
Freya melihat Arby yang menenteng semua barang belanjaannya. Mungkin saja Arby sudah terbiasa melakukan itu saat menemani Nuna atau gadis lainnya. Maklum lah, namanya juga cowok yang mengumbar pesona.
"Ayo kita nonton."
"Nonton?"
"Iya."
Tanpa menunggu jawaban dari Freya, Arby langsung menarik tangan Freya yang sebelimnya sudah memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam mobil.
Selama berada di mall, orang-orang selalu memandang kagum pada mereka. Cantik dan tampan, benar-benar pasangan yang serasi.
Arby membeli tiket juga makanan dan minuman untuk mereka berdua, setelah itu memasukibruang theater.
Sepanjang film diputar, Arby mengusap tangan Freya untuk memberikannya kehangatan, karena AC-nya memang sangat dingin.
πΈπΈπΈ
Perut Freya semakin membesar, dan kini dia sudah sekokah online kembali, karena tidak mungkin tetap sekolah normal dengan keadaaannya yang seperti itu.
Yang senang dengan keadaan ini tentu saja Arby, dia bisa terus berada di dekat Freya. Kondisi Arby sedikit lebih baik meskipun masih suka muntah.
Tengah malam ini Arby merasa gelisah.
"Frey, bangun Frey. Freya!"
Arby mengguncang pelan badan Freya.
"Frey."
"Hm?"
"Bangun."
"Apaan, sih?"
"Aku lapar."
"Ya makan."
"Aku mau makan nasi goreng seafood buatan kamu."
Freya masih loading. Sesaat kemudian dia menahan tawa, inilah yang dinamakan ngidam tengah malam, namun Arby yang harus merasakannya.
"Ya sudah, ayo."
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan dengan Arby yang tetap menggandeng tangan Freya. Awal-awalnya tentu saja Freya merasa risih, tapi lama-kelamaan dia sudah biasa dengan sikap Arby ini. Orang tua mereka tentu sangat bahagia dengan kemajuan mereka berdua, berharap mereka akan lebih dekat, selalu akur dan akhirnya saling jatuh cinta.
Freya mulai mengolah bahan, aroma madakannya semakin membuat Arby lapar. Ini hanyalah salah satu dari ngidam Arby. Kemarin, dia ngidam ngerujak dan buah-buahannya harus dari rumah orang tua Freya.
Akhirnya dia, Marcell, Vian dan Ikmal ke rumah orang tua Freya tanpa Freya, karena istri kecilnya itu tidak mau ikut ke sana meskipun sudah dibilang nanti anaknya akan ileran kalau ngidamnya Arby tidak dituruti. Namun Freya tidak termasuk orang yang percaya dengan mitos tersebut.
Pernah juga Arby tengah malam ngidam roti Bandung, akhirnya dia menyuruh Marcell, Vian dan Ikmal ke Bandung tengah malam buta.
Juga makan tomyam, lalu menyuruh koki di rumah memasak Tomyam.
Namun semua itu bukan Arby yang memakannya, karena ingat kan, kalau Arby tidak bisa makan makanan yang bukan dimasak oleh Freya, jadi Freya yang harus memakannya mewakili dirinya.
Arby melihat pipi chuby Freya yang semakin montok, membuat dia ingin menggigitnya karena gemas. Bibir merah delima itu sibuk mengunyah nadi goreng yang masih panas tersebut.
Selama kehamilan ini, Freya hanya sesekali saja m minum susu hamil, karena dia masih tetap kesulitan minum susu, paling hanya dua teguk setiap kali minum, masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Sebagai gantinya, dia harus memakan makanan dan minuman yang baik untuk ibu hamil.
Arby dan Freya juga sepakat tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka, biar menjadi kejutan. Masih ada kekhawatiran dalam diri Freya, apakah nanti dia bisa menjadi ibu yang baik di usianya yang masih sangat muda ini?
Jika semuanya berjalan dengan lancar, maka sebelum umurnya 18 tahun, maka dia sudah memiliki anak.
