
Nuna merasa ada dua orang yang sedang menatapnya.
Deg
Jantungnya berdetak kencang saat melihat Arby dan Ikmal. Secara reflek, dia menggenggam tangan Freya.
Nania mengajak mereka duduk di bangku Arby.
"Hai, murid baru, ya?"
Nuna diam saja, menunduk dalam-dalam.
"Siapa namanya?"
Lagi-lagi dia diam.
"Namanya Nuna, Kak."
Marcell mengulurkan tangannya, yang akhirnua dengan terpaksa disambut oleh Nuna. Nuna juga mengarahkan tangannya pada Vian.
Kemudian Ikmal dan Arby.
Arby dan Ikmal menggaruk tengkuk mereka, lalu menyambut uluran tangan Nuna dengan senyum canggung di bibir masing-masing.
Kok aneh gini ya, situasinya?
Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing, diam-diam saling lirik, diam-diam menghela nafas, dan diam-diam melirik Freya yang cuek dan sibuk dengan makanannya.
Yang ada dalam pikiran Arby dan Ikmal adalah, Nuna sampai rela turun kelas demi bisa bersama Freya.
Freya memang soulmate-nya Nuna.
Meskipun Nuna tahu resiko yang harus dia hadapi saat Freya melihat dirinya, tapi dia tetap ingin bersama Freya. Arby dan Ikmal pun harus menahan diri untuk meluapkan perasaan mereka saat bisa bertemu kembali dengan Freya.
🍀🍀🍀
Di rumahnya, Freya benar-benar merasa dibedakan. Selama hampir satu tahun dia sembuh dan ke Jakarta, dia merasa tak dipedulikan oleh siapapun.
Kakek neneknya yang datang, hanya peduli pada kakak dan adiknya saja. Mereka akan membawa keduanya bermain ke pantai, puncak, atau ke toko alat musik.
Hubungan dia dengan saudara-saudaranya juga tak dekat. Pernah dia memasuki kamar kakak dan adiknya, dilihatnya kamar mereka yang penuh dengan boneka berbagai ukuran dan warna. Sedangkan kamarnya?
Kosong!
Kakek neneknya akan menemani Anya dan Vanya seharian bermaon musik, sedangkan dirinya hanya mampu melihat mereka dari ujung ruangan.
Orang tau dan kakek neneknya akan bertanya nilai-nilai Anya dan Vanya.
Dan segala hal-hal kecil itu tak pernah luput dari pengamatan Freya.
Ada jarak di antara mereka.
Karena itu, Freya semakin cuek. Tak akan mengemis perhatian mereka, bahkan saat dia harus menerima uang saku yang bagi keluarga mereka sangat kecil.
Namun, dari sudut pandang keluarganya adalah ...
Tak perlu mengkhawatirkan nilai-nilai Freya. Freya memang hilang ingatan, namun tak menghilangkan kecerdasannya.
Mereka pikir Freya tak akan mau bermain musik atau hal-halnyang dulu dianggap tak bermanfaat dan membuang-buang waktu.
Freya tak suka boneka, yang Freya suka adalah buku.
Dan mereka tak boleh terlalu dekat dengan Freya agar tak memancing memorinya dengan keras.
Dan segala halnyang mereka lakukan, untuk kebaikan mereka dari sudut pandang mereka.
Yang tak mereka sadari adalah, Freya itu bagai kertas putih polos, tak bergaris juga tak bertitik yang baru diproduksi dari pabrik.
Bagai bayi yang baru lahir namun langsung berumur sebelas tahunan.
Semua akan diolah kembali dari awal.
Freya akan mencerna perilaku orang-orang di sekitarnya dari awal, karena tak ada sisa memori yang tertinggal.
__ADS_1
Semuanya baru.
Perasaan dan pikiran yang baru itu, bagai bayi yang menangkap dan mengolah apa yang dia kihatbdan dengar.
Hati-hati berkata dan bersikap di depan anak kecil, mereka akan mudah menyerap dan mengkutinya.
Ya, seperti itulah.
Karakter baru yang terbentuk, namun tak jauh berbeda dari karakter aslinya, justru semakin parah karena tak ada oppa ommanya.
Kalau pihak keluarga lebih sensitif akan hal ini, Freya mungkin akan tumbuh menjadi gadis cantik yang penurut, dan semua masalah di kemudian hari tak akan terjadi.
💕💕💕
Freya, Nania, Aruna dan Nuna, hubungan keempatnya semakin dekat.
Sifat Nania yang ceria dan feminim membuat ketiga teman lainnya sedikit terkontaminasi.
Hobinya nonton drakor
Lihat cowok ganteng
Shopping
Dan segala hal yang berhubungan dengan ramaja ABG masa kini.
