
"Kalau kamu mau pisah, hak asuh Chiro jatuh ke tanganku. Gimana?"
"Deal!"
"Arby!"
"Freya!"
"Ingat, jangan ingkar janji!"
β‘β‘β‘
Segala macam usaha sudah para orang tua lakukan agar mereka tak berpisah.
"Kasihan Chiro, Freya. Dia masih kecil."
"Seharusnya kalian lebih dulu kasihan sama aku, sebelum memutuskan secara sepihak pernikahan itu. Kalian pasti tak pernah menyangka kan, kalau ini akibat perbuatan kalian sendiri.
Kabar mengenai rencana perpisahan Arby dan Freya sudah didengar oleh sahabat masing-masing.
Nania, Aruna dan Nuna tak berani komentar apa-apa. Mereka tak bisa mengatakan bahwa ini benar atau salah, karena penilaian setiap orang itu berbeda. Angka enam, jika dilihat dari arah yang berbeda bisa menjadi angka sembilan. Kedua angka itu benar, bisa juga keduanya salah. Huruf N, jika dimiringkan, bisa menjadi huruf Z. Begitu juga dengan huruf W, jika diputar bisa menjadi huruf M.
Semua tergantung dari sudut pandang orang, jadi jangan merasa paling benar. Jangan menghakimi, apalagi menyalahkan.
Walau bagaimana pun, Freya yang menjalani. Dari pada dia selalu stres akhirnya depresi dan benar-benar bunuh diri.
Ujian Nasional
Hari pertama
Freya duduk dibangkunya, fokus dengan soal-soal. Dia memang mengikuti ujian secara langsung.
.
.
.
Arby menggendong Chiro yang menangis. Sudah satu minggu Freya meninggalkan rumah. Pertengkarannya yang terakhir dengan Freya tak menghasilkan keputusan yang baik.
Mereka akan berpisah.
Tak ada yang mampu menengahi. Pernikahan yang berjalan kurang dari dua tahun yang lebih banyak diisi dengan pertengkaran ini nyatanya benar-benar akan berakhir.
Sekali lagi Arby merasa bagaimana rasanya menjadi Freya. Saat tak ada yang mampu mengurus Chiro karena bayi itu hanya mau bersama dengan daddy atau mommynya saja.
Memandikan
Menidurkan
Mengganti popok
Mengajak bermain
Semuanya dilakukan oleh Arby.
Mungkin kini Arby merasa tak mudah menjadi orang tua. Untung saja secara materi, dia mampu menafkahi anaknya itu. Jika tidak, bisa jadi nasib baby Chiro kini ada di rumah yatim piatu atau tempat pembuangan sampah, atau di tempat-tempat yang tak semestinya karena dibuang oleh orang tuanya karena alasan ekonomi dan ketidak siapan mental.
Keluarga hanya bisa memberikan nasehat dalam mengurus anak. Mengajarkan bagaimana caranya memandikan, dan memberi petuah.
Freya sendiri masih memompa ASI untuk Chiro, yang dia titipkan kepada Nania yang selanjutnya diteruskan kepada Ikmal. Mereka seperti tukang pos yang mengantar barang namun tidak mampu merukunkan sepasang suami istri muda yang nasib pernikahannya sudah di ujung tanduk itu.
Hari terakhir ujian nasional
__ADS_1
Freya, Nania, Aruna dan Nuna berada di cafe untuk merayakan kebebasan mereka menjadi murid SMA.
"Kami akan selalu mendukungmu. Kami juga tidak berhak menghakimi kalian," ucap Nania.
"Sebagai seorang anak yang mengalami broken home ... aku tak bisa berkomentar apa-apa. Sejak kecil aku selalu melihat dan mendengar orang tuaku bertengkar. Aku tidak ingin baby Chiro mengalami nasib yang sama seperti aku. Tidak enak rasanya memeliki keluarga yang tak harmonis. Aku tak akan memaksa kalian untuk tetap bersama, juga tak meminta kalian untuk berpisah."
Dalam hal ini, Nuna lah yang paling mengerti, karena berada di tengah-tengah keluarga yang broken home bukan hal yang menyenangkan. Jika memaksa mereka tetap bersama, kasihan baby Chiro yang akan sering mendengar pertengkaran orang tuanya, jika Arby dan Freya tak ada yang mau mengalah. Hal itu akan mengganggu psikisnya. Berpisah pun juga kasihan baby Chiro, karena harus bersama dengan salah satu orang tuanya saja, yang dalam hal ini hak asuh akan jatuh ke tangan Arby sesuai kesepakatan. Meskipun secara hukum yang paling berhak adalah Freya karena mengingat umur baby Chiro yang masih bayi, namun sekali lagi, Freya mengalami masalah psikis yang tidak memungkinkan mengasuh baby Chiro.
Di tempat lain, Arby, Ikmal, Vian san Marcell mendengar percakapan itu melalui ponsel Arby yang terhubung dengan ponsel Nuna.
.
.
.
Arby memandang foto Freya sejak Freya masih kecil. Wajah imut dan menggemaskan itu selalu membuat jantungnya berdetak kencang.
"Chiro jangan ninggalin daddy kaya mommy, ya!"
Bayi mungil yang tampan itu bergerak linxah dalam pangkuan Arby. Wajahnya perpaduan antara Arby dan Freya.
"Ini mommy waktu masih kecil, cantik banget, kan?"
Ikmal, Vian dan Marcell mengunjungi Arby dengan membawa banyak mainan untuk baby Chiro. Mereka mengajak Chiro bermain. Ingin menggendong namun Chiro langsung merengek tak mau lepas dari Arby.
