
Dua keluarga itu jalan-jalan ke Jogja, menghabiskan sisa libur semester Yuri dan Deo.
"Kenapa harus ke Jogja, sih?"
"Kita kan mau merayakan honey moon kalian."
"Honey moon itu seharusnya buat pengantin baru saja, Pi. Bukan untuk pasangan kadaluarsa seperti kalian. Kenapa kalian malah ngikut-ngikut?"
Pletak
Yuri meringis saat keningnya disentil oleh Marteen.
"Enggak sopan ya, kamu, sama orang tua dan mertua."
Ya lagian, sudah tua malah ikut-ikutan bulan madu.
Tiga hari di Jojga berlalu begitu saja, hingga saatnya Deo dan Yuri kemabli menjadi murid SMA.
Saat sarapan pagi.
Yuri menengadahkan tangannya pada Deo.
"Apaan?"
"Uang jajan. Kan kamu sekarang suami aku, jadi aku minta nafkah sama kamu."
"Ck, sekarang aja, baru kamu ngakuin aku sebagai suami."
Namun Deo tetap membuka domoetnya juga.
"Kata mami, uang yang dimiliki istri mencerminkan bagaimana sikap suami pada istrinya. Kalau suaminya kaya dan memberikan uang yang lebih dari cukup untuk istrinya, berarti dia suami yang baik dan pengertian."
Deo mengangguk paham, lalu dia mengeluarkan selembar uang brrwarna merah.
"Ini untuk beli es krim."
Lalu selembar lagi
"Yang ini untuk jajan permen."
Selembar berikutnya, masih berwarna merah.
"Ini untuk beli ayam goreng."
Selembar lagi
"Ini untuk beli bedak bayi."
"Masih kurang?" tanyanya kemudian setekah semua uang berwarna merah telah berpindah tangan.
"Iya, kurang."
Deo lalu memberikan black card.
"Asik asik asik ... Papi, Mami, aku jadi kaya sekarang. Wahhh, ternyata enak ya, punya suami tajir. Tahu gini dari dulu aja aku nikah sama Deo."
Deo menghela nafas saat tahu bahwa dirinya telah dikelabui oleh istri matrenya itu.
Rsy dan Mina terkekeh melihat tingkah menantu mereka.
Yuri mengibas-ngibaskan beberapa uang erwarna merah itu di hadapan Deo.
"Suamiku, kerja yang rajin ya, biar bisa belikan aku mall dan isi-isinya."
Hadeuh, hidupku bisa kacau punya istri celamitan kaya gini.
Cup
Cup
__ADS_1
Tanpa sungkan Yuri mengecup kedua pipi Deo, membuat pria beranjak dewasa itu jadi panas dingin.
"Yang ini belum."
Deo memonyongkan bibirnya. Yuri langsung menjepit tangannya diketiak, lalu mengusapnya di bibir Deo.
"Jorok banget, Kate!"
Orang tua Yuri dan Deo hanya bisa memegang perut mereka karena tertawa.
"Sudah, sudah, ayo sarapan, biar tidak kesiangan," ucap Mina.
"Yuri, nanti papi dan mami kembali ke rumah. Terserah kamu sama Deo mau tinggal di sini, atau di rumah mami."
"Kami enggak dikasih rumah sendiri, gitu?" tanya Yuri.
"Ya ampun, Yuri, kalau mau matre tuh jangan mencolok napa, jual mahal dikit."
"Jaim mah, enggak bakal dapat apa-apa nanti aku, Mi."
Mina mencubit gemas pipi menantunya itu. Tentu saja Ray dan Mina tidak akan tersinggung apalagi marah dengan Yuri, justru mereka senang kalau Yuri bisa bersikap santai dengan mereka dan tidak jaim. Apalagi keluarga Ray sudah lama bersahabat dengan keluarga Marteen.
"Oya, mulai nanti malam, kalian tidur sekamar ya. Ingat Deo, kalau mau malam pertamaan, jangan sampai maksa, loh."
"Wah asik, akhirnya juniorku diperawanin juga," ucap Deo.
Yuri langsung menepuk lengan Deo.
"Apaan, sih?"
"Kalau ngomong yang beginian, pura-pura malu, napa. Jangan mupeng gitu. Sebagai perawan tingting dan perjaka tongtong, jangan kelihatan murahan," seru Yuri.
"Kalau malu-malu, nanti aku enggak dapat apa-apa," balas Deo mengikuti perkataan Yuri.
Ara dan Mina tertawa ngakak, sedangkan Marteen dan Ray langsung mengacungkan dua jempol mereka kepada Deo.
