Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
52 Pesan


__ADS_3

"Kira-kira ciwik-ciwik itu pada nonton 21+ gak, ya?" tanya Vian penasaran.


Arby, Marcell, Vian dan Ikmal sedang menonton bola di ruang keluarga.


"Kenapa, ngiri ya?" Ikmal tersenyum mengejek pada Vian, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Sembarangan, kalau ngomong tuh suka bener, deh!"


Marcell langsung mengusap muka Vian dengan telapak tangannya, yang pikirannya sebelas dua belas dengan dirinya ... sama-sama ngiri, hahaha.


"Anjir, bau popcorn, tahu."


Kerusuhan mulai terjadi dengan ketiga pria itu, sedangkan Arby sibuk sendiri dengan ponselnya.


Di kamar cewek, mereka juga sedang menonton.


Mereka sedang menonton thriller korea, setelah sebelumnya nonton thriller barat dan Jepang di laptop.


"Aku lebih suka cowok bule," ucap Nania sambil memandang layar laptop dan mengelap sudut bibirnya, bukan karena ngeces lihat cowok ganteng, tapi terkena saos sambel.


"Aku juga, tapi oppa-oppa juga enggak apalah, mana duluan saja yang jadi jodohku, harus disyukuri, enggak boleh nolak rezeki, pamali." Nuna berkata sok laku dan sok bijak enggak ada bedanya.


"Kalau aku mau paket komplit, dong (campuran, maksudnya)." Freya akan selalu menanamkan prinsip laba rugi miliknya, kalau bisa untung mendapatkan paket komplit, kenapa harus harus milih setengah.


"Berbeda-beda tetapi satu juga tujuan kita."


"Perbaikan keturunan," jawab mereka serempak, lalu cekikikan, persisi seperti film horor yang sedang mereka tonton.


Di ruang keluarga


"Samperin mereka, yuk!" ajak Marcell gelisah.


"Ngapain, sih?" Ikmal mendengkus, karena sejak tadi merasa terganggu dengan Vian dan Marcell.


"Aku takut pikiran mereka ternodai."


"Itu sih Freya, yang sudah ternodai oleh Arby secara langsung!"


Ups


Marcell, Vian dan Ikmal melirik Arby, sedangkan memutar bola matanya. Walaupun sejak tadi dia selalu sibuk dengan ponselnya, tapi dia tetap mendengar pembicaraan mereka.


Akhirnya keempat pemuda itu ketiduran dengan televisi yang masih menyala.


Begitu juga dengan para cewek, mereka ketiduran dengan laptop yang masih menyala, yang akan terus memutar film horor jika film sebelumnya telah selesai (mode putar selanjutnya).


Lewat tengah malam, Freya merasa gelisah dalam tidurnya. Dia menggigil dan merasa sangat sakit di bagian kepala.


"Aaaagggg ... sa ... sakittt ... aaaaaa!"


Nania dan Aruna langsung terduduk begitu saja.


"Aaaaaaaaa ...." teriak keduanya serempak.


Keduanya terbangun karena teriakan Freya yang bertepatan dengan munculnya sosok hantu dengan backsound yang menyeramkan, membuat keduanya panik.


"Aaaaaaaa ...." Freya kembali berteriak.


"Aaaaaa ...."


Teriakan ketiganya sahut-sahutan, membangunkan seisi villa.


"Toloooonggggg."


"Jangan bunuh kami!"


Sementara itu Arby, Vian, Ikmal, dan Marcell lari tergopoh-gopoh menuju kamar anak perempuan, begitu juga denfan para dokter dan orang tua Arby dan Freya.


"Ada apa?"


"Apa ada maling?"


Mereka langsung mendobrak pintu kamar dan melihat ketiga remaja itu denfan posisi yang aneh.


Freya berteriak dengan keadaan masih tidur, namun posisinya meringkuk.


Nania nungging menutupi kepalanya, sedangkan Aruna tengkurap dan menutup kuping.


Mereka mendekat.

__ADS_1


"Aaaaa ...." teriak Marcell.


"Astagfirullah!" sahut Ikmal.


Mereka melihat laptop yang menampilkan seorang pembunuh yang berkali-kali menancapkan pisau di tubuh korbannya.


Surya langsung mamatikan laptop.


Teriakan itu masih sahut-sahutan memekakkan telinga.


"Anak-anak, tenanglah!"


Irma menyentuh pundak Nania, sedangkan Elya menyentuh Aruna. Freya yang posisinya ada di tengah terhimpit oleh mereka berdua.


