
Seandainya menyesal pun kini tak ada gunanya. Yang sudah terjadi tak bisa diulang lagi.
Menyuruh mereka berpisah pun sekarang rasanya bukan hal yang bijak, setelah apa yang Arby lakukan pada Freya.
Bertahan atau melepas, tetap Freya yang menjadi korban.
Freya sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Wajah pucat yang dihiasi dengan memar dikeningnya itu terlihat menyedihkan.
Hening
Semua mata kini tertuju pada tubuh Freya yang terbaring tak berdaya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, tak menyangka tragedi sekaligus aib ini akan terjadi dalam keluarga mereka.
🌸🌸🌸
Plak
Plak
Plak
Wajah Arby ditampar oleh Nania yang tiba-tiba datang ke rumah sakit. Di belakangnya berdiri Aruna, Nuna, Marcell, Vian dan Ikmal.
Tadi, Nania dan Nuna yang berdebat sebagai Aruna yang menjadi penengahnya, tidak sengaja mendengar pembicaraan kepala sekolah, wakil dan guru BK bahwa Freya masuk rumah sakit dan izin hingga batas waktu yang tidak dapat dipastikan dan tidak diketahui dengan jelas penyebabnya selsin kata 'sakit'.
Nania langsung menghampiri Marcell dan bertanya di mana Freya dirawat, karena memang Freya tidak dapat dihubungi. Marcell yang tidak tahu apa-apa tentu saja bingung.
"Coba saja kamu telp Arby."
"Aku tidak tahu nomor poselnya."
"Bukannya kamu simpan?"
"Cih, buat apa aku simpan nomor ponsel si sampah itu. Cepat hubungi dia!"
Marcell segera menghubungi Arby, tapi tidak tersambung. Dia lalu menghubungi nomor rumah Arby.
Asisten rumah tangga tentu saja tidak bisa mengatakan di mana Freya dirawat, karena sudah ada perintah dari majikannya bahwa semua masalah yang terjadi malam itu tidak boleh diketahui oleh orang luar.
"Paling di rumah sakit keluarga Arby."
Aruna, yang bisa berpikir tenang langsung memberikan pendapat. Tanpa pikir panjang Nania langsung meninggalkan sekolah begitu saja, diikuti oleh yang lain.
Di lobi rumah sakit, mereka bertemu dengan Vanya, adik Freya. Nania memaksa Vanya untuk menceritakan yang sebenarnya, karena kalau sakit biasa saja, tentu saja Freya tidak akan dirawat di rumah sakit.
Vanya yang masih kecil, dengan perasaan takut-takut, akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Freya, membuat yang lain syok.
Nania langsung menuju ruang perawatan Freya yang ternyata ada Arby di sana.
"Emang dasar bre**sek lo, ya. Binatang gila, enggak punya prikemanusiaan. A**ing, b*b*, set*n. Mati aja, lo, ib*is."
__ADS_1
Dengan penuh kemurkaan Nania menjambak bahkan mencakar muka Arby, layaknya perempuan yang bertengkar . Tidak ada yang membantu Arby, karena mereka juga kecewa dengan sikap pemuda tujuh belas tahun itu."
"Enggak usah ikut campur urusan rumah tangga gue, lo hanya orang luar!"
"Gue sahabatnya, orang yang bersamanya sejak SD, orang yang mendengar keluh kesahnya di saat keluarganya tidak peduli. Lo lah yang orang luar, yang tiba-tiba hadir dalam kehidupannya karena campur tangan keluarga bre*gsek kalian."
Keluarga Arby dan Freya menyaksikan dan mendengar itu di belakang, merasa tersinggung dengan perkataan gadis remaja berseragam sekolah itu, namun sebelum melerai, tiba-tiba saja badan mereka diterobos dari belakang.
Bugh
Bugh
Bugh
Sekali lagi wajah tampan Arby menjadi sasaran tinju.
"Dasar cowok bejat tak bermoral!"
Mico benar-benar menghajar Arby dengan membabi buta. Teman-temannya tak ada yang melerai, hanya pihak keluarga saja yang melakukannya, tetap membela sang anak dan menantu apapun yang terjadi, sebesar apapun kesalahan Arby.