"Makan yang banyak, Yang, kasihan baby kita nanti kelaparan."
Deo mengelus perut Yuri.
"Baby, baby, baby gundulmu!"
"Sudah napa, mommy jadi pingin pipis, nih."
Selesai makan Yuri langsung mencium tangan kedua orang tuanya dan mertuanya.
Dia juga mencium tangan Deo.
"Hue pergi dulu ya, Hubby." Yuri lalu pergi ke sekolah lebih dulu, dia memang tidak pergi bersama Deo agar tidak menimbulkan pertanyaan dari orang-orang.
Deo menahan senyum akan sikap Yuri.
"Dah, kalau mau senyum, mah, senyum saja. Enggak usah ditahan-tahan," ucap Ray.
Deo mencebikan bibir pada daddynya.
"Deo, ingat baik-baik pesan daddy."
Deo lalu melihay daddy yang sudah mulai serius.
"Jagalah Yuri sebaik mungkin, sekarang dia adalah istrimu, meski belum ada cinta di antara kalian. Meskipun di sekokah kalian sering bertengkar karena saingan, tapi jangan menjadikan hal itu masalah dalam rumah tangga kalian. Berbanggalah kamu memiliki istri yang cerdas seperti Yuri. Jika di sekolah prestasinya lebih baik darimu, jangan berkecil hati, jangan menganggap Yuri saingan, juga jangan menganggap bahwa dia merendahkanmu. Begitu juga sebaliknya, jika prestasimu lebih baik darinya, jangan merendahkannya, menertawakan, juga meremehkan. Kalian harus saling mendukung, saling menyemangati dan saling melengkapi."
"Iya, Dad."
"Jangan membuatnya sedih apalagi menangis. Jangan dekat-dekat sama peremluan lain, jagalah perasaannya."
"Iya, Mom."
"Juga jangan lupa tambahin uang jajannya," tambah Ara, membuat yang lain tertawa.
__ADS_1
Setelah salim kepada kedua orang tua dan mertuanya, Deo lalu pergi ke sekolah.
Di sekolah
"Yuri, kamu ke mana saja, sih?" tanya Chia.
Yuri baru ingat, saat dirinya kabur di hari pernikahannya, ponselnya dia matikan karena tidak inginndihubungi oleh keluarganya, dan saat papinya mengalami serangan jantung palsu, dia memang tidak mempedulikan hal yang lain, termasuk nonton drama korea di ponselnya.
"Iya, aku sibuk banget."
Tidak lama kemudian Deo datang dengan sejuta pesona yang membuat cewek-cewek heboh. Namun seperti biasa, ketua osis itu terlihat cuek.
Namun yang berbeda, jika biasanya dia dan Yuri akan berdevat saat bertemu, maka kali ini Deo diam saja.
"Kalian berdua berantem?" tanya Airu.
"Lah, kan biasanya tiap kali ketemu memang mereka berantem," sahut Chia.
"Maksudnya, biasanya kan berantemnya berisik, ko' sekarang diam-diaman, sih?"
Iya juga, sih.
Chia, Airu, Gara dan Qavi melihat keanehan pada Yuri dan Deo. Tidak ingin dicurigai, Deo akhirnya membuka suara.
"Tadi pagi aku habis dirampok."
"Hah?"
"Dirampok?"
Gara dan Qavi langsung mendekati Deo. Chia dan Airu ikut memasang kuping, sedangkan Yuri manyun.
Perampoknya, kan, dia.
"Kamu laporin ke polisi?"
"Sudah ditangkap?"
"Enggak, aku biarin aja."
"Kenapa?"
"Nanti tuh orang ngerampok di tempat lain, kan bahaya."
"Soalnya rampoknya cewek."
"Hah?"
"Gila banget tuh, cewek," ucap Gara.
Yuri kembali manyun.
Sialan, aku tuh cantik, bukannya gila.
"Apa saja yang diambil?"
"Semua uang cashku, juga black card."
"Anjir!"
"Cepat blokir tuh kartu, biar enggak bisa dipakai sama cewek gila, itu."
Yuri mendelik tajam pada Qavi.
Enak aja main blokir, aku kan belum icip-icip tuh kartu.
Mereka terus saja bicara tanpa ada yang memperhatikan segala macam ekspresi Yuri, kecuali Deo, yang sejak tadi menahan senyum dengan tingkah Yuri yang menggemaskan.
Hah, jadi pengen cepat-cepat malam pertama.
__ADS_1