
Deo dan Yuri bangun kesiangan. Untung saja sekarang hari Minggu. Yuri meringis dan membuka matanya. Diingatnya lagi apa yang terjadi tadi malam, membuat wajahnya memerah.
Tapi tiba-tiba saja dia menangis, membuat Deo terbangun.
"Kamu kenapa, marah sama aku gara-gara tadi malam?"
"Nanti kalau aku hamil, gimana?"
"Ya memangnya kenapa? Kan kamu hamil juga punya suami. Bukan hamil di luar nikah."
"Kan aku masih sekolah."
Deo lalu mencoba menghitung.
"Kamu juga belum tentu langsung hamil. Sekarang bukan masa subur kamu, kan. Lagian kalau kamu hamil terus perutnya besar, mungkin kita sudah lulus sekolah lebih dulu."
"Tapi aku masih mau kuliah."
"Kan kamu masih bisa kuliah. Kuliah kan enggak sama seperti sekolah. Kamu bisa cuti. Nanti kalau kamu cuti, aku juga ikut cuti, deh. Jadi kita bisa sama-sama terus."
Yuri terdiam, Deo lalu memeluk perempuan yang sudah benar-benar menjadi istrinya itu. Pria itu lalu menggendong Yuri dan membawanya ke kamar mandi, lalu menyiapkan air hangat, karena hujan masih turun hingga saat ini.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?"
"Ya ampun, kita kan sudah menikah. Memangnya aku mau meninggalkan kamu ke mana? Yang perlu kamu khawatirkan itu, kalau kita belum menikah. Orang tua kamu tahu siapa aku dan keluarga aku. Orang tua kamu juga tahu kamu dan keluarga kamu. Terus aku mau kabur ke mana? Aku memang masih muda, tapi bukan berarti tidak bertanggung jawab. Jangan banyak pikiran Yuri, kali saja dede bayinya sedang OTW menuju janin, nanti malah putar arah lagi loh, gara-gara kamu setres duluan."
Yuri menepuk pundak Deo, dan pria itu hanya tertawa saja.
__ADS_1
"Jangan sedih-sedih lagi, jangan juga berpikiran buruk. Kamu istri aku, dan aku suami kamu. Kita harus saling percaya apa pun yang terjadi."
Deo mengecup kening dan bibir Yuri. Dia lalu membersihkan kasur yang masih berantakan itu, dan dilihatnya noda merah di sana. Disimpannya seprei itu, buat kenang-kenangan, pikirnya. Deo juga mencatat tanggal tadi malam, sebagai sejarah penting dalam hidupnya kalau dia sudah tidak lagi perjaka karena ulah istrinya.
Kebalik, Deo!
Deo turun ke dapur, untuk mengambilkan makanan buat mereka berdua. Dia membuatnya dengan ceria, membuat asisten rumah tangga heran.
"Teman-temannya Den Deo dan non Yuri mau datang?"
"Enggak, kenapa Bi?"
"Itu buat siapa, Den?"
"Ini buat aku dan Yuri."
Melihat itu membuat si bibi diam.
Sosis goreng
Salad sayur dan buah
Roti bakar selai
Deo membawa semua itu sendiri ke atas.
Anak aku harus tumbuh kembang dengan baik.
__ADS_1
Baru satu malam saja susah memikirkan anak. Dia tidak tahu saja gimana rasanya nanti menghadapi perempuan hamil dengan segala kelakuannya.
Deo melihat Yuri yang tiduran dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kamu sakit?"
"Aku lemes, mana lapar banget, lagi."
Kirain masih ngambek.
"Ayo makan dulu."
Yuri melihat makanan itu dengan binar bahagia.
"Sayang tidak ada cilok."
"Kamu pengen cilok?"
"Iya. Padahal baru kemarin aku makan cilok."
Bukannya baru kemarin dia makan cilok, tapi hampir setiap hari dia makan cilok.
"Jangan-jangan kamu hamil."
Tuk
Yuri langsung menepuk bibir Deo dengan sendok.
__ADS_1
"Gimana bisa aku langsung hamil, padahal baru tadi malam berkenalan dengan Beo?"
"Ya kali saja Beo masuk ke dalam satu dari tujuh keajaiban dunia."