Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
50 Langkah Pertama


__ADS_3

“Lagi pula, apapun yang aku lakukan, mereka tidak akan membuangku, kan!”


“Maksudnya?” tanya Aruna.


Tangannya menopang dagu, mendengarkan cerita Freya seperti dongeng.


“Kalian tahu, aku adalah seorang psikopat. Awalnya aku juga tidak mengetahuinya, namun ada perasaan dalam diriku untuk membunuh. Mengoyak tubuh mereka dan membantai para korban dengan sangat brutal. Saat malam bulan purnama, ada perasaan panas dalam tubuhku. Perasaan ingin mencium dan melihat warna merah darah. Aku akan merasa sakit berhari-hari jika tidak melakukannya.”


Nania dan Aruna saling memandang, mereka bergidik ngeri dan dengan susah menelan saliva mereka. Angan mereka tanpa sadar saling bergandengan, lalu sedikit menjaga jarak dengan Freya. Mereka tidal mungkin santai saja kan di hadapan seorang pembunuh atas dasar persahabaan. Gila, aja!


“Terus?”


“Kalian tahu tidak, narkoba itu memiliki sifat menenangkan?”


Nania dan Aruna mengangguk serempak.


“Aku bisa tenang jika mengkonsumsinya. Jiwa psikopatku bisa dikendalikan sedikit demi sedikit karena setelahnya aku bisa merasa lebih tenang.”


Freya memeluk tubuhnya sendiri. Tangannya saling meremas sambil matanya melirik kanan kiri.


“Terus?”


“Kalian tahu, setiap malam orang-orang itu datang menghampiriku, mereka menuntut balas dan menginginkan darahku.”


Mereka yang melihat dan mendengar itu dari CCTV saling memandang. Raut wajah Freya terlihat sangat serius, mereka juga melihat gurat ketakutan dan suara bergetar Freya.


Para dokter dan psikolog segera mencatat poin-poin penting untuk mereka pelajari dan segera menyembuhkan remaja perempuan itu.


Arby pun sangat tercengang dengan apa yang Freya katakan.


“Terus?”


“Seperti ada yang berbisik kalau aku harus menumbalkan banyak darah ....”


Sekujur tubuh Nania dan Aruna merinding. Mereka tidak ingin percaya dengan apa yang Freya katakan, tapi Freya juga tidak terlihat seperti berbohong.


“Tapi ....”


“Tapi apa?”


“Ta ... Tapi ....”


“Iya, tapi apa?”


“Tapi apa?


“Tapi bohonggg ... Hahahaha!”


Nania dan Aruna terdiam, mencoba mencerna dengan baik maksud dari perkataan Freya.

__ADS_1


“Freya!” seru mereka saat menyadarinya.


“Hahaha ... muka kalian lucu banget sih. Mana gampang banget lagi dibohongi, hahaha.”


“Ish,Freya. Enggak lucu deh.”


Sekali lagi mereka yang melihat dari CCTV saling memandang.


“Bisa-bisanya kita kena tipu remaja enam belas tahun!”


Psikiater dan psikolog yang menangani Freya itu memandang wajah Freya, mencoba mencari sesuatu yang lain dari sikap Freya. Namun tentu saja apa yang dikatakan Fokus itu memang benar. Dia bukanlah seorang psikopat. Dia hanya melukai beberapa orang saja, itu pun tidak sampai meninggal.


Mata Freya terarah pada CCTV kecil yang sebenarnya tidak terlihat. Lalu dia tersenyum dan menjulurkan lidahnya, mengejek. Dia mengarahkan jari tengahnya pada CCTV itu dan berkata, “Fu*k!”


Lagi-lagi mereka dibuat tercengang.


“Anak ini memang tidak dapat dianggap remeh. Kita akan mengalami kesulitan besar untuk menanganinya. Dibutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus,” ucap psikiater itu.


Memang tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Freya telah mengingat tentang kejadian di rumah sakit dulu. Sikap Freya juga tidak menunjukkan bahwa dia tahu apa yang telah terjadi.


🌿🌿🌿


Freya memandang dua orang paruh baya di hadapannya. Irma dan Surya ... Psikolog dan psikiaternya. Ya, kini Freya ingat bahwa Surya dan Irma adalah psikiater dan psikolog pribadi yang menanganinya, yang dulu menghipnotisnya.


Pantas saja saat itu Freya merasa pernah melihat mereka sebelumnya saat mereka datang ke rumah orang tua Arby. Bukan karena mereka menjadi tamu saat pernikahannya waktu itu. Surya dan Irma yang tinggal di luar negeri, didatangkan secara khusus untuk menangani Freya.


Mereka mengerjap-ngerjapkan mata mereka. Entah harus kagum atau apa saat mendengar perkataan Freya yang blak-blakan dan sangat ketus.


Jadi Freya sudah tahu semuanya? Pikir mereka.


