
Persiapan menuju ujian nasional membuat stres para murid, termasuk Freya. Sebenarnya dia tak perlu cemas, karena dia sudah menguasai materi yang ada. Hanya saja, hormon kehamilannya lah yang menguasainya.
Malam ini Freya merasa gelisah. Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul delapan. Dia merasa hormon terlarangnya sedang aktif. Dia melihat Arby, bawaannya pengen dipeluk. Bahkan dia mengendus aroma Arby, membuatnya merinding geli.
Lalu dia melihat bibir Arby.
Astaga, otakku.
Sedangkan Arby, sejak tadi dia juga terlihat gelisah. Freya masih mengibarkan perang dingin padanya, jadinya dia hanya mampu bersabar.
Dilihatnya ibu hamil itu sedang memakan tomat chery, chery, dan strawbery, yang disajikan dalam mangkok besar.
Gerakan bibirnya saat memasukkan dan mengunyah membuat jakun Arby naik turun, karena baginya Freya terlihat ... seksi.
Untung yang lain enggak pada nginap.
Tentu saja, ketiga pria itu kapok mau menginap, walaupun Arby sempat mengimingi mereka dengan mendekati Vian dan Marcell dengan Aruna dan Nania.
"Kamu aja enggak bisa menjinakkan istrimu, sok mau jadi mak comblang."
Arby mendengkus saat Vian mencelanya.
Duh, tuh bibir, pengen banget aku cocolin ke bumbu rujak, terus aku ****.
Arby terus melihat gerakan bibir Freya.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Elya pada pasangan muda itu.
"Hm!" jawab mereka singkat, yang otaknya pada berselancar di dunia permesuman.
Setelah menghabiskan aneka buah berwarna merah itu, Freya langsung menuju kamar, yang diikuti oleh Arby.
Freya mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Besok sore ke rumah, ya."
💙❤💙
Sepanjang pagi ini Freya menyibukkan dirinya dengan belajar, menghela nafas saat buku-buku itu telah dibaca olehnya, sedangkan Arby tanpa tahu malu tidur di kasur Freya dengan mendekatkan jempolnya di bibir, dan memanyunkan bibirnya.
Freya mengambil ponselnya
Cekrek
Send
Di tempat lain, ketiga pria tertawa saat menerima sebuah foto unyu seorang Arby Erlangga Abraham.
Lalu sebuah tulisan
[Nanti sore ke rumah, bawain es cendol, es cincau hitam dan hijau, es tebu.]
[Oya, sate madura dan sate padang, sama tongseng. Rawon juga, deh.]
[Roti unyil.]
[Burger dan pizza.]
"Ini, doyan apa rakus, sih?"
[Awas kualat kalau ngatain aku!]
Gleg
"Tahu aja nih bumil, kalau kita lagi ngomongin dia."
Freya merasa perutnya tak enak, berkali-kali dia keluar masuk kamar mandi. Mungkin kebanyakan makan, pikirnya.
Namun, lama kelamaan rasa sakitnya semakin intens. Tangan dan kakinya sudah gemetaran, keringatnya bercucuran meskipun ruangan ber-AC.
"By ... Arby!"
__ADS_1
Freya mengguncang badan Arby, tapi tak bangun-bangun. Karena kesal, akhirnya Freya menimpuk pusaka Arby dengan buku tulisnya.
"Aw, sakit, Frey! Kamu kalau pengen bilang napa, jangan nimpuk!"
Tak ada waktu untuk meladeni omongan mesum itu.
"Perut aku, sakit."
Dengan cepat tanggap, Arby langsung menggendong Freya.
"Bi, hubungin papi mami suruh ke rumah sakit sekarang!"
Di depan pintu, sudah berdiri Nuna, Nania dan Aruna, juga Ikmal, Vian dan Marcell.
Lalu air mulai merembes di kaki Freya.
"Air ketubannya pecah, Freya mau lahiran!"
"Loh, belum juga delapan bulan."
"Jangan banyak omong, nyalin lagi mobil!"
"Ini makanannya gimana?" Vian malah sibuk mikirin makanan.
"Bawa aja, kali aja nanti Freya mau piknik di rumah sakit," jawab Marcell.
Nania dan Aruna masing-masing menoyor Marcell dan Vian.
Ikmal menyalakan mesin mobilnya, dan Arby masuk ke bangku penumpang, sedangkan Nuna duduk di sebelahnya.
"Jangan di sini, Nun, sempit!"
"Emang kamu bisa, nenangin perempuan yang mau lahiran?"
"Sudah napa, jangan berantem."
Sementara itu Vian, Marcell, Nania dan Aruna menggunakan mobil Aruna.
"Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan, Ya. Kamu boleh jambak dan cakar Arby, lakukan sesukamu!"
"Apaan sih, Nun?"
