
"Pak, kalau liburan dulu baru ujian boleh, gak?"
"Boleh, kamu bikin sekolahan sendiri, ya?"
"Sukurin!"
"Mampus!"
"Apa, kalian juga pasti ngarep liburan mulu, kan?" tanya Rizal.
"Iya, dong!" jawab mereka serempak.
Ada yang beda di kelas ini, jika biasanya Yuri paling heboh, kini gadis cerewet penyuka cilok itu hanya diam saja.
"Yuri, lo sakit?" tanya Chia.
Seketika Deo melihat ke arah Yuri yang wajahnya sudah pucat dengan keringat dingin.
Deo langsung membawa Yuri ke UKS dengan cara menggendongnya. Sontak hal tersebut membuat seisi kelas menjadi geger.
"Wah, cinta bersemi di dalam kelas."
"Dari benci jadi cinta."
"Dari rival jadi partner."
Deo langsung membaringkan Yuri di atas brankar, lalu dirinya ikut berbaring di brankar yang bersebelahan dengan brankar Yuri.
Saat jam istirahat, Chia, Airu, Gara dan Qavi datang ke UKS karena Deo tak kembali sejak membawa Yuri tadi.
Saat mereka membuka pintu, dilihatnya Deo dan Yuri yang tidur di brankar masing-masing.
"Woy, Deo. Lo ngapain di sini?" Gara mengguncang badan Deo.
"Tar dulu, satu jam lagi," ucap Deo masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Anjir, biasanya orang-orang bilang tunggu lima menit lagi, lah dia ngelunjak sampai satu jam?"
Tapi dengan tak tahu malunya, Chia dan Airu, juga Gara dan Qavi mengambil posisi paling enak dan ikut tidur.
Jadilah UKS itu menjadi hotel dadakan, bahkan posisi tidur mereka seperti kaya tidur di rumah sendiri.
Seorang guru dan dokter sekolah memasuki ruangan itu, dan terpengrangah melihat enam murid tidur nyenyak, apalagi dua di antaranya adalah idola sekolah, ketua dan wakil OSIS.
Dikihat dari wajah mereka, hanha satu yang layak disebut pasien, sedangkan yang lainnya pasien abal-abal.
Dokter dan guru itu membangunkan mereka satu persatu, kecuali Yuri.
"Kalian ngapain tidur di sini?" omel guru itu.
Yuri yang merasa terganggu, akhirnya ikut bangun.
"Yang sakit hanya Yuri, kalian ngapain?"
"Kan solidaritas, Pak. Kami menemani Yuri, kali saja dia membutuhkan semangat dan dukungan."
Pak Ayung dan dokter Lina melongo mendengar jawaban Chia yang ngelantur ke mana-mana.
"Kamu kira ajang pencarian bakat?"
"Stt, jangan berisik, Pak. Kasihan tua Yuri."
Wajah Yuri memang terlihat pucat, dan tak lama kemudian dia muntah di tempat. Mereka langsung panik melihat kondisi Yuri. Untung saja ada dokyer, jadi Yuri bisa langsung diperiksa.
"Perut kamu sering keram?"
"Iya, Dok. Tiap bulan pasti keram."
"Suka muntah-muntah juga?"
"Kalau lagi masuk angin sih, kadang suka muntah dan BAB. Tapi kalau keram, gak nyampe muntah kadang mual."
__ADS_1
"Sebaiknya kamu jangan sekolah dulu, ya. Istirahat saja yang cukup. Makan makanan yang sehat dan olah raga yang cukup. Kamu hubungi orang tua kamu untuk menjemput."
Yuri hanya mengangguk tanpa menjawab. Deo yang melihatnya merasa tak tega. Biasanya istrinya itu selalu bawel dan heboh sendiri.
"Biar saya saja yang antar pulang."
Tanpa menunggu persetujuan, Deo langsung menggendong Yuri.
"Aku mau tidur di rumah mama."
Deo mengangguk, melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
Sesampainya di rumah Marteen, asisten rumah tangga membukakan ointu dan terkejut melibat Deo yang menggendong Yuri yang berwajah pucat. Kebetulan di rumah ada Marteen dan Ara.
"Loh, Yuri kenapa?"
"Sakit, Mi."
Marteen dan Ara mengikuti Deo ke kamar Yuri.
"Papi panggil dokter dulu."
"Tadi di sekolah sudah diperiksa dokter, Pi."
"Bi, tolong siapkan bubur dan sop untuk Yuri."
Setelah makanan siap, Deo membangunkan Yuri dan menyuapinya dengan telaten, juga memberinya obat. Tak lama kemudian Yuri kembali tidur. Deo juga akhirnya ikut-ikutan tidur bersama Yuri.
Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar Yuri terbuka. Chia dan Airu syok melihat Deo yang tidur di sebelah Yuri.
Entah polos atau apa, kedua gadis itu akhirnya ikut nimbrung di sebelah Yuri dan tidur, melanjutkan kegiatan di UKS tadi.
Sore harinya, Ara ingin membangunkan Yuri dan Deo yang diikuti oleh Marteen, Ray dan Mina yang mendaoat kabar bahwa Yuri sakit dan ada di rumah Marteen bersama Deo. Begitu pintu dibuka, mereka tak ada yang langsung angkat bicara.
Satu pria dengan tiga perempuan.
__ADS_1
"Aaa ... Deo, mommy hanya mau punya satu menantu, bukan tiga!"