Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
36 Bunglon


__ADS_3

Keesokan harinya


"Freya, kamu baik-baik saja?"


Freya hanya bergumam pelan. Wajah kuyunya direbahkan di atas meja, dengan kantong mata yang menghitam dan mata yang redup.


"Eh, Freya, kamu tahu enggak?"


"Apa?"


"Dua hari yang lalu bu Atika jatuh dari tangga di gedung timur!"


"Hah? Serius?"


"Iya."


"Terus sekarang gimana?"


"Dengar-dengar sih masih dirawat di rumah sakit."


"Owh."


Freya menghela nafas. Semakin sulit bagi dirinya membedakan mana yang memang dia lakukan, mana yang tidak. Namun, entah kenapa Freya terlihat santai. Tidak ada rasa takut dalam dirinya bila ketahuan.


Di rumah sakit


Bu Atika sudah sadarkan diri. Dia mengalami geger otak ringan, dan melupakan peristiwa yang terjadi di hari itu. Tidak ada CCTV yang terpasang di lokasi kejadian. Dengan tidak adanya bukti dan saksi, kejadian tersebut dianggap murni kecelakaan.


Lagi pula siapa yang berniat mencelakai guru BK yang dianggap ramah tersebut? Apalagi di lingkungan sekolah.


🌸🌸🌸


Hari berlalu, selama satu minggu ini kondisi tubuh Freya memburuk. Selama di rumah, entah berapa banyak rokok dan minuman keras yang dia habiskan, yang bungkus dan kalengnya dia buang diam-diam di luar rumah.


Saat di sekolah, yang dia lakukan juga seperti itu. Minum, merokok, atau bolos sekolah. Baik dilakukan sendiri, atau tanpa sengaja bertemu dengan Mico saat pemuda itu juga ingin melakukannya. Ya, mereka memang partnert yang cocok dalam melakukan kenakalan remaja, kecuali free s*x.


Nilai-nilai Freya masih tetap bagus. Itu dilakukan agar image dia sebagai murid teladan yang berprestasi tetap terjaga.


Siapa sih yang akan berpikiran buruk dengan murid baik-baik seperti dirinya?


"Dasar bunglon!" ejek Mico.

__ADS_1


Bukannya tersinggung, Freya justru tertawa.


"Menjadi bunglon itu bagus untuk melindungi diri. Toh nilai-nilaiku bagus karena hasil usahaku sendiri, bukan nyontek. Saat nilaiku jelek, mereka menyuruhku untuk mengerjakannya kembali. Mereka lebih cemas dengan nilaiku, dibanding diriku sendiri. Aku tidak pernah takut nilaiku jelek, tapi mereka. Takut kehilangan nama baik sekolah dan murid berprestasi yang mengharumkan nama sekolah mereka."


Ya, mereka berdua memang cocok dalam cara mengekpresikan diri. Mico memang bandel, tapi dia tidak menjerumuskan orang agar rusak. Dia juga tidak pernah ingin tahu urusan orang apalagi mencampurinya. Pengecualian dalam masalah Freya, tapi dia juga tidak pernah bertanya apa-apa pada Freya, karena tidak ingin membuat Freya teringat apalagi trauma.


Dia bisa mengerti Freya, begitu pun Freya yang bisa memahami Mico, karena mereka sama-sama memahami, bahwa setiap kenakalan pasti ada penyebabnya.


Di sudut sekolah, di tempat tersembunyi, tempat yang menjadi saksi bahwa ada sepasang remaja sekolah yang sering berbagi cerita, tempat yang bertahun-tahun kemudian akan mereka kenang dan kangeni. Tempat yang membuat pengalaman hidup mereka lebih bermakna dan bagai mana harus bersikap untuk masa depan.


🌻🌻🌻


Freya duduk di sebelah Arby, dia terpaksa harus ikut menyambut keluarga Arby yang dia tidak tahu siapa. Seorang wanita paruh baya beserta suaminya. Freya menatap wajah sepasang suami istri itu, merasa pernah melihat tapi di mana? Apa di acara pernikahan dia dengan Arby?


Begitu pun dengan suami istri itu, memandang Freya dengan tatapan lembut, membuat Freya jengah dan mau muntah. Perutnya serasa dikocok, entah berapa kaleng bir yang kembali dia minum setelah pulang sekolah, membuatnya harus melakuan pembersihan agar tidak ada aroma rokok dan bir di tubuh dan kamarnya.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Baik-baik saja, kan?"