"Memang begitu kalau orang mau lahiran."
"Memangnya kamu sudah pernah lahiran?"
"Belum, tapi aku ini juga calon dokter. Sering baca buku dan nonton video orang melahirkan."
"Ya ampun, kalian bisa tenang enggak, sih? Yang ada nanti Freya malah tambah stres dengar kalian berantem terus."
"Baca doa, Ya."
"Baca Ayat Kursi, Frey!"
"Kamu kira ngusir setan?"
"Terus, doa makan?"
"Enggak sekalian baca Yasin?"
"Astagfirullah, nanti kalian berdua nih yang aku Yasinin dan bacain Ayat Kursi!"
Sedangkan Freya menggigit dada Arby, bukan karena menahan sakit, tapi menahan tawa. Nanti kalau dia sampai ketawa ngakak dan tanpa sadar ngeden, kan, bisa-bisa brojol di dalam mobil babynya.
"Aw, Frey, jangan mesum napa!"
Nuna menoyor Arby.
"Sekalian aja Frey, kamu gigit tuh pusakanya, biar putus sekalian!"
Ikmal hanya bisa beristigfar dalam hati. Tak tahu kah mereka berdua itu sedang membicarakan hal-hal mesum?
__ADS_1
Freya yang sedari tadi berbaring sambil menghadap ke arah Arby, langsung merah wajahnya. Kepalanya yang ada di atas paha Arby dengan muka yang tepat menghadap itunya, benar-benar membuatnya merinding.
Dengan reflek tangan Freya menutup bagian tersebut dengan telapak tangannya dan sedikit menekannya agar tidak menyentuh wajahnya.
"Aw, Frey, jangan ditekan. Kan jadi pengen akunya!"
Mobil langsung oleng seketika. Ikmal sudah tidak bisa konsentrasi lagi.
"Itu mobil Ikmal ko oleng gitu, sih?"
Ya Allah, kuatkan lah hamba-Mu yang alim ini, batin Ikmal.
Sedangkan di mobil belakang, Nania dan Nuna yang mendapat siaran langsung apa yang terjadi di mobil Ikmal dari Nuna, hanya bisa menelan saliva mereka.
Marcell dan Vian yang ikut mendengar juga pikirannya jadi travelling ke mana-mana.
Jalanan macet, membuat mereka panik karena sudah terlihat pucat.
"Biasanya kamu kalau masuk rumah sakit tengah malam terus, Frey. Kenapa sekarang malah sore, sih? Mana macet banget lagi."
"Namanya orang mau lahiran, mana bisa milih waktu, Ar."
Nuna memijat telapak kaki Freya yang dingin, sedangkan Arby mengelus perut Freya.
"Duh, aku juga mules nih!"
"Jangan bikin tambah panik dong, Ar!"
Tanpa sadar Arby mengejan.
Sedangkan di mobil belakang, keempat manusia itu ikut mengatur nafas. Menghirup udara lewat hidung, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut.
Nania memeluk Aruna, Aruna yang duduk di belakang Vian, menjambak rambut Vian, lalu Vian mencengkram lengan Marcell yang sedang menyetir, sedangkan Marcell meremas stir mobil.
Mungkin itu sebagai bentuk solidaritas antar mereka, atau karena mereka yang ikut-ikutan stres.
Hanya merekalah yang tahu.
Macet belum berlalu. Ikmal membuka jendela mobilnya.
"Pak, tolongin ini ada yang mau lahiran!"
Salah sorang polisi menghampirinya, lalu berusaha memberikan bantuan untuk mendahulukan mobil Ikmal meskipun memang susah.
Sedangkan di rumah sakit, orang tua Freya dan Arby gelisah karena yang ditunggu-tunggu belum juga datang.
"Duh, gimana ini. Kandungannya belum delapan bulan."
Kembali ke mobil Ikmal
"Duh, aku enggak kuat ini."
"Tenang ya, Ya. Atur nafas, hembuskan perlahan."
Arby pun ikut mengatur nafas.
"Ya ampun Ar, jangan buang gas sembarangan, dong."
Freya rasanya ingin marah-marah. Gimana coba rasanya saat kepalanya ada dalam pangkuan Arby terus cowok itu malah buang gas.
Ikmal langsung membuka seluruh jendela mobil, membuat asap knalpot langsung masuk ke mobil itu.
"Debu, Mal."
"Dari pada nyium gasmu!"
Arby menutup hidung Freya agar asap knalpot tidak masuk terlalu banyak ke hidung Freya.
Di lampu merah, seorang wa**a sedang mengamen. Ikmal langsung kembali menutup semua jendela serapat mungkin. Dia lebih cemas dengan wa**a dari pada aroma Arby.
Sungguh, perjalanan ke rumah sakit ini penuh dengan liku.
__ADS_1