
Arby melihat Freya dan Mico yang saling melemparkan senyum. Ada perasaan tidak suka saat melihat itu. Bahkan Freya merangkul lengan Mico di hadapan orang-orang. Mereka seperti melihat konser Freya dan Mico.
"Anjir, ternyata Mico keren banget, ya."
"Mereka kelihatan serasi, ya."
Lagi, komentar-komentar yang bagi orang biasa-biasa saja, tapi tidak bagi seorang Arby. Rahangnya mengeras dengan gigi bergemelatuk dan tangan mengepal.
🌻🌻🌻
Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun sekolah. Freya dan Mico menjadi couple yang dipuja-puja, membuat keadaan semakin memanas.
Freya berjalan di koridor, dia kembali melihat Nuna dan Arby berdua. Gadis itu melewati keduanya begitu saja. Tidak ada cibiran, tidak ada kata-kata hinaan atau tatapan mencela. Dia memperkakukan keduanya bagai debu, harus dihindari agar tidak membuat kulit iritasi.
"Mico!" teriak Freya. Gadis itu berlari ke arah pemuda berkulit putih tersebut. Dia langsung menggandeng tangan Mico, tidak peduli dengan tatapan-tatapan dari berbagai sudut.
Mico dengan senang hati merangkul Freya, lalu membisikkan sesuatu yang membuat gadis itu terkikik geli. Wajahnya terlihat berbinar, dan Arby sangat tidak menyukai itu.
Nuna melihat perubahan pada wajah Arby, lalu menghela nafas pelan.
Di sudut lain
"Si Arby nyari gara-gara terus."
"Dah biarin, ntar kalau bininya diambil orang baru tahu rasa dia."
Marcell dan Vian masih terus berkomentar, sedangkan Ikmal diam saja.
🍃🍃🍃
Asap rokok mengepul di halaman belakang sekolah.
"Bagi, dong!"
Orang itu menengok ke sumber suara. Freya memberikan sebatang rokok kepada Mico beserta koreknya. Kedua murid itu menikmati rokok tersebut dengan santai tanpa ada perasaan takut ketahuan.
Selama ini diam-diam Freya memang sering merokok, juga bolos sekolah. Jika dia bilang ingin ke UKS, itu hanya alasannya saja.
Mico tahu hal itu, namun dia tidak melarang, toh dirinya juga seperti itu. Mereka berdua memang didekatkan karena hal yang sama.
Freya tidak ingin hidupnya terus-terusan diatur. Dia juga tidak peduli **** Mico atau siapapun tahu.
Memang gue pikirin, itulah yang ada dalam pikirannya.
Mereka duduk selonjoran di lantai. Kembali, Freya mengambil sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya dari hidung dan mulut.
"Gimana sih caranya, biar asapnya bisa berbentuk gitu?" tanya Freya. Mico lalu mengajarkan Freya, namun selalu gagal.
"Lulus sekolah mau ke mana, Mic?"
"Ke hatimu," jawabnya santai.
__ADS_1
"Kamu gak pantas Mic, sok romantisan gitu."
Mico tertawa mendengar perkataan Freya. Keduanya memang sangat cocok.
Tidak pernah menggurui satu sama lain.
Tidak saling menjerumuskan.
Tidak juga saling illfeel.
Karena sekali lagi, mereka merasakan hal yang sama.
Tertekan
Orang-orang berpikir bahwa murid berprestasi, apalagi memiliki keluarga utuh dan terpandang berarti hidupnya baik-baik saja.
Salah
Selama ini dia tidak pernah baik-baik saja. Dia menutupi semua itu dengan sikap cueknya. Tetap berprestasi dan bersahabat dengan tiga gadis lainnya.
Namun, perjodohan dan dilanjut dengan pernikahan itu mulai mengusik sisi lain dari dirinya. Apalagi saat dia terusir dari rumahnya sendiri dengan alasan harus ikut suami.
Tidak ada yang tahu, bahwa begitu Freya menginjakkan kaki di rumah orang tua Arby, adalah awal dari tragedi yang mulai bermunculan satu demi satu, dan mereka akan menyesali semua itu.
"Bosan aku, ada rokok dari luar, gak?"
"Nanti aku pesan sama teman."
"Besok aku mau bolos, ah."
Freya tertawa, merasa senang ternyata Mico mengetahui keinginannya.
"Besok malam aku mau ke club malam,"
"Dih, sok-sok'an bilang, biar aku merengek minta ikut, kan?"
Mereka berdua tertawa bersama.
Club malam tersebut milik sahabat Mico yang usianya sudah dua puluh tahun, jadi dia bebas keluar masuk tanpa ada yang melarang.
