
Freya berjalan dengan tergesa-gesa memasuki kamarnya. Dikuncinya pintu, lalu naik ke atas kasur dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Badannya menggigil, bukan karena dia kedinginan, tapi karena rasa cemas yang berlebihan.
Aku pembunuh?
Tidak, aku bukan pembunuh. Mereka semua masih hidup dan baik-baik saja.
Kenapa mereka tidak mati saja?
Tidak, jika mereka mati, maka aku akan dipenjara dan cita-citaku akan semakin sulit terwujud.
Tenang saja Frey, sekali pun kamu membunuh, mereka tidak akan memenjarakanmu. Karena bagi mereka, nama baik keluarga lebih penting dari segalanya.
Sebenarnya Freya memang merasa semua itu bukan hanya mimpi. Otaknya mulai merekonstruksi semua kejadian saat dia keguguran. Warna merah darah dan bau anyir yang menyengat saat dia pendarahan sama persis saat kejadian di rumah sakit, dia mana dia melihat darah membasahi tangannya dan bau darah itu membekas di indra penciumannya.
Terapi hipnotis itu akhirnya diputuskan dengan kejadian keguguran itu. Alam bawah sadar Freya memaksanya untuk mengingat semua peristiwa itu, membuatnya kembali dilanda mimpi buruk setiap malamnya dan terus merasa ketakutan.
Ibarat orang yang terlalu banyak dan sering menonton film thriller, ada kalanya dia menjadi takut sendiri.
Itulah yang Freya rasakan, seperti sebuah film yang tokohnya ketakutan dengan hantu dari korban yang dia bunuh, yang akan melakukan balas dendam dengan cara menakut-nakutinya hingga dia mengaku akan kesalahannya bahkan bunuh diri karena depresi.
Benar, itu yang dia rasakan ... cemas. Namun ada juga perasaan kecewa. Kecewa kenapa mereka tidak mati saja. Kenapa mereka selamat. Biar mereka sama-sama hancur.
Freya hancur karena masa mudanya terenggut oleh keegoisan dua keluarga. Jadi biar mereka juga hancur akibat ulah mereka sendiri.
Freya membuka tasnya, lalu meminum beberapa butir obat sebelum akhirnya matanya terpejam.
🍁🍁🍁
Freya berjalan sedikit sempoyongan di koridor kelas dan melihat Arby dan Nuna yang berbicara pelan-pelan.
"Halo, suami dan maduku." Freya cekikikan dengan wajah memerah.
Marcell, Vian dan Ikmal mendekati mereka, khawatir kalau perang akan kembali terjadi.
"Hai, ketos tampanku. Kamu mau gak, jadi pacar aku?"
Kembali wajah Freya memerah dengan senyum malu-malu.
Mata Marcell dan Vian seperti bandul yang bergerak dari Arby ke Freya ke Arby ke Freya.
"Ah, lama jawabnya."
Freya langsung meninggalkan mereka yang masih belum loading.
"Freya kaya orang mabuk. Iya gak, sih?" tanya Vian.
"Ck, bukan mabuk, tapi meriang, mukanya saja tadi merah begitu."
"Meriang?"
"Iya. Aku meriang ... aku meriang ... aku meriang ... merindukan kasih sayang."
"Freya memang lebih cocok sama Ikmal sih."
Mulut-mulut kompor itu semakin merajalela.
__ADS_1
"Ayo Nun, jangan pikirin mereka." Arby segera mengajak Nuna pergi dan meninggalkan ketiga sahabatnya begitu saja.
"Entar juga nyesel tuh cowok."
"Biarkan saja, nanti aku orang pertama yang akan mentertawakan dia. M-A-M-P-U-S ... MAMPUS!"
.
.
.
Razia dilakukan serentak. Tidak ada murid yang boleh ke luar kelas. Satu persatu murid diperiksa. Bukan hanya tasnya, tapi juga isi dompet, siapa tahu saja ada yang menyimpan ko***m. Bahkan mereka harus melepaskan sepatu dan kaos kaki, juga area badan mereka diperiksa (murid perempuan diperiksa oleh guru perempuan).
Freya memejamkan matanya sambil menghela nafas, sebentar lagi gilirannya.
Sepatu dan kaos kakinya sudah dilepas. Di kantongnya ada beberapa permen juga minyak telon.
"Apa ini?"
Semua mata tertuju padanya.
Ada dua buah kotak, seperti kotak rokok. Guru perempuan itu membuka satu kotak, dan menghamburkan isinya di atas meja.
"Freya!"
