Akhirnya Aku Kalah

Akhirnya Aku Kalah
Bikin Kesal


__ADS_3

Rehan berencana mendatangi Stevani di tempat kerjanya, soalnya nomor telepon Stevani sudah nggak aktif. Sepertinya dia sudah mengganti nomor handphonenya.


Tanpa sengaja Rehan membuka aplikasi tik tok. Menggeser ke atas layar handphonenya dia melihat konten Stevani yang joget-joget. Rehan mengomentari konten itu  tapi tidak ada tanggapan oleh Stevani.


"Orang ini benar-benar bikin emosi saja, seolah-olah dia tak memiliki utang dan tak tahu malu. " Sahut Rehan dalam hati.


Rehan begitu kesal dengan sikap Stevani, bukan cuman kali ini, sudah berulang kali Rehan menelpon tapi tak diangkat malah handphonenya dimatikan.


Untungnya Iwan memberikan alamat tempat tinggal dan tempat kerjanya. Rehan berencana mencari alamat kontrakannya. Satu jam Rehan mencari akhirnya dia menemukan kontrakannya.


"Bu.. kenal dengan Stevani yang ngontrak disini?? Tanya Rehan kepada ibu pejalan kaki.


"Stevani ??? Nggak ada tuhh yang namanya Stevani mas disini.!!" Jawab Ibu pejalan kaki.


"Yang ini Bu... "Rehan menunjukkan foto Stevani. Untung foto Stevani ada di handphonenya.


"Ohh... Yang ini namanya Raya.. mas.. Kalau ini ibu tahu dia tinggal di kontrakan nomor 11. Mas masuk saja, tidak jauh dari sini sudah kelihatan kok." Jelas Ibu menunjukkan arah ke kontrakan Stevani.


"Makasih ya bu?". Ucap Rehan.


"Stevani merubah namanya, pantas saja dari tadi tidak ada yang tahu. Ternyata namanya dia ganti.. Betul -betul penipu kelas kakap." Sahut Rehan dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Sama-sama." Ucap Ibu sambil melanjutkan perjalanannya.


Rehan kemudian mengikuti saran ibu tadi, sesampainya di kontrakan nomor 11 ternyata kontrakan ini sudah kosong satu Minggu lalu.  Kata tetangga kontrakan. Raya alias Stevani sudah pindah. Katanya sihh dia pindah ke kontrakan yang dekat dengan tempat kerjanya.


"Benar-benar perempuan licik, dia seperti saja penjahat propesional, sepertinya dia pindah setelah aku bertemu di acara Iwan. " Sahut Rehan dalam hati jengkel sambil melajukan motornya dan memutar arah pulang.


"Kamu dari mana Rey, ??" Tanya Rafli yang baru saja sampai di kontrakan.


"Aku dari jalan-jalan..." Bohong Rehan tak ingin temannya tahu.


"Tapi kenapa muka kamu seperti itu, bukankah kamu dari jalan-jalan. Seharusnya orang pulang dari jalan-jalan mukanya happy" seru Rafli heran.


"Hahaha... Kamu bisa aja Rafli, seperti detektif saja, " seru Rehan mengalihkan pembicaraan.


"Ohya giliran siapa yang masak ?? Tanya Rehan.


"Aduhh... Aku lupa, inikan giliran aku .." seru Rafli segera mengambil beras dan memasaknya.


Sementara Rafli masak, Rehan kembali mencoba mengchat Stevani berharap nomornya sudah aktif tapi alhasil lagi lagi nomornya nggak aktif.


"Suatu saat jika aku ketemu dengan dia, langsung saja aku ambil hpnya atau apalah yang berharga sebagai jaminan." Sahut Rehan dalam hati.


"Rey... Nasi sudah masak" teriak Rafli


"Ok Raf.." Rehan  berjalan mendekati Rafli.

__ADS_1


Mereka berdua makan bersama , baru hendak makan tiba-tiba Pandi sudah pulang sekalian aja Pandi ikut makan bersama mereka walau dengan lauk sederhana yaitu telur ceplok juga terasa nikmat.


Setelah makan mereka bertiga duduk-duduk di depan kontrakan hanya berselang beberapa menit tiba-tiba Herman datang membawa gorengan.


"Pas banget nih..."ucap Pandi.


"Tunggu ...aku buat kopi dulu .. biar lebih mantap..."sahut Rehan berjalan kedalam membuat kopi untuk ketiga temannya.


"Boleh tuhhh.. "ucap Herman.


"Iya.. " ikut Rafli.


Sembari menunggu Rehan membuat kopi, mereka bertiga melanjutkan main game di handphonenya masing-masing. Mereka begitu terlihat asyik bermain hingga tak sadar Rehan sudah ada di depan mereka membawa secangkir kopi.


"Makasih Rey... Tahu aja yang pas dengan gorengan."sahur Herman, Rafli dan Pandi.


Rafli langsung saja meminum kopi buatan Rehan sampai dia lupa kopi itu panas, spontan dia terkejut, bukannya di tolong malah Rafli ditertawakan oleh ketiga temannya itu.


