Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 66 Pilu


__ADS_3

Satu minggu berlibur bersama, membuat hubungan mereka semua semakin erat di saat-saat terakhir kebersamaan mereka.


Hari ini, mereka akan kembali ke Jakarta. Suasana gaduh terdengar di dalam bis. Yuri bisa sedikit menghilangkan sedikit kesedihan dan kegelisahannya.


Mereka berpisah di sekolah, lalu kembali ke rumah masing-masing.


Yuri dan Deo masuk ke kamar mereka. Wajah ceria Yuri selama satu minggu ini kembali menghilang. Dia selalu saja menghindari Deo dan keluarga mereka. Takut mendengar kalau dirinya dilarang untuk kuliah di Swiss. Juga takut mendengar kalau Deo akan kuliah di Amerika.


Selama di rumah, Yuri selalu menyibukkan dirinya dengan menonton drama dari berbagai negara.


"Kamu ngapain nonton drama terus, sih?" tanya Deo. Deo sedang berkumpul bersama Gara dan Qavi.


Yuri sendiri sedang bersama Airu dan Chia.


"Aku cuma mau tahu, mereka kalau kissing kaya gimana, sih," jawab Yuri polos, yang dibalas dengan tawa malu tapi mau Airu dan Chia.


Deo mendengkus, dasar cewek.

__ADS_1


🌼🌼🌼


Malam ini diadakan pesta perpisahan sekolah. Acara yang diadakan di hotel berbintang. Deo dan Yuri tampil dengan memukau. Sama-sama menggunakan pakaian berwarna biru. Deo dengan jasnya dan Yuri dengan gaunnya.


Mereka bergandengan tangan memasuki ballroom hotel. Di sana, teman-teman sekelas mereka sudah berkumpul di salah satu sudut.


Acara ini bukan hanya dimeriahkan oleh adik-adik kelas mereka yang akan memberikan penampilan terbaik mereka, tali juga diisi oleh band terkenal.


Kepala sekolah, staf guru, juga para donatur sudah duduk di kursi yang telah disediakan.


"Ayo kita duduk. Sekolah sudah menyewa beberapa band terkenal untuk acara ini," ucap Chia.


"Mimpimu terlalu tinggi!" sungut Gara.


"Sirik aja!"


"Selagi masih bisa bermimpi, ya bermimpilah setinggi mungkin. Nanti kalau sudah nikah, udah enggak bebas lagi, loh. Mau ini enggak bebas, mau itu enggak bebas!" ucap Yuri.

__ADS_1


Deo tersentak mendengar perkataan Yuri. Bukan hanya Deo, keluarga mereka yang duduk tidak jauh dari situ, ikut mendengarkan perkataan Yuri yang memang cukup nyaring itu.


Bagi orang lain yang mendengar, itu mungkin kalimat biasa saja. Tapi bagi Deo dan keluarga mereka, itu seperti ungkapan isi hati yang selama ini terpendam.


Kedua orang tua Yuri bungkam. Mereka memang tidak berpikir apakah pernikahan dini anaknya itu memberikan Yuri kebahagiaan atau tidak. Sikap Yuri yang selalu ceria dan tidak pernah mengeluh, membuat mereka berpikir kalau semuanya baik-baik saja.


Pernikahan membuat langkah Yuri memang tidak sebebas dulu. Jika dulu Haris ada ijin dari orang tua, maka kini harus ada ijin dari suami.


Kalau dulu jangan sampai durhaka kepada orang tua, maka kini jangan sampai durhaka pada suami.


"Iya, ya. Untung aku belum memikirkan pernikahan. Ya kali aku masih delapan belas tahun sudah mau cepat-cepat nikah. Nanti waktu teman-teman aku main ke mall, aku malah gendong anak dan gantiin popok," ucap salah satu teman sekelas Yuri polos.


"Iya. Kita mah kuliah dulu yang tinggi, kerja, baru nikah. Nanti kalau buru-buru nikah, bisa dikarang ini itu. Enggak usah kerja, di rumah aja urus suami sama anak. Masak yang enak, rumah Haris bersih bla bla bla ...," lanjut yang lain, membuat suasana hati Yuri yang seharusnya senang, mendadak pilu.


.


.

__ADS_1


.


Yang masih punya vote, bisa kasih ke sini. Jangan lupa like dan hadiah ya🤗


__ADS_2