"Kalian kenapa masih nonton jam ssegini? Tidak baik begadang, merusak kesehatan."


Nania dan Aruna sudah mulai tenang.


"Kami sudah tidur kok dari tadi."


"Iya, kami ketiduran pas lagi nonton."


"Terus kenala teriak?"


"Tadi yang duluan teriak siapa sih, Nan?"


"Sepertinya Freya. Aku kaget, pad kebangun lihat laptop serem banget masa, hantunya."


"Iya, sama."


Mereka kini melihat Freya.


Mereka panik melihat wajah Freya yang pucat pasi, denga keringat dingin dan bibir bergetar.


"Sa ... sakit. Aaaaaaa ... saaaakkiitt ... aaaaa ...."


Freya tiba-tiba saja kembali berteriak sambil memukul kepalanya sendiri. Kakinya dihentak-hentakkan.


Nania dan Aruna kembali katakutan melihat Freya yang seperti ini.


Para dokter mulai menangani Freya.


Nania dan Aruna turun dari kasur.


Ada yang mengambil obat penenang, ada yang memegang kaki Freya, ada juga yang menahan tangan Freya agar tidak memukul kepalanya sendiri, namun itu membuat Freya menjadi semakin sulit menahan rasa sakitnya.


Arby langsung mendekati Freya dan memeluknya. Freya menggigit pundak Arby dengan kuat.


"Aaaa ... sakit!" kali ini Arby yang berteriak karena gigitan Freya.


"A ... apa Freya kesurupan, ya?" tanya Nania.


Marcell menenangkan Nania sedangkan Vian menenangkan Aruna. Mereka merangkul pundak gadis itu, mencari kesempatan dalam kesempitan.


Dokter segera menyuntikkan obat bius kepada Freya. Perlahan tubuh Freya melemah.


Mereka memperhatikan keadaan Freya.


Rontokan rambut akibat dia menjambak rambutnya sendiri. Bajunya basah karena keringat, lalu bibirnya juga terluka karena dia menggigit bibir sendiri juga.


"Kalian keluarlah dulu, kami akan mengganti baju Freya," ucap Ami.


Mereka keluar, sedangkan Ami dan Irma di dalam kamar dan menggantikan baju Freya.


"Di sini ada hantunya, kali."


"Villa ini jarang ditempati, kan?"


"Tidak ada hantu di sini."


"Kalian jangan terlalu sering nonton film seperti itu."


Tidak lama kemudian Ami dan Irma kekuar dari kamar.


"Apa Freya sering seperti itu?"


Tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada yang tahu. Satu jam kemudian Nania dan Aruna kembali ke kamar, mereka melihat Freya yang tidur. Begitu juga dengan Arby dan sahabat-sahabatnya, mereka tidur di kamar mereka.


Jam lima Freya bangun. Dia meregangkan otot-ototnya lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Setengah jam kemudian dia ke dapur. Saat melewati ruang keluarga, dia melihat ponsel Arby yang tergeletak di lantai. Dia lalu membuka ponsel tersebut dan membaca banyak pesan di dalamnya.


Nuna


[Kenapa sih, kamu enggak ceraikan saja Freya!]


Arby


[Ya enggak semudah itu, lah.]


Nuna


[Halah, tinggal ngomong talak, kok. Mumpung belum punya buku nikah dan pernikahan kalian hanya diketahui oleh pihak keluarga saja.]


[Ngomong-ngomong, aku juga mau ke sana, ah.]


Arby


[Kamu jangan nambah aku pusing, dong.]


[Jangan! Nanti kalau yang lain lihat kamu, jadi runyam lagi.]


Nuna


[Makanya kamu yang bener dong. Jangan bikin aku kesel.]


[Ya aku diam-diam lah, biar enggak ketahuan.]


Arby


[Pokoknya jangan!]


Nuna


[Bodo amat, besok pagi-pagi aku ke sana.]


Nuna


[Sampai kapan kamu mau begini terus sama dia?]


Nuna


[Ar?]


Nuna


[Yuhuuu ....]


Nuna


[Sudah tidur?]


Nuna


[Beb ....]


Nuna


[Yang?]


Nuna


[Honey?]


Nuna


[Eh, beneran sudah tidur?]


Nuna


[Aku kan belum selesai bicara!]


Nuna


[Besok aku ke sana. Kita ketemuan aja diam-diam. Lagian kan kamu jagonya ngibul, pasti semua orang bisa kamu bohongi.]


Nuna


[Jangan mimpikan aku ya, hehehe.]

__ADS_1


__ADS_2