Suara handphone berdering....  Ternyata dari Putri.


"Ciee..  istri lagi kangen tuh..? Ejek Pandi


"Trusss yang kangen kita siapa yah??? Sahut Herman.


"Makanya buruan menikah. " Ucap Rehan sambil tertawa bercanda.


"Assalamualaikum sayang..."


"Wa'alaikum salam sayang . ...."


"Bagaimana kabarnya disana???"


"Alhamdulillah... Baik sayang... Kalau kamu?


"Alhamdulillah baik juga... Ohya kapan kamu balik.. soalnya anak-anak cari kamu terus..."


"Minggu ini aku balik sayang."


"Ok. Mas... Ohya tadi aku ketemu dijalan dengan Stevani, waktu aku belanja kebutuhan kedai mas."


"Ohya... Pantas saja dia tidak ada di kontrakannya ternyata dia ada di kampung.. Terus dia bilang apa"


"Aku nggak bicara dengan Stevani mas, soalnya aku hanya berpapasan dijalan naik motor itupun Stevani yang membunyikan klakson untuk pertama kalinya baru aku tersadar bahwa itu Stevani."


"Oh.. aku fikir kamu sempat berbicara dengan dia."


"Nggak mas."

__ADS_1


"Udah dulu yah mas... Shireen menangis dia baru saja bangun tidur." Ucap Putri sambil mematikan telponnya.


"Iya sayang." Rehan Menutup telponnya.


Rehan kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Aku kira gorengannya sudah habis ." Ucap Rehan sambil mengambil gorengan di dalam kantong.


"Yah enggaklah Rey... Kami simpankan buat kamu juga." Ucap Herman yang terus saja memainkan game di handphonenya.


"Ohya teman-teman, kalau kalian ketemu dengan wanita ini beritahu aku yah?? Ujar Rehan sambil memperlihatkan foto Stevani.


"Emangnya kenapa dengan perempuan itu." Tanya Pandi pemasaran.


"Dia punya utang dua juta kepada Ibuku, aku mau menagih dia. Tapi susah soalnya nomornya nggak aktif-aktif." Seru Rehan kesal.


"Waduhh... Cantik cantik kok banyak utang ". Ucap Herman.


"Iya nanti kami beritahu kalau kami ketemu dengan dia." Ucap Rafli dengan serius.


"Ok. Makasih sebelumnya bro. " Ucap Rehan.


"Sipp dehh...!!! Jawab ketiga temannya.


Hujan turun begitu deras membasahi bumi. Seakan dia tahu banyak orang yang lagi kepanasan.


Kali ini Rehan lupa membawa jas hujan, jas hujan itu lupa diambilnya di atas tempat sepatu. Rehan mampir berteduh di sebuah halte. Sembari menunggu hujan redah. Handphonenya berdering. Putri kembali menelpon.


"Sayang kamu bisa pulang nggak soalnya Shireen sakit. ?? Ucap Putri dibalik telepon.


"Shireen sakit apa?? Iya aku usahain.


"Shireen demam mas, iya mas. "


Putri menutup telponnya.


Hujan sudah agak redah , Rehan kemudian melanjutkan perjalanannya pulang ke kontrakan. Di pertengahan jalan Rehan melihat Stevani berboncengan dengan seorang lelaki. Kali ini Rehan nggak mengikuti Stevani soalnya buru-buru ingin pulang ke rumah.


"Kali ini kamu lolos" sahut Rehan dalam hati.


Rehan tiba di kontrakan, dia mengemasi barang yang ingin dibawa pulang, termasuk pakaian kotornya. Tidak lupa pula Rehan memberitahu teman sekontrakannya bahwa dia akan pulang ke rumah.


Dalam perjalan pulang , hujan kembali turun membasahi aspal untungnya kali ini dia membawa jas hujan, dipakailah jas hujan itu kemudian Rehan melanjutkan perjalanan kembali.


Hanya berjarak satu kilo meter hujan berhenti, Rehan menepi untuk membuka jas hujannya karena cuaca sangat panas. Kemudian melanjutkan lagi perjalanannya. Tidak lama berselang hujan kembali turun lagi-lagi Rehan menepi di sebuah warung makan untuk memakai jas hujannya. Kemudian melanjutkan lagi perjalanannya. Kali ini cuaca tak bersahabat sebentar hujan sebentar panas. Rehan tak ingin lagi melepas jas hujannya, biarlah dia memakai sampai di rumah. Di perjalanan Rehan di teriaki oleh pengendara motor lainnya.


"Sekarang sudah tidak hujan" ucap pengendara motor.

__ADS_1


Rehan tak peduli, dia tetap memakai jas hujan itu walau matahari memancarkan cahayanya. Rehan tak ingin menepi lagi karena hal itu membuatnya terlambat Sampai di rumah karena sudah tiga sampai empat kali dia memakai dan melepas jas hujan tersebut.


__ADS_2