Bisa tidaknya dia menjadi ibu yang baik nanti, setidaknya di masa kehamilannya ini dia berusaha menjadi ibu yang baik. Itulah sebabnya dia tidak ingin pusing memikirkan hubungan Arby dan Nuna, bukan karena dia lemah, tapi tidak ingin setres hingga keguguran lagi.
Dia sudah mengorbankan masa depannya karena pernikahan ini, jika mereka berdua masih macam-macam, maka setelah anak ini lahir, maka Freya akan memberi pelajaran kepada mereka berdua.
"Enggak usah dicuci, ayo ke kamar."
Di tengah tangga, Freya mendadak berhenti.
"Kenapa?"
"Aku pengen makan es kelapa, By. Tapi yang langsung dari pohonnya."
"Ya sudah, tunggu dulu."
Mereka ke kamar dan Arby langsung menghubungi Ikmal.
"Apaan sih, Ar?"
"Ambilin buah kelapa yang langsung dari pohonnya," ucap Arby to the point.
"Hah?"
"Freya ngidam minum es kelapa langsung dari pohonnya. Ajak Marcell sama Vian sana!"
Tanpa menunggu jawaban dari Ikmal, Arby langsung memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1
Ikmal kembali menelepon Arby.
"Ambil di mana kelapanya?"
"Ck, di vila pantai."
Kembali dia memutuskan sepihak.
"Pantai? Aku ikut, dong."
"Kamu mau ikut, Frey?"
Freya mengangguk semangat. Arby menelepon Ikmal lagi.
"Setelah jemput Marcell dan Vian, jemput aku dan Freya. Freya mau piknik ke pantai."
Di sana, Ikmal berdecak kesal, namun tetap menuruti. Dia membawa beberapa baju.
Marcell dan Vian yang dihubungi tengah malam buta tak kalah sebalnya.
Jam tiga, mareka tiba di rumah Arby.
"Ajak Nania dan Aruna juga, ya."
Ini adalah permintaan Marcell. Freya menyetujuinya bukan karena Marcell dan Vian, tapi ingin mengajak kedua sahabatnya itu bersenang-senang di antara rasa lelah karena banyak belajar.
Meskipun cukup sempit, tapi mereka tetap memutuskan untuk membawa satu mobil saja. Nania dan Aruna sudah di jemput, belum ada sepuluh menit, Arby, Freya, Nania dan Aruna sudah tidur nyenyak di dalam mobil.
"Mereka yang mau punya anak, kita yang heboh."
πππ
Mereka tiba di pantai masih sangat pagi, udara yang sejuk dan masih bersih membuat menghirup udara dalam-dalam dan merentangkan tangannya.
Freya terlihat seksi dengan perut buncit memakai dress pantai, rambut panjangnya dicepol asal dengan anak rambut yang berterbangan tertiup angin.
Aura ibu hamil itu benar-benar memancar, menambah kecantikan alami tanpa riasan sedikit pun.
Arby memeluk Freya dari belakang, tangannya mengusap perut istrinya. Dia membalik tubuh Freya, dan menggenggam satu tangan Freya. Disematkannya cincin pernikahan mereka di jari manis Freya, sedangkan dia sendiri sudah memakai cincinnya.
Jika saja Freya tidak tahu bahwa selama ini masih ada interaksi antara Arby dan Nuna, maka dia mungkin bisa percaya dengan perubahan Arby.
Freya sudah membentengi dirinya sendiri, dia juga sadar bahwa sikap Arby ini karena anak yangvada dalam kandungannya. Juga takut diamuk oleh Arlan jika Arby kembali membuat ulah dan merusak nama baik keluarga.
Tanpa berkata apa-apa, Arby mencium kening Freya, lalu berjongkok dan mencium perut istrinya.
__ADS_1
"Yang sehat ya, anaknya daddy."
Terasa tendangan kecil di perut Freya, membuat jantung Arby berdetak lebih kencang. Ada perasaan haru dalam dirinya. Kalau saja Freya tidak keguguran saat itu, pasti dia sudah memiliki anak. Anak yang ganteng seperti dirinya jika laki-laki, dan cantik seperti mommynya jika perempuan.