakan kepada ibu Rehan. Dia pun tahu diri.


Salahkah bila seorang anak butuh diperhatikan???? Salahkah bila seorang anak butuh kasih sayang dan salahkah jika aku cemburu??? Apakah semua itu salah?????


Putri disini tenaganya sangat dibutuhkan buka cuman dari orang tua Rehan tapi juga keluarga Rehan. Setiap ada acara pasti Putri dicari. Sedangkan Ranti hanya berdiam diri di dalam kasur. Dia hanya terlihat jika dia ingin pergi.


Putri mencoba untuk berbaik sangka, melawan rasa cemburu yang pantas ia sematkan.  Putri kembali melakukan aktivitas seperti biasanya menjual minuman dan gorengan. Putri tidak lupa apa yang dilakukan ibu mertuanya. Putri yang menitipkan uangnya ke Ibu Rehan untuk dibelikan ubi dan jagung setiap Ibu Rehan kepasar. Ibu Rehan tak pernah menolak mungkin ini cara dia memberi kasih sayang ke Putri dengan cara berbeda.


Bahkan Ibu Rehan memberikan dagangannya ke Putri jika dagangannya tidak habis. Putri menjual kembali.

__ADS_1


Ketika Rehan sudah istirahat,  Putri mencoba berbicara dengan Rehan. Secara perlahan-lahan Putri memulai kata-katanya takut Rehan akan tersinggung atau malah marah.


"Sayang .... Kenapa Ibu kamu lebih perhatian ke Ranti daripada aku." Tanya Putri dengan nada pelan.


"Kok kamu ngomong gitu...??? Kamu mungkin salah paham saja dengan sikap ibu.!!! Ucap Rehan.


"Salah paham bagaimana sih mas.... Buktinya ibu kamu membelikan Ranti sebuah kalung dan anti ditambah lemari pakaian.  Kenapa kita tidak mas..." Seru Putri


"Nggak usah berharap begitu... Nanti aku belikan kamu jauh daripada itu. Jangan seperti itu sayang.... !!! Seru Rehan yang mencoba menenangkan Putri.


"Ohya Mas ... Tadi ibu kamu menyuruhku tapi aku tolak soalnya ada Ranti disitu , kenapa bukan Ranti yang dia suruh, dia sayang sekali dengan Ranti, menantu barunya itu. " Cetus Putri kesal.


"Iya nggak apa-apa.... Nggak usah di fikirkan. Kamu nggak usah membantu ibu kalau Ranti ada." Ucap Rehan penuh dengan sabar.


Percakapan keduanya berhenti, Putri tidak merasa puas dengan jawaban Rehan.


Rehan sekali lagi berkata " sayang jika kau tak temukan kasih sayang itu di balik orang tuaku tak mengapa ... Kau akan temukan kasih sayang itu dariku. " Sambil memeluk Putri.

__ADS_1


Perasaan Putri langsung legah, jawaban singkat dari suami menusuk ke relung hatinya. Putri memeluk erat tubuh Rehan dan merasakan kasih sayang dan perhatian Rehan lebih dari siapapun. Rehan selalu memanjakan Putri, segala apa yang diinginkan Putri , Rehan turuti. Walau sebenarnya Putri juga ingin merasakan hal yang sama dari seorang ibu. Biarlah rasa harap itu Putri simpan dalam hati.


Untungnya Putri memiliki seorang suami yang sangat sayang kepadanya, yang nggak pernah bicara kasar bahkan Rehan tak pernah membela Ibu ataupun Putri jika mereka bertengkar. Rehan dengan sabar mencoba menenangkan kedua terutama Putri. Soalnya Putri cepat naik emosinya harus ekstra sabar dan bicara pelan-pelan agar tidak membuatnya tersinggung. Salah bicara saja Putri mudah marah tapi cepat luluh kalau Rehan sudah merayunya. Putri memang gampang marah tapi dia juga gampang berhenti. Putri selalu mendengar ucapan Rehan. Setiap perkataan Rehan, Putri turuti selama itu benar. Putri tahu Rehan adalah kepala keluarga , imam untuknya dan anaknya. Makanya dia tak pernah menolak suaminya itu jika suaminya berbicara. Putri patuh terhadap suaminya.


__ADS_2