"Berhenti, atau saya akan melaporkan kamu ke pihak berwajib atas tuduhan penganiayaan," lerai Arlan.
"Sikahkan saja, maka dunia akan tahu bagaimana tak bermoralnya keluarga Abraham."
"Apa maksudmu?"
"Tak usah belaga bodoh, atau memang kalian ternyata bodoh? Binatang seperti ini tak pantas hidup."
Dari jauh dia melihat Nania dan yang lain, mengikuti mereka dan ikut mendengar cerita dari Anya.
"Jangan ikut campur, lo tidak tahu apa-apa soal gue dan Freya."
"Kata siapa gue enggak tahu apa-apa soal Yaya? Gue bahkan lebih tahu dia dari pada lo."
Emosi Arby tersulut.
"Stop! Ini rumah sakit, jangan buat keributan di sini, apalagi sampai mengganggu ketenangan pasien."
Seorang dokter menghentikan perkelahian itu dan memasuki ruang perawatan Freya untuk memeriksanya, diikuti oleh perawat, Nania dan yang lain.
Nania cs dan Ikmal cs termasuk Mico, bisa melihat dengan jelas wajah yang bahkan hingga saat ini masih sangat pucat dengan memar di keningnya, juga tanda-tanda kebejatan Arby yang masih meninggalkan bekas di leher dan bagian yang tidak tertutup baju pasien dan selimut.
Nania, Aruna bahkan Nuna menangis. Ikmal, Marcell dan Vian yang cowok pun, tak tega melihatnya, apalagi Mico.
"Bagaimana, Dok?"
Dokter menghela nafas.
"Belum ada kemajuan. Berdoa saja semoga dia cepat bangun. Saya permisi."
__ADS_1
🌸🌸🌸
Freya membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong diiring rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Matanya menjelahi ruangan, dan melihat sosok yang sangat dia benci tidur di sofa. Ingatannya kembali pada kejadian naas itu. Darahnya mendidih, kebencian menyelimuti hatinya.
Dia langsung melepas infus di tangannya begitu saja, turun dari brankar dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, lalu mengambil vas bunga dan memegangnya dengan erat.
Bugh
"Mati saja kau!"
Freya menghantamkan vas bunga itu ke kepala Arby. Badannya masih lemah, namun ***** untuk membunuh memberinya kekuatan.
"Frey?"
Bugh
"Ib*is!"
Arby memegang kepalanya, darah segar membanjiri telapak tangannya yang memegang kepala. Dia masih belum memahami kejadian yang baru saja terjadi, meski rasa sakit dikepalanya terus berdenyut."
"Astagfirullah, Freya, Arby."
Kedua orang tua Arby dan Freya berusaha menghalangi Freya yang masih ingin memukul Arby.
"Ini semua gara-gara kalian. Kalian semua sudah menghancurkan hidupku. Semumur hidup aku mengutuk kalian. Kalian akan menyesal."
Freya mengambil pisau buah dan mengarahkannya kepada mereka dengan brutal, entah sudah mengenai siapa saja.
Mereka berusaha menghindar, namun juga mencegah Freya agar tidak lagi melukai siapapun, termasuk dirinya sendiri.
Tombol ditekan untuk memanggil dokter. Pisau itu mengenai lengan mereka. Tidak mudah menangani seseorang yang sudah diselimuti rasa benci dan ***** untuk membunuh, meskipun Freya masih sakit dan kondisinya lemah, namun dia sudah seperti orang yang kerasukan. Apalagi Freya bisa bela diri, membuat pertahanannya tidak mudah dikalahkan.
"Istigfar Freya, sadar!"
"Kalian juga seharusnya mati, membusuklah kalian di neraka!"
Jleb
Entah siapa yang tertusuk, namun Freya dapat merasakan darah kental mengalir dan membasahi tangannya yang memegang pisau.
Dia menarik pisau itu.
Jleb
Sekali lagi menusuk, entah siapa. Menekannya semakin dalam.
"Hahaha ...."
__ADS_1
Freya tertawa puas, tidak ada rasa takut dalam dirinya.
Freya berteriak, menangis ketakutan, tertawa, dan kembali berteriak, hingga pandangannya menggelap.