
Sejak saat itu, setiap ada yang terlambat, murid-murid minta mendapat hukuman yang sama seperti Deo dan Yuri.
Yuri yang memang bertugas untuk memberikan hukuman pada murid-murid yang terlambat, dengan senang hati membantu, dengan satu syarat.
"Kalau dapat uang, bagi dua, ya?"
Lumayan, buat beli cilok.
Sedangkan pak Hadi yang mengetahui hal itu, langsung meminta penjelasan Yuri.
"Kan belajar bisnis, Pak. Memanfaatkan segala macam keadaan. Percuma teori tanpa praktek."
Dengan percaya dirinya, Yuri menjelaskan itu pada guru BK-nya.
Murid yang satu ini, termasuk Deo, memang pintar kalau bicara, bisa saja nyari alasannya.
Sedangkan Deo sendiri juga enggak bisa protes, karena dia selalu disogok dengan bakso tusuk.
.
.
.
"Sebentar lagi kalian akan kenaikan kelas, belajarlah yang rajin."
"Pak, kenaikan kelas nanti kelas kita berlibur ke mana?"
"Ya ampun, bukannya mikirin belajar biar dapat nilai yang bagus, malah nanya liburan ke mana."
__ADS_1
"Kan biar semangat, Pak."
"Kalian rundingkan saja dulu, nanti setelah ujian semester, baru diadakan vote. Saya dengar seluruh kelas akan liburan bersama, tapi masih belum ada kepastian dari kepala sekolah."
"Oya, yang bisa dapat juara pertama di kelas ini, saya kasih hadiah."
Mendengar kata hadiah, wajah Yuri langsung berbinar.
"Wah, saingan berat nih Deo dan Yuri."
"Siapa yang mau taruhan, woy?"
"Gue ikut taruhan, kalau sampai Rizki dapat juara satu, gue jajanin Yuri cilok satu bulan."
Anak-anak langsung tertawa. Gimana mau dapat ranking satu, dapat nilai tujuh saja sudah bersyukur.
.
.
.
Penggemar makanan tusuk itu cengar-cengir sendiri saat melihat adegan romantis.
"Aaa, romantisnya. Aduh duh duh duhhh, oengen deh punya cowok kaya gitu."
"Heleh, begitu doang, gue juga bisa, kali."
"Heleh, cowok model lo, apanya yang romantis?"
__ADS_1
Deo langsung memasukkan setengah strowberry ke mulut Yuri, lalu dengan sigap, dia menggigit yang setengahnya lagi.
Yuri mengedip-ngedipkan matanya. Setelah buah itu habis Deo kunyah, lalu dia ******* bibir gadis itu.
Dering ponsel Yuri menyadarkan mereka, dilihatnya pesan dari Chia.
[Besok kita ke mall, kali aja nemu cowok ganteng.]
Yuri langsung menyimoan ponsel itu setelah selesai membacanya, tanpa ada niat untuk membalas. Lalu dua berlari ke kasur, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ish, ciuman pertama gue tuh. Bilang-bilang dulu napa, biar gue ada persiapan. Jangan-jangan sebentar lagi gue enggak perawan!
Tadi bilang pengen punya cowok romantis, baru gue cium gitu doang dah meriang. Apa jadinya entar kalo Nuri bertemu dengan Beo?
Deo kini ikut berbaring di kasur. Dilihatnya tubuh Yuri yang masih berbalut selimut, lalu didekapnya dengan erat.
"Pengap, Deo!"
Yuri membuka selimutnya.
Cup
"Dah, bobo."
Jantung Yuri berdetak kencang, wajahnya bersemu merah, lalu tak lama kemudian dia ikut memejamkan mata.
Deo membuka matanya saat merasa Yuri sudah tidur. Bukan hanya Yuri, jantungnya pun berdetak kencang. Dia tidak pernah menyangka, bahwa gadis cerewet yang selalu menjadi saingannya itu kini menjadi istrinya.
Dibelainya pipi halus Yuri, dalam hati dia bersyukur bahwa Yuri lah yang menjadi istrinya. Gadis yang dia suka pada pandangan pertama.
__ADS_1
Dulu, dia kabur saat akan menikah, karena dia menyukai Yuri, dan tidak ingin menikah dengan perempuan lain, walaupun dia tahu kalau orang tuanya akan sangat marah. Tapi jodoh tetaplah jodoh, walaupun kamu menghindar, jodoh tetap akan kembali ke tempat yang seharusnya.
I love you, my little wife.