Jika menikah nanti, aku dan istriku harus siap lahir batin dulu, pikir ketiga sahabatnya.
π§π§π§
Hari ini Arby dan Freya sepakat untuk bertemu di salah satu cafe, baby Chiro pun diajak. Mereka tak saling bicara.
Arby menatap lekat pada Freya. Merekam sebanyak dan serinci mungkin perempuan cantik itu. Degup jantungnya yang kencang menandakan bahwa dia benar-benar gelisah.
Freya tak menjawab, matanya hanya fokus pada anaknya. Ruangan ini seperti kekurangan pasokan oksigen, rasanya Arby berhenti bernafas.
Hari ini adalah hari penentuan nasib rumah tangga mereka. Tak ada tanda-tanda bahwa Freya mau rujuk. Juga tak ada tanda-tanda bahwa Arby akan memaksanya tetap bertahan di sisinya.
Arby punya baby Chiro, yang akan menguatkannya, yang memberinya semangat dalam menjalani hari-harinya.
Kenangan berharga dari Freya yang akan selalu menemaninya dalam suka dan duka.
Hujan yang tadinya hanya rintik-rintik kini menjadi deras. Seolah menjadi backsound akan detik-detik menuju perpisahan dua anak muda itu.
Baby Chiro mulai gelisah, dan tak lama kemudian menangis. Mungkin saja dia dapat merasakan bahwa dua orang yang membuatnya berada di dunia ini akan berpisah, menjadikannya anak broken home selanjutnya.
Chiro menggerakkan tangannya ke arah Freya. Freya lalu menyabutnya tanpa ada larangan dari Arby.
Freya mendekatkan mulutnya di telinga Chiro, membisikkan kalimat-kalimat yang tidak dapat di dengar oleh Arby.
Dalam pelukan hangat mommynya, tak lama kemudian Chiro tertidur.
"Sudah saatnya kita berpisah."
Keduanya sama-sama menahan nafas.
"Freya Canaya Zanuar ...."
Suara Arby bergetar.
"Mulai hari ini aku melepaskanmu, hiduplah dengan bahagia!"
Untuk yang terakhir kalinya, Freya mencium baby Chiro di semua area wajahnya, lalu menyerahkannya kepada Arby.
__ADS_1
"Kamu juga, hiduplah dengan bahagia bersama baby Chiro."
Freya meninggalkan Arby dan baby Chiro.
Buliran air mata jatuh tak tertahankan.
Di dua ruangan lain yang berbeda, sebelah kanannya para sahabat menangis menjadi saksi diam-diam perpisahan itu. Arby dan Freya tak ada yang tahu bahwa mereka telah diawasi sejak awal. Di ruangan sebelah kirinya, pihak keluarga pun tak kalah sedihnya, sama-sama menjadi saksi diam-diam akan perpisahan putra putri mereka.
Nania, Nuna dan Aruna berpelukan untuk yang pertama kalinya sejak perseteruan mereka. Aor mata mereka saling membasahi baju yang lain.
Arby memeluk tubuh mungil baby Chiro, dia menangis dalam diam. Dalam keheningan dan derai hujan yang semakin deras. Entah ingin menertawakan nasibnya atau ingin ikut bersimpati.
Freya menatap kosong jalanan sambil menghela nafas. Mulai hari ini, dia akan menata masa depannya sendiri.
Jika mereka memang berjodoh, pasti akan dipertemukan dan bersama kembali.
Jika mereka memang tak berjodoh, meskipun kelak akan bertemu kembali, tetap saja mereka tak akan bersama.
Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Saatnya memulai hidup baru.
Entah ini awal atau akhir ....
βββ TAMAT βββ
DON'T WORRY, ada lanjutannya tapi beda judul ya, karena kalau dijudul yang sama udah enggak cocok dengan judul.
Eh, kira-kira tuh mereka mau disatuin lagi enggak, nih?
Apa Freya dijodohin aja sama Nico yang tiba-tiba ilang?
Atau sama tokoh lain?
Terus Arby sama Nuna karena sering curhat jadi suka, gitu.
Atau sama tokoh baru juga?
Wkwkwkkk
Ini cover udah aku bikin dari dulu karena memang alurnya begini, enggak bisa diubah karena keinginan pembaca, misalnya. Terima aja endingnya begini, ya, kan masih ada lanjutannya meski tak tahu siapa yang akan menjadi jodoh untuk mereka.
Aku enggak tahu kapan mau up cerita ini. Jangan minta buru-buru, aku mau ngaso dulu. Sampai jumpa di cerita selanjutnya, entah lanjutan cerita ini atau cerita lain yang duluan aku up.
Info selanjunya ada di cerita ini ya, jadi jangan hapis dari favorit.
Oya, thanks banget untuk pembaca setiaku, terutama yang udah ngikuti dari Arrogant Wife dan berlanjut ke sini.
Thanks atas like, vote, hadiah, komen, bintang lima, favorit.
Kalau banyak yang komen minta lanjutannya, mungkin aku bisa nulis cepat, karena semangatnya para penulis dari pembaca juga, kan.
Jadi, bijaklah berkomentar dalam setiap cerita yang kalian baca.
Segala hal negatif dalam cerita ini, jangan diikuti, ambil hikmahnya, ya.
Banyak banget yang mau aku sampaikan, tapi nanti kepanjangan, segini aja dehπ
Lopyuuuuuβ€β€β€β€
Muka cowoknya judes amat, yaπππ
__ADS_1