Freya mengangguk pelan, terlalu enggan untuk berbasa-basi.


Tak cukup sampai di situ, mereka masih mengajak Freya mengobrol, bertanya tentang sekolahnya, teman-temannya, bahkan keluarganya, membuat Freya semakin jengah.


"Aku mau tidur duluan, pusing."


Sesampainya di kamar, dia langsung muntah. Duduk bersandar di dalam kamar mandi, sambil memijat keningnya. Setelah merasa kuat, dia menuju tempat tidur, meneguk sekaleng bir, kemudian meremas kaleng tersebut hingga remuk.


Entah dia sengaja menyiksa diri, atau sebagai bentuk pelampiasan, namin baginya ini salah satu bentuk kebebasan di tengah kukungan keluarganya dan keluarga Arby.


🍁🍁🍁


Sehari sekolah, sehari bolos, dengan dalih sakit dan pergi ke UKS, padahal panjat tembok. Seperti itu terus selama satu bulan ini. Guru-guru pun percaya begitu saja, karena melihat wajah Freya yang memang pucat dan terlihat lemah.


"Bolos yuk, sekali-sekali," ajak Freya.


Nania dan Aruna memandang heran Freya, namun mereka langsung bersorak kegirangan.


"Akhirnya, murid teladan ini melanggar peraturan juga."


Belum tahu saja mereka.


Ketiga gadis itu akhirnya keluar lagi dari sekolah, untung saja bel masuk belum berbunyi, jadi mereka bisa bebas keluar.

__ADS_1


"Eh, itu Mico, kan?" tanya Aruna.


Freya langsung membuka kaca jendelanya dan berteriak.


"Woy Coco, aku mau bolos dong. Mau ke mall, makan, nonton, shoping, lihat cowok ganteng."


"Woy Yaya, aku juga mau bolos dong. Latihan band, memikat hati cewek, terur PHP-in, deh."


Freya tertawa, mereka berdua menjadi tontonan di lampu merah. Dua murid sekolah yang tak tahu malu mengumbar ingin bolos.


"Eh, kita lihat Mico latihan band, yuk. Tahu gak, sejak penampilan kalian di acara ulang tahun sekolah, jadi banyak cewek yang penasaran sama dia. Sepupu aku yang lihat video kalian saja sampai kesemsem."


Mereka lalu menyusul Mico dari belakang. Mico yang melihat mobil Aruna di belakangnya, hanya diam saja.


Mereka kini berada di studio musik, di sana sudah ada beberapa pemuda. Dengan cuek Freya duduk di sofa sambil membuka sekaleng minuman soda yang sudah di sediakan di sana.


Freya memang sudah beberapa kali ke sini, jadi dia sudah mengenal teman-teman Mico. Nania dan Aruna pun bisa cepat berbaur dengan mereka. Mungkin karena teman-teman Mico yang memang ramah, cuek dan apa adanya.


Di sekolah


Nuna memandang tiga bangku kosong dengan pandangan nanar. Dirinya terasingkan, tak dianggap, dan ditinggalkan.


Dia teringat saat anak-anak dari suami-suami baru mamanya memakinya.


Mamanya Nuna sudah empat kali menikah.


Suami pertama merupakan ayah Nuna, bercerai saat Nuna berusia sepuluh tahun.


Suami kedua, menikah setelag lima bulan bercerai dengan ayah Nuna. Statusnya masih suami orang, menikah selama dua tahun lalu bercerai.


Suami ketiga, menikah enam bulan kemudian setelah bercerai. Suami ketiganya seorang duda, menikah tiga tahun lalu bercerai.


Suami keempat, statusnya pun masih menjadi suami wanita lain, dan masih bertahan hingga saat ini.


Itulah mengapa banyak orang yang membencinya, karena dia anak dari seorang pelakor yang sering gonta ganti suami.


Tentu saja bukan suami biasa, karena mereka haruslah kaya raya.


Selama ini Nuna berusaha agar tidak banyak yang tahu tentang jati dirinya. Dia menganggap mama tirinya sebagai mama kandungnya sendiri. Bersikap kepada orang-orang bahwa itu adalah mama kandungnya.


Selama ini sahabat-sahabatnya memang sangat jarang bertemu dengan orang tuanya, karena mereka lebih sering berkumpul di rumah Nania atau Aruna.

__ADS_1


Nyatanya, sahabatnya sendirilah yang mengorek luka itu.


Mamanya pelakor, anaknya pun pelakor.


__ADS_2