Melakukan metode yang sama lagi, meskipun bukan untuk membuat Freya melupakan semuanya dirasa bukan hal yang baik setelah Freya tahu.


.


.


.


Kini hanya ada Freya, Surya dan Irma.


“Ini, ayo minum!” Irma memberikan secangkir minuman yang asapnya masih mengepul.


Freya memandang curiga pada minuman itu.


“Jangan takut, ini bukan racun, kok.”


“Ya mana mungkin racun. Bisa-bisa si Arlan itu menghancurkan kalian jika kalian meracuni aku.”


Lagi-lagi mereka dibuat tercengang. Surya dan Irma terkekeh, sepertinya hanya Freya, menantu kecilnya Arlan yang mampu menandingi pria itu. Sedangkan mereka yang mendengar dari alat sadap tertawa. Mereka memang menyadap pembicaraan mereka tanpa lagi menggunakan CCTV.

__ADS_1


“Ayo diminum dulu, selagi masih hangat.”


“Kalian dulu yang minum!”


Tentu saja Freya tidak akan percaya begitu saja, bukan karena takut minuman itu mengandung racun. Tapi bisa saja ada obat tidurnya, kan. Otak jenius memang sulit untuk dikelabui.


“Kalian minum dari cangkirku!”


Seperti sifat Freya yang sudah dikatakan sebelumnya, dia memang tidak bisa dimanipulasi, tapi dia dengan mudah bisa memanipulasi. Satu hal yang bisa mereka ambil dari awal pertemuan ini dan sebagai penilaian awal. Bahwa Freya menggunakan narkoba dan minum bukan karena pengaruh orang lain.


Surya dan Irma, sepasang suami istri itu lagi-lagi merasa kagum sebenarnya dengan Freya. Mereka minum dari cangkir Freya. Setelah selesai, Freya mengambil cangkir yang masih ada airnya itu. Dia mengendus aroma air itu. Minuman yang dibuat dari bahan-bahan tradisional, yang memiliki fungsi menenangkan. Freya langsung tahu bahan apa saja yang ada di dalamnya dari warna dan aromanya, lalu dia langsung meneguk sisanya tanpa rasa jijik bahwa itu bekas orang lain.


Hal itu menjadi penilaian kedua dari Surya dan Irma.


Irma dan Surya berbicara ringan dengan Freya meskipun Freya tidak menanggapi pertanyaan mereka. Memang tidak mudah untuk mencurahkan isi hatinya.


“Ngapain nanya terus, sih? Kalian kan pasti sudah tahu semuanya dari Arlan dan antek-anteknya itu. Buang-buang waktu tahu, enggak.”


Memang terdengar tidak sopan saat Freya menyebut Arlan dengan nama saja tanpa embel-embel papi atau papi mertua.


“Anggap saja kami ini temanmu, Freya.”


“Temanku enggak ada yang tua.”


Kali ini mereka dibuat ngakak oleh Freya.


Penilaian ketiga, sebenarnya Freya itu anak yang menyenangkan walaupun cuek dan terkadang menyebalkan.


“Duh, kamu lucu banget, sih. Jadi anak tante saja mau, enggak?”


“Aku dibuang sama keluargaku, terus dipungut sama Om, Tante, gitu?”


Mereka yang mendengarkan merasa speecless. Apa ini salah satu yang Freya rasakan?


“Mana mungkin ada orang tua yang mau membuang anak seluar biasa dirimu.”


“Ck, jadi maksud pertemuan ini, ingin mencari informasi tentang diriku, kan? Kalian pasti sudah tahu lah dari mereka. Mereka sendiri kok penyebabnya. Sudah ah, aku mau tidur dulu.”


Namun sebelum memejamkan matanya, Freya menghabiskan air di cangkir Surya dan Irma yang belum di minum sama sekali.


“Jangan membuang-buang waktu untuk mencari informasi apapun mengenai diriku. Garis besarnya sama saja dengan apa yang kalian dengar dari mereka dan sahabat-sahabatku. Oya, seharusnya yang perlu mendatangi psikolog atau psikiater itu, ya mereka. Mungkin mereka kurang piknik.”


Mereka tentu saja menangkap maksud kurang piknik dari Freya.


Pembicaraan selama kurang lebih dua jam dengan Freya itu tidak seperti mereka menghadapi pasien-pasien mereka yang lain. Ada banyak hal yang harus ... hmm, apa ya ... yang harus mereka gali lebih dalam lagi.


Mungkin ada hal yang terlewatkan begitu saja tanpa ada yang mengetahuinya. Freya merupakan pasien mereka yang unik dan memiliki kelebihan. Misalnya saja, dia yang pernah over dosis masih bisa diajak bicara meskipun beberapa hari di awal sempat tidak memberikan respon apapun.


Di hari pertama Freya sadar waktu itu, dia sempat sakau. Membuat para dokter kualahan menangani dia yang menginginkan barang haram tersebut.

__ADS_1


__ADS_2