
Tidak lama lagi adalah ujian kelulusan. Deo dan Yuri sedang belajar di kamar mereka.
Judulnya sih belajar, tapi hanya berlangsung lima menitan, setelah itu Yuri mengambil laptopnya dan menonton Drakor, sedangkan Deo bermain game.
Merasa bosan, akhirnya Deo tidur-tiduran di paha Yuri, sambil mengelus perut istrinya itu. Dia berharap bisa segera punya anak. Dia tahu tidak mudah tentunya menjadi orang tua, apalagi di usia muda. Deo sudah banyak membaca buku tentang parenting.
🍂🍂🍂
Di kelas, yang biasanya heboh, sekarang lebih tenang. Ada yang membuka buku, ada memegang pulpen, ada lagi yang fokus menatap papan tulis.
Kelihatannya mereka belajar, tapi pikiran mereka melayang entah ke mana.
"Kalian berdua enggak ada yang belajar?" tanya Rizki.
"Enggak. Sudah nasibku terkahir sebagai seorang jenius, jadi enggak perlu repot-repot belajar."
Rizki mendengkus. Percuma bicara dengan Yuri, dia memang tak terbantahkan dan selalu saja ada jawabannya.
Brak
Suara gebrakan meja terdengar, mengagetkan seisi kelas.
"Pulang sekolah nanti kita ke mall, yuk. Pusing aku lihat buku mulu," keluh Chia.
__ADS_1
"Kan hanya dilihat, Chia. Emangnya lo belajar?"
"Ya enggak, sih. Hehehe."
"Ayo kita ke mall, siapa tahu saja Nemu cowok ganteng," ucap Yuri, yang langsung mendapat pelototan dari Deo.
Deo menghela nafas. Dia ingin segera memproklamirkan hubungan dia dengan Yuri. Yang bukan sekedar pacaran saja, tapi sebagai suami istri, agar Yuri tidak direbut oleh orang lain.
Jam istirahat berbunyi, Deo langsung menarik Yuri ke tempat yang sepi.
"Kenapa sih kita ke sini?" tanya Yuri.
Tanpa aba-aba, Deo langsung mencium bibir istrinya itu. Dia sejak tadi sudah gemes dengan Yuri yang selalu membicarakan tentang oppa-oppa ganteng bersama Chia dan Airu. Ya emang sih, yang dibicarakan itu tokoh yang ada di Drakor, tapi tetap saja Deo enggak suka.
Gantengan juga gue, begitu pikirnya.
Beberapa anak kelas lain memergoki Deo yang sedang mencium Yuri.
"Ya ampun, enggak ada tempat lain apa buat ciuman? Kan gue jadi mupeng," ucap yang lainnya.
"Yee, dasar."
Mereka berdua langsung pergi, pura-pura enggak tahu saja, meski jantung mereka berdetak kencang.
__ADS_1
"Jangan ngomongin cowok lain terus di depan aku, Yuri. Aku ini kan suami kamu."
"Iya deh." Yuri langsung patuh, membuat Deo tersenyum.
"Nanti aku ngomonginnya kalau enggak ada kamu saja."
Senyum di bibir Deo langsung menghilang. Dia benar-benar dibuat gemas oleh istrinya yang cantik itu.
Pengen dia kekepin terus di dalam kamar. Dia mengusap kepala Yuri. Wajah cantik itu tersenyum, terus gimana Deo bisa marah? Dia tahu kalau Yuri memang suka sekali membuat Deo kesal. Bukan karena benci, tapi karena Yuri memang selalu iseng padanya.
Cup
Deo kembali mengecup bibir Yuri.
"Kamu milik aku, hanya milik aku."
Mereka tidak sadar, kalau di sana ada CCTV. Tentu saja setelah kejadian buruk yang menimpa Yuri, banyak CCTV yang tersembunyi tanpa diketahui oleh para murid.
"Ayo ke kantin, kamu harus makan banyak."
Deo menggandeng tangan Yuri.
Sepanjang koridor, mereka terus saja diperhatikan oleh para murid. Mantan ketua OSIS dan wakilnya, yang dulu setiap hari selalu saja bertengkar dan saingan akut, kini terlihat mesra dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
"Wahhh, apa gue juga harus berantem dulunya sama cowok ganteng di sini, kali saja keseringan berantem nanti gue jadian sama dia," ucap anak kelas satu.
"Dasar tukang ngayal!" ucap teman sekelasnya.