Empat batang rokok beserta korek gas.
Lalu kotak kedua juga dibuka, mata mereka kembali terbelalak.
G*nja dan obat-obatan terlarang dengan berbagai jenis.
Freya terlihat tenang, justru yang pucat adalah Nania dan Aruna, mereka seperti sesak nafas. Bukan karena semua itu punya mereka, hanya saja mereka bingung kenapa semua itu ada pada Freya. Tidak mungkin Freya merokok, menghisap gan*a juga menggunakan narkoba, kan?
Anggota osis yang memang bertugas untuk membantu razia juga tidak percaya.
Arby, Ikmal, Vian dam Marcell saling memandang.
Freya kaya orang mabuk gak, sih?
Kalau saja tadi mereka menganggap serius perkataan Vian, mungkin saja mereka akan bertindak sebelum razia ini terjadi, meskipun mereka sendiri tidak tahu bahwa kepala sekolah akan melakukan razia.
"Apa ini Freya?"
"Rokok, korek gas, ganja ...."
Freya menyebutkan satu persatu jenis obat-obat itu.
"Kamu ikut ke ruang kepala sekolah. Kalian semua, tutup mata, kuping, dan mulut kalian rapat-rapat mengenai hal ini. Jika sampai hal ini bocor walau hanya ke kelas sebelah saja, kalian akan tahu akibatnya."
"Arby, ikut saya ke ruang kepala sekolah, yang lain teruskan razia."
Masalah apa lagi ini, Freya? Kenapa kamu selalu membuat ulah?
.
__ADS_1
.
.
Orang tua Arby dan Freya kembali dipanggil.
"Kenapa kamu bikin malu kami, Freya!"
"...."
"Kenapa diam saja? Jawab!"
"...."
"Dari mana kamu dapatkan semua ini?"
"...."
"Pasti dari Mico!"
"Heh, jangan asal nuduh. Mico enggak ada sangkut pautnya dengan ini. Dia saja sudah lama enggak sekolah." Freya baru mengeluarkan suaranya saat Arby menuduh Mico.
Cih, dari tadi ditanya diam saja, giliran nyebut nama Mico langsung nyahutin.
"Dari mana kamu dapat barang-barang ini, Freya?"
Freya mengangkat bahunya.
Para orang dewasa itu memejamkan mata, merasa frustasi menghadapi Freya yang selama ini mereka anggap anak baik-baik, cerdas dan teladan justru sebaiknya, walaupun nilai-nilainya memang tetap memuaskan.
"Arby, kamu ajak Freya ke ruang UKS. Tunggu di sana sampai kami jemput."
Tanpa disuruh dua kali, Freya langsung berdiri. Tapi sebelum itu dia mengambil sebatang rokok yang ada di meja depannya , lalu menyalakan dan menghisapnya, menghembuskan asapnya di depan mereka.
"Freya!"
"Selain bertanya, seharusnya kalian juga menyuruhku memperagakannya, bagaimana selama ini aku memakai barang-barang ini."
Freya tertawa pelan, lalu ke luar.
Sementara itu di dalam kelas Freya, murid-murid membicarakan Freya, tentu saja dengan bisik-bisik karena takut ada yang mendengar. Seperti itulah sekolah ini, yang sangat menjaga nama baiknya. Bahkan mereka akan saling menutupi kesalahan teman sekolah, terutama teman satu kelas mereka, agar tidak diketahui oleh orang-orang, terutama pihak luar.
Bila Nania dan Aruna sibuk mencemaskan Freya, maka Nuna tentu saja sibuk mencemaskan Arby. Bagaimana pria itu selalu mendapat masalah sejak menikah dengan Freya.
Seharusnya sejak dulu aku melarang Arby menikah dengan Freya.
Di ruang kepala sekolah
"Sebaiknya Freya segera dirahabilitasi. Kita tidak tahu sejak kapan anak itu menggunakan narkoba, dan seberapa sering."
"Jika dia masuk ke pusat rehabilitasi, maka orang-orang akan tahu, itu akan merusak nama baik keluarga Zanuar dan Abraham, terutama keluarga Zanuar."
"Tapi kita tidak bisa membiarkan Freya begitu saja."
"Yang harus kalian lakukan sekarang adalah, tutup mulut orang-orang yang tahu masalah ini rapat-rapat. Jangan biarkan mereka cerita ke orang-orang termasuk suami, istri atau keluarga mereka. Jika masalah ini sampai bocor, aku sendiri yang akan bertindak kepada mereka," ucap Arlan dengan tegas.
__ADS_1