Di sisi lain, Arby sedang termenung. Dia sama sekali tidak dapat konsentrasi dengan pelajaran yang sedang guru terangkan.
Pikirannya bercabang-cabang, ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Freya, juga ingin memberikan kejutan kepada gadis pujaannya.
❤❤❤
"Jadi bagaimana dengan anak-anak kita?"
"Masih seperti biasa."
"Oya, proyek yang di Bali bagaimana?"
__ADS_1
"Segera dilaksanakan setelah Arby lulus SMA. Aku ingin dia fokus dulu dan menikmati masa-masa terakhir menjadi murid SMA, karena setelah itu dia akan sibuk bekerja di perusahaan juga sambil kuliah."
"Bagaimana sikap Freya selama di rumahmu?"
"Ya seperti yang kamu kira. Kami ingin mereka tinggal dulu di rumah, nanti setelah dia lulus sekolah, mereka bisa pindah ke rumah Arby kalau mereka mau."
"Kamu benar, untuk saat ini jangan biarkan mereka tinggal terpisah dari orang tua, meskipun mereka sudah terpisah."
🍁🍁🍁
"Sebenarnya aku ingin cepat-cepat punya cucu."
Elya (mami Arby) sedang berbincang di salah satu cafe dengan Ami (mama Freya).
"Sepertinya masih lama, kamu tahu sendiri kan bagaimana Freya itu," Ami menghela nafas saat mengingat bagaimana kelakuan putrinya itu.
"Aku ingin sekali mereka menginap di rumah. Aku kan tidak punya anak laki-laki."
"Bikin lagi, dong."
"Kamu ada-ada saja, aku ini sudah tua. Dulu, setelah melahirkan Anya, aku dan papanya berharap memiliki anak laki-laki. Lalu saat hamil Freya, aku dan papanya sangat berharap kalau dia adalah laki-laki. Saat USG dokter mengatakan bahwa anak kami laki-laki. Kami menyiapkan nama yang bagus untuk anak laki-laki kami, membelikan berbagai jenis mainan mulai dari mobil-mobilan, robot-robotan, bahkan baju dan kamar kami siapkan untuk anak laki-laki. Setelah Freya lahir, ternyata malah perempuan lagi. Kedua orang tua kami (dari pihak mama dan papa Freya) sangat kecewa saat itu, terutama dari pihak keluarga Wildan, dia berharap ada anak laki-laki sebagai penerus keluarganya juga yang melanjutkan perusahaan setelah dia pensiun dan ada yang membantu Wildan. Tapi ya mau diapakan lagi."
"Lalu?"
"Semua barang-barang itu tetap digunakan untuk Freya. Baju-baju, mainan, semuanya tetap untuk Freya."
Elya masih diam mendengarkan cerita Ami.
"Lalu bagaimana dengan Anya? dia juga perempuan."
"Oh, kalau Vanya memang sejak awal dokter mengatakan dia perempuan. Lagi pula kami sudah tidak banyak berharap bahwa Anya laki-laki. Saat pertama lihat Vanya, mamaku senang banget, katanya mirip dengannya saat masih kecil, juga sedikit mirip dengan papaku. Makanya aku pengen bawa pulang Arby ke rumah," Ami tertawa kecil.
"Bagaimana kalau nanti kita liburan ke vila."
"Baiklah, aku setuju. Meskipun menantu, tapi aku sudah menganggap Arby sebagai anak kandungku sendiri."
"Mungkin kalau Freya itu laki-laki, maka Arby akan dijodohkan dengan Vanya, ya."
Mereka tertawa bersama tanpa ada yang menyadari bahwa sejak awal ada yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan sangat jelas.
Freya menggigit bibirnya dengan kuat, menahan isak tangis yang sejak awal dia tahan. Bahkan dia kini membekap mulutnya dengan telapak tangannya. Dadanya terasa sakit mendengar pembicaraan itu. Air matanya mengalir dan nafas yang semakin sesak.
Anak laki-laki.
Mereka mengharapkan anak laki-laki.
Mereka kecewa karena ternyata aku terlahir sebagai perempuan.
Bahkan di awal aku lahir, mereka sudah membenciku.
Mengapa tidak membuangku saja?
__ADS_1
Kakaknya diberi nama Anya, sedangkan adiknya diberi nama Vanya. Mengapa hanya dia yang berbeda? Sejak dulu Freya sudah bertanya-tanya tentang hal itu, namun dia diam saja. Kini dia tahu alasannya.
Aku anak yang tak pernah diharapkan.