Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
27 Iri


__ADS_3

Setelah berlibur dadakan di Jogja dan sekitarnya, kini mereka singgah di Surabaya. Ya anggap saja mereka sedang belajar mengenal berbagai daerah di Jawa. Tidak hanya mengenal makanan daerah, tempat wisata, tapi juga adat budaya. Waktu yang dibutuhkan jadi lebih banyak, karena murid-murid terus meminta untuk singgah ke sana sini.


"Nanti kita beli cemilan dulu untuk di kapal."


"Memang di kapal tidak ada yang jualan?"


"Ada lah, tapi pasti lebih mahal. Jadi lebih baik beli di sini saja."


Murid-murid perempuan itu akhirnya memasuki mini market untuk membeli permen, wafer, biskuit, minuman soda.


"Yang mabok laut siapin kantong plastik masing-masing!" titah Yuri kepada yang lain.


Keramaian pelajar itu tentu mengundang perhatian warga sekitar. Apalagi minimarket yang diserbu okehbratusan murid, membuat para karyawannya kelabakan karena harus melayani mereka satu persatu.


Sementara para murid laki-laki menyiapkan obat-obatan yang diarahkan oleh Deo. Mereka memang selalu kompak, membuat para guru tidak begitu khawatir terjadi perkelahian.


Deo melihat penjual rujak, lalu langsung memborong semua dagangannya.


"Di kemasnya yang rapih ya, Pak. Buat di kapal, soalnya."


"Mau ke Bali ya, Mas?"


"Iya, Pak."


"Beli rujak buat siapa, lo?"


"Buat Yuri."


"Semua?"


"Ya kali dia makan rujak satu gerobak?"


"Terus?"


"Buat dibagi-bagi ke yang lain. Kalau beli satu bungkus, masa Yuri cuna makan satu potong doang. Dia kan pasti ngasih ke Chia dan Airu, tuh."

__ADS_1


Gara dan Qavi mengangguk paham. Mereka juga membeli roti dan kue lapis untuk di jalan nanti.


"Yang sudah langsung kembali ke bis masing-masing. Harap ketua kelas mengabsen teman sekelas masing-masing. Untuk wali kelas dan guru pembimbing lainnya juga ikut mengawasi yang masih berada di luar," ucap kepala sekolah dengan menggunakan speaker.


"Ya ampun, belum nyampe Bali, uang gue sudah mau habis," keluh salah satu murid yang berbeda kelas dengan Yuri, dia bernama Santi.


"Ini gara-gara Yuri, nih. Mau singgah sana-sini," ucap yang lain, namanya Siska


"Eh, kok lo nyalahin Yuri, sih. Kan lo juga mau. Kalau lo gak suka, kenapa enggak diam saja di dalam bis?" tanya Putri yang juga berbeda kelas dengan Yuri.


Terjadilah keributan antara murid-murid perempuan itu.


"Ada apa ini, kenapa kalian bertengkar?" tanya Deo


"Gara-gara Yuri," jawab Siska masih tetap menyalahkan Yuri.


Deo terlihat bingung. Yang dia tahu, Yuri masih belanja di tempat lain bersama teman-temannya, bagaimana bisa dia menjadi penyebab pertengkaran murid-murid yang ada di sini?


"Memang kenapa Yuri?"


"Kami? Lo aja, kali!"


"Tahu, lagian lo belanjanya juga gak pernah banyak. Yuri yang lebih sering ngasih ini itu, termasuk ke yang bukan teman sekelasnya."


Yuri yang mendengar itu jadi merasa sedih.


"Aku kan cuma pengen teman-teman yang lain juga bisa menikmati jalan-jalan ke luar kota. Aku gak mampir ke mana-mana juga sebenarnya enggak masalah, masih bisa ke mana aja aku mau sama keluarga aku, termasuk jalan-jalan ke luar negeri."


"Bukan salah kamu, kok."


Teman-teman sekelas Yuri ikut membela.


"Lagian jangan mikir yang jeleknya, dong. Coba mikir positif."


"Tahu, nih. Memangnya tiap hari kaya gini?"

__ADS_1


"Kan enggak semuanya bawa uang lebih!"


"Yuri juga tahu enggak semuanya bawa uang lebih, makanya dia ngasih banyak bekal dan jajanin teman-temannya."


"Tahu, bukannya berterima kasih malah nyudutin orang lain terus."


"Sudah, jangan berantem."


Yuri jadi merasa bersalah, karena niat baiknya malah jadi masalah.


"Bukan salah kamu. Namanya orang pasti ada aja yang enhgak suka sama niat baik seseorang. Ayo, pada naik ke bis masing-masing," ucap Deo.


Deo juga tidak suka jika ada yang menyalahkan Yuri. Teman-teman sekelas mereka memang tidak semuanya dari kalangan berada, jadi Yuri ingin berbagi kesenangan dengan mereka meski harus mengeluarkan banyak biaya. Yuri yang anak tunggal, tidak tahu harus berbagi dengan siapa selain dengan teman-temannya dan anak-anak yatim piatu di panti asuhan tempat orang tuanya menjadi donatur.


"Dah, jangan dipikirin, anggap saja dia iri karena kamu baik sama orang lain," ucap Deo.


"Iya, ya. Gue kan cantik, pintar, kaya, ramah, siapa sih yang enggak iri. Hidup Yuri, hidup Yuri, hidup Yuri ... pilih Yuri untuk menjadi queen sekolah."


Satu bis itu langsung menghela nafas.


Kumat, deh.


"Yang pilih Yuri akan dikasih cilok lima ribu sama es teh manis."


Kalau cuma es teh sama cilok, kami juga bisa beli sendiri.


"Yang ngomongin Yuri cantik dalam hati, nanti dapat jodoh tukang cilok!"


"Noooo ...!"


"Tidak!"


"Jangan!"


Dan pak sopir kembali merasa pusing ....

__ADS_1


__ADS_2