"Hadeuhhh, itu cewek-cewek ko' cantik-cantik banget ya."
Marcell terus saja menatap keempat juniornya.
"Itu Freya ngegemesin banget, sih."
Ikmal dan Arby langsung menatap tajam Marcell.
"Nuna juga bikin penasaran. Jalannya nunduk mulu, nyari koin apa ya, di bawah?" terus saja komentar Marcell berikan untuk keempatnya.
"Spa aku dekatin saja ya Freya dan Nuna?"
"Jangan!" seru Arby dan Ikmal.
"Biasanya orang pendiam itu menghanyutkan."
"Justru itu tantangannya."
"Enggak lama lagi, aku pasti bisa jadian dengan salah satu diantaranya."
"Nuna, deh!" Marcell berkata dengan sangat mantap.
"Dibilangin jangan." Ikmal benar-benar melarang keras, begitu juga dengan Arby. Walau bagaimana pun, mereka tahu bagaimana sifat Freya dan Nuna, dan mereka akan menjaga keduanya.
"Terus?"
"Kalau mau dekatin, mendingan Nania, kelihatan lebih ramah dan mudah didekatin." Arby berkata asal.
"Justru enggak ada tantangannya."
"Aku jajanin kamu selama satu bulan kalau kamu bisa jadian sama Nania saat ini juga, gimana?" tantang Vian.
"Deal! Siapa sih yang bisa menolak pesona Marcell."
"Jangan nyari gara-gara sama mereka berempat," larang Arby.
"Ck, slow napa. Lihat nih, ya. Aku pasti jadian sama Nania."
Marcell mulai mendekati Nania di pojok kantin.
"Hm, hai cantik."
Keempatnya menengok karena sama-sama merasa cantik, membuat Marcell dan ketiga cowok lainnya yang mengamati mereka tertawa.
"Ehm, Nania ...."
Nania memberikan senyum manis yang membuat Marcell deg-degan.
__ADS_1
"Manis banget sih senyumnya, bikin diabetes deh."
Freya mendengkus dengan sangat jelas.
Untung enggak jadi Freya yang aku dekatin, bisa malu nanti.
"Apa kak?"
"Nania, kita jadian yuk!"
Benar-benar to the point
"Ayuk!"
Jawaban yang lebih to the point
Membuat Arby cs dan Freya cs kesedak.
Freya menarik ujung lengan baju Nania.
"Jangan asal-asalan, Nan," bisik Freya.
"Sst, diam dulu." Nania yang tadi sibuk dengan ponselnya, menyimpannya di saku bajunya.
"Jadi kita sekarang jadian ya?"
"Iya, kak."
"Ya sudah, aku ke teman-temanku dulu, ya. Nanti pulangnya aku antar."
"Oke."
Marcell berjalan menuju teman-temannya berada. Dia sendiri juga merasa bingung, kok mudah ya dia diterima.
Keempatnya menuju kelas, dan tidak lama kemudian keempat cewek itu menyusul.
Di dalam kelas
"Jadi aku menang taruhan, ya."
"Ck, iya, iya."
"Enggak nyangka, Nania bakalan langsung nerima."
"Kamu yakin tuh, Nania beneran suka sama kamu?"
"Yakinlah, mana ada sih yang bisa menolak pesona Marcell. Bahkan jika aku nembak Freya sekali pun, pasti dia terima. Sayangnya saja tadi enggak ada yang nantangin aku jadian sama Freya. Aruna dan Nuna juga pasti enggak akan nolak aku."
"Oh, jadi jitu?"
Jantung keempatnya berdetak dengan kencang. Mereka melihat ke arah pintu, empat cewek dengan tatapan sangar membuat mereka mati gaya.
"Yang ... maksud aku ...."
"Yang Yang Yang Yang .... palamu peyang?"
"Mulai detik ini, kita putus!"
Bugh
Bugh
Bugn
Bugh
Keempatnya kena bogem dari Freya.
"Ish, sial banget aku. Kena tonjok, dan harus ngeluarin uang satu bulan buat orang yang jadian hanya kurang dari tiga puluh menit."
"Jadian enggak sampai tiga puluh menit, bisa dibilang mantan enggak, sih?" lanjutnya.
Mereka berdua masih sibuk dengan tarujan itu, sedangkan Arby dan Ikmal, mengelus pipi mereka yang kena amuk Freya dan pikiran bahwa mulai detik ini mereka akan berada di dua kubu yang berbeda.
__ADS_1
Memang, sejak saat itulah kedua tim itu bermusuhan. Bahkan Freya cs tak pernah lagi memanggil mereka kakak.
Kedelapannya kerap kali bertengkar setiap kali bertemu, bahkan membuat guru-guru pusing. Murid-murid yang lain juga heran, padahal awalnya mereka baik-baik saja.