
Hiks
Hiks
Hiks
Deo bergerak pelan dalam tidurnya, dia merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya.
Hiks
Hiks
Hiks
Perlahan, mata Deo terbuka, suara yang tadi didengarnya, berhenti begitu saja. Dilihatnya keadaan kamar yang gelap, juga sebelahnya yang kosong tanpa kehadiran Yuri, si penghangat ranjang yang masih tetap mempertahankan keperawanannya itu, menyebabkan Beo belum merasakan kemerdekaan hingga 17 tahun lamanya.
Diusapnya kasur kosong itu yang ternyata dingin.
Hiks
Hihihi
Hiks
Hihihi
Sekujur tubuh Deo langsung merinding, petir tiba-tiba menggelegar, disambut kilat yang memberikan sedikit cahaya di kamar itu. Tiba-tiba Deo melihat bayangan putih di bawah kasur.
"Yu ... Yuri?"
"Yuri, lo di mana, sih?"
Mata Deo kini melihat ke bagian bawah ranjang di samping yang biasa digunakan oleh Yuri.
"Aaaa ...."
"Aaaa ...."
"Iiiiiii ...."
"Iiiiiii ...."
"Yuri?"
"Deo?"
"Lo ngapain?"
"Lo yang ngapain?"
"Lo jangan bikin gue kaget!"
"Lo yang jangan bikin gue kaget!"
Deo melihat Yuri yang tubuhnya ditutupi kain putih, hanya memperlihatkan wajahnya yang juga putih. Namun yang berbeda, wajah itu terlihat sembab. Matanya basah, hidungnya merah dan suaranya sedikit serak.
"Lo nangis?"
Hiks
Hiks
Yuri kembali terisak, lalu berhambur ke dalam pelukan Deo.
"Kamu kenapa sih?"
"Aku sakit hati. Diduakan tuh rasanya enggak enak. Memangnya satu istri saja kurang, apa?"
__ADS_1
Istri gue kan memang baru satu.
"Cuma gara-gara belum punya anak, terus mau nikah lagi, gitu?"
Gimana mau punya anak, punya SIM aja belum.
SIM 👉 Surat Ijin Menghamili
Yuri terus mengoceh tak jelas hingga dia tertidur dalam pelukan Deo. Deo melihat bagian dadanya yang basah dan lengket karena air mata dan ingus Yuri.
"Ish, jorok banget sih, lo."
Buru-buru dia mengganti bajunya. Saat mau naik lagi ke kasur, Deo melihat ponsel Yuri yang tergeletak di lantai. Dilihatnya layar ponsel itu, dan membaca tulisannya.
Madu Dari Suamiku
Sahabatku Selingkuhan Suamiku
Ibuku Calon Ibu Calon Suamiku (Deo sambil berpikir, jadi ibunya calon mertuanya, gitu? Atau gimana, sih?)
Aku, Suamiku, Dan Kakak Iparku
Menikahi Selingkuhannya Selingkuhan Calon Suamiku (Anjir, judul ribet amat)
Dan masih banyak lagi judul-judul yang tentu saja membuat kepala Deo pening seketika dan membuat hati perempuan ingin melempar panci ke orang.
Deo langsung meletakkan ponsel Yuri ke atas nakas, agar dirinya selalu sehat walafiat. Baru baca judulnya doang loh, itu. Gimana baca ceritanya, coba?
Deo memeluk Yuri, yang wajahnya masih terlihat sembab.
Heran, baca novel doang kok sampai nangis. Tenang aja, gue enggak mungkin ngeduain lo, tapi kalau lo ngizinin, ya Alhamdulillah, hehehe.
.
.
.
Mulutnya komat-kamit. Wajah cemberut, menghela nafas berat, dan berbagai ekspresi yang sejak tadi Deo perhatikan.
"Kamu kenapa, Sayang? Ko sepertinya kesal banget?" tanya Mina kepada menantu menggemaskannya itu.
"Aku lagi baca novel, Mom."
"Terus?"
"Kesel aku tuh, sama jalan ceritanya."
"Heleh, novel doang kok dibikin ribet. Baca ya baca aja kali, jangan dimasukin ke hati," ucap Deo. Dia masih ingat tadi malam, meski pun telah tidur, tapi Yuri masih sesenggukan dalam tidurnya.
Sampai segitunya menghayati isi cerita.
Yuri mendelik tajam pada Deo.
"Dassr, semua lelaki sama saja, maunya menang sendiri. Suami kok begitu, apa kurangnya kami bagi kalian."
"Tuh kan tuh kan, ini nih, gara-gara novel, gue yang jadi sasaran. Apa yang tidak aku beri untukmu? Kamu bisa memiliki hartaku, Esperanza. Namun yang kupinta darimu hanya satu, cukup kamu mengerti aku."
"Tapi Carlos Daniel, aku juga ingin kamu sayang, bukan hanya harta yang berlimpah. Apalah artinya harta tanpa cinta. Merdeka!"
Ray, Mina, Marteen, dan Ara yang kini mendadak pening.
Kenapa kedua bocah di hadapan mereka kini malah main drama?
Sebelum Deo kembali menyahut, Yuri malah ke kamar mandi, kebelet gara-gara kebanyakan minum es.
Deo mengambil ponsel Yuri yang ada di atas meja.
__ADS_1
Wsjahnya langsung cemberut, mulutnya komat kamit bagai baca mantra.
"Apa-apaan ini?"
"Anjir, bego amat jadi istri. Jangan mau bego sama suami macam ono. Kaya enggak ada cowok lain aja. Perlu apa, gue yang nyariin?"
"Goblok, istri selingkuh begitu masih aja disayang-sayang. Cerain napa! Bego amat jadi cowok."
"Ini nih, yang bikin harga diri cowok merosot."
"Cowok kurang iman nih, digoda dikit langsung goyang. Sok cakep banget lo, cakepan juga gue!"
"Dasar pelakor, mau gue timpuk apa lo pake panci?"
"Ya Allah, jangan bikin dia mati. Balas dendam dulu napa!"
Yuri, mertua dan orang tuanya saling pandang.
"Apa sih, Deo?"
"Mami mertua, Deo lagi baca novel nih. Ngeselin banget. Siapa sih nih, yang nulis?"
"Dassr enggak punya etika, selingkuh kok sama adik ipar. Butuh ruqiyah nih, orang. Dah, kalau suami lo selingkuh sama adik lo, lo juga selingkuh aja sama kakak ipar lo. Biar adil!"
"Ih, gue hapus nih ya dari favorit! Awas aja kalau jalan ceritanya enggak sesuai sama yang gue mau!"
"Sukurin lo, cerai juga kan, akhirnya."
Beberapa menit kemudian
Prang!
"Aaaa ... Deo, ponsel gue! Kenapa lo banting ponsel gue?"
"Kesel gue, gara-gara baca novel."
Ray dan Marteen geleng-geleng kepala, sedangkan Mina dan Ara tepok jidat.
"Yuri, kayanya gue butuh ke dokter, darah tinggi gue."
"Dasar, baca ya ba ca aja, kali. Jangan dimasukin ke hati," ucap Yuri menirukan perkataan Deo tadi.
Deo memanyunkan bibirnya.
"Ternyata lo lebih heboh dari gue, kalau baca novel. Pokoknya gue enggak mau tahu, gue minta beliin ponsel keluaran terbaru sama tambahan uang jajan."
Deo langsung menoyor Yuri.
"Kenapa malah minta tambah uang jajan?"
"Kan gue istri yang enggak mau rugi. Gue udah banyak pengalaman berumah tangga, kalau jadi istri itu jangan bego-bego amat. Porotin yang suami sebanyak mungkin."
"Hilih, pengalaman berumah tangga kata lo? Pengalaman baca novel aja."
"Uluh-uluh, pintarnya suami gue."
"Mommy, kita ke mall aja deh. Pusing daddy lihat bocah-bocah ini," ucap Ray.
"Kita juga ke mall, Mi. Papi juga pusing."
"Yuri, buruan. Dari pada lo morotin gue, lebih baik lo porotin daddy aja. Beli ponsel dua Ri, biar kembaran. Besok kita bisa pamer ke anak-anak kalau punya ponsel bagus."
"Ayo ayo ayo!"
Marteen dan Ara terkikik, melihat raut wajah sahabat sekaligus besannya itu.
Dari mana lagi coba, punya menantu yang tak sungkan minta dibeliin ponsel sama mertuanya, apalagi didukung oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
Hanya Deo dan